
Saat sampai di lestoran. Zidan mencari maminya dan saat menemukan maminya bersama dengan 2 orang paruh baya bersama maminya Zidan menghampirinya.
"Sudah lama menunggu mi??." Kata Zidan mencium pipi kanan mami Dinda.
"Eh kamu sudah datang nak. Perkenalkan ini calon mertuamu." Kata mami Dinda memperkenalkan 2 orang paru baya di hadapannya. Zidan terkejut "calon mertua." Gumam Zidan dalam hatinya. Mama Anjani dan papa Frendi tersenyum melihat Zidan, Zidan pun membalas senyumannya dengan penuh tanda tanya dalam otaknya tapi dia bersikap normal dan pura-pura tau kalau maminya sudah menceritakan semuanya pada Zidan.
"Zidan." Kata Zidan memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
"Silahkan duduk nak." Kata mama Anjani.
"Begini nak, anak saya ini suka keluar malam dan juga keras kepala. Ini juga salah kami membebaskannya dalam bergaul. Papa harap dengan menikahkan dia denganmu bisa merubah kebiasaan buruknya. Kamu mau kan bantu papa?." Tanya papa Frendi pada Zidan.
"Kasik saya waktu untuk berfikir om." Jawab Zidan.
"Zin, mami ingin jawabanmu sama seperti jawaban mami." Kata mami Dinda.
"Tapi mi, Zid belum mengenal anaknya om Frendi dan butuh waktu untuk itu." Kata Zidan.
"Lambat laun sesudah menikah kamu akan mengenalnya." Kata mami Dinda gak mau di bantah. "Kamu siapkan saja acaranya Fren." Sambung mami Dinda.
__ADS_1
"Kami akan kembali ke luar negeri 3 hari lagi. Kami butuh jawaban secepatnya, malam ini bisa??." Tanya papa Frendi.
"Zid, kamu di kasi waktu untuk berfikir sampai malam ini." Kata mami Dinda.
"Baiklah mi." Jawab Zidan pasrah.
Pesanan mereka datang dan mereka menyantap hidangan yang disajikan. Setelah kenyang.
"Kami gak sabar menunggu jawabannya, semoga saja tidak mengecewakan." Kata mama Anjani.
"Ya sudah kami pamit dulu ya Din." Kata papa Frendi lalu pergi diikuti mama Anjani.
"Mami sudah menganggap anaknya om Frendi seperti anak mami, papi juga menyayanginya. Masak kamu tidak mau menikahinya, bukankah kita telah merestuimu dengannya." Kata mami Dinda.
"Tapi mi, mami tau kan apa kata om Frendi tadi. Dia sering keluar malam kemungkinan dia juga sering gonta ganti laki-laki. Mau di taruk dimana muka Zidan mi. Punya istri seperti itu." Kata Zidan. Mami Dinda marah besar dan menampar Zidan.
"Jangan pernah sebut anak mami wanita gampangan Zid, mami tidak menyukainya. Jika kamu tidak ingin dia memalukan nama baik keluarga kita kamu harus membimbingnya karena itu sudah tugasmu." Kata mami Dinda sambil menangis lalu pergi. Zidan mengejarnya.
"Mi, ayo pulang sama Zidan." Kata Zidan.
__ADS_1
"Gak mau biar mami tunggu sopir disini." Kata mami Dinda menolak.
"Mami maafkan Zidan ya." Kata Zidan dan memeluk maminya.
"Dengan syarat kamu harus menikah dengan anak mami." Kata mami Dinda.
"Tapi kan mi Zid..." ucapan Zidan terpotong.
"Ya sudah kalau tidak mau. Mami juga tidak mau memaafkanmu." Kara mami Dinda.
"Baiklah mi, Zidan mau. Mami senang?." Kata Zidan dengan senyum yang di paksa. "Ini semua gara-gara anaknya om Frendi. Awas nanti kalau dia sudah jadi istriku." Gumam Zidan dalam hati.
"Benar kamu mau menerimanya nak??." Kata mami Dinda bahagia. Zidan mengaguk, mami Dinda langsung memeluk Zidan. "Terimaksih ya sayang. Ayo kita pulang." Sambung mami Dinda.
Saat sampai dirumah Zidan.
"Sie yang mau nikah." Kata Jihan. "Kamu sudah ketemu sama gadisnya ya?. Gimana cantik tidak?." Sambung Jihan.
"Boro-boro cantik, sama gadisnya saja gak tau." Kata Zidan ngambek dan kekamar.
__ADS_1
Bersambung . . .