
Feng bersama para bawahannya mengajak Tuan itu bersama para pengawalnya masuk ke dalam ruangan.
" Selamat datang Tuan, " Kata Feng memecahkan keheningan
" Hmm, " jawab Tuan itu, hanya membalas dengan deheman saja.
Tuan itu melihat semua anak yang berada di ruangan itu, ada yang menunduk ketakutan, ada yang menangis tapi tak bersuara, dan ada juga yang biasa saja dengan tatapan kosong tanpa rasa takut.
Tuan itu, melirik anak yang terlihat berani di matanya.
" Siapa anak itu?, " tanya Tuan itu kepada Feng.
" Namanya Jean Tuan, " jawab Feng.
" Apa kau ingin menjualnya?, " tanya Tuan itu.
" Iya Tuan, saya ingin menjualnya, " jawab Feng.
" Berapa?, " tanya Tuan itu.
" Ap... apa?, " jawab Feng, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Tuan itu, sehingga ia sedikit gagap.
" Berapa harga anak itu? bukankah kau ingin menjualnya?, " tanya Tuan itu.
" Apa Tuan ingin membelinya?, " Feng kembali bertanya kepada Tuan itu, membuat asisten dari Tuan itu marah.
" Kau hanya perlu menjawab pertanyaan dari Tuan kami, tidak perlu kembali bertanya, " kata asisten dari Tuan itu dengan nada dingin.
Feng merasa gugup karena ia sudah membuat kesalahan dengan kembali bertanya kepada Tuan itu.
" Maaf Tuan, saya tidak bermaksud lancang, " Feng menunduk dan melanjutkan perkataannya.
" Itu..., anak itu, ia di bawa oleh Nona Lin, jadi untuk harganya, saya harus menanyakannya kepada Nona Lin, " jawab Feng dengan gugup.
Feng menyuruh bawahannya untuk segera memanggil Nona Lin untuk masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya Nona Lin terus mengikuti Feng, hanya saja saat masuk ke dalam ruangan, Nona Lin tidak di perbolehkan masuk.
" Ketua, Nona Lin sudah disini " kata bawahan Feng.
" Tuan, dia adalah Nona Lin, dia yang membawa anak itu, " kata Feng kepada Tuan itu.
" Maaf Tuan jika saya lancang, apakah Tuan akan membeli anak itu?, " tanya Nona Lin kepada Tuan itu.
" Iya, " jawab Tuan itu.
Nona Lin sangat senang, akhirnya anak yang dianggap s*al, ada juga yang ingin membelinya. Mengingat banyak pembeli yang tidak ingin membelinya, karena menurut mereka anak itu pasti seorang anak pembangkang.
Tuan itu berjalan mendekati Jean, ia jongkok di depan Jean. Jean menatap Tuan itu tanpa rasa takut.
" Siapa namamu, " tanya Tuan itu kepada Jean dengan nada dingin.
__ADS_1
" Siapa kau?, " bukan menjawab pertanyaan dari Tuan itu, Jean malah balik bertanya dengan nada yang tak kalah dingin.
" Lancang, kau pikir siapa dirimu, berani berbicara seperti itu kepada Tuan?, " kata asisten dari Tuan itu dengan nada kesal tapi masih bisa di tahannya.
" Lalu siapa kau? apa aku berbicara denganmu?, " jawab Jean kepada asisten dari Tuan itu dengan nada dingin, ia tidak merasa kesal sama sekali.
Mendengar pertanyaan Jean, membuat semua orang yang berada di ruangan itu semakin ketakutan bukan karena perkataannya Jean, melainkan karna tidak ada yang berani berbicara seperti itu kepada asisten dari Tuan tersebut. Bukan hanya rumor belaka, asisten dari Tuan tersebut sama kejamnya seperti Tuannya. Jean sudah tidak sopan terhadap asisten tersebut dan juga Tuannya, sehingga mereka semua takut kalau Tuan itu merasa tersinggung maka tamatlah riwayat mereka.
Tapi, semua pemikiran mereka ternyata salah, Tuan tersebut tidak marah, melainkan sangat tertarik kepada Jean, pasalnya baru kali ini ia bertemu dengan anak yang tidak takut kepadanya. Tuan itu tersenyum sangat tipis, sehingga tak ada menyadari jika ia sedang tersenyum.
" Kau..., " sebelum melanjutkan ucapannya, asisten dari Tuan tersebut di hentikan oleh Tuannya. Tuannya mengangkat tangan kanannya, memberi kode kepada asistennya untuk tak ikut campur dalam urusannya kali ini.
" Jorce, namaku Jorce. Lalu kau? " jawab Tuan itu kepada Jean dengan wajah datar.
" Jean, " jawab Jean. Jean juga memiliki ekspresi datar, atau bisa di katakan Jean tak seperti dulu yang bisa berekspresi, mungkin karena terlalu banyak siksaan sehingga Jean tak tau bagaimana caranya berekspresi.
" Umurku 42 tahun, kau?, " tanya Tuan Jorce
" 10 tahun, " jawab Jean.
" Ingin ikut denganku?, " tanya Tuan Jorce.
" Apa yang kau inginkan dariku?, " tanya Jean, ia kembali bertanya kepada Tuan Jorce.
Mendengar pertanyaan dari Jean membuat asisten Tuan Jorce naik pitam, ia merasa Jean anak yang tidak tau sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Ia ingin memarahi Jean tapi ia urungkan niatnya, karena Tuannya telah melarangnya untuk ikut campur.
