
Huli sudah selesai memasak, ia mulai menghidangkan makananya di atas meja makan. Jean dan Long sudah duduk di meja makan, mereka hanya memperhatikan Huli yang sedang sibuk.
" Mari aku bantu, " ucap Jean, ia pergi menuju kearah Huli untuk membantunya menyediakan makanan.
" Tak perlu Nona, " ucap Huli menolak.
" Kau masak terlalu banyak, kapan makannya kalau kau sendiri yang menyediakannya?, " ucap Jean sambil menyediakan makanan yang di masak Huli.
Huli sangat terharu, ia berpikir bahwa reinkarnasi Sang Dewi Bulan akan tetap cuek dan dingin kepadanya karna selalu menampilkan wajah yang datar.
" Terima kasih Nona, " ucap Huli tulus.
" Bukan apa-apa, " jawab Jean. Huli tersenyum mendengar ucapan Nonanya.
" Long cepat bantu kami, Huli memasak terlalu banyak, " ucap Jean sedikit berteriak.
" Baik Nona, " jawab Long.
Mereka bertiga mulai menghidangkan makanan di atas meja makan. Setelah selesai, Huli dan Long hanya berdiri. Jean yang heran dengan kelakuan dua hewan kontraknya itu merasa sedikit kesal.
" Kenapa masih berdiri, " tanya Jean kepada Huli dan Long.
" Tidak sopan Nona, jika kami berdua makan bersama anda, " jawab Huli.
" Lalu, mengapa kau masak sebanyak ini, jika yang makan hanya aku?, " tanya Jean.
" Aku tidak tau makanan apa yang Nona sukai, jadi aku memasak makanan yang banyak dengan berbagai rasa, " jawab Huli.
" Apa kau pikir aku ba*i? aku tidak mungkin bisa menghabiskannya, " ucap Jean sedikit kesal.
" Bukan itu maksudku Nona, maafkan aku, " ucap Huli merasa bersalah.
" Kalau begitu, duduk dan makanlah bersamaku, " ucap Jean.
" Tapi Nona, itu benar-benar tidak sopan, kami adalah hewan kontrakmu Nona, " sekarang giliran Long yang berbicara.
" Lalu bagaimana dengan makanannya?, " tanya Jean. Ia kembali kesal.
" Biar aku yang akan membuangnya Nona, " jawab Huli.
" CUKUP, " Jean sangat marah. Bahkan ia menggebrak meja makan.
Huli dan Long sangat kaget karna Dewinya sekarang menjadi sangat marah.
" Kalian pikir, semua orang bisa mendapatkan makanan dengan mudah. Bagaimana bisa kalian dengan mudahnya ingin membuang makanan sebanyak ini, " ucap Jean dengan kemarahan yang kembali di tahan. Tentu saja Jean merasa marah. Dulu saat ia berada di Panti Asuhan, untuk mendapatkan makanan adalah hal yang sulit, maka dari itu Jean tidak pernah pilih-pilih dalam hal makanan kecuali jika ada yang berniat mencelakainya lewat makanan.
" Maaf Nona, " jawab Huli dan Long yang mulai ketakutan.
" Sekarang duduk dan makan, jangan ada makanan yang tersisa, kalian harus menghabiskannya, jangan coba-coba berpikir untuk membuangnya, " ucap Jean penuh dengan penekanan kepada Huli dan Long
__ADS_1
Huli dan Long akhirnya duduk makan bersama Jean, mereka makan dalam hening. Huli dan Long makan dengan sangat lahap, bahkan mereka berdua seperti telah melupakan kemarahan Jean tadi.
Jean akhirnya bisa mengendalikan dirinya, ia sudah tak marah lagi, emosinya telah stabil.
Mereka bertiga telah selesai makan, Jean yang memulai percakapan, memecah keheningan.
" Apa kalian sudah kenyang?, " tanya Jean kepada Huli dan Long.
" Sudah Nona, " jawab Huli dan Long. Mereka kembali ketakutan.
" Sudahlah, tadi aku yang terlalu kasar. Maafkan aku, " ucap Jean tulus.
" Jangan takut padaku, dan jangan membuang-buang makanan, aku tidak suka. Lalu untuk kedepannya kita akan makan bersama. Kalian juga jangan lupa makan saat aku berkultivasi besok, " Jean melanjutkan ucapannya
" Maafkan kami juga Nona, " ucap Huli dan Long, mereka menitikan air mata karna terharu.
" Kenapa kalian menangis?, " tanya Jean, bingung.
' Apa aku memarahi mereka dengan sangat keras? ' batin Jean.
Jean menuju kearah Huli dan Long, ia memeluknya untuk menenangkan mereka berdua.
" Sudahlah jangan menangis, aku akan berusaha untuk tidak memarahi kalian lagi, " Jean melanjutkan ucapannya.
