
Dirumah Alya Mama Anjani dan papa Frendi sudah ada di ruang keluarga bersama Alya.
"Papa gak mau ambil resiko Al, papa dan mama sibuk dan tidak bisa menjagamu setiap saat." Kata papa Frendi
"Alya tau kok pa. Papa tenang saja Alya bisa jaga diri Alya kok." Kata Alya.
Papa Frendi melirik mama Anjani
"Begini Al, papa dan mama ingin menjodohkan kamu dengan teman mama biar dia bisa menjagamu." Kata Mama Anjani
"Ah, masalah ini lagi. Alya jadi bosan." Kata Alya lalu pergi ke kamar.
Ting nong ting nong (bel berbunyi).
Di buka bi Shita dan menyuruh tamu itu duduk.
"Tuan, Nyonya ada Nyonya Dinda." Kata bi Shita pada tuannya. Frendi dan Anjani menemui tamunya.
"Kamu datang juga." Kata mama Anjani tersenyum.
"Ini buat Alya" kata mami Dinda sambil memberi bingkisan dengan senyuman terbaiknya. "apakah kau menjaganya dengan baik?." Tanya mami Dinda.
"Tentu saja, dia putriku." Kata mama Anjani
"Bagaimana apa putramu menyetujui perjodohan ini?." Tanya papa Frendi
"Dia tidak pernah menolak perintahku, pasti dia setuju Fren." Kata Dinda.
"Baikah, beri waktu kami untuk membujuk Alya." Kata Anjani.
"Ayo, kami sudah menunggumu untuk makan malam bersama." Kata mama Anjani lalu mereka ke meja makan. Alya turun dari tangga saat melihat Dinda dia langsung berlari dan memeluknya.
"Mami!!!." Kata Alya memeluk mami Dinda.
"Alya rindu mami kemana saja selama ini." Kata Alya. Anjani dan Frendi hanya tersenyum melihatnya.
Flashback on
Saat kecil Alya sering di titipkan kerumah mami Dinda karena mama Anjani dan papa Frendi sibuk. Mami Dinda memiliki 2 anak Jihan dan Zidan. Zidan adalah teman TK Alya mereka selalu bersama. Awalnya Zidan tidak menyukai Alya karena menurut Zidan kasih sayang maminya terbagi kadang jika makan Alya sering di suapi mami Dinda sedangkan Zidan disuruh makan sendiri.
Pada hari libur dirumah Zidan, Alya mnginep dirumah Zidan.
"Jid!! Ayo main sama aku." Kata Alya.
"Kamu pelempuan main tu sama kak Jihan." Kata Zidan sambil memainkan mobil-mobilannya.
"Kak Jihan, aku boleh ikut main boneka kakak kan." Kata Alya menghampiri Jihan.
"Gak boleh." Kata Jihan sambil memeluk boneka takut di ambil oleh Alya.
"Hiks.. hiks.. mami!!." Kata Alya menangis.
"Ada apa sayang?." Kata papi Royhan menggendong Alya karena mami Dinda pergi ke pasar jadi papi Royhan yang datang saat mendengar Alya menangis.
"Tidak ada yang mau main sama Alya papi. Hiks.. hiks.." kata Alya memeluk papi Royhan.
"Cup. Cup. Cup." Kata papi Royhan mengelus-ngelus punggung Alya dalam gendongannya.
"Alya mau main sama papi?." Sambung papi Royhan sambil mengusap air mata Alya. Alya mengangguk. Kemudian Papi Royhan mengmbil buku gambar dan pernsil warna.
Papi Royhan menggambar sebuah rumah dan diwarnai oleh Alya.
"Papi bagus kan?." Kata Alya sambil melihatkan hasil gambarnya pada papi Royhan.
"Bagus, Alya pintar." Kata papi Royhan.
"Papi Alya mau es clem rasa coklat." Kata Alya.
"Papi belikan ya." Kata Papi Royhan
"Beli dua ya papi." Kata Alya
"Iya, tapi jangan nangis lagi ya." Kata papi Royhan, Alya mengangguk dan melanjutkan gambarnya. Alya menggambar sebuah rumah meniru gambar punya papi Royhan dan mewarnainya. Papi Royhan datang membawa dua escrem yang Alya minta.
"Yey!!. Esclemnya sudah datang." Kata Alya langsung mengambil escrem di tangan papi dan lari kedapur satu ecscrem di taruk didalam kulkas satunya dibuka.
"Anak pintar." Kata papi Royhan
Alya kembali ketempat semula sambil membawa escrem ternyata Zidan main mobil-mobilan di atas buku gambar Alya.
"Jid!!." Kata Alya marah.
"Apa?." Kata Zidan
"Itu buku gambar aku!." Kata Alya menghampiri Zidan.
"Iya aku tau." Kata Zidan.
"Aku boleh pinjam mainanmu kan?." Kata Alya saat melihat mobil-mobilan Zidan.
