SANG JUARA HATI

SANG JUARA HATI
8. ALASAN ALYA TIDAK LULUS


__ADS_3

"Kalian pasti lelah, Istirahatlah." Kata Alya menaiki tangga.


"Al!. Apa aku boleh bermalam disini?." Tanya Aldi.


Alya behenti dan menganggukkan kepalanya tanpa menoleh kearah Aldi.


"Hari ini Aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Aldo! Apakah kamu mau ikut denganku??" Kata Alfin.


"Tidak, aku akan bermalam disini bersama Aldi." Jawab Aldo


"Baiklah." Kata Alfin lalu pergi.


Di kamar Alya. Alya melamun "kenapa tidak pernah aku fikirkan sebelumnya." Gumam Alya.


Ruang santai di apartemen Alya.


"Kamu pernah bertemu sama orang tuanya Alya??." Aldo


"Belum. Aku kenal saja belum 1 bulan. Emangnya kenapa??." Aldi


"Oh, kirain kamu kekasihnya Alya." Kata Aldo lega mengetahui kalau Aldi bukan kekasihnya Alya.


"Hahahah, kekasihnya Alya?. Aku kira kamu atau Alfin kekasihnya soalnya kalian bertiga lengket banget. Atau jangan-jangan kalian berdua kekasihnya?." Kata Aldi


"Bukan, kami calon kekasihnya." Kata Aldo


"Maksudmu??." Tanya Aldi


"Kami bersaing ingin mendapatkan hatinya Alya." Kata Aldo


"Selera kalian aneh ya. Alya itu tomboy gayanya kayak anak laki lagi. Apa sih yang kalian suka?." Tanya Aldi


"Itu karena kamu baru mengenalnya, sebenarnya dia anak yang manja. Aku dan Alfin juga pernah melihat Alya pakai baju wanita dia sangat anggung membuat kami yang melihatnya tidak berkedip." Jawab Aldo


"Benarkah?." Tanya Aldi tak percaya.


"Kami pernah menceritakan tentang Prem dan Man kan?." Tanya balik Aldo


"Iya. Waktu itu Prem dan Man ingin memperkosa seorang gadis SMA namanya Amel kan." Jawab Aldi.


"Benar. Saat di kantor paman Burhan Alya menggunakan baju wanita dan aura kecantikannya semakin jelas dia Anggun dan manja pada Paman Burhan. Aku dan Alfin tidak percaya kalau Alya bisa berubah 180° di depan pamannya." Kata Aldo


Mereka pun menyelesaikan perbincangannya malam itu dan tidur.


Pagi yang cerah Alya Aldi dan Aldo sarapan di meja makan.


"Tumben Al makan di sini. Biasanya di kantin kampus." Tanya Aldi


"Ada urusan yang ingin aku selesaikan bersama Alfin." Jawab Alya


Tingnong. Tingnong. (Bel berbunyi)


"Itu pasti Alfin, sudah datang." Kata Aldo lalu berjalan membukakan pintu.


"Fin, sarapan dulu. Aku tunggu di ruang tamu." Kata Alya.


"Aku sudah makan Al, ayo ke ruang tamu." Kata Alfin lalu menuju rung tamu.


Alfin, Alya, Aldo dan Aldi sudah ada di ruang tamu


"Gini Fin, gimana kalau kita minta bantuan paman Burhan untuk mentuntaskannya. Kita sudah berusaha selama 3 tahun terakhir ini tapi kita belum bisa membereskannya. Aku sudah bosan bergelut dengan kampus itu, dan bukan Alya namanya jika keluar kampus tanpa identitas lulus." Kata Alya serius.


"Aku ikut apa yang kau rencanakan Al. Dan aku yakin itu jalan yang terbaik karena kau pasti memikirnya matang-matang." Kata Alfin setuju.


"Apa yang kalian bicarakan?." Kata Aldo bingung.


