
Para tamu memberikan selamat pada Zidan. Jam menunjukkan pukul 22: 30 satu persatu para tamu pulang.
"Zid. Besok kami akan berangkat. Titip Alya ya?." Kata mama Anjani.
"Iya tante." Jawab Zidan.
"Kok panggil tante sih, panggilnya mama dong." Kata mama Anjani protes.
"Iya mama." Kata Zidan tersenyum
"Kami pamit dulu ya." Kata Papa Frendi.
"Hati-hati di jalan pah." Kata Zidan mencium tangan mama Anjani dan papa Frendi bergantian.
"Mi, Zidan kembali ke apartemen ya." Kata Zidan saat papa Frendi dan mama Anjani pergi.
"Disini dulu nak, sebentar saja." Kata mami Dinda.
"Baik lah." Kata Zidan mengalah.
"Zid, kamu sekarang jadi seorang suami, tanggung jawab seorang suami itu besar. Selain memperbaiki diri kamu harus memperbaiki akhlaq istrimu. Kamu tahu kan papa Frendi bilang kalau Alya liar sering keluar malam bahkan tidak pulang kerumah. Dan sekarang Alya adalah istrimu, kamu sebagai seorang suami harus membimbingnya ke jalan yang benar. Karena buruk akhlaqnya anak tergantung pada buruk akhlaqnya ibunya. Kamu mengerti kan." Kata mami Dinda menasehati Zidan.
"Iya, mi. Zidan mengerti, Zidan juga butuh bantuan mami untuk memperbaiki Akhlaq Alya." Kata Zidan.
"Mami akan selalu ada buat kamu nak." Kata mami Dinda.
"Andai papi masih bisa berkumpul dengan kita mi." Kata Zidan mulai berkaca-kaca.
"Do'akan saja semoga papi tenang di alam sana." Kata Mami Dinda sedih.
"Di hari yang bahagia ini kok pada sedih sih." Kata Jihan tiba-tiba muncul. "Selamat ya Zid. Kakak ingin ketemu sama adek ipar." Sambung Jihan.
"Terimakasih kak. Kakak sudah ketemu sama dia dulu. Dia adalah orang yang di bawa pak Budi kerumah kita dulu, yang sering nangis dan buat keluarga kita rame dengan tangisannya." Kata Zidan.
"Apa!! Sama anak cengeng itu. Kenapa mami gak bilang sih kalau anak cengeng itu yang jadi istrinya Zidan, sudah numpang rumah sekarang pasti mau rebut harta kita. Aku gak setuju jika dia yang jadi istrinya Zidan." Kata Jihan marah.
"Gak bisa gitu kak, Zidan sudah sah menjadi suaminya Alya." Kata Zidan dengan nada tinggi.
"Jangan pernah sebut nama itu di depanku. Apa lagi bela-belain anak kampungan yang gak jelas seperti dia, aku saja gak mau mengenalnya." Kata Jihan.
"Dari pada kakak, tunangan sama seorang preman dan gak bisa tanggung jawab." Kata Zidan.
__ADS_1
"Dia bukan seorang preman dan gak bisa tanggung jawab. Dia setia sama kakak dan akan menikahi kakak." Kata Jihan.
"Oh iya, berapa tahun kakak tunangan gak nikah-nikah. Kakak sudah dibutakan oleh cinta, Zidan akui dia tampan, kaya. Tapi anak mama semua fasilitas yang dia gunakan dari orang tuanya dan berlagak sombong di depanku, jangan-jangan kakak cuma di phpin." Kata Zidan lalu ditampar Jihan.
"Jangan kau menghinanya didepanku, dia kekasihku." Kata Jihan.
"Kakak gak terima kekasihnya di hina. Tapi kenapa menghina kekasihku??." Kata Zidan.
"Diaaam!. Pusing mami mendengarnya." Kata mami Dinda.
"Semua kacau gara-gara kakak." Kata Zidan.
"Zid! Mami bilang diam." Kata mami Dinda dengan nada tinggi.
"Tapi dia yang mulai mi." Kata Zidan.
"Diam." Kata mami Dinda tak mau dibantah. Zidan pun pergi di ikuti Alfin yang dari tadi cuma mendengarkan karena tak mau ikut campur.
Di apartemen Alya. Alfin dan Zidan masuk.