Mereka berdua sangat kaget, tapi mereka membalas pelukan dari Jean. Mereka merasa nyaman dan tertidur di pelukan Jean. Jean mengangkat mereka satu persatu menuju ke kamar mereka masing-masing. Jean bisa mengangkat mereka berdua karena Jean sudah bisa berkultivasi walaupun masih di tingkat pemula, itu masih terbilang mudah bagi Jean.
Jean kembali ke dapur dan mencuci peralatan makan yang masih kotor, sehingga Jean yang harus membersihkannya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Jean menuju ke kamarnya yang telah ditunjukkan Huli kepada Jean tadi. Akhirnya Jean dapat beristirahat dan memasuki alam mimpi.
Keesokan Harinya
Jean sudah terlebih dulu bangun, ia melakukan kebiasaannya yaitu berolahraga, setelah itu Jean membersihkan diri. Sekarang Jean sedang menyiapkan sarapan.
Huli sudah bangun dari tidurnya. Ia heran karena ia berada di kamar.
" Siapa yang mengangkatku ke kamar?, " ucap Huli bertanya pada dirinya sendiri.
Huli keluar dari kamarnya dan menuju kearah dapur, ia melihat Jean yang sudah selesai memasak dan Long yang duduk di kursi. Long sudah bangun terlebih dulu dari Huli.
" Kau sudah bangun?, " tanya Jean kepada Huli.
" Sudah Nona, " jawab Huli. Huli ingin menanyakan sesuatu tetapi ia merasa ragu.
Jean yang melihat tingkahnya akhirnya bertanya padanya.
" Ada apa denganmu?, " tanya Jean.
" Ah, itu Nona, ada yang ingin saya tanyakan, " ucap Huli.
" Apa?, " tanya Jean.
__ADS_1
Huli menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia memberanikan diri untuk bertanya.
" Itu, siapa yang mengantarku ke kamar Nona?, " tanya Huli.
Long akhirnya mengangguk, ia juga ingin menanyakan hal yang sama kepada Jean.
" Oh, aku yang memindahkan kalian berdua ke kamar, " jawab Jean.
" APA?, " ucap Huli dan Long sambil berteriak.
" Diam, kalian sangat berisik, " ucap Jean, dingin.
Huli dan Long merasa malu, wajah mereka sudah bersemu merah.
" Berhenti bersikap bodoh, dan pergi bersihkan diri kalian lalu kita sarapan bersama, " ucap Jean kepada Huli dan Long.
Huli dan Long pergi membersihkan diri, setelah selesai mereka bertiga mulai sarapan, hanya terdapat keheningan. Mereka sudah selesai sarapan.
" Hari ini aku akan mulai meditasi, " ucap Jean.
" Baik Nona, " jawab Huli dan Long.
Mereka bertiga berjalan menuju ke Air Surgawi.
" Kita sudah sampai Nona, " ucap Long.
" Air yang indah, " ucap Jean.
" Air Surgawi adalah air yang sangat diinginkan oleh semua orang, karna dapat menyembuhkan segala penyakit, bahkan dapat membangkitkan orang yang telah meninggal, " ucap Long.
" Apakah sehebat itu?, " tanya Jean.
" Tentu saja Nona, para Dewa-Dewi pun sangat ingin memilikinya, " ucap Huli dengan bangga.
" Baiklah, lalu dimana aku harus bersemedi?, " tanya Jean kepada Huli dan Long.
" Sebelum Nona bersemedi, Nona harus melewati dulu yang namanya kelahiran kembali, " ucap Long.
" Kelahiran kembali? apa maksudnya?, " tanya Jean.
" Nona, kelahiran kembali adalah pembentukan tubuh dan aura yang dapat menambah kekuatan dan juga untuk membantu meditasi Nona. Nona akan mengalami rasa sakit yang luar biasa dan merasakan tubuh Nona hancur berkeping-keping lalu tubuh Nona akan dibentuk kembali dengan perubahan yang akan Nona rasakan nanti. Nona hanya perlu fokus dan tetap sadar, " ucap Long memberi penjelasan.
Jean mengangguk mengerti.
" Lalu, tempat meditasiku, apakah berada di dalam Air Surgawi?, " tanya Jean.
" Itu benar Nona, makanya Nona akan melewati kelahiran kembali terlebih dulu, tapi Nona ada satu hal lagi, kalau Nona tidak bisa melewati kelahiran kembali maka Nona akan tiada, " ucap Long.
" Baiklah, aku sudah mengerti. Aku akan masuk sekarang, " ucap Jean.
__ADS_1
" Baik Nona, bertahanlah dan kembalilah dengan selamat, " ucap Huli dan Long, khawatir.
** jangan lupa vote, like dan koment ya readers😊 **