
Drrt. Drrt. Drrt ponsel Alfin berbunyi.
"Zid, tante Dinda yang telfon. Angkat tidak?." Tanya Alfin pada Zidan.
"Terserah lo, gue mau tidur." Kata Zidan lalu menaiki tangga. Alfin langsung mengangkat telfonnya.
"Hallo tante." Kata Alfin saat Alfin mengangkat telfon.
"Iya, ini Alfin kan??." Tanya mami Dinda.
"Iya tante, ada apa?." Tanyak balik Alfin.
"Zidan bersamamu nak?." Tanya mami Dinda lagi.
"Iya tante. Katanya dia mau bermalam di rumahku." Kata Alfin.
"Tolong bujuk dia suruh besok pulang ya. Ditunggu tante dirumah." Kata mami Dinda.
"Oke beres tante." Kata Alfin.
"Terimakasih nak, maaf mengganggu malam nak Alfin." Kata mami Dinda.
"Iya gak papa tante." Kata Alfin lalu sambungan telfon ter putus.
Alfi tidur bersama Zidan, Aldo dan Aldi. Alya tertidur nyenyak di kamarnya. Jam menujukkan pukul 06:15. Alya lari pagi di taman dekat apartemennya lalu dia duduk di kursi taman memesan makanan melalui ponselnya. Tak lama kemudian pesanan datang Alya membayar pesanan yang di pesannya lalu masuk ke apartemen. Alya menata makanan di atas piring kemudian di pindahkan ke meja makan. Zidan dan Alfin turun dan mendekati meja makan.
"Ayo makan." Kata Alya sambil mengunyah makanan.
"Saya makan diluar saja." Kata Zidan.
"Pak Rafi gak jualan lagi di tempat itu, lebih baik kamu makan saja makanan yang di hadapanmu ini." Kata Alya sambil menawarkan makanannya.
"Ayo Zid, kita sikat sepertinya enak ini." Kata Alfin yang sudah duduk di samping Alya. Zidan pun ikut duduk dan menikmati makanannya. Aldo dan Aldi turun dan ikut bergabung dengan Alfin, Zidan dan Alya.
"Bu bos. Jam brapa brangkat??." Tanya Aldi sambil mengunyah makanannya.
"Setengah 9." Jawab Alya sambil memainkan hpnya. "Nanti kita mampir dulu ke toko main, aku sudah janji sama Adi akan membawakan mainan buat nya." Kata Alya dengan wajah sedih lalu pergi meaiki tangga.
__ADS_1
"Siap bos." Kata Aldi.
"Di kenapa?? Kamu gak bilang kalau Alya sedih." Kata Alfin saat Alya pergi. Alfin peka jika ada sesuatu pada Alya beda dengan Aldi
"Mana aku tau kalau dia sesedih itu." Kata Aldi santai.
"Apa yang membuatnya sedih?." Tanya Aldo. "Aku rasa tidak masuk kantor hari ini bos, aku mau menghibur pujaan hatiku. Aku ikut sedih melihatnya sedih." Izin Aldo pada Zidan.
"Gak bisa, biar Aldi yang mengurusnya." Kata Zidan sambil mengunyah makanannya.
"Aku rasa yang membuat Alya sedih adalah Adi." Kata Aldi.
"Siapa Adi itu akan aku cincang dia brani-braninya membuat Alya sedih." Aldo
"Adi itu anaknya pak Rafi, kemarin dia minta mobil-mobilan ke pak Rafi dan istrinya minta uang hasil penjualannya pak Rafi. sedangkan pak Rafi sendiri belum bisa membelikan apa yang Adi minta karena menurutnya terlalu mahal. Dan Alya dengan wajah cerianya bicara pada Adi akan membelikan mobil-mobilannya itu. Tapi.." kata Aldi terhenti dan ikut bersedih.
"Tapi apa?." Tanya Zidan yang antusias mendengarkan cerita Aldi.
"Tapi waktu perjalanan pulang Alya diam seribu bahasa aku meliriknya dia meneteskan air matanya tanpa bersuara." Kata Aldi.
"Anak itu pandai sekali menyembunyikannya kesedihannya." Kata Alfin.
