
Dan sejak Alya dan Zidan jadian (padahal mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi Alya mengira itu pacaran). Zidan selalu kekamar Alya merawat Alya hingga sembuh dan jika 1 hari Alya tidak bertemu Zidan dia pasti mencarinya kekantor Zidan, Alya masuk tanpa izin dari Zidan, walau pun Silvi menyuruh menunggu, namun Alya menerobos masuk ke ruangan Zidan. Saat Zidan datang dia tidak marah karena Alya yang masuk membuat Silvi iri sama Alya pasalnya Silvi menyukai bosnya.
Semua wanita di kantor Zidan yang melihat kedekatan Alya dengan bosnya patah hati, banyak di antara mereka yang menyukai bosnya dari mencari perhatian bosnya namun Zidan tidak menanggapinya.
Beda dengan Silvi dia pantang menyerah mendekati bosnya dan akan menyikirkan orang yang menghalanginya. Prinsipnya "Sebelum Janur kuning melengkung aku masih bisa merebut pak Zidan dengan cara apapun." gumam Silvi dalam hati.
"Aku masuk tanpa izin pak Zidan, pak Zidan marah besar sedangkan dia tidak pernah marah jika yang masuk tanpa izin itu Alya. Sekali pun Alya membuat kesalahan. Kamu cari masalah dengan Silvi, Alya. Belum tau ya siapa Silvi." Gumam Silvi.
Pagi itu matahari malu-malu menampakkan sinarnya. Alya masuk kekantor, walau pun Alya di tugaskan untuk membantu Silvi bahkan di siapkan meja di dekat meja Silvi bersampingan dengan meja Alya. Namun Alya lebih sering menemani Zidan di ruangannya.
"Pagi Alya." Sapa Silvi saat Alya lewat di mejanya dan Alya menghentikan langkahnya.
"Pagi." Balas Alya.
"Al, boleh minta tolong gak?." Tanya Silvi
"Bisa." Jawab Alya singkat.
"Pagi ini mendung pasti pak Zidan merasa dingin, bisa kamu berikan kopi ini pada pak Zidan?." Tanya Silvi.
"Oh, tentu." Jawab Alya langsung membawa secangkir kopi ke ruangan Zidan.
"Hai Zidan." Sapa Alya. Zidan berdiri dan menghampiri Alya lalu mencium kening Alya.
"Zid, apa yang kamu lakukan." Kata Alya malu.
"Di ruangan ini cuma ada aku dan kamu, jadi gak usah khawatir jika ada yang melihatnya." Kata Zidan.
"Ini minum kopinya, sekarang hawanya dingin kan." Kata Alya memberikan secangkir kopi pada Zidan. Zidan langsung meminumnya dia terkejut dengan rasanya tapi tetap menampakkan wajah yang tersenyum dan tak meneguk kopinya dia menyimpan di dalam mulutnya, Alya memperhatikan Zidan.
"Bagaimana rasanya??." Tanya Alya. Zidan tidak menjawab karena di dalam mulutnya ada kopi yang belum di telan Alya terap memperhatikan Zidan, Zidan cari alasan dengan menunjuk ke arah cendela dan berhasil mengalihkan perhatian Alya. Zidan memuntahkan kopinya di tempat sampah dekat meja Zidan.
"Ada apa ?." Tanya Alya saat melihat ke arah cendela tidak ada sesuatu.
"Aku telah menulis namamu di langit, tapi tidak pernah bisa karena selalu tertutup oleh awan." Jawab Zidan yang sudah lega karena telah memuntahkan kopinya.
"Gombal. Oh iya, gimana rasanya?." Tanya Alya lagi karena gak dijawab oleh Zidan.
"Sepertinya kurang gula, coba kamu rasakan." Jawab Zidan sambil memberikan kopinya pada Alya.
"Benarkah." Kata Alya dan Zidan mengaguk lalu Alya mengambil secangkir kopi yang di berikan oleh Zidan langsung meminumnya, setelah kopi itu menyentuh lidah Alya, Alya tidak menelannya tapi menyembur ke wajah Zidan.
