
Di kantor Zidan, Alya menunggu cukup lama dan dia bertanya pada seorang OB.
"Apa kamu tau pak Zidan kemana??." Tanya Alya.
"Saya dengar ke kota B nyonya. Dan akan pulang nanti siang." Jawab OB.
"Baik lah kamu boleh pergi." Kata Alya lalu pak OB pergi.
Saat Alya mau keluar mami Dinda datang.
"Loh, mami kok kesini.?" Tanya Alya kaget.
"Iya ini kan kantornya mami nak." Kata mami Dinda bahagia melihat menantunya.
"Apa Mas Zidan menjual kantor ini pada mami?" Tanya Alya mengira Zidan menjual kantornya pada mami Dinda.
"Sebenarnya kator ini milik keluarga mami, Zidan yang meneruskannya. Mami kesini karena ingin menemui Zidan katanya ada kabar bahagia." Jawab mami Dinda.
"Oh." Kata Alya masih tidak menyadari bahwa Zidan adalah anak mami Dinda.
"Gimana kabar kamu dan suamimu?." Tanya mami Dinda.
"Baik mi." Jawab Alya. "Mami gimana?." Tanya Alya balik.
"Baik juga." Jawab mami Dinda.
"Mami kenal sama mas Zidan sejak kapan?." Tanya Alya.
__ADS_1
"Sejak Zidan di kabdungan mami." Kata mami Dinda.
"Jadi, mas Zidan anaknya mami!.." Kata Alya terkejut.
"Iya, Zidan juga sering main sama kamu dulu. Apakah kamu mengingatnya?." Tanya mami Dinda tak mengerti dengan ekspresi Alya yang terkejut.
"Jadi mas Zidan adalah Jid mi?." Tanya Alya masih tidak percaya.
"Kamu baru tau kalau Zidan adalah anak mami?." Tanya mami Dinda balik.
"Iya, mi." Jawab Alya, Alya langsung mengambil ponselnya dan menelfon Zidan beberapakali namun tidak ada jawaban.
"Apa kamu sudah sarapan?." Tanya mami Dinda saat Alya masih berusaha menelfon Zidan berhenti karena mendengar suara mami Dinda.
"Eh, mami. Belum, Alya belum makan." Jawab Alya bahagia.
Zidan balik ke kantor dan menuju ruangannya di ikuti Aldi dari belakang.
"Jid!!." Kata Alya langsung memeluk Zidan saat Alya baru masuk karena tanpa aba-aba Zidan jatuh dan duduk di sofa, Alya tetap memeluk Zidan.
"Hati-hati gadis cengeng." Kata Zidan.
"Kenapa kamu memanggilku gadis cengeng?." Tanya Alya memajukan bibirnya dan melepas pelukannya dengan kedua tangan didepan dada.
"Karena dulu kamu suka nangis." Jawab Zidan yang menyentuh hidung Alya dengan jari telunjuknya.
"Dan kenapa kamu gak bilang kalau kamu adalah Jidku??." Tanya Alya lagi madih dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
"Karena kamu tidak menanyakkannya." Jawab Zidan santai sambil tersenyum.
"Zid, kabar apa yang ingin kamu sampaikan ke mami?." Tanya mami Dinda tiba-tiba.
"Alya hamil mami." Jawab Zidan bahagia.
"Apa benar nak?." Tanya mami Dinda pada Alya, Alya mengangguk lalu mami Dinda memeluknya.
"Akhirnya mami punya cucu juga." Kata mami Dinda ikut bahagia.
"Pak waktunya meting dengan pak Hari." Kata Aldi yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka mengingatkan Zidan untuk meting dengan pak Hari.
"Baik." Jawab Zidan lalu berdiri.
"Sayang, sana pulang dulu sama mami." Kata Zidan membujuk Alya agar tidak cemberut lagi, Alya pun menurut.
"Mami, Alya antar mami dulu ya." Kata Alya, saat Zidan dan Aldi sudah keluar.
"Jangan, biar mami antar Alya dulu." Kata mami Dinda.
"Alya masih ada urusan mi." Kata Alya.
"Baiklah." Kata mami Dinda.
Mereka pun pulang...
"Kamu hati-hati ya." Kata mami Dinda lalu mencium kening Alya, saat mereka sudah di depan rumah mami Dinda.
__ADS_1