"Nanti aku ceritakan kalau masalah ini sudah kelar. Sana kamu kekantor nanti telat." Kata Alfin.


"Kalian mau bolos lagi ya??." Kata Aldo.


"Bukan urusanmu, sana pergi nanti telat loh." Alfin


"Baik-baik, kamu janji jelaskan ke aku nanti.." Aldo


"Iya-iya sana pergi." Kata Alfin, Aldo pun pergi.


"Kamu juga sana pergi ke kampaus. Jangan lupa absenkan kita berdua." Kata Alfin pada Aldi


"Emangnya apa urusan kalian lebih penting dari kuliah." Aldi


"Ini juga bukan urusanmu." Alfin


"Apa kamu ingin berduan sama Alya?." Tanya Aldi berbisik dan Alfin menganguk." Apa kamu mau wik wik sekarang?." Sambung Aldi


"Gila apa!." Kata Alfin kaget dengan ucapan Aldi


"Apa yang kalian bicarakan?." Kata Alya melotot. "Kenapa bicaranya berbisik-bisik." Sambung Alya


"Hmm. Ini Aldi mau berangkat ke kampus dulu. Iya kan Di?." Alfin.


"Gak mau kalau gak sama Alya." Kata Aldi karena Aldi ditugaskan untuk menjaga Alya.


"Gimana ini Al, apa dia ikut dengan rencana kita?." Tanya Alfin. Alya mengangguk tanda setuju.


"Baiklah. Emang kamu mau bolos juga?." Tanya Alfin pada Aldi


"Aku akan ikut kemanapun Alya pergi." Jawab Aldi tegas. Alfin hanya menatap Aldi tanjam karena tak suka dengan ucapan Aldi.


"Ayo kita berangkat ke kantor paman Burhan." Ajak Alya


"Ayo." Jawab Aldi sama Alfin bersamaan.


"Kalian tunggu dulu aku akan ganti baju dulu." Kata Alya lalu menaiki tangga.


Di ruang tamu


"Di. Apa maksud kamu tadi kenapa kamu ingin selalu bersama Alya?. Apa jangan-jangan kamu menyukainya." Tanya Alfin


"Hahaha. Benar kata Aldo kamu sama Aldo menyukai Alya gadias tomboy itu. Selera kalian aneh ya." Kata Aldi


"Jawab! Apa kamu juga menyukai Alya??." Alfin


"Aku akan jawab kenepa alasannya aku ingin selalu bersama Alya, tapi kamu harus janji jangan bilang-bilang ke Alya ya?." Kata Aldi dan Alfin mengangguk.


"Aku di tugaskan oleh Ayahnya Alya untuk selalu berada disisinya dan menjaganya, itu alasannya kenapa aku harus selalu berada disisinya." Kata Aldi


"Apa!" Teriak Alfin kaget. Tiba-tiba Alya turun dari tangga dengan pakaiannya yang anggun karena mau ke kantor paman Burhan.


"Ada apa?." Tanya Alya. Aldi dan Alfin menoleh ke arah Alya, mata mereka tak berkedip melihat Alya. Alya mendekati mereka dan melambaikan tangannya di hadapan mereka.


"Ada apa?." Tanya Alya lagi dan membuat mereka membuyarkan lamunanya.


"Tidak ada apa-apa." Kata Alfin tersenyum.


"Ayo berangkat." Ajak Alya. Mereka pun berdiri dan mengikuti Alya dari belakang.


"Kamu punya hutang penjelasan kepadaku." Bisik Alfin pada Aldi.


"Apa Aldo mengetahui hal ini?." Tanya Alfin. Aldi menggeleng kan kepalanya.


Mereka pun berada di dalam mobil Alfin yang menyetir, Aldi duduk di samping Alfin sedangkan Alya di belakang sibuk dengan hpnya.


Alya mengirim pesan pada paman Burhan


Alya : paman ada di kantor??


Paman : iya, ada apa?


Alya : Alya mau ke kantor paman.