"Untuk apa? Anak pelempuan tidak main mobil-mabilan kan." Kata Zidan.
"Siapa bilang." Kata Alya sambil menjilat-jilat esremnya.
"Ini pengangkan esclemku." Sambung Alya sambil memberikan escremnya kepada Zidan dan mengambil mobil-mobilannya Zidan.
Alya mencoba menggambar sebuah mobil di sebelah rumah.
"Ini siapa?." Tanya Zidan kepada Alya sambil menunjuk gambar beberapa orang di depan rumah yang Alya gambar.
"Ini Aku Jid. Ini papa Flendi dan ini mama Anjani. Ini mami Dinda, ini papi Loyhan" Kata Alya menjelaskan satu-satu gambar di sana.
"Aku akan membeli mobil untuk jalan-jalan dengan meleka." Kata Alya sambil menggambar mobil.
"Aku dimana? Kok gak ikut?" Kata Zidan.
"Kamu gak mau main sama aku, jadi gak boleh ikut di mobil aku." Kata Alya
Karena kelamaan menggambar, Escrem yang Zidan pegang meleleh ke tangan Zidan, Zidan mencicipi escrem itu karena Zidan belum pernah makan escrem ia ingin tau seperti apa rasanya. menicipinya sekali, dua kali.. hingga tak terasa escremnya habis.
"Aku kan sudah membantumu membawakan esclem." Kata Zidan
"Iya sudah, ini kamu." Kata Alya masih fokus menggambar dan menaruk gambar Zidan di sebelah gambar Alya.
"Gak mau, aku maunya disebelah mami Dinda dan papi Loyhan." Protes Zidan merampas gambar itu dan stcik escrem yang Zidan pegang jatuh di depan Alya. Alya melotot.
"Kamu memakan esclemku Jid!!!." Kata Alya marah.
"Tidak, ini esclemnya." Kata Zidan mengambil stcik escrem yang jatuh lalu memberikannya pada Alya. Alya menatap tajam pada Zidan dengan emosi yang memuncak, Zidan lari sambil memegang gambar yang tadi direbut dari tangan Alya. Alya mengambil mobil-mobilannya Zidan dan mencoret-coretnya dengan crayon. Zidan yang emosi melihat mobil-mobilan kesayangannya di coret-coret Zidan membuang gambar yang di pegangnya kesembarang arah dan menghampiri Alya membanting mobil-mobilannya itu di depan Alya hingga pecahan mobil-mobilannya itu mengenai kening Alya. Alya menangis sejadi-jadinya. Membuat Mami Dinda dan papi Royhan menghampirinya.
"Ada apa ini!!!." Kata papi Royhan. Mami Dinda langsung menggendong Alya.
"Dia telah melusak mobil-mobilan aku pi." Kata Zidan.
"Jid telah makan esclem aku mi, jadi aku mencolet-colet mobil-mobilannya Jid. Hiks.. hiks.. telus Jid membanting mobil-mobilan itu mi. Hoooaaaa." Kata Alya.
"Cup. Cup. Cup. Sudah gak usah nangis, ayo mami obati lukanya." Kata mami Dinda dan membawa ke kamarnya. Papi Royhan menggendong Zidan.
"Kamu sebagai laki-laki tidak boleh memukul atau menyiksa seorang perempuan sayang. Kamu harus melindungi dan menjaganya. Mengerti." Kata papi Royhan
"Tapi dia melusak mobil-mobilannya Zid pi." Kata Zidan.
"Nanti papi belikan yang baru." Kata papi Royhan
"Benelan pi." Kata Zidan kegirangan. Papi Royhan mengangguk.
"Tapi dengan syarat kamu minta maaf sama Alya." Kata Royhan. Dan Zidan mengangguk patuh.
"Ayo beresin mainannya dulu." Kata papi Royhan sambil menurunkan Zidan dari gemdongannya lalu Zidan membereskan semua crayon yang berserakan dan merapikannya di bantu oleh papi Royhan. Zidan beralih ke gambar yang di buangnya tadi.
"Pi!." Kata Zidan.
"Iya." Kata papi Royhan sambil memasukan crayon ke dalam tas Alya. Zidan menghampiri papinya.
"Dia menggambal papi, mami juga Zid." Kata Zidan
"Dia siapa zid??." Kata papi Royhan
"Gadis cengeng itu." Kata Zidan
"Hus.. namanya Alya." Kata papi Royhan
"Gadis cengeng!." Kata Zidan lalu menyimpan gambarnya di laci. Papi Royhan hanya menggeleng.
"Ayo beli mobil-mobilan pi." Kata Zidan
"Minta maaf dulu." Kata papi Royhan. Zidan langsung berlari menaiki tangga dan ke kamar maminya di ikuti papi Royhan.
Dikamar mami Dinda, Alya sudah tenang.
"Aku minta maaf ya.." kata Zidan pada Alya sambil menjulurkan tangannya. Alya tersenyum
"Iya, aku juga." Kata Alya.
"Papi belangkat sekalang ya.." kata Zidan.
"Alya mau ikut?." Ajak papi Royhan. Alya menganguk dan meretangkan tangannya ke depan minta di gendong sama papi Royhan.
"Alya mau beli buku gambar ya pi." Kata Alya.
"Iya." Kata papi Royhan.
Mereka masuk dalam mobil Alya sama Zidan duduk di depan bersama papi Royhan. Saat di toko mereka membeli mainan dan buku gambar lalu pulang.
"Mami Alya pulang!!." Kata Alya berlari mencari maminya dan menaiki tangga.
"Mami disini sayang." Kata mami Dinda. Alya turun dan menghampiri mami Dinda.
"Alya membeli buku gambal mami, Jid membeli mobil-mobilan. Disana tadi Alya beltemu sama Dina sama ibunya dan membeli buku gambal juga. Dina di sekolah gak mau main sama Alya mami" Kata Alya bercerita pada mami
"Kenapa?." Kata mami Dinda.
"Dia bilang Alya ini anak asuh ya mami." Kata Alya polos.
"Anak asuh itu apa mami??." Tanya Alya.
__ADS_1
"Anak asuh itu adalah anak titipan sayang." Kata mami Dinda.
"Oh, seperlti mama Anjani yang menitipkan Alya kepada mami kan." Kata Alya mulai mengerti.
"Iya, ayo makan. Aaaa." Kata mami Dinda sambil menyuapi Alya
"Zidan mau di suapi juga mami." Kata Zidan merengek.
"Iya ayo." Kata mami Dinda. Mereka makan satu piring yang sama disuapi sama mami Dinda
"Jid, aku punya esclem. Kamu mau?." Kata Alya
"Iya mau." Kata Zidan lalu Alya mengambil escremnya didalam kulkas.
"Mami bagi dua mi." Kata Alya pada mami Dinda.
"Iya, nanti habiskan dulu nasinya. Aaa." Kata mami Dinda pada Alya.
"Gak mau Alya mau esclem." Kata Alya ngambek.
"Iya, ini yang terakhir, nanti mami bagi dua escremnya ya. Ayo aaaa." Kata mami Dinda sambil membuka mulutnya agar ditiru oleh Alya. Alya membuka mulutnya dan mami Dinda menyuapinya. "Eem, anak pintar." Sambung mami Dinda dan Alya memberikan escremnya pada mami Dinda sambil mengunyah makanan didalam mulutnya. Mami Dinda mengambil dua gelas dan membagi escrem lalu memberikan pada Zidan dan Alya. Mereka memakan escremnya.
"Enak." Kata Zidan
"Iya, enak." Kata Alya. "Mami!!." Panggil Alya karena mami Dinda sedang mencuci piring.
"Iya sayang, ada apa." Kata mami Dinda
"Mau pipis mi." Kata Alya sudah berdiri didepan mami Dinda.
"Ayo." Kata mami Dinda mengantar Alya kekamar mandi. Seteleh selesai dengan aktifitasnya di kamar mandi Alya kembali ke meja makan dan memakan escremnya.
"Loh kok esclem Alya habis." Kata Alya saat melihat gelas kosong.
"Jid!!! Kamu makan esclemku ya." Kata Alya.
"Tidak, gelasmu bocol.." kata Zidan berbohong. Dan Alya membolak balikkan gelasnya dan melihat di bawa gelas ada setetes escrem.
"Mami!!." Kata Alya berlari menghampiri mami diruang tv sambil membawa gelas yang menurut Alya bocor. Zidan berlari kekamarnya dan mengunci kamar itu.
"Ada apa sayang." Kata mami Dinda.
"Mami membelikan gelas bocol ya pada Alya?." Tanya Alya
"Tidak, sayang." Kata mami.
"Ini buktinya saat Alya kembali dali kamal mandi esclem Alya habis. Kata Jid gelasnya bocol." Kata Alya polos. Mami Dinda tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu di jahilin oleh Zidan." Kata mami Dinda berdiri ingin menghampiri Zidan. Saat melihat Zidan tidak ada di meja makan.
"Jid!!!." Teriak Alya sambil mencari Zidan bersama mami Dinda. Alya lari menaiki tangga dan menuju kamar Zidan, kamar itu terkunci Alya menggedor-gedor kamar Zidan.
"Jid!! Buka kamalmu, mami! Jid ada di kamalnya." Kata Alya sambil menggedor-gedor kamar Zidan. Di dalam kamar Zidan tertawa lepas. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Alya langsung memukul Zidan dengan tangannya.
"Zid." Kata mami Dinda saat pintu kamar Zidan di buka menggunakan kunci cadangan. Tanpa di sadari mami Dinda Alya menerobos memasuki kamar Zidan dan memukulnya.
"Mana esclemku Jid!!." Kata Alya sambil memukul Zidan.
