
Pagi yang begitu cerah Alya bangun dengan merentangkan kedua tangannya ke atas ketika mau duduk Alya kaget ada tangan di aras perutnya dan membalikan badannya posisi tubuh Alya dan Zidan berhadapan. Alya membulatkan matanya jantungnya berdetak kencang. Dan berteriak sekencang-kencangnya. "ZIDAAAAAN!!". Zidan yang mendengarnya menutup telinganya dengan bantal. Alya bangun dan mengguncang-guncangkan tubuh Zidan.
"Bangun!." Kata Alya sambil menarik-narik tangan Alya, posisi Alya sedang berdiri lalu Zidan menarik balik tangan Alya yang membuatnya jatuh di pelukan Zidan.
"Bisa kamu pelankan sedikit suaramu sayang??." Kata Zidan sambil mengeratkan pelukannya dan mendeketkan mulutnya di dekat telinga Alya. Alya langsung meninjunya dan Zidan terpaksa melepas pelukannya lalu memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Alya bangun dengan cepat dan menjauh dari Zidan.
"Itu balasan bagi orang yang lancang! Pergi dari kamarku." Usir Alya dengan nada tinggi. Zidan mengalah dan keluar.
"Butuh kesabaran yang exstra menghadapimu." Gumam Zidan tersenyum. Saat Zidan mendekati pintu.
"Aku tidak mau tau dalam waktu 24 jam figora itu tidak boleh kosong!." Kata Alya marah Zidan tersenyum lalu pergi mengompres mukanya yang kenak tinju Alya. Alfin dan Aldi cekikikan melihat Zidan.
"Tertawa terus, sampai lo puas." Kata Zidan. "Parah bener tu cewek, aku di ajarkan tidak boleh memukul cewek kalau dia cowok sudah ku hajar dia sampai babak belur." Kata Zidan.
"Kenapa mukamu bos??." Tanya Aldo yang tiba-tiba datang dengan pakaian rapi siap ke kantor, Zidan hanya melihat kedatangan Aldo dan tak menjawab pertanyaan Aldo.
"Biasa Do ulah Alya." Jawab Alfin.
"Oh." Kata Aldo menganggukkan kepala mengerti apa yang di maksud oleh Alfin. Zidan pergi membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Aldi memasak nasi goreng di bantu oleh Alfin dan Aldo.
"Bagaimana kamu sudah merelakan Alya dengan Zidan?." Tanya Alfin.
"Aku harus pastikan Alya bahagia bersama bos. Karena bagiku cinta sejati adalah cinta yang membuat aku menangis, dan merasa kehilangan saat dia tidak didekatku, namun aku tetap merindukannya saat dia melupakan aku. Aku masih peduli padanya saat dia mencintai orang lain. Aku masih bisa tersenyum dan berkata aku bahagia asalkan kau juga bahagia. Itu kan yang Alya katakan kepadaku dulu. Karena mencintai bukan apa yang aku rasakan, bukan pula apa yang aku dapatkan melainkan apa yang mampu ku berikan. Dan dalam kehidupan bukan mencari bagaimana melupakan dia, tapi berfikir sejauh mana aku bertahan untuk mencintainya." Kata Aldo. Alfin tersenyum mendengar ucapan Aldo yang begitu tegar merelakan Alya dengan Zidan.
Setelah selesai dengan aktifitasnya di kamar mandi Zidan bergabung di meja makan dengan baju santai.
"Lo gak masuk kantor lagi Zid??." Tanya Alfin sambil menata makanan di atas meja.
"Gak mungkin gue masuk kantor dengan muka kaya gini Fin." Kata Zidan lalu duduk. Tak lama kemudian Alya turun dengan wajah tak bersahabat dan tak mau bicara.
Ting tong, ting tong. (Suara bel apartemen Alya). Aldi membukanya.
__ADS_1
"Bisa saya bantu??." Tanya Aldi saat melihat dua orang pemuda membawa dus berukuran besar yang sibungkus kertas kado dengan pita kupu-kupu.
"Benar ini dengan bapak Zidan?." Tanya balik salah satu pemuda.
"Tunggu sebentar saya panggilkan." Kata Aldi lalu masuk lagi.
"Zid, ada yang mencarimu." Kata Aldi
"Siapa?." Tanya Zidan
"Gak kenal, tu orangnya masih di depan." Jawab Aldi lalu Zidan menghampiri dua pemuda itu.
"Benar ini dengan pak Zidan?." Tanya salah satu kurir.
"Iya benar dengan saya sendiri." Kata Zidan
"Ini paket yang bapak pesan." Kata salah satu kurir.
"Kalian bisa taruk disana!." Kata Zidan menunjuk ke sebuah tempat.
"Silahkan tanda tangan disini pak." Kata salah satu kurir setelah menaruk dus besar tadi dan menghampiri Zidan dengan memberikan kertas dan bulpennya. Zidan pun tanda tangan.
"Terimakasih pak." Kata salah satu kurir lalu pergi.