Paman : ada apa? Kok tiba-tiba ke kantor!


Alya : ☺ Alya kangen sama Paman.


Paman : jangan bohong. Paman tau kamu ingin menemui paman pasti ada masalah.


Alya tak membalas pesan paman Burhan karena Alya, Alfin dan Aldi sudah ada di kantor paman Burhan.


"Hai paman!" Sapa Alya dengan manjanya yang sudah di depan paman Burhan.


"Ada apa?." Tanya paman Burhan tersenyum.


"Alya tau sesuatu tentang buronan yang paman incar selama ini." Kata Alya yang sudah duduk diikuti Aldi dan Alfin


"Pasti kamu tidak mau dengan gratis memberikan infonya. Paman harus membanyarnya dengan apa?." Tanya Paman Burhan


"Bagaimana dengan izin paman?." Kata Alya kembali bertanya.


"Izin!." Kata paman Burhan mengangkat alis kanannya.


"Iya, izinkan Alya memegang pestol untuk menangkap buronan itu." Kata Alya santai


"Apa!!!. Tidak ini sangat berbahaya nak. Paman akan menugaskan inspektur Dani bersamamu." Kata paman Burhan


"Kalau melihat inspektur kepolisian buronan itu akan kabur, Alya bisa menjalankan tugas ini. Sudah 3 tahun Alya menyelidiki gerak geriknya." Kata Alya masih santai.


"Apa! Sudah 3 tahun dan kamu baru memberi tau paman sekarang." Kata paman Burhan kaget.

__ADS_1


Sebenarnya Alya menunda kelulusan kuliahnya karena masalah ini dan Alya mencari bukti-bukti yang kuat untuk menangkap buronan itu. Hal ini di ketahui oleh Alfin karena Alfin tidak mau orang yang dicintainya kenapa-kenapa dia membantu Alya untuk melindunginya.


"Bagaimana paman mau tidak dengan tawaran Alya??." Tanya Alya.


"Tapi paman khawatir sayang. Bagaimana kalau mamamu tau paman pasti di hukum habis-habisan. Dulu saja paman mengajakmu jalan-jalan keluar negri tanpa izin dari mamamu. Paman diewer. Hiiii ngeri jika mengingatnya." Kata paman Burhan.


"Benarkah paman. Alya lupa." Kata Alya.


"Iya waktu itu paman liburan kasian melihatmu dirumah sendirian, jadi paman mengajakmu. Pulangnya mamamu ngomel-ngomel sampil menjewer telinga paman." Kata paman Burhan.


"Hehehe." Alya tertawa. "Mama tidak akan tau kalau tidak ada yang beritau mama ini rahasia kita paman. Gimana?." Alya.


Alfin langsung melirik ke arah Aldi dan berbisik. "Awas kalau sampai bocor." Ancam Alfin pada Aldi


"Aku ditugaskan untuk memberi kabar kepada orang tua Alya kalau tidak keluargaku jaminannya. Aku harus bagaimana??." Aldi


"Terserah kamu yang penting rahasia Alya jangan sampai bocor." Alfin


Paman yang berfikir mulai berbicara.


"Demi keamanan masyarakat, terpaksa paman mengizinkanmu. Tapi ingat kamu harus berhati-hati dan paman akan menugaskan inspektur Dani untuk mengawasi dan menjagamu." Kata paman tagas.


"Tapi paman." Kata Alya


"Tidak ada penolakan ini sudah keputusan yang harus kamu ambil." Kata Paman tidak mau di bantah.


"Baiklah paman." Kata Alya menyerah. Paman memberikan pestol kepada Alya dan menugaskan Inspektur Dani selalu berada disisi Alya sejak itu.


Inspektur Dani sudah ikut bersama Alya ke Apartemen Alya diikuti oleh Aldi dan Alfin.


"Ini bukti yang sudah aku kumpulkan selama ini inspektur." Kata Alya sambil menunjukkan beberapa foto dan vidio kepada inspektur Dani.