"Adau au. Mana aku tau." Kata Zidan. Keduanya dibisahkan oleh mami Dinda.
"Sudah-sudah. Kamu makan escremnya Alya Zid??." Tanya mami Dinda pada Zidan.
"Hehehe." Zidan nyengir kuda.
"Gak boleh gitu Zid. Jangan di ulangi lagi ya." Kata mami Dinda. "Biar ikhlaskan saja escremnya ya Alya, nanti kita beli lagi. Ayo tidur besok masuk sekolah." Kata mami Dinda.
Mami Dinda mengantar Alya ke kamar Jihan dan membaringkan Alya di tempat tidur Jihan, Jihan sedang belajar di meja belajarnya, mami Dinda keluar sambil mencium kening Alya.
"Selamat malam Alya." Kata mami Dinda.
"Malam mami." Balas Alya.lalu mami Dinda pergi.
"Minggir itu tempat tidurku." Kata Jihan membuka kasar selimut yang menutupi tubuh Alya. Alya kaget dan bangun, Alya cuma melihat Jihan.
"Tapi kak, kan duluan Alya yang tidul disini." Kata Alya
"Ini kamar siapa??." Tanya Jihan.
"Kamal kakak." Jawab Alya.
"Itu tau, sana minggir." Kata Jihan kasar.
"Alya tidul dimana kak?." Tanya Alya berkaca-kaca
"Terserah kamu." Kata Jihan tidak mau berbagi tempat tidur dengan Alya. Alya Duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Saat Jihan tidur lelap, Alya keluar kamar dan menghampiri kamar Zidan.
"Jid." Kata Alya mengetuk pintu kamar Zidan, karena tidak ada jawaban Alya membuka kamar itu dan ternyata kamarnya tidak dikunci Alya langsung masuk dan menutup pintu itu lagi lalu berbaring di samping Zidan.
Udara yang dingin di pagi hari masuk kekamar Zidan, saat mami Dinda membuka cendela di kamar itu.
"Ayo bangun." kata mami Dinda. "Loh Alya kok bobok sama Zidan? Bukannya tadi malam mami antar ke kamarnya kak Jihan." Tanya mami Dinda kaget.
"Kak Jihan gak mau belbagi tempat tidul sama Alya mami. Jid kamu mau belbagi tempat tidul sama aku kan." Kata Alya. Zidan mengusap matanya dan mengangguk.
"Ayo mandi nanti telat." Kata mami Dinda. Zidan dan Alya mandi di bantu mami Dinda di kamar mandi yang sama dan makan nasi di piring yang sama di suapi sama mami Dinda. Papi Royhan sudah bersiap-siap kekantornya dan kak Jihan juga sudah menggunakan seragam SDnya mereka berkumpul di meja dan bersarapan bersama.
Setelah sampai disekolah Alya dan Zidan.
"Zidan, jaga Alya ya." Kata papi Royhan.
"Iya papi." Kata Zidan lalu mencium punggung tangan Royhan di ikut oleh Alya.
Papi Rohan pun berangkat ke kantornya. Saat pelajaran di mulai Alya menangis di hampiri oleh bu Dira guru Alya.
"Ada apa Alya??." Tanya bu Dira.
"Alya mau duduk sama Jid, bu hiks. hiks." Kata Alya menangis.
"Alya minta jindul?." Tanya bu Dira tak mengerti.
"Bukan jindul, Jid bu." kata Alya. Alya langsung menghampiri Zidan yang asik membatik gambar.
"Kamu kenapa nangis?." Tanya Zidan saat di datangi oleh Alya.
"Aku mau duduk sama kamu Jid." Jawab Alya.
"Oh. Dina sana pelgi. Dia mau duduk sama Aku." Kata Zidan mengusir Dina yang duduk disampingnya. Dina lari menghampiri ibunya diluar kelas. "Sini duduk sama aku." Kata Zidan. Alya langsung tersenyum dan duduk disamping Zidan.
"Sudah, jangan menangis lagi gadis cengeng, kan sekalang duduk sama aku." Kata Zidan mengusap airmata Alya dan melanjutnya membatik gambar. bu Dira yang melihat hanya menggeleng kepala dan tetsenyum
"Aku mau duduk sama kamu telus ya Jid di sini." Kata Alya.
"Iya." kata Zidan. Mereka pun melanjutkan membatik.
Saat jam istirahat.
"Bu. Alya dia yang merebut tempat dudukku tadi." Kata Dina mengadu pada ibunya.
"Hai. Kamu Alya kan?." Tanya Susi ibunya Dina yang menghampiri Alya dan Zidan saat memakan bekal mereka.
"Iya tante." Kata Alya.
"Jangan ganggu Dina lagi ya." Kata Susi. Alya mengangguk.
"Jadi anak asuh sudah di manja kayak gitu. Dikit-dikit nangis, Idih amit-amit." Gumam Susi saat di luar kelas di dengar sama ibu-ibu kepo yang menjaga anaknya.