"Zid, dicari Alya." Kata Aldi.
"Gue tau." Kata Zidan.
"Ini keacara pernikahannya Zidan." Jawab Alfin santai.
"Serius kamu!!" Tanya Aldo tak percaya.
"Iya." Jawab Zidan yang membuat Aldo percaya.
"Selamat bos. Buatkan bos kecil yang banyak." Kata Aldo langsung mengambil tangan Zidan untuk bersalaman dengan wajah gembira lalu Zidan menaiki tangga.
"Loh, bos mau kemana?? Kita kan harus rayakan hari bahagia ini." Tanya Aldo.
"Mau buat anak lah." Kata Zidan santai dan melanjutkan langkahnya.
"???." Aldo.
"Apa maksudnya tadi??." Tanya Aldo pada Alfin.
"Mana aku tau." Jawab Alfin lalu meneguk jus yang ada di meja.
__ADS_1
"Seperti apa istrinya bos??." Tanya Aldo.
"Cantik." Kata Alfin.
"Ya semua wanita cantik masak ganteng sih. Kenalkan aku dong??." Kata Aldo.
"Kamu sudah mengenalnya kok." Jawab Alfin. Aldi cuma mendengarkan dia tahu tentang majikannya karena Aldi di perintah untuk menjaga Alya agar tidak keluar sampai acara akad selesai dan dipastikan Alya tidak mengetahuinya rencana papanya.
"Siapa??." Kata Aldo.
"Kamu harus janji, setelah aku beritahu namanya kamu tetap tersenyum bahagia seperti itu." Kata Alfin tersenyum lebar
"Aku adalah orang pertama yang paling bahagia mendengar bosku menikah." Kata Aldo.
"Oh iya??." Tanya Alfin.
"Iya." Jawab Aldo bahagia sambil tersenyum.
"Janji dulu, kamu akan tersenyum bahagian seperti itu." Kata Alfin.
"Iya aku berjanji akan tersenyum setelah kamu sebut siapa nama istrinya bos." Kata Aldo tersenyum semakin lebar hingga gigi putihnya terlihat.
"Alya kita." Kata Alfin. Wajah Aldo langsung berubah.
"Apa!!!. Alya." Kata Aldo kaget.
"Eh, tetap tersenyum kan sudah janji." Kata Alfin dan Aldo pun terpaksa tersenyum.
"Kok bisa menikah dengan dia, hacur hatiku Fin." Kata Aldo berbicara tanpa melepaskan senyumannya dengan mata yang berkaca-kaca. Alfin langsung memeluknya.
"Kamu harus janji rahasiakan pernikahan ini dari Alya karena Zidan yang akan memberi tahu sendiri" Kata Alfin. Aldo pun mengangguk paham. "Satu lagi, walaupun Zidan adalah suaminya Alya, rahasia Alya tidak boleh terbongkar kita harus menjaganya." Sambung Alfin dan melepaskan pelukannya.
"Aku ingin sendiri Fin." Kata Aldo sedih.
"Mana janjinya. Tersenyum." Kata Alfin. Aldo pun tersenyum lalu pergi.
"Do! Jangan lakukan kesalah yang sama oke." Kata Alfin sedikit berteriak karena Aldo sudah menjauh. Aldo tak menjawabdan juga tak menoleh cuma memberi isarat tangan bentuk 0👌. Afin mengerti.
"Ayo Di kita istirahat ini sudah larut malam." Ajak Alfin pada Aldi lalu mereka menaiki tangga dan masuk kekamar masing-masing.
Zidan masuk ke kamar Alya menggunakan kunci cadangan yang dibuat Zidan tanpa pengetahuan Alya dan menguncinya kembali saat Zidan sudah masuk ke kamar.
__ADS_1
"Kenapa kita harus di pisahkan 18 tahun membuat aku rindu padamu gadis cengeng." Gumam Zidan sambil tersenyum melihat Alya tidur nyenyak. Zidan pun ikut tidur di samping Alya dan memeluk Alya dari belakang, "Aku mecintaimu, aku berdo'a semoga kita saling di takdirkan untuk saling melengkapi. Bukan hanya sekedar datang lalu pergi." Gumam Zidan lalu Zidan pun tertidur dengan memeluk Alya.