"Hari senin samapai Jum'at jam 9 pagi Marwan akan pergi ke kampus dia bekerja sebagai dosen di kampus Alya, dan kebanyakkan korban Marwan adalah mahasiswa di kampus. Dia bandar narkoba yang pandai bersembunyi. Kalau boleh Alya sarankan jangan menggunakan seragam kepolisian saat bertugas, kita gunakan cara yang Marwan lakukan. Pak Inspektur harus menyamar sebagai mahasiswa yang membeli narkoba kepada Marwan, Di saat yang tepat kita akan meringkusnya dengan kelompoknya. Pada hari sabtu dan Ahad dia pergi ke markasnya dan markas inilah yang di jadikan persembunyiannya selama ini disana banyak penjaga yang memakai senjata. Alya butuh persiapan untuk penerobos masuk ke markas itu awalnya Alya tidak mau melibatkan paman Burhan untuk ikut campur. Tapi dipikir-pikir lagi Alya membutuhkan senjata maka dari itu Alya terpaksa memberi tau paman Burhan." Jelas Alya.


"Hebat Alya. Terus apa rencana kita selanjutnya?." Tanya Inspektur Dani


"Inspektur pura-pura jadi pembeli, sebelum itu kita lumpuhkan anak buahnya. Marwan tidak bisa apa-apa tanpa mereka. Marwan juga menyembunyikan pekerjaan ini dari keluarganya. Kita mulai malam ini inspektur siap??." Kata Alya


"Baiklah saya akan mengajak anak buah saya untuk bergabung." Kata inspektur Dani lalu pergi


Saat inspektur Dani pergi ia berpapasan dengan Aldo yang ingin ke apartemen Alya.


"Kamu yakin Al kita bisa melakukannya?". Tanya Alfin.


"Kita coba dulu. Oke?." Kata Alya naik tangga.


"Apa yang ingin kalian lakukan?. Kenapa tadi ada inspektur Dani?" Tanya Aldo saat sudah ada di dalam apartemen.


"Kalau nanyak satu-satu Do. Sini aku ceritakan." Kata Alfin. Alfin menceritakan tentang alasan Alya menunda kelulusan kuliahnya. Tentang buronan yang di incarnya.


"Siapa buronan itu??" Kata Aldo penasaran.


"Pak Marwan." Kata Alfin santai.


"Apa??." Kata Aldo kaget."Bukannya dia dosen paling baik selama yang aku kenal." Kata Aldo tidak percaya.


"Alya yang mengatakannya awalnya aku juga tidak percaya tapi jika kamu melihat ini kamu akan percaya." Kata Alfin menujukkan foto dan vidio.


"Aku tak pernah menduganya sejahat itukan dia." Kata Aldo geleng-geleng kepala.


"Kamu akan tau kebenaran lagi tentang Aldi." Kata Alfin.


"Emang ada apa dengan Aldi?." Tanya Aldo


"Kamu atau aku yang akan memberitaunya??." Kata Alfin pada Aldi


"Tapi ingat jangan beri tau Alya kalau Aku adalah suruhan ayahnya Alya untuk menjaganya dan selalu memberitau apapun tentang Alya." Kata Aldi bisik-bisik takut Alya mendengar.


"Apa??." Kata Aldo melotot.


"Awalnya Aku tidak mau menjadi penjaga wanita jadi-jadian sepertia Alya..." kata Aldi kemudian Aldo menarik kerah leher Aldi.


"Tunggu dulu. Kamu bilang Alya wanita jadi-jadian apa maksudmu?? Hah!!." Kata Aldo tidak terima Alya di juluki wanita jadi-jadian.


