SANG JUARA HATI

SANG JUARA HATI
18. ZIDAN SALAH FAHAM


__ADS_3

Saat Alya kembali bergabung dengan gengnya.


"Alfin bisa ikut aku sebentar." Kata Alya lalu menaiki tangga diikuti oleh Alfin.


Di depan kamar Alya.


"Fin, kamu bisa mengurusnga besok aku tidak masuk." Kata Alya


"Oh itu kamu tenang saja oke." Kata Alfin.


"Soal pak bos. Kasik tau peraturan di apartemenku." Kata Alya.


"Iya nanti akan aku kasik tau." Kata Alfin.


"Ya sudah kamu boleh kembali tolong panggil Aldo aku tunggu." Kata Alya. Alfin pun pergi.


Saat menuruni tangga wajah Alfin senyum-senyum Zidan memperhatikannya. "Kenapa tu anak kok senyam-senyum mungkin habis wik-wik tadi." Gumam Zidan dalam hati. Aldi, Aldo dan Zidan nonton televisi Alfin bergabung dan menepuk bahu Aldo. Aldo mengerti langsung berdiri lalu menaiki tangga.


"Zid, jika kamu ingin tinggal di sini kamu harus mentaati peraturan di sini." Kata Alfin.


"Peraturan apa?." Tanya Zidan.


"Gampang dan mudah di ingat." Kata Alfin.


"Iya apa??." Tanga lagi Zidan.


"Pertama, jika kamu mau mengajak teman ke apartemen ini kamu harus izin dulu pada Alya. Kedua, tidak boleh membawa wanita di apartemen. Dan terakhir yang ke tiga. Di atas ada 3 kamar, 2 kamar boleh menggunakannya sepuas mungkin tapi 1 kamar lagi di dekat tangga itu." Kata Alfin menunjuk sebuah kamar. "Itu kamar khusus punya Alya tidak boleh masuk kesana kecuali Alya sendiri yang memintanya. Kamu mengerti." Kata Alfin.


"Iya." Jawab Zidan.


Saat di lantai 2


"Aldo." Kata Alya.


"Iya ada apa Al?." Tanya Aldo.


"Kamu tau siapa tamu kita?." Tanya balik Alya.


"Temannya Alfin." Jawab Aldo.


"Bukan dia sepupunya Alfin. Kamu tau siapa dia?." Tanya Alya lagi.


"Tidak, emangnya aku kenal sama keluarganya Alfin yang aku tau cuma mama dan papanya." Kata Aldo.


"Dia adalah bos dimana kamu bekerja saat ini." Kata Alya. Wajah Aldo langsung pucat. "Jadi jaga sikap kamu jika tidak mau di pecat nanti." Kata Alya menakut-nakuti Aldo. Aldo yang merasa takut di pecat oleh bosnya mengeluarkan keringat dingin.


"Kamu boleh kembali. Tolong panggil Aldi kesini." Kata Alya, Aldo pun pergi.


Saat menuruni tangga wajah Aldo pucat dengan keringat yang mengalir. Zidan juga melihat ekspresinya. "Apa yang wanita itu lakukan kenapa wajahnya pucat begitu dengan penuh keringat lagi." Gumam Zidan dalam hati. Aldo ikut bergabung lagi dan menepuk pundak Aldi. Aldi mengerti lalu menaiki tangga.

__ADS_1


saat di lantai 2


"Kamu bisa mengurus tukang bangunan itu Di?." Tanya Alya saat Aldi ada di hadapannya.


"Iya Al. Warungnya sudah jadi kita bisa menempatinya besok." Kata Aldi.


"Kerja yang bagus ini bonus buat mereka." Kata Alya sambil mengambil amplop di dalam laci dan memberikannya pada Aldi.


"Buat aku mana Al?." Tanya Aldi.


"Ini." Kata Alya memberikan Amplop. "Tapi ingat jangan ada yang mengetahui rahasia ini, kamu mengerti." Sambung Alya.


"Oke siap bos." Kata Aldi sambil👌 dan menghitung uangnya.


"Gimana kurang?." Tanya Alya.


"Oh, tidak ini sudah cukup bos." Kata Aldi langsung memasukkan amplop ke saku jaketnya.


"Kamu boleh pergi, aku mau istirahat jagan di ganggu." Kata Alya lalu pergi menuju kamar.


Saat Aldi turun dengan wajah yang gembira karena mendapatkan bonus dari bosnya. "Wajahnya ceria begitu, kalau dia perempuan pasti wajahnya merah merona." Gumam Zidan dalam hati saat melihat ekspresi yang ditampakkan di wajahnya Aldi. Aldi ikut bergabung dan menyuruh Zidan menggeserkan tempat duduknya dengan menepuk bahu Zidan. Zidan berdiri dan menaiki tangga.


"Mau kemana Zid?." Tanya Alfin.


"Keatas." Jawab Zidan polos.