"Itu Alya anak asuhnya bu Dinda yang tadi menangis dan merebut tepat duduknya Dina anakku. Masak dikit-dikit nangis, kan manja banget." Kata Susi.
"Kamu juga memanjakan anakmu buktinya selalu di jaga setiap mau kesekolah, bahkan nungguin di sekolah, tapi Alya tanpa ibu dan bapaknya dia gak cengeng ya gitu permintaannya harus dituruti kalau tidak pasti nangis." Kata bu Susan tetangga bu. Dinda sekaligus ibunya Mai teman sekelas Alya dan Zidan.
"Iya sih, tapi Dina anakku gak cengeng kaya Alya. Jadi penasaran sama ibu dan bapaknya Alya kenapa bu Dinda mau merawat Alya." Kata Susi.
"Suami bu Dinda itu kerja di kantornya papanya Alya, dan suaminya bu Dinda juga teman SMAnya papanya Alya." Jelas bu Susan yang tau asal-usul Alya.
"Apa! Bu Dinda sudah kaya harta itu masak suaminya budaknya papanya Alya. Sekaya apa papanya Alya." Kata bu Susi.
"Yang jelas lebih kaya dari suaminya bu Dinda lah. Dan kamu tau Alya itu anak tunggal. Orang tuanya Alya pada sibuk semua jadi Alya di titipkan sama bu Dinda. Suami bu Dinda adalah salah satu tangan kananya pak Frendi." Kata Susan.
"Ooh, Pantesan." Kata Susi
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Zidan dan Alya duduk bersama.
"Jid, aku pinjam buku gambalmu. Sepeltinya aku mengenal buku gambal itu." Kata Alya mengambil buku gambar yang Zidan keluarkan dari tasnya dan memperhatikannya. "Ini buku gambalku yang hilang ya Jid?." Tanya Alya.
"Itu buku gambalku, dibelikan papi kemalin." Kata Zidan berbohong.
"Gak ini buku gambalku." Kata Alya merampasnya.
"Ya udah ambil saja kalau kamu mau." Kata Zidan mengalah agar Alya tidak menangis.
"Emang ini punyaku." Kata Alya membuka halaman buku gambarnya satu persatu ternyata sudah penuh dengan gambar Zidan .
"Jid, kamu menggambal semua ini sampai tidak ada halaman kosong!!." Kata Alya marah.
"Kan sudah ku bilang itu buku gambalku." Kata Zidan tersenyum karena berhasil menjahili Alya lagi. Alya menaruk buku gambar itu kedalam tasnya dan saat pulang di depan kelas sudah ada paman Budi dan mami Dinda menjemput Alya dan Zidan.
"Ayo non pulang." Kata paman Budi (kepercayaan keluarga Alya yang selalu mengantar jemput Alya kerumah Zidan).
"Mama Anjani sudah pulang ya paman dut?." Kata Alya. Karena paman Budi gendut maka Alya memanggilnya paman dut.
"Iya." Kata paman Budi. Tiba-tiba bu Susi datang.
"Alya. Maafkan tante ya tadi." Kata bu Susi lembut. Alya mengangguk. "Maafkan Dina juga ya." Lanjut bu Susi. Alya mengangguk dan pergi.
"Jid, aku pulang dulu ya. Dada." Kata Alya pada Zidan. Lalu mencium tangan mami Dinda. "Da mami." Kata Alya pamitan.
"Paman dut, gendong." Kata Alya manja pada paman Budi sambil merentangkan tangannya minta di gendong. Paman Budi pun menggendongnya dan Alya merangkul leher paman Budi.
"Paman dut, Alya ingin esclem." Kata Alya.
"Iya nanti paman dut belikan." Kata paman Budi. Alya membeli escrem 2 kotak pasalnya mama Anjani juga menyukai escrem. Hari berganti bulan setiap 1 bulan 1 minggu Alya pulang kerumah mama Anjani 3 minggunya di rumah mami Dinda. Kebiasaan itu berlanjut sampai Alya dan Zidan masuk SD.
Waktu pulang sekolah Alya dan Zidan menunggu di depan SDN sekolah Alya dan Zidan. Waktu itu papi Royhan telat menjemput mereka.
"Jid, kamu punya uang?." Tanya Alya.
__ADS_1
"Iya punya,." Jawab Zidan.
"Aku mau beli escrem itu,." Kata Alya saat pedagang escrem lewat.
"Kamu tunggu disini ya. Biar aku yang belikan." Kata Zidan.
"Jid! Beli dua ya." Teriak Alya sambil menunjukkan dua jarinya. Zidan mengangguk. Tak lama kemudian Zidan datang memberikan escremnya pada Alya.
"Terimakasih."kata Alya sambil membuka bungkus escremnya lalu menjilatnya.
"Buat aku mana?." Tanya Zidan karena tidak mendapat bagiannya.