"Eh. Apa-apaan ini." Kata Aldi. "Aku belum selesai bicara." Sambung Aldi


"Awas kamu. Jika menyebut Alya wanita jadi-jadian lagi." Kata Aldo mengancam


"Baiklah Maaf. Kamu bisa melepaskan tanganmu aku kesulitan bernafas." Kata Aldi


"Lanjutkan ceritamu." Kata Aldo lalu melepaskan tangannya dari kerah leher Aldi


"Iya aku terpaksa menjadi pengawal Alya. Aku mendekatinya hampir putus asa karena berapa kali aku mencoba untuk mendekatinya dia cuek dan tidak peduli kepadaku. Saat aku mau mengundurkan diri pak Budi mengancam akan menyakiti Mila adik kesayanganku. Jadi aku terpaksa bekerja. Lama-lama aku menyukai Alya dia penyayang lembut cantik. Walau sedikit cuek dan tomboy." Kata Aldi. Alfin dan Aldo reflek menarik kerah leher Aldi


"Apa? Kamu menyukai Alya?." Kata Alfin dan Aldo bersamaan.


"Woi. Menyukai bukan berarti mencintai. Aku sadar Alya itu bosku mana mungkin anak buah sama bosnya levelnya jauh bro." Kata Aldi. Lalu Alfin dan Aldo melepaskannya karena melihat Alya turun dari tangga.


"Mau pulang bentar orang tuaku memintaku untuk makan siang bersama. Ini adalah hal yang membahagiakan bagiku, karena jarang-jarang ketemu sama mereka dirumah. Nanti langsung ketemuan di markasnya Marwan ya." Kata Alya


"Kamu gak mau ngajak kita Al." Tanya Aldi.


"Emang kalian mau ikut denganku?." Tanya Alya


"Mau dong." Jawab Alfin, Aldi dan Aldo.


"Ayo." Ajak Alya


Mereka pun pergi. Saat dirumah Alya. Anjani (mama Alya) dan Frendi (papa Alya) menyambut Alya dengan pelukan hangat.


"Akhirnya kita bisa berkumpul lagi." Kata papa Frendi


"Mama kangen kamu sayang." Kata mama Anjani


"Alya juga kangen mama papa." Kata Alya pencium pipi mama Anjani dan papa Frendi bergantian.


"Oh iya perkenalkan ini teman-teman Alya ma, pa." Sambung Alya sampil menunjuk Alfin, Aldo dan Aldi. Papa sudah mengenal Aldi begitu sebaliknya karena mereka sering telfonan masalah Alya. Ini pertama kalinya Aldi berhadapan dengan tuannya, dia nenundukkan kepala sebagai rasa hormat.


"Jadi?? Kamu anak dari presdir terkenal itu." Kata Aldo dan Alfin barengan. Alya hanya tersenyum.


"Ayo masuk kita makan siang bersama." Ajak mama Anjani mereka semua pun masuk menuju meja makan yang sudah disiapkan beberapa hidangan oleh bi Shita.


"Alya ada pekerjaan nanti ma, pa. Jadi tidak bisa tidur di rumah." Kata Alya.


"Pekerjaan? Bukannya kamu belum lulus kuliah?." Kata papa Frendi


"Eh, iya maksud Alya pekerjaan tugas dari kampus." Kata Alya berbohong.


"Apa Alya tidak rindu sama papa dan mama?." Kata mama Anjani.


Aldi telah menjalankan tugasnya. Dia sudah meberi tau orangtuanya Alya tanpa pengetahuan dari Aldo dan Alfin. Maka dari itu orangtuanya Alya terpaksa meninggalkan pekerjaannya demi menghalangi pekerjaan yang berbahaya.


"Bukannya mama sama papa ingin Alya cepat lulus kuliah?." Kata Alya.


"Iya." Jawab papa Frendi dan mama Anjani bersamaan.


"Jadi Alya harus mengerjakan tugas kuliah dengan baik dong." Kata Alya memaksa agar di izinkan.


"Untuk malam ini saja sayang. Jangan kemana-mana ya?. Mama masih rindu sama kamu." Kata mama Anjani Tapi Alya tidak menjawab.