"Sudah menghabiskan 3 laki-laki masih kurang saja wanita itu, gimana kalau nanti hamil?? Lantas anak siapa yang di kandungnya. Apa dia akan minta pertanggung jawaban pada Alfin, karena cuma dia yang tergila-gila padanya. Tidak ada lagi selain Alfin, Aldo juga tergila-gila padanya. Terus aku melihat ekspresi wajahnya Aldi begitu bahagia. Apa dia yang akan di minta pertanggung jawaban nanti." Gumam Zidan dalam hati sambil mematung di tengah tangga dan saat melanjutkan tiga langkah Zidan berhenti lagi. "Tunggu, tunggu. Gimana kalau nanti Alya minta pertanggung jawaban dariku??. Mami pasti kaget mendangarnya dan bisa-bisa serangan jantung mendadak." Gumam Zidan dalam hatinya lagi.


"Kenapa cuma berdiri di situ Zid. Masuk saja kekamar nanti gue menyusul." Kata Alfin setengah berteriak.


"Heh, iya. Ini gue mau masuk dah." Kata Zidan lalu melanjutkan langkahnya


Saat Zidan di lantai dua dia tidak melihat keberadaan Alya. Lalu dia mendekati kamar Alya dan ternyata pintunya tidak terkunci dia masuk ke kamar itu dan menutup pintunya. Alya yang kaget karena ada orang yang masuk spontan kakinya di arahkan ke leher Zidan sekali gerakan bisa patah leher Zidan.


"Apa yang kamu lakukan di sini??." Tanya Alya dengan marah.


"Tadi Aldi menepuk bahuku jadi sekarang giliranku." Kata Zidan mengeluarkan keringat dingin karena kaget dengan tindakan Alya yang tiba-tiba. Alya menyadarinya dan menurunkan kakinya.


"Giliran apa?? Sana keluar!!." Kata Alya. Zidan yang mau keluar langkahnya di kentikan oleh Alya.


"Tunggu!." Kata Alya menghampiri Zidan yang menjauh, kakinya Alya kesandung dan hampir tengkurep tapi dengan sigap Zidan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh pandangan mereka bertemu. Alya merasa aneh setiap berpelukan dengan Zidan jantungnya berdetak semakin cepat demikian dengan Zidan. Tak lama kemudian Alya berdiri tegak.


"Apa Alfin sudah memberi tahu peraturan disini?." Tanya Alya.


"Iya." Jawab Zidan.


"Jangan coba-coba untuk melanggarnya." Ucap Alya tegas. "Ya sudah kamu boleh pergi." Sambung Alya memalingkan wajahnya karena takut Zidan melihat wajah Alya yang merona karena malu.


Zidan pun turun dengan wajah bahagia dan berkeringat sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Kenapa lo senyam-senyum?" Tanya Alfin.


"Lo tadi kenapa pas di panggil Alya turun tangga sambil senyam-senyum?" Tanya balik Zidah.


"Oh, itu karena gue senang Alya masih mempercayai gue, dia tidak mau masuk besok dan menyuruh gue untuk mengurusnya, lo kan tau dia itu anaknya suka bolos." Kata Alfin menjelaskan.


"Dan kamu Aldo." Kata Zidan.


"Aa..ada aa..apa bos?" Tanya Aldo salah tingkah di hadapan bosnya.


"Kenapa tadi kamu pas turun tangga dengan wajah pucat dan berkeringat??." Tanya balik Zidan.


"Ii...itu karena saya takut di pecat bos." Jawab Aldo.


"Dipecat?? Maksudnya." Kata Zidan tak mengerti.


"Kata Alya anda adalah bos saya, jika saya salah tingkah bisa-bisa nanti saya di pecat oleh anda." Jawab Aldo dengan takut-takut. Zidan tertawa lepas.


"Kamu kerja di kantorku??." Tanya Zidan.


"Iya bos." Jawab Aldo.


"Siapa namamu??" Tanya Zidan.


"Aldo pratama, bos." Jawab Aldo.


"Bagian apa??." Tanya Zidan. Aldo diam dan mengeluarkan keringat dingin.


"Apa bos akan memecatku bos?." Tanya Aldo yang duduk memegang kakinya Zidan. "Jangan pecat saya bos, gimana nasip emak saya di kampung bos kalau saya tidak mengirimnya uang. Jangan pecat saya bos." Kata Aldo memohon.


"Siapa yang mau memecatmu, kamu di bagian apa??." Tanya lagi Zidan sambil tersenyum. "Jahil juga tu cewek." Gumam Zidan dalam hati.


"Bagian adminitrasi bos." Jawab Aldo.


"Sudah bangun, kalau di luar gak usah panggil bos oke." Kata Zidan sambil membangunkan Aldo dan mendudukkannya di samping.


"Dan kamu Di! Kenapa gembira banget saat turun dari tangga??." Tanya Zidan.


"Ya karena dapat bonus." Kata Aldi tersenyum lebar.


"Maksudnya??" Kata Zidan tak mengerti.


"Begini Zid, Aldi itu suruhan papanya Alya, dia harus melaporkan apa-apa yang berhubungan dengan Alya. Gue yakin Aldi dapat bonus karena dia menjaga rahasia Alya dari papa mamanya Alya dan juga paman Budi. Benarkan Di." Jawab Alfin lalu melihat Aldi.


"Yaps. Betul." Kata Aldi tersenyum


"Ooh," Kata Zidan mengerti. "Siapa paman Budi itu?." Tanya Zidan.


"Alya bilang dia adalah tangan kanannya papanya, dan Alya sering menyebutnya paman dut." Jelas Alfin. "Ayo kita istirahat." Kata Alfin.

__ADS_1


__ADS_2