"Apa tu Zid?." Tanya Alfin
"Menurutmu Apa??." Tanya balik Zidan.
"Hadiah." Jawab Alfin. "Buat siapa?." Tanya lagi Alfin.
"Alya." Kata Zidan santai lalu melihat Alya. Alya melihat dus besar itu.
__ADS_1
"Apa isinya ya." Gumam Alya dalam hati.
"Itu permintaanmu Al?." Kata Zidan. Alya beralih menatap Zidan tajam.
"Emangnya aku minta hadiah darimu, atau jangan-jangan gambar yang aku maksud tadi." Gumam Alya lalu menghampiri dus besar dan membuka bunkusannya dengan kasar, Zidan menghampiri dan memegang tangan Alya di perhatikan oleh Alfin, Aldi dan Aldo.
"Pelan-pelan bukanya." Kata Zidan. Tapi Alya menepis tangannya dan tetap membuka bungkusan kado itu dengan kasar. Setelah terbuka ternyata sebuah Figora yang di dalamnya berisi Foto Anak kecil tertidur di sofa dengan wajah yang di coret-coret dengan sepidol hitam. Alya membuka matanya lebar-lebar dan tak berkedip sedangkan Aldo, Aldi dan Alfin tertawa lepas melihat foto anak kecil itu. Zidan senyum-senyum. Alya merasa memori itu kembali terulang, suara yang menggema di ruangan itu membuat airmata Alya terjatuh dan meniju figora itu dengan keras sehingga kaca figoranya pecah dengan foto yang sobek dan tangan Alya yang mengalirkan darah segar. Semua orang diam seketika, Alya tidak bicara namun mengeluarkan airmata dan mengepalkan tangannya. Zidan panik dan merobek bajunya di tariknya tangan Alya lalu di balutnya dengan baju Zidan.
"Ambilkan air dan p3k, Fin." Kata Zidan mendudukkan Alya, namun Alya tetap diam dan mengeluarkan air matanya dengan tatapan kosong. Alfin mengambil p3k, Aldo mengambil air dan Aldi membersihkan sepihan beling yang berceceran.
"Alya, jangan buat aku khawatir tolong bicaralah." Kata Zidan sambil memeluk Alya. "Alya, maafkan Aku. Aku tidak bermaksud melukaimu. Aku dapatkan foto itu di balik gambar yang aku sembunyikan kemarin, aku menyukai gambar itu makanya aku mengambilnya." Kata Zidan. "Kamu boleh menangis di pundaku." Sambung Zidan sambil mengelus kepala Alya pelan dan membuat Alya membuka mulutnya.
"Coba aku lihat, benarkah yang kamu bilang di gambar itu ada sebuah foto?." Tanya Alya.
"Iya nanti dulu biar aku bersihkan lukamu." Kata Zidan saat Aldo datang membawa air dan memberinya obat serta perban saat Alfin datang membawa p3k, Alya memperhatikannya."Tidak ada seorang yang mengkhawatirkanku seperti Zidan kecuali mami Dinda, orang tuaku saja hanya memikirkan pekerjaannya." Gumam Alya dalam hatinya. setelah selesai Zidan mengambil gambar di laci dekat tv yang sudah ia rencanakan dari awal dan memberikan gambar itu pada Alya. Alya melihatnya.
"Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal tentang foto ini." Kata Alya mengambil gambar itu lalu pergi kekamar.
"Ternyata dia adalah gadis yang dulu tak pernah berubah, dia selalu percaya padaku padahal aku selalu menjahilinya, padahal di gambar itu tidak ada foto apapun aku sendiri yang menaruknya. Dasar gadis cengeng." Gumam Zidan dalam hati sambil tersenyum lebar.
"Woy senyam-senyum, jahili istri sendiri." Kata Alfin membunyarkan lamunan Zidan.
"Ssst jangan keras-keras nanti Alya dengar kalau dia istriku." Kata Zidan sambil menaruk telunjuk ke depan mulutnya.
"Kenapa senyam-senyum bos?." Tanya Aldo.
"Aku berhasil membohonginya dulu saat kita main bersama dia membagi eskrimnya padaku dan tiba-tiba dia pergi kekamar mandi meninggalkan eskrimnya di depanku, saat eskrimku habis aku masih kurang dan memakan eskrim Alya. Sebelum Alya kembali aku taruk kembali eskrimnya di tempat semula. Dan saat Alya kembali dia kaget eskrimnya habis." Kata Zidan bercerita masa kecilnya
"Lalu bos bilang apa??." Tanya Aldo yang antusias mendengarkan cerita Zidan.
"Ya aku bilang kalau gelasnya bocor, di percaya itu setelah Alya mengadu ke mami aku lari ke kamar dan mengkunci kamarku tapi mami membukanya dengan kunci cadangan jadi aku kenak jewer oleh mami." Kata Zidan bercerita sambil tersenyum mengingat kejadian di masa lalu bersama Alya. Aldi, Aldo dan Alfin ikut tertawa.
__ADS_1