Sang Dewi Bulan

Sang Dewi Bulan
Episode 36 " Hari Pertarungan II "


__ADS_3

Ternyata pertarungan antara Xifeng dan Lixing berakhir seri atau seimbang, mereka berdua sama-sama kuat. Benar-benar di luar dugaan, banyak penonton yang berpikir bahwa Lixing yang akan menang. Tidak dapat dipungkiri bahwa Lixing hampir menembus ranah Bumi level 4, jadi mereka berpikir bahwa Lixing akan menang tapi sapa yang sangka bahwa Xifeng menyembunyikan kekuatannya, sungguh cerdik.


" Sudah kuduga, " ucap Yueyin sambil meminum tehnya.


Huli Jing menoleh ke arah Yueyin dengan raut wajah yang bingung.


" Nona tau, kalau Xifeng menyembunyikan kekuatannya?, " tanya Huli Jing.


" Aku sudah merasakannya saat dia memasuki arena, " jawab Yueyin seadanya.


" Nona benar-benar hebat, " puji Huli Jing senang.


Yueyin dan Long Qiang merotasikan matanya malas. Bukannya mereka bertiga sama-sama sudah mengetahuinya, untuk apa Huli Jing bertingkah begitu heboh. Menyebalkan, satu kata yang terlintas di benak Yueyin dan Long Qiang.


" Berhenti bertingkah konyol, " ucap Long Qiang sambil memukul bahu Huli Jing.


" Hehehehehe, " tawa Huli Jing dengan menggaruk tengkuk lehernya yang sedikit gatal.


" Ngomong-ngomong soal Xifeng, dia memang memiliki kemampuan, " ucap Long Qiang.


" Dia pria yang kejam, pintar, cerdik tapi juga licik. Kemampuan yang membuat para musuhnya harus berpikir dua kali untung bermusuhan dengannya, " ucap Huli Jing.


" Tapi Lixing juga tidak kalah darinya. Hanya saja Lixing memiliki hati yang baik, " ucap Yueyin yang diangguki oleh Huli Jing dan Long Qiang pertanda setuju.


Pertarungan selanjutnya tidak begitu menarik, hanya pertarungan yang cukup membosankan bagi para bangsawan dan juga untuk mereka bertiga.


" Hari sudah gelap, pertarungan hari ini biasa saja, yang menarik hanya pembuka awal pertandingan. Benar-benar membosankan, " keluh Huli Jing.


Mereka berada di tempat itu dari pagi dan sekarang telah berganti malam dengan pertandingan yang menurut mereka sangat membosankan, hanya di awal pertandingan saja yang membuat mereka semangat. Selebihnya biasa saja.


" Para Tuan dan Nona, pertandingan hari ini akan segera berakhir, petarung terakhir kita adalah Tuan Mo dari perguruan Bintang melawan Tuan Jing dari perguruan Teratai. Mari kita sambut kedua petarung kita ke arena, " ucap MC itu dengan semangat.


" Wah, akhirnya keluar pertarungan yang menarik, " ucap Huli Jing semangat.


" Marga Mo?, " tanya Yueyin. Raut wajahnya terlihat tidak baik. Marga Mo mengingatkannya pada paman dan bibinya saat berada di dunia modern, mereka memiliki marga yang sama.


" Tuan Mo itu, salah satu murid terbaik di perguruan Bintang, " ucap Huli Jing.


" Marganya sangat menyebalkan, " ucap Yueyin kesal.


" Sudahlah Nona, lagipula marganya saja yang sama. Tuan Mo itu terkenal dengan kebaikannya, " ucap Huli Jing.

__ADS_1


" Sepertinya kau tau sangat banyak tentang para petarung hebat hari ini, " ucap Long Qiang sinis.


" Tentu saja. Aku mencari informasi sebelum pertandingan, ini juga dapat membantu menjawab berbagai pertanyaan Nona kan, " ucap Huli Jing bangga.


" Baiklah, kau sudah sangat bekerja keras, " ucap Yueyin tulus.


" Nona, untuk apa memujinya?, " tanya Long Qiang.


" Kau ini, sudahlah kita perhatikan saja pertandingannya. Huli ayo jelaskan aku ingin mendengar informasi yang kau dapatkan, " ucap Yueyin.


" Baik Nona, " jawab Huli Jing semangat.


" Pria yang bermarga Mo itu namanya adalah Mo Yuan, dia pria yang baik. Menjadi salah satu murid kesayangan dari perguruan Bintang. Sedangkan pria bermarga Jing itu namanya adalah Jing Lin, dia juga pria yang baik, intinya mereka berdua sama-sama baik, tapi menurut rumor yang aku dengar, mereka mengikuti pertandingan ini hanya untuk menguji kekuatan dari perguruan lainnya saja. Kalau kekuatan mereka berdua, menurutku tak perlu aku beritahu, kalian bisa merasakannya bukan. Mereka juga bisa dikatakan imbang, " ucap Huli Jing.