Alfin sama Aldo berbisik.


"Jangan-jangan ini ulah Aldi, Do. Gimana rencana Alya gagal malam ini." Kata Alfin


"Aku tidak akan membiarkannya itu kita harus beritau Alya siapa Aldi. Biar dia bisa hati-hati terhadapnya." Kata Aldo. Alfin dan Aldo pun tersenyum.


Drrt. Drrrt. Tiba-tiba hpnya Alfin berbunyi.


"Maaf om, tante saya anggat telfon dulu." Kata Alfin minta izin.


Ting pesan masuk ke hpnya Alya.


Alfin : "aku tunggu di depan ada yang ingin aku bicarakan."


Alya : "baiklah."


"Baiklah Pa, saya akan disini malam ini." Kata Alya tersenyum lalu berdiri.


"Mau kemana??." Tanya mama Anjani


"Ini mau nelfon Dosen kalau Alya tidak jadi mengerjakan tugas malam ini." Kata Alya berbohong.


"Baiklah." Kata mama Anjani. Alya pun pergi menemui Alfin.


"Aduh. Om. Maaf boleh saya numpang toilet?." Kata Aldo


"Kamu lurus saja lalu belok kanan." Kata papa Frendi. Aldo berjalan terbirit-birit menuju toilet biar tidak ada yang mencurigainya sebenarnya Aldo ingin menemui Alya dan Alfin.


Mereka bertiga di teras depan.


"Lama banget sih Do." Kata Alfin


"Sudah. Jangan bicara disini gak aman. Ayo pergi kesana." Kata Alya menuju kursi taman dan mereka pun pergi.


"Apa yang kalian ingin bicarakan??." Tanya Alya.


"Ternyata Aldi itu adalah suruhan papamu Al. Kemungkinan besar dia yang memberi tau rencana kita." Jawab Alfin.

__ADS_1


"Oh." Jawab Alya santai


"Kok cuma oh si Al. Ini gawat rencana kita akan gagal." Kata Aldo


"Kalian tenang saja. Nanti kalian ajak Aldi ngumpul bersama kalian buat dia tidak sadarkan diri. Jangan ajak dia dalam rencana ini. Kalian mengerti?." Kata Alya


"Maksudnya tidak sadarkan diri. Kita bunuh si Aldi itu ya?." Kata Aldo


"Bodoh kamu. Kita kasi obat tidur aja biar dia tertidur." Jelas Alfin.


"Oh." Kata Aldo mengerti


"Kalian ajak Aldi ke apartemen belikan obat tidur sekarang. Saya akan susun tencana selanjutnya. Ingat pastika Aldi tertidur saat kalian pergi oke??." Kata Alya


"Siap." Kata Aldo dan Alfin bersamaan.


"Aldo kamu masuk dulu gih." Kata Alfin lalu Aldo pergi.


"Al aku mau masuk dulu ya. Langsung izin pulang nanti." Kata Alfin. Alya mengangguk Alfin pun pergi.


"Jadi Aldi suruhan papa." Gumam Alya sambil tersenyum lalu masuk ke dalam.


Di ruang makan terasa hening cuma ada bunyi sendok beradu dan piring.


"Kerja yang bagus Di. Saya puas dengan kerjamu." Papa Frendi


"Terimakasih tuan." Jawab Aldi tersenyum


Aldo pun duduk di tempat semula.


"Sudah lega nak?." Tanya mama Anjani.


"Hehe. Iya tante." Jawab Aldo. Alfin datang.


"Apakah salah satu dari kalian adalah pacarnya Alya?." Tanya mama Anjani kepada Aldo dan Alfin. Didengar oleh Alya yang tiba-tiba masuk.


"Alya belum punya pacar Ma." Jawab Alya. Mama pun tersenyum.


"Saya pamit dulu om, tante." Kata Alfin


"Baiklah hati-hati di jalan ya." Kata mama Anjani.


Alfin, Aldo dan Aldi pun pergi.