Berbeda dengan asisten Tuan Jorce, Tuan Jorce sendiri merasa senang dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Jean.
" Menjadi kuat, " jawab Tuan Jorce kepada Jean.
" Apa keuntungan yang kau dapatkan?, " tanya Jean.
Kesabaran dari asisten Tuan Jorce sudah habis, karena pertanyaan Jean yang menurutnya seperti merendahkan Tuannya.
" Apa kau merendahkan Tuanku? benar-benar ti..., " sebelum asisten Tuan Jorce melanjutkan ucapannya. Tuan Jorce sudah mengangkat tangan kanannya lagi, yang berarti asistennya jangan ikut campur. Melihat kode dari Tuannya, asisten Tuan Jorce tidak lagi berbicara, ia hanya diam menahan kekesalannya terhadap Jean.
" Menjadi pengikut setiaku dan ...." Tuan Jorce berhenti sejenak, ia mendekatkan dirinya kepada Jean dan membisikan sesuatu kepada Jean, membuat Jean terlihat memiliki niat membunuh yang kuat.
Tak seorangpun yang tau apa yang di bisikan Tuan Jorce kepada Jean, hanya Tuan Jorce, Jean dan Tuhan yang tau.
" Aku ingin ikut denganmu, " jawab Jean kepada Tuan Jorce.
Tuan Jorce yang awalnya berjongkok di depan Jean untuk mensejajarkan tinggi, akhirnya berdiri. Ia menyuruh asistennya untuk membayar uang kepada Nona Lin berapapun yang Nona Lin minta. Awalnya Nona Lin meminta 500 juta. Tapi entah mengapa Tuan Jorce menyuruh asistennya untuk membayar 1 Milyar, dengan senang hati Nona Lin menerima uang tersebut.
Tuan Jorce membawa Jean pergi bersamanya. Sampai di depan gerbang organisasi penjual anak.
" Tuan, sebaiknya anak ini naik di mobil depan bersama pengawal, " kata asisten Tuan Jorce.
" Zhan, biarkan dia bersamaku, " jawab Tuan Jorce.
__ADS_1
Jawaban Tuan Jorce membuat asisten pribadinya merasa terkejut, pasalnya Tuannya tidak pernah naik satu mobil bersama orang lain, menurut Tuannya, itu sangat mengganggu, kecuali dirinya. Tapi sekarang ada pengecualian lagi untuk anak itu.
" Baik Tuan, " jawab Zhan.
Mereka semua telah masuk ke dalam mobil masing-masing, 2 mobil pengawal dan 1 mobil Tuan Jorce bersama Jean dan juga asisten pribadinya Zhan. Mereka meninggalkan tempat organisasi penjual anak.
Feng beserta bawahannya dan juga Nona Lin memberi hormat kepada Tuan Jorce. Mereka terus menunduk sampai mobil Tuan Jorce dan pengawalnya sudah tidak kelihatan.
" Akhirnya pergi juga, " kata Feng, merasa lega.
" Ada apa denganmu? mengapa kau terlihat ketakutan?, " tanya Nona Lin kepada Feng.
" Apa kau tidak takut pada Tuan, " tanya Feng dengan nada sinis.
" Aku juga takut pada Tuan tadi, tapi siapa Tuan itu? dia sangat tampan walaupun sudah berumur, " kata Nona Lin, dengan nada menggoda di akhir ucapannya.
Feng memutar bola matanya, ia malas mendengar ucapan akhir dari Nona Lin. Feng tau kalau Nona Lin adalah seorang maniak s**. Walaupun Feng juga sudah pernah melakukannya dengan Nona Lin, tetapi ia tidak sesering Lie, orang suruhannya Nona Lin.
" Apa kau tidak tau siapa Tuan tadi?, " tanya Feng kepada Nona Lin.
" Aku tidak tau, aku baru pertama kali bertemu dengannya, " jawab Nona Lin, jujur.
" Apa kau tau Jorce Wiliam?, " Feng kembali bertanya.
" Jorce Wiliam? tentu saja aku tau, dia adalah orang terkaya di dunia, " Nona Lin berhenti sejenak sambil berpikir sebelum melanjutkan ucapannya.
" Tunggu, jadi maksudmu, Tuan yang tadi adalah Jorce Wiliam orang terkaya di dunia?, " tanya Nona Lin.
" Itu benar, " jawab Feng.
Nona Lin sangat terkejut, ia membulatkan matanya. Ia tidak percaya bisa bertemu dengan orang terkaya no.1 di dunia. Pantas saja Tuan Jorce tidak keberatan membeli Jean dengan harga tinggi.
# POV Jean
Suasana di dalam mobil sangat hening, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Jean pun tidak memiliki niat untuk mulai berbicara, menurutnya itu tidak penting. Akhirnya ada yang memecahkan keheningan itu.
" Apa margamu?, " tanya Tuan Jorce kepada Jean.
" Tidak punya, " jawab Jean. Sebenarnya Jean memiliki marga yaitu " MO " sama seperti marga Ayahnya, hanya saja karena paman dan bibinya juga menggunakan marga " MO " akhirnya Jean memutuskan untuk tidak menggunakan marga itu.
" Baiklah, bagaimana kalau kau ikut margaku?, " tanya Tuan Jorce.
Jean hanya mengangguk pertanda setuju.
" Kalau begitu, namamu sekarang adalah Jean Wiliam, " kata Tuan Jorce.
Setelah selesai berbicara, keheningan kembali terjadi di dalam mobil itu.
** jangan lupa like, vote dan koment ya readers.
__ADS_1
biar author tetap semangat😊**