"Astagfirulloohil 'adim." Kata Zidan sambil mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang selalu di bawanya di kantong celananya.
"Maaf." Kata Alya. "Rasanya asin banget." Sambung Alya dengan wajah yang membuat Zidan tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Kok mereka malah tertawa sih, kenapa gak ada suara gelas di banting atau suara pak Zidan yang memarahi Alya." Gumam Silfi di luar ruangan Zidan yang sedari tadi menguping di dekat pintu dan Silfi pun kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang kecewa karena rencannya gagal.
"Sudah tau kopinya Asin kok di kasi ke aku." Kata Zidan tersenyum.
"Sebenarnya kopinya bukan aku yang membuatnya, aku hanya mengantarnya saja." Kata Alya cemberut karena rasa asin di mulutnya masih terasa.
"Ini minum air." kata Zidan memberikan air botol yang tinggal separuh kepada Alya. Alya langsung meminumnya sampai habis. "Siapa yang membuatnya?." Tanya Zidan.
"Gak tau, tadi mbak Silvi yang memberikannya padaku." Jawab Alya. Zidan tersenyum dan menyusun rencana.
"Al, sekarang kamu keluar pasang wajah yang kusut, dan duduk di mejamu nanti aku akan menghampiriku oke." Kata Zidan.
"Apa yang ingin kamu lakukan Zid?." Tanya Alya.
"Ikuti saja permainannya ya." Kata Zidan, Alya mengangguk. "Dan jika Zilvi tanya kenapa wajahmu kusut, bilang saja kamu kecewa karena kopi yang kamu berikan belum di minum olehku, kamu mengerti kan." Sambung Zidan, Alya menggangguk.
"Sana pergi." Kata Zidan sambil tersenyum dengan jahilnya.
Alya keluar dari rangan Zidan dengan wajah kusut dan duduk di mejanya.
"Kenapa wajah kamu kusut banget kayak gak pernah di setrika saja." Kata Silvi yang memperhatikan Alya dari tadi.
"Pak Zidan gak suka minum kopi di pagi hari, padahal aku sudah membawanya ke meja pak Zidan dengan tangan gemetar menyeimbangi biar kopinya gak jatuh tapi pak Zidan tidak meminumnya." Kata Alya dengan wajah cemberut yang di buat-buat.
"Oh, pantesan tadi tertawa ternyata kopinya belum di minum." Gumam Silvi dalam hati.
"Terimakasih Al, kopi enak aku suka. Tapi aku tidak menghabiskannya karena belum sarapan, aku akan lebih senang jika kamu mau menemaniku sarapan. Apa kamu Sibuk??." Tanya Zidan.
"Tidak pak, saya tidak sibuk." Jawab Alya. "Sebenarnya kopinya bukan saya yang buat pak, tapi mbak Silvi." Sambung Alya.
"Terimakasih Silvi." Kata Zidan pada Silvi.
"Sama-sama pak, itu sudah menjadi tugas saya." Kata Silvi tersenyum.
"Ayo Al, ikut denganku." Kata Zidan lalu pergi di ikuti oleh Alya. Setelah keduanya menghilang Silvi menghampiri meja Alya dan memperhatikan cangkir yang berisi setengah kopi.
"Kenapa berhenti, katanya mau sarapan?." Tanya Alya yang tiba-tiba Zidan menghentikan langkahnya.
"Ayo ikut denganku." Kata Zidan dan mengintip Silvi di balik dinding. Alya yang tak mengerti cuma menurut saja.
"Benarkah, kopinya enak. Padahal aku sudah memberikan garam di dalamnya." Gumam Silvi. "Kalau tidak enak mana mungkin pak Zidan meminumnya hingga separuh. Apa salahnya aku menyicipi kopinya lagian ini kan bekas mulutnya pak Zidan" Sambung Silvi sambil tersenyum lalu menyicipi kopinya.