"Alya, kamu sudah waktunya untuk menikah." Kata Frendi. Saat Alya, Anjani dan Frendi ada di ruang keluarga.


"Ujung-ujungnya Alya di jodohkan iya kan." Kata Alya.


"Mama dan papa sudah memberi waktu untuk memperkenalkan calon menatu mama. Kamu yang menunda-menundanya, karena itu mama dan papa akan menjodohkan kamu." Kata mama


"Hmm terserah mama dan papa. Tapi tunggu Alya lulus ya. Dengan syarat kalau Alya belum menemukannya mama dan papa yang mencarinya." Kata Alya


"Baiklah. Alya mau ke kamar dulu ya." Kata Alya lalu pergi


"Dia sama seperti yang dulu ya ma. Gadis penurut." Kata Frendi tersenyum


"Siapa dulu mamanya." Anjani


"Aku papanya." Frendi. Mereka pun tertawa.


Malam tiba.Tok. Tok. Tok


"Alya sayang, makan malam sudah siap." Kata mama Anjani. Namun pintu kamar Alya tidak terbuka Anjani membuka pintu itu dan ternyata tidak di kunci.


"Alya. Sayang." Kata mama Anjan sambil mencari Alya di kamarnya, di kamar mandi, di ruang ganti namun mama Anjan tidak menemukannya. Anjan menemukan surat di atas laci di samping tempat tidur Alya.


Isi surat.


*Buat mama dan papa


Mama papa maafkan Alya, ini bukan masalah tugas kuliah. Ini adalah tugas yang sangat penting, Alya harus membasmi hama-hama agar tidak mengganggu ketenangan masyarakat.


Dari Alya*.


mama Anjan kaget mendapatkan surat itu dan berlari menghampiri Frendi yang sedang menunggu di ruang makan.


"Pa, Alya kabur." Kata Anjan dengan ngos-ngosan karena berlari dan memberikan surat kepada Frendi.


"Anak ini memang keras kepala." Kata Frendi lalu menelfon Budi.


Tutt tutt tutt.


"Hallo. Ada apa bos??." Kata Budi saat sambungan telfon terhubung.


"Tolong cari tau dimana markas Marwan dan hubungi saya secepatnya." Kata Frendi


"Baik. Bos." Kata Budi langsung mematikan hpnya dan menelfon Aldi berkali-kali. Namun Aldi tidak mengangkatnya.


"Dimana anak itu?." Gumam kesal Budi karena telfonnya tidak di angkat oleh Aldi


Di Apartemen Alya, Aldi tertidur sangat pulas karena Alfin dan Aldo sudah memberinya obat tidur sebelum mereka pergi untuk menjalankan rencana yang sudah di siapkan oleh Alya sebelumnya.


Di markas Mawran. Alya, Aldo, Alfin, inspektur Dani, Reza dan Bayu (anak buah inspektur Dani).


"Inspektur Dani sama Reza masuk sebagai pembeli menyamar sebagai mahasiswa dan Aldo sama Bayu bius semua anak buah Marwan di depan 10 orang. Saya sama Alfin akan mengatasi anak buah Marwa di belakang. Setelah tugas kita diluar selesai kita serang ke dalam. Aldo dan Alfin kalian tetap berjaga-jaga di luar, saya dan Bayu akan menerobos ke dalam." Kata Alya memberi aba-aba. Semua mengangguk.


"Kalian siap!!." Lanjut Alya


"Siap." Jawab Alfin, Aldo, Dani, Reza dan Bayu bersamaan.


Inspektur Dani dan Reza masuk. Dia di geledah oleh anak buah Marwan dan di izini masuk.


"Aku butuh 10 kg bapak bisa mengirim ke alamat ini?." Kata inspektur Dani memberikan Alamat.


"Kamu siapa?? Dan tau alamat ini dari mana??." Kata Marwan.


