
Alya pergi dan di tengah jalan dia melihat ada seorang perempuan menangis di taman dekat lampu merah, Alya seperti mengenal wanita itu lalu Alya memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan.
"Kak Jihan." Kata Alya. Jihan menoleh, dan memandang tak suka kepada Alya.
"Kakak ngapain disini." Kata Alya lembut. "Jika kakak punya masalah bilang ke Alya, siapa tau nanti Alya bantu." Kata Alya tulus. Jihan yang sadar kalau Alya yang bisa mengalahkan Roni dalam pertandingan, Jihan tersenyum dan berkata.
"Apa kamu bisa membunuh Roni?." Tanya Jihan.
"Aku bukan seorang pembunuh kak." Jawab Alya.
"Kalau tidak bisa ya sudah. Jangan ikut campur urusanku." Jawab Jihan ketus.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya kak." Kata Alya.
"Jalan keluarnya bunuh Roni." Jawab Jihan.
"Jika kakak membunuh Roni, apa kakak tidak akan dihantui oleh rasa bersalah. Dan bagaimana dengan keluarganya jika Roni meninggal?." Tanya Alya.
"Keluarganya akan bahagia karena beban dalam hidupnya sudah lenyap Roni cuma bisa menghabiskan uang orang tuanya dan menggunakannya dengan para wanita dia selingkuh dariku. Jika Roni mati uang keluarganya tetap aman dan tidak akan main dengan para wanita lain." Jawab Jihan sambil menangis.
"Kakak marah dengannya, karena kakak sangat mencintainya. Alya akui kakak merendahkannya di depan Alya tapi airmata kakak tidak bisa berbohong kalau kakak sangat mencintainya." Kata Alya yang membuat Jihan melihatnya dan memeluk Alya.
"Dia jahat Al, berani-beraninya dia selingkuh dariku." Kata Jihan menangis semakin menjadi.
__ADS_1
"Bersyukurlah kak, kakak mengetahuinya sekarang sebelum kakak menikah dan punya anak. Dan ikhlaskan saja Roni, bunuh dia." Kata Alya. Jihan mengangkat kepalanya dari pelukan Alya dan melihat Alya tajam.
"Bukannya kamu bukan seorang pembunuh Al??." Tanya Jihan.
"Iya, bunuh dia seperti ini." Kata Alya mengeluarkan tangan kanannya dan membentuk sebuah pistol 👉 lalu mengarahkannya di dada sebelah kiri Jihan. "DORRR!!" Sambung Alya saat tangannya tepat di dada sebelah kiri Jihan setelah itu Alya mengangkatnya seperti ini 👆 dan mengarahkan ujung jari telunjuknya ke depan mulut Alya lalu meniupnya. Jihan yang melihatnya tertawa lapas.
"Bunuh dia, kakak pernah mendengar pepatah. MATI SATU..." kata Alya.
"TUMBUH SERIBU." Ucap Alya dan Jihan bersamaan lalu mereka tertawa bersama. Setelah tertawa.
"Terimakasih Al, kamu menghiburku." Kata Jihan tulus.
"Sama-sama kakak." Jawab Alya tersenyum.
"Tunggu dulu kak, kakak gak boleh sendirian." Kata Alya sambil mengeluarkan hp di tasnya dan menelfon seseorang.
"Kenapa? Apa kamu takut aku bunuh diri. Ayolah Al aku tidak akan melakukannya untuk laki-laki brengsek itu." Kata Jihan yang sudah berdiri Alya menyetop pembicaraan Jihan menggunakan tangannya karena sambungan telfonnya sudah terhubung.
"Fan bisa kamu temui aku ditaman kota sekarang??." Tanya Alya pada Alfan.
"Baik bos." Jawab Alfan. Lalu Alya mematikan sambungan telfonnya.
"Tunggu sebentar kak, Alya kenalkan dengan teman Alya yang akan mengantar kakak nanti." Kata Alya.
__ADS_1
"Tapi Al.." kata Jihan terpotong.
"Sudah tunggu saja." Kata Alya menarik tangan Jihan untuk duduk lagi.
"Ternyata kamu baik juga ya." Kata Jihan.
"Dari dulu kak." Jawab Alya santai sambil tersenyum.
"Tak salah mami sama papi menjodohkanmu dengan Zidan." Kata Jihan. Alya tersenyum.
Tak lama kemudian Alfan datang.
"Fan, kenalkan dia kakak iparku." Kata Alya memperkenalkan Jihan pada Alfan. "Kak, dia Alfan teman Alya." Kata Alya pada Jihan dan mereka pun bersalaman.
"Alfan." Kata Alfan.
"Jihan." Kata Jihan.
"Fan, boleh minta tolong, kamu antarkan kakak iparku ini pulang." Kata Alya.
"Dengan senang hati bos." Jawab Alfan sambil tersenyum. "Bisa kita berangkat sekarang tuan putri." Sambung Alfan pada Jihan. Jihan tersenyum dan mengikuti Alfan.
"Hati-hati di jalan ya." Teriak Alya karena mereka sudah menjauh. Alya membeli escrim kesukaannya dan sebagaian memakannya sebagaian lagi membawanya pulang.
__ADS_1