" Ternyata begitu, tapi mengapa mereka tidak menguji kekuatan saat pertemuan antar para perguruan yang sering di adakan itu?, " tanya Long Qiang.


" Kalau itu, aku juga tidak tau alasannya, " ucap Huli Jing seadanya.


Sekarang mereka sedang menonton pertandingan dengan serius.


" Wah, benar-benar seimbang, " ucap Huli Jing.


" Orang yang bernama Jing Lin itu, kemampuan pedangnya boleh juga, " ucap Yueyin. Huli Jing dan Long Qiang mengangguk setuju.


" Baik Nona, " ucap Long Qiang.


** ** ** ** ** **


Keesokan harinya.


Mereka bertiga sudah berada di tempat kemarin yang mereka tempati, saat menonton pertandingan.


Sambil menunggu giliran untuk Long Qiang bertanding, mereka bertiga menonton pertarungan yang terjadi di arena dengan serius.


" Sepertinya hari ini banyak orang berbakat yang bertanding. Pertandingan hari ini akan menjadi tontonan yang cukup menarik, tidak membosankan seperti kemarin, " ucap Huli Jing tersenyum.


" Sudah cukup komentarnya. Sekarang makanlah, kau belum sarapan tadi di penginapan karena terlambat bangun , " ucap Long Qiang.


" Baiklah, " ucap Huli Jing dengan senang hati memakan sarapannya.


" Ngomong-ngomong kenapa tidak membangunkanku saja tadi?, " tanya Huli Jing.

__ADS_1


" Long tidak tega denganmu, " ucap Yueyin menggoda Long Qiang.


" Nona, " ucap Long Qiang, seperti orang yang sedang merajuk. Yueyin hanya tersenyum di balik cadarnya.


" Benarkah? Long, aku tau kau selalu baik padaku, " ucap Huli Jing dengan senyuman.


" Sudah cukup. Makan saja, lagian untuk apa kau tersenyum seperti orang bodoh, kau sedang memakai topeng saat ini, " ucap Long Qiang.


" Oh iya, aku bahkan lupa kalau sedang memakai topeng, " ucap Huli Jing dengan cengirannya. Long Qiang memutar matanya malas.


" Eh, bukannya itu pangeran kedua?, " ucap Huli Jing.


" Dia yang memegang kipas bukan?, " tanya Yueyin.


" Benar Nona, " ucap Huli Jing.


" Bukankah dia terlalu bodoh?, " tanya Long Qiang.


Tentu saja Long Qiang berkata seperti itu bukan tanpa sebab. Pasalnya Pangeran itu menutup wajahnya menggunakan topeng, tapi masih mengenakan giok kerajaan di pinggangnya, dan juga kipas yang ia gunakan, merupakan senjata hebat milik Pangeran kedua dari kerajaan Wen. Lalu untuk apa Pangeran itu menutup wajahnya, bukankah itu terlihat konyol. Seperti itulah pikir Long Qiang.


" Sebentar lagi giliranmu, apa kau sudah siap?, " ucap Yueyin.


" Sudah Nona, " ucap Long Qiang.


Pertandingan tadi di menangkan oleh Pangeran kedua.


Akhirnya sekarang giliran Long Qiang untuk bertanding, banyak orang yang meneriakan nama Bai Chyou. Banyak orang yang mengenalnya, tentu saja karena dia adalah anak dari Jendral Bai.


" Menurutmu, siapa orang yang membuat Chyou jadi begitu marah?, " ucap Pangeran kedua.


" Entahlah, tapi aku mendengar bahwa orang yang akan bertanding dengannya, beberapa hari yang lalu menampar adiknya di penginapan Surga, " ucap orang yang bernama Yu Liang itu.


" Benarkah? aku pikir itu hanya kabar burung, tak di sangka itu sungguh terjadi, " ucap Pangeran kedua masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


" Aku juga tak percaya awalnya, siapa yang berani berurusan dengan anak Jendral yang terkenal seperti Jendral Bai. Siapa yang sangka orang itu memiliki nyali yang besar, " ucap Yu Liang.


" Menurutmu siapa yang akan menang?, " ucap Pangeran kedua.


" Tentu saja Chyou. Sebenarnya, aku tidak bisa merasakan kekuatan spiritual maupun aura dari lawan Chyou, " ucap Yu Liang.


" Aku juga sama. Tapi, jika dia tidak memiliki kekuatan spiritual dan aura, berarti dia hanya mengantar nyawanya pada Chyou, " ucap Pangeran kedua.

__ADS_1


Pertandingan antar Long Qiang dan Bai Chyou sangat sengit, Long Qiang tidak terluka sedikitpun, sedangkan Bai Chyou memiliki luka yang cukup parah. Sebenarnya Long Qiang bisa mengalahkan Bai Chyou saat pertandingan ronde satu, tapi Yueyin mengatakan untuk jangan terlalu cepat mengalahkan Bai Chyou, karena Bai Chyou memiliki harga diri yang tinggi.


__ADS_2