"Kami mahasiswa bapak. Saya tau alamat ini dari teman saya. Dia langganan bapak di kampus." Kata Reza


Mereka berbasa basi sedangkan Alya dan Alfin sudah menjalankan tugasnya. Anak buah yang pingsan langsung di ikat kaki dan tangannya mulutnya juga di bungkam dengan perban. Begitu juga dengan Aldo dan Bayu menjalankan tugas dengan baik. Dan mereka menerobos masuk ke dalam.


"Jangan bergerak kalian di kepung.!." Kata Alya.


Dor! Dor! Dor!


Marwan dan anak buahnya langsung menempak, tangan kiri Alya kenak tembakan. Alya langsung bersembunyi di balik sofa. Sesekali menembak dari balik sofa.


Dor! Dor! Dor!


Suara tembakkan saling bersautan Marwan dan anak buahnya kocar kacir ada yang mau kabur namun kakinya di tembak oleh Alya.


Dor!


Inspektur Dani langsung memborgol mereka. Marwan menangkap Alya.


"Buang senjata kalian atau saya akan membunuh wanita ini!." Kata Marwan.


Di luar markas Marwan, orang tua Alya, Budi, paman Burhan, dan beberapa Anggota polisi datang. Aldo mendekati mereka.


"Suttt. Alya di tangkap. Jangan bersuara bahaya." Kata Aldo lalu mereka mengendap-ngendap mendekati pintu masuk.


"Paman di belakang ada 10 orang yang sudah di bius dan 10 orang ada di sana." Kata Aldo menujuk anak buah Marwan yang di bius.


"Sisanya ada di dalam." Kata Aldo.


Paman Burhan langsung menerobos dan menembak tangan Marwan. Marwan langsung melepaskan senjatanya. Alya pun kabur dari dekapan Marwan. Dan Akhirnya mereka semua di tangkap.


"Kamu pemberani Alya." Kata paman Burhan bangga pada Alya.


Anjani langsung memeluk Alya.


"Aaauu." Kata Alya tangannya banyak mengeluarkan darah karena tertembak.


"Ada apa?." Tanya papa Frendi.


"Alya tadi tertembak." Jawab inspektur Dani


"Ayo kita ke rumah sakit terdekat." Kata mama Anjani panik lalu pergi diikuti Aldo, Alfin, papa Frendi dan paman Burhan. Anggota kepolisian yang lain di tugaskan untuk membawa Marwan dan anak buahnya ke kantor polisi.


Diruangan UGD Alya dirawat.


"Kamu gimana sih Bur, kenapa Alya bisa terlibat ini semua?. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Alya, aku tidak akan memaafkanmu." Kata mama Anjani ngomel-ngomel pada Paman Burhan.


"Saya sudah melarangnya mbak, tapi Alya nya yang keras kepala." Kata paman Burhan


Dokter keluar,


"Bagaimana keadaan anak (ponakan) saya dok?." Tanya Paman Burhan dan mama Anjani bersamaan.


"Alya baik-baik saja kok ma, man. Iya kan dok." Jawab Alya tiba-tiba muncul dengan tangan di perban.


"Kamu buat mama khawatir aja, mau jadi pahlawan kamu hah!." Kata mama Anjani marah sambil menjewer telinga Alya. Papa Frendi hanya geleng-geleng kepala


"Ampun mama ampun." Kata Alya meringis kesakitan.


"Ayo pulang. Bur kamu urus adminitrasinya." Kata Mama Anjani lalu membawa Alya pergi diikuti papa Frendi.


"Baik mbak, hati-hati di jalan." Kata paman Burhan.

__ADS_1


"Kalian pulang sana, nanti dicariin orang tua kalian." Kata paman Burhan kepada Aldo dan Alfin


"Siap paman!." Jawab Aldo dan Alfin bersamaan sambil memberi hormat, paman Burhan tersenyum lalu mengurus adminitrasi. Aldo dan Alfin pergi ke apartemen Alya.


__ADS_2