"Al, tahan tawa apapun yang terjadi nanti." Kata Zidan, Alya pun menganggukkan kepalanya.
Saat Zidan melihat Silvi meminum kopinya sebelum kopi dimulut Silvi itu di muntahkan, Zidan dan Alya menghampiri Silvi.
__ADS_1
"Oh iya Sil, berkas yang perlu aku tanda tangin mana?." Tanya Zidan. Silvi yang terkejut dengan kedatangan Zidan dan Alya cuma bisa membulatkan matanya tak bisa bicara karena ada kopi asin di mulutnya yang tidak bisa dia muntahkan di depan bosnya dan tidak bisa dia telan karena rasanya sangat asin, Silvi mematung.
"Ada apa?" Tanya Zidan lagi membuat Silvi tersadar dan menggelengakan kepalanya.
"Mana berkas yang perlu aku tanda tangin?." Tanya Zidan kembali memancing Silvi untuk berbicara. Tapi Silvi tidak bicara dia jalan ke mejanya dan mengambil berkas-berkas yang perlu di tanda tangin oleh Zidan, Zidan memeriksanya.
"Kamu taru di mejaku, aku mau sarapan dulu." Kata Zidan memberikan berkas-berkasnya pada Silvi, Silvi menggukkan kepalanya dengan nafas lega. "Sukurlah pak Zidan segera pergi." Gumam Silvi dalam hati. Namun saat Silvi ingin membuka pintu, Zidan memanggilnya dengan terpaksa Silvi menghampirinya dengan mulut yang tetap terkunci dengan rapat.
"Oh, iya nanti rapatnya jam berapa?." Tanya Zidan, padahal Zidan tau jadwal rapatnya cuma Zidan ingin Silvi membuka mulutnya.
"Uuueek." Silvi memaksa kopi di mulutnya itu di telan karena ingin menjawab pertanyaan dari bosnya.
"Kenapa?? Apa pertanyaan saya menjijikkan!." Kata Zidan dengan nada tinggi, muka Alya memerah karena menahan tawanya.
"Tidak pak." Jawab Silvi masih berusaha menetralisir rasa di mulutnya.
"Terus jam berapa rapatnya??." Tanya Zidan.
"Jam 10 pak." Jawab Silvi cepat. "Kenapa sih gak cepat pergi." Gumam Silvi kesal dalam hatinya.
"Siapkan berkas-berkasnya di mejaku." Kata Zidan.
"Baik pak." Kata Silvi. Zidan dan Alya pun pergi setelah mereka memasuki lift, mereka berdua tertawa lepas.
"Jahil kamu Zid." Kata Alya sambil menutup mulutnya karena tertawa lebar.
"Biarin itu pelajaran buatnya apa namanya?." Tanya Zidan.
"SENJATA MAKAN TUAN." Jawab Zidan dan Alya bersamaan sambil tertawa. Saat lift mendekati lantai bawah Zidan dan Alya menghentikan tawanya.
***
Saat Zidan dan Alya pergi Silvi mencari-cari air dan menekuknya.
"Kopi asin kurang ajar." Kata Silvi sambil membanting cangkir di atas meja Alya.
"Kenapa pak Zidan bilang kopinya enak padahal asin banget." Sambungnya.
Kemudian Silvi memanggil OB untuk membersihkan pecahan cangkir tadi.
"Kenapa bisa pecah sih." Gumam OB saat membersihkan pecahan gelas dan di dengar Silvi.
"Gak usah nanya-nanya kerjaannya OB memang harus menjaga kantor agar tetap bersihan." Kata Silvi dengan sinis.
"Baik bu." Jawab OB. "Cantik-cantik kok judes." Gumam OB dalam hati sambil membersihkan pecahan kelas di lantai.
__ADS_1
**Jangan lupa tinggalkan jejak ya. komentar dan likenya. vote juga boleh.😁
Terimakasih sudah mampir**.