"Hehehe. Ini buat kamu." Kata Alya tersenyum dan memberi escrem yang sudah di buka dan dijilatnya.
"Gak mau. Aku mau yang itu." Kata Zidan menunjuk escrem yang masih dibungkus rapi. Alya memberinya seperti tidak ihlas.
"Ini." Kata Alya sambil menjilat escremnya sendiri. Sampai escrem mereka habis jemputan belum datang tiba-tiba cuaca tidak mendukung dan hujan pun turun. Zidan menarik tangan Alya ke depan kelas agar tidak terkenak hujan.
"Jid. Apa kamu pernah main hujan?" Tanya Alya.
"Tidak." Jawab Zidan. Alya langsung menaruk tasnya dan lari ke lapangan sekolah.
"Gadis cengeng!! Apa yang kamu lakukan?? Kata mami kalau mandi hujan nanti sakit sini cepat." Teriak Zidan di depan kelas.
"Gak mau ini seru Jid." Kata Alya sambil main air hujan. Tiba-tiba petir menyambar dengan suara yang menggelegar. "Aaaaaa." Teriak Alya sambil berlari dan memeluk Zidan. "Jid. Aku takut." Kata Alya menangis.
"Minggir, jangan peluk-peluk aku. Lihat bajuku basah karena ulahmu." Kata Zidan berusaha melepaskan pelukan Alya. Tapi Alya malah semakin erat memeluknya.
Dirumah Zidan papi Royhan pulang.
"Loh anak-anak tidak bersamamu pi?." Tanya mami Dinda.
"Papi kira dijeput mami." Kata papi Royhan.
"Pi ini hujan deras mungkin mereka masih menunggu kita di sekolahnya. Ayo jemput mereka." Kata mami Dinda panik dan pergi bersama papi Royhan untuk menjemput Zidan dan Alya.
Hujan sudah redah. Alya dan Zidan duduk di depan kelas sambil memeluk lututnya masing-masing.
"Mami kok gak jemput kita Jid." Kata Alya
"Tunggu sebentar lagi pasti mami datang." Kata Zidan.
"Aku kedinginan Zid." Kata Alya.
"Siapa suruh mandi air hujan." Kata Zidan.
"Aku tau jalanya pulang. Ayo Jid kita pulang sendiri." Kata Alya.
"Jangan, tidak boleh. Mami bilang harus menunggu sampai mami atau papi datang. Mengerti." Kata Zidan. Alya mengangguk. Tiba-tiba mami Dinda dan Papi Royhan datang.
"Itu mereka." Kata mami Dinda saat melihat Zidan dan Alya. "Zidan!! Alya!! Ayo pulang." Teriak mami Dinda. Zidan dan Alya pun berlari menghampiri mami Dinda lalu mereka pulang.
Saat di dalam mobil
"Papi minta maaf ya sudah telat menjemput kalian. Papi kira mami yang jemput. Papi lupa untuk menghubungi mami kalau ada rapat mendadak." Kata papi Royhan.
"Gak papa kok pi." Kata Zidan.
"Pi. Bisa lebih cepat bawa mobilnya Alya kedinginan pi." Kata mami Dinda.
Saat di rumah Zidan. Alya dan Zidan langsung ganti baju. Dan main bersama.
"Kamu mau gak main polisi polisian?." Tanya Zidan.
"Aku yang jadi polisinya ya." Kata Alya.
"Aku polisinya kamu jadi pencurinya." Kata Zidan.
"Gak mau aku mau jadi polisinya." Kata Alya.
"Iya sudah kamu polisinya." Kata Zidan dengan seyum jahilnya.
"Mana pistolnya aku yang pegang kan aku polisinya." Kata Alya sambil menengadahkan tangannya.
"Ini." Kata Zidan memberikan pistol mainan yang sudah di isi air warna merah. "Ayo kejar aku kalau kamu bisa." Sambung Zidan lalu berlari Alya mengejarnya naik turun tangga mengelilingi meja makan dan Zidan pura-pura jatuh.
"Jangan bergerak!" Kata Alya sambil mengarah pistolnya pada Zidan. Zidan berusaha lari tapi Alya melepaskan tembakannya. "Dor! Dor! Dor!." Kata Alya menirukan suara pistol. Zidan pun jatuh dengan baju penuh dengan warna merah, karena terlalu lama Zidan tidak bangun Alya menggoyakan tubuh Zidan. "Jid! Bangun. Jid kamu tidak mati beneran kan!." Kata Alya terus menggoyangkan tubuhnya Zidan. Saat Alya tidak melihatnya Zidan membuka satu matanya dan Alya menoleh tapi Zidan cepat-cepat menutup matanya. "Jid jangan bohongin aku. Ayo bangun." Kata Alya mulai menyerah karena Zidan tidak bangun. "Mami!." Teriak Alya sambil berlari mencari mami Dinda. Saat Alya tidak ada Zidan bangun dan bersembunyi.
"Ada apa sayang, kok teriak-teriak." Kata mami Dinda.
"Jid tidak sadarkan diri mami." Kata Alya mulai berkaca-kaca.
"Tidak sadarkan diri gimana maksudnya?." Kata mami Dinda mulai panik karena ucapan Alya.
"Ayo ikut Alya." Kata Alya sambil menarik tangan mami Dinda. Saat Alya dan mami Dinda berada ditempat Zidan berbaring tadi, mereka tidak menemukan keberadaan Zidan. Alya kaget dan membulatkan matanya. "Jid." Kata Alya lirih.
"Mana Zidan nak." Kata mami Dinda.
"Tadi Jid ada di sini mi, kami main polisi-polisian aku yang jadi polisinya Jid pencurinya. Aku menembak Jid dan Jid tergeletak disini mi tak sadarkan diri. Apa jangan-jangan Jid jadi hantu ya mi." Kata Alya mulai takut. Mami Dinda mengerti bahwa ini ulah kejahilannya Zidan dan tersenyum.
"Jid!! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membunuhmu Jid." Kata Alya menangis. "Jid!! Kamu dimana?." Kata Alya lalu di gendong sama mami Dinda.
"Cup cup cup. Zidan ada di sekitar sini nanti dia muncul kok. Ayo ikut mami." Bisik mami Dinda dan membawanya ruang tv. Setelah Alya tenang Alya tertidur di sofa. Zidan yang merasa lapar keluar dari persembunyiannya dan menuju ke dapur mencari-cari makanan di dalam kulkas. mami Dinda haus ingin mengambil air dan bertemu Zidan.
"Hayo. Kamu jahilin Alya lagi hah." Kata mami Dinda menjewer telinga Zidan dari belakang.
"Hihihihi. Ampun mi." Kata Zidan sambil cengengesan.
"Kamu tu ya kasian Alya nangis terus karenamu. Jangan ulangi lagi ya." Kata mami Dinda.
"Zidan lapar mi." Kata Zidan.
"Sana main dulu, mami mau masak nanti makan bareng." Kata mami Dinda. Lalu Zidan pergi keruang tv Zidan melihat Alya tidur di sofa dan Zidan tersenyum jahil. Zidan mencari-cari sepidol dan mencoret-coret wajah Alya dengan sepidol hitam. Zidan menggambar kumis dan kacamata sepert ini 😎 pada muka Alya, Zidan memfotonya.
"Zid!!." Teriak mami Dinda saat masakan sudah siap di hidangkan.
"Iya mi." Kata Zidan berlari ke meja makan.
"Ayo makan, katanya lapar." Kata Mami Dinda.
Di meja makan papi Royhan dan kak Jihan sudah menunggu mami Dinda menyiapkan makanannya di bantu bi Sri.
"Alya mana??." Tanya papi Royhan.
"Dia tidur pi, mungkin kelelahan main sama Zidan." Kata mami Dinda sambil menata makanan di atas piring papi Royhan.
"Mi, aku sudah lapar. Mana makannan Zid?." Kata Zidan tak sabar saat sudah ikut bergabung di meja makan.
"Iya, sabar sebentar." Kata mami Dinda mulai menata makanan di piring Zidan.
"Mami!!." Teriak Alya yang baru bangun.
"Mami di sini sayang." Teriak mami Dinda. Alya menghampiri sumber suara dan semua orang tertawa lepas melihat Alya. Alya seperti orang linglung yang kebingungan dan mulai takut mendengar semua orang tertawa menggelegar diruangan itu. Alya pun menangis. "Hoooaaaa!." Teriak histeris Alya sambil menangis. Semua orang pun diam seketika mami Dinda langsung menghampiri Alya dan menggendongnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan wajahmu nak?." Tanya mami Dinda. Alya tak menjawabnya, Zidan cekikikan di belakang mami Dinda. mami Dinda tersenyum menahan tawanya dan membawa Alya kekamar mandi saat Alya sudah tidak ada di ruangan itu papi Royhan tertawa begitu juga dengan kak Jihan dan Zidan termasuk bik Sri ikut tertawa juga.
"Alya lapar mi." Kata Alya.
"Iya cuci muka dulu ya. Habis itu kita makan." Kata mami Dinda sambil mencuci muka Alya. Setelah selesai mereka membali ke meja makan.
"Mami suapin ya." Kata mami Dinda menawarkan pada Alya.
"Tidak usah mi , Alya kan sudah besar." Kata Alya. Mereka semua makan tanpa bersuara. Setelah selesai makan mereka kembali beraktifitas ada yang nonton tv, mengerjakan Pr dan sebagainya.
"Ayo tidur sekarang." Kata mami Dinda. Alya selalu tidur di kamar Zidan bersama Zidan karena kak Jihan tidak mau berbagi tempat tidur dengan Alya. Alya tidur sambil memeluk boneka kesayangannya. Tengah malam Alya bangun.
"Jid. Dingin." Kata Alya menggigil kedinginaan. Zidan bangun dan menyelimuti Alya, tapi Alya tetap menggigil hingga membuat Zidan takut.
"Kamu gak papa kan?." Kata Zidan sambil menyentuh kening Alya dengan punggung tangannya. "Kamu panas!. Biasanya mami mengompres aku jika badanku panas tunggu ya aku mau ngambil alat kompres buat kamu." Kata Zidan lalu berdiri tapi Alya memegang tangannya."lepaskan tanganku, gimana aku mau mengambilnya kalau kamu pegang tanganku." Sambung Zidan.
"Jangan pergi Jid, aku takut sendirian." Kata Alya tidak mau melepas tangan Zidan.
"Aku baru tau selain cengeng kamu juga penakut ya." Kata Zidan. "Mami!!!." Teriak Zidan tiba-tiba. "Mami!!." Teriak Zidan karena mami Dinda belum muncul.
"Iya, iya sayang. Ada apa??." Tanya mami Dinda saat sudah di kamar Zidan.
"Dia panas mi." Kata Zidan. Mami Dinda langsung menyentuh kening Alya dengan telapak tangannya.
"Cepat Ambilkan mami alat kompres." Kata mami Dinda lalu Zidan pergi saat tangannya di lepas oleh Alya.
Pagi yang cerah Alya terbaring lemas di tempat tidur dan mami Dinda di sampingnya menjaga dan mengganti kompresnya.
"Zid. Sana siap-siap seragamnya sudah mami serika." Kata mami Dinda.
"Aku gak mau sekolah mi." Kata Zidan.
"Gak boleh gitu, sana cepat mandi nanti keburu telat." Kata mami Dinda.
"Zidan pokoknya gak mau sekolah titik." Kata Zidan didengar oleh papi Royhan.
"Loh, kenapa gak mau sekolah."kata papi Royhan.
"Zidan gak mau sekolah kalau gak sama Alya." Kata Zidan.
"Kan Alyanya sakit nak. Jadi gak bisa sekolah." Kata mami Dinda.
"Ya udah Zidan gak mau sekolah." Kata Zidan cemberut.
"Ya udah untuk hari ini gak papa gak sekolah nanti papi minta izin pada bu gurunya. Tapi bosok Zidan harus sekolah ya." Kata papi Rohyan. Zidan mengangguk lalu papi Royhan berangkat ke kantornya.
"Mami siapkan bubur dulu ya." Kata mami Dinda pada Alya. Alya pun menganggu, di samping Alya Zidan main mobil-mobilan.
"Gadis cengeng, kok tidur terus ayo main sama aku." Kata Zidan tapi Alya diam. "Nanti kalau aku sudah besar kayak papi aku akan mengajakmu jalan-jalan dengan mobilku, kamu mau kan jalan-jalan denganku?." Tanya Zidan. Alya menganguk. Zidan mengambil sebuah gambar yang dulu Alya buat.
"Aku minta maaf telah mengambil gambarmu ini aku kembalikan." Kata Zidan sambil menaruk sebuah gambar didepan Alya. "Aku tidak mengubahnya sedikit pun aku tetap disampingmu digambar ini. tapi aku menciplaknya dan mengubah posisi orangnya. Lihat ini." Sambung Zidan sambil memperlihatkan hasil gambarnya." Ini Aku dan kamu pakek mobil warna merah di depan. Terus di belakang ada mami Dinda sama papi Royhan juga kak Jihan pakek mobil silver dan di paling belakang ada mama-papanya kamu pakek mobil warna hitam. Dan kita akan melanjutkan perjalanan di sebuah bukit di sana kita akan melihat berkebunan teh. Indah bukan."kata Zidan menceritakan gambarnya. Alya bangun dan mengambil gambar Zidan.
"Aku lebih menyukai gambar ini." Kata Alya lemas dan mengambil gamar yang Zidan buat.
"Buburnya sudah datang." Kata Mami Dinda membawa bubur dan duduk disamping Alya. "Ayo nak makan dulu. Aaaa" Sambung mami Dinda sambil menyodorkan bubur kepada Alya dan Alya memankannya dengan lahap.
"Zid, juga mau makan bubur mi. Aaaa." Kata Zidan membuka mulutnya ingin disuapi oleh maminya.
"Kamu ini,apa apa maunya sama Alya. Ini." Kata mami Dinda lalu menyuapi Zidan.
"Alya harus banyak istirahat, biar cepat sehat." Kata mami Dinda. "Ayo Zid kita kelaur biar Alya bisa istirahat dan cepat sembuh." Kata mami Dinda.
__ADS_1
"Gak mau. Zidan mau disini saja." Kata Zidan menolak. Mami Dinda mengalah karena Zidan keras kepala. Seharian Alya di dalam kamar di temani Zidan.