"Saat aku bertanya dia menangis semakin menjadi. Aku bilang menangislah Al jika itu bisa mengurangi bebanmu.terus ada yang tidak aku mengerti saat dia bicara tentang seseorang Katanya ingat sama Jid. Emang siapa Jid ya?? Apa kalian tau??." Tanya Aldi. Zidan tersedak mendengar ucapan Aldi.
"Apa dia bilang kangen sama Jidnya?." Tanya Zidan. "Cuma gadis cengeng itu yang memanggilku Jid. Apa jangan-jangan Alya itu adalah gadis yang aku cari selama ini." Gumam Zidan dalam hati.
"Bukan kangen tapi ingat Zid." Kata Alfin menjelaskan.
"Sama saja." Kata Zidan. "Sepertinya aku mengenal Jid yang Alya maksud." Sambung Zidan.
"Jangan ngelantur lo Zid, lo baru kenal sama Alya. Gue yang sudah lama mengenalnya baru kali ini mendengar nama Jid." Kata Alfin.
"Terus kamu gak nanya siapa Jidnya Di??." Tanya Aldo
"Ya mana tega dia gak mut bicara saat itu. Aku takut Alya semakin sedih kalau aku menanyakan Jidnya." Jawab Aldi.
"Eh ini sudah jam 6:45 aku pergi dulu ya." Kata Aldo langsung pergi.
__ADS_1
"Lo gak masuk Fin sana pergi." Kata Zidan.
"Gue perlu bicara sama kamu Zid." Kata Alfin pada Zidan lalu mengajak Zidan ke ruang tamu. "Di, kamu beresin semuanya ya." Kata Alfin pada Aldi.
"Oke." Kata Aldi lalu membersihkan meja makan dan mencuci piring.
Diruang tamu
" Zid, ada apa lo. Coba jelaskan kenapa gak mau pulang dan ke kantor.?" Tanya Alfin.
"Gue punya masalah sama nyokap dan perlu ketenangan." Kata Zidan.
"Tante tadi malam telfon katanya lo harus pulang." Kata Alfin.
"Saat gue ketemu sama gadis cengeng, apa menurutmu gue harus menikah dengan gadis pilihan mami??." Tanya Zidan
"Kamu katakan pada mami kalau kamu sudah memilih pasangannya sendiri." Kata Alfin.
"Iya gue akan pulang nanti, tapi kali ini gue butuh sendiri sana lo pergi kekantor." Kata Zidan.
"Baik. Tapi jangan melakukan hal yang membuat tante Dinda marah dan sedih." Kata Alfin.
"Tenang saja." Kata Zidan.
"Ya udah aku pergi." Kata Alfin lalu pergi. Tak lama kemudian.
"Ayo Di berangkat." Kata Alya.
"Ayo bos." Kata Aldi.
Saat melewati ruang tamu Alya melihat Zidan duduk sendirian.
"Pak bos gak ke kantor?." Tanya Alya.
"Tidak, aku masih ingin sendiri. Apa boleh aku disini untuk waktu sebentar.?." Tanya Zidan.
"Kamu boleh menganggap apartemen ini rumahmu." Kata Alya sambil mengelus punda Zidan. "Kami akan pulang cepat semoga masalahmu cepat selesai." Kata Alya lalu pergi di ikuti Aldi.
__ADS_1
Disaat apartemen Alya kosong Zidan masuk ke kamar Alya karena penasaran "kenapa tidak boleh masuk kekamar itu." Gumam Zidan lalu menaiki tangga dan menuju kekamar Alya. "Untung pintunya tidak dikunci." Kata Zidan. Zidan masuk dan menutup pintunya. Saat didalam kamar Alya, Zidan melihat bantal Alya basah, "apa ini! Dia benar gadis yang aku cari selama ini dia sering menangis. Gadis cengeng akhirnya aku menemukanmu. Tapi aku sedih kamu berubah bergaul dengan banyak laki-laki. Benar kata Alfin lebih baik aku menerima perjodohan dari mami." Kata Zidan sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya Alya. Dan melihat-lihat seisi ruangan itu dia melihat sebuah gambar didalam figora. "Dia menyipannya. Bagaimana kalau ini hilang." Kata Zidan menyembunyikan gambar itu. Dan kembali merebahkan tubuhnya hingga akhirnya dia tertidur.