SANG JUARA HATI

SANG JUARA HATI
14. ALYA MAGANG DI KANTOR ZIDAN


__ADS_3

Di kamar Alya.


Drrt drrrt drrt (ponsel Alya berbunyi).


"Al, bosok kamu masuk magang kan?." Tanya Alfin saat telfonnya terhubung.


"Iya, saya sudah bosan di rumah." Jawab Alya.


"Aku tunggu Al, akan ku kenalkan pada sepupuku bos di tempat magang kita." Kata Alfin.


"Iya." Kata Alya lalu mematikan sabungan telfon dan berbaring di tempat tidur.


Pagi yang begitu cerah. Alya sudah siap pergi untuk magang kekantor, mama Anjani dan papa Frendi menggunakan baju santainya karena mereka meliburkan diri untuk beberapa hari. Saat di meja makan.


"Ma, pa. Alya berangkat dulu ya." Kata Alya menghapiri orang tuannya dan mencium tangan papa Frendi dan mama Anjani bergantian.


"Loh kok sudah rapi nak. Mau kemana?." Tanya mama Anjani.


"Mau magang ma. Alya mulai sibuk hari ini kan mau lulus kuliah ma." Kata Alya


"Ayo sarapan bareng dulu, kamu jangan terlalu capek." Kata mama Anjani menyiapkan makanan di atas meja.


"Alya makan di luar saja ya ma. Ini sudah telat." Kata Alya mencium pipi kanan mama Anjani lalu mau pergi.


"Oh gitu sekarang ciuman buat papa mana?." Kata papa Frendi dengan pura-pura ngambek. Alya menhampirinya dan mencium pipi kiri papa Frendi. Papa Frendi tersenyum lalu Alya pergi.


"Hati-hati di jalan sayang." Teriak mama Anjani karena Alya sudah menjauh.


Saat di kantor Zidan. Alfin menunggu Alya di lobi.


"Akhirnya kamu datang juga." Kata Alfin tersenyum saat melihat Alya.


"Ayo ikut aku Al." Sambung Alfin lalu masuk lift Alya mengikutinya. Saat sampai di lantai 5 iya bertemu dengan Silvi.


"Pak Zidan ada?." Tanya Alfin pada Silvi.


"Sebentar lagi datang silahkan tunggu dulu." Kata Silvi mempersilahkan Alfin dan Alya masuk.


"Kamu sudah sarapan Al?" Tanya Alfin.


"Sudah." Jawab Alya berbohong.


"Sudah lama menunggu?." Kata Zidan muncul.


"Barusan Zid." Kata Alfin. "Zid, kenalkan ini Alya yang aku ceritakan ke kamu." Kata Alfin memperkenalkan Alya pada Zidan. "Alya ini Zidan sepupuku sekaligus bos disini." Kata Alfin memperkenalkan Zidan pada Alya. Zidan dan Alya bersalaman tangan Alya gemetar. "Dia yang selalu memberiku semangat saat aku balapan, meberiku selamat setelah balapan selesai dan memberikanku pelukan hangatnya dan selalu minta tanda tanganku di dada setelah itu. Dia tidak pernah absen melihat pertandinganku." Gumam Alya dalam hati dengan mata tak berkedip detak jantung semakin kecang.


"Apa kalian sudah sarapan??." Tanya Zidan.


"Sudah." Jawab Alya spontan melepaskan tangannya dari tangan Zidan.


"Padahal aku belum sarapan, ayo temani aku sarapan." Kata Zidan.


"Ayo." Kata Alfin antusias. "Ayo Al ikut dengan kami." Kata Alfin. Alya pun menganguk dan mengikuti Alfin dan Zidan.


Saat memesan makanan di pedagang kaki lima pedagang muda itu namanya Rafi yang memiliki satu putra.


"Apa kamu sering makan di sini pak bos?." Tanya Alya.


"Kalau di luar kantor kamu boleh panggil Zid tidak perlu panggil pak apalagi bos. Oke" Kata Zidan. "Iya aku menyukai makanan di sini." Sambung Zidan sambil mengunyah makanannya. Tiba-tiba Preman datang mengobrak-abrik tempat itu.


"Mana uang yang kamu hasilkan!" Bentak Amir seorang preman.


"Ini cuma segini tuan." Kata Rafi memberikan uang dengan wajah takut.


"Kenapa cuma segini." Bentak Amir


"Saya baru buka warungnya ini masih pagi tuan, dan cuma segitu pendapatannya." Jawab Rafi gemetar. Alya melihat dan menghapirinya.


"Mau kemana kamu Al." Kata Alfin. Namun Alya tetap berjalan menghampiri Rafi dan Amir, Alfin dan Zidan mengikutinya. Alya merampas uang di tangan Amir dan memberikannya pada Rafi.

__ADS_1


"Ini uang punya Bapak, hasil keringat bapak dan tidak ada yang boleh mengambilnya dari Bapak termasuk preman ini." Kata Alya.


"Hai! Siapa kamu ikut capur urusanku." Kata Amir marah dan memegang bahu Alya. Alya langsung melintir tangannya dan membuat Amir jatuh terlentang. Dari kejauhan Aldi melihat kejadian ini.


"Oh ini yang di maksud Alfin dulu. Wanita seperti bunga cantik indah, namun tidak ada kupu-kupu yang berani menyentuhnya." Gumam Aldi dan berlari menghampiri Alya karena takut Alya kenapa-kenapa.


"Jangan kau ganggu pedagang ini, jika kau mengganggunya kau akan berurusan denganku." Kata Alya berjongkok. Amir menarik rambut Alya, Alya spontan meninju hidung Amir yang membuat hidung itu berdarah dan tangan Amir beralih memegang hidungnya yang berdarah. Alya mengusap-ngusap tangannya di dada Amir. Aldi langsung mendekat dan menarik Alya menjauh dari Amir. Alfin melihatnya dan Zidan membulatkan matanya tak kerkedip.


"Urus dia Di." Kata Alfin kepada Aldi. "Kamu tau kan jika Alya yang mengurusnya." Sambung Alfin.


Aldi mengagkat tubuh Amir.


"Lebih baik kamu pergi dari sini." Kata Aldi.


"Awas kamu, aku akan kembali membalas perlakuanmu padaku." Ancam Amir pada Alya. Alya hanya tersenyum.


"Kamu tidak papa pak?." Tanya Alya pada Rafi.


"Justru aku yang bertanya pada nona. Apa nona baik-baik saja?" Tanya Rafi balik.


"Iya, saya gak papa pak. Perkenalkan saya Alya, ini Aldi dan Alfin teman saya." Kata Alya memperkenalkan Aldi dan Alfin. "Dan ini bos saya." Kata Alya memerkenalkan Zidan.


"Saya Rafi non. Saya mengenalnya Pak Zidan non, dia pelanggan saya." Kata Rafi.


"Lebih baik bapak pulang ya. Disini gak aman buat bapak." Kata Alya.


"Tidak non. Nanti istri saya marah jika saya pulang sebelum dagangan saya habis." Kata Rafi.


"Saya akan membeli semuanya pak. Ayo saya antar bapak pulang." Kata Alya.


"Tapi non." Kata Rafi ragu.


"Gak ada penolakan ayo." Kata Alya dan Rafi pun mengikutinya.


"Alfin kamu bisa mengurusnya kan." Sambung Alya pada Alfin.


"Al, aku boleh ikut kamu kan?." Tanya Aldi.


"Itulah pekerjaanmu, ayo." Kata Alya. Aldi dan Alya pergi mengantar Rafi.


Sesampainya dirumah Rafi.


"Kok sudah pulang, mana uangnya." Kata Emi istri Rafi.


"Tadi brandalan itu datang lagi bu." Kata Rafi.


"Jadi uangnya Bapak kasi ke brandalan itu ya!, pulang-pulang gak bawa uang malah bawa perempuan." Kata Emi ngomel-ngomel.


"Sutt bu. Itu tamu kita suruh masuk kek, bukannya ngomel-ngomel gak jelas malu bu." Bisik Rafi pada istrinya.


"Ayo non masuk dulu." Kata Rafi pada Alya dan Aldi.


"Tidak pak terimakasih. Oh iya besok saya kesini lagi ya dan bapak gak usah kerja ditempat itu lagi." Kata Alya.


"Tapi n__." Kata pak Rafi


"Hmm. Tidak ada penolakan. Bapak tenang saja ya, biar saya yang mengurus semuanya." Kata Alya.


"Bapak!! Sudah pulang. Adi mau mobil-mobilan kayak punya Liko pak." Rengek Adi saat melihat bapaknya pulang.


"Iya nanti bapak belikan." Kata Rafi.


"Ini anaknya pak Rafi?." Tanya Alya.


"Iya non." Jawab pak Rafi. "Ayo salaman sama non Alya." Kata pak Rafi pada Adi anaknya. Adi pun salaman.


"Anak pintar." Kata Alya sambil mengusap kepalanya pelan lalu jongkok menyamakan tubuhnya dengan tubuh Adi. "Kamu mau mobil-mobilan?." Tanya Alya pada Adi.


"Iya seperti punya Liko, mobil-mobilannya jalan sendili." Kata Adi.

__ADS_1


"Besok kakak bawakan ya buat anak pintar." Kata Alya.


"Telimakasih kak." Kata Adi girang.


"Saya pamit dulu pak. Bu" Kata Alya lalu pergi di ikuti Aldi.


Alya dan Aldi pergi untuk membeli sebuah lahan dan di bangun sebuah warung di lahan itu. "Dalam waktu 1 hari 1 malam harus sudah selesai." Kata Alya pada para tukang bangunan.


Saat perjalannan pulang Alya menangis tanpa bersuara dan meneteskan air mata Aldi yang melihat merasa iba.


"Kenapa nangis Al??." Tanya Aldi. Alya hanya diam. "Kamu bisa menceritakannya padaku." Sabung Aldi yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Alya mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya berat.


"Apa kamu bisa menjamin rahasia ini?." Tanya Alya.


"Tentu." Jawab Aldi cepat.


"Rahasiakan juga pada paman dut, papa juga mama. Kamu bisa?." Tanya Alya.


"Jadi kamu sudah tau kalau aku adalah orang yang ditugaskan untuk menjagamu.?." Tanya Aldi.


"Iya. Kamu bisakan?" Tanya balik Alya.


"Iya." Jawab Aldi.


"Aku hanya minta jangan kau ceritakan kesedihanku kepada mereka. Aku hanya kasihan melihat keluarganya pak Rafi lebih-lebih saat anaknya minta mobil-mobilan. Aku jadi ingat pada Jid ku." Kata Alya sambil bernafas berat menahan airmata.


"Kamu bisa menangis Al, buang kesedihanmu supaya kamu lega." Kata Aldi namun Alya diam.


"Bisa kamu jalankan mobilnya Di." Kata Alya.


"Oh tentu bisa." Jawab Aldi


"Ke apartemenku sekarang." Kata Alya. Selama perjalanan Alya hanya diam. Aldi penasaran Jid siapa yang di maksud bosnya, tapi dia urungkan niatnya untuk bertanya karena melihat Alya tak mau bicara lagi.


"Inilah sifat wanita yang sesungguhnya selalu menyayangi orang yang kesulitan. Namannya saja Rahim semua wanita punya itu artinya penyayang." Gumam Aldi dalam hati. Lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di warung Alfin mengutus seseorang untuk membungkus semua makanan dan memberikan pada semua karyawan Zidan di kantor. Saat di ruangan Zidan, Zidan tertawa lepas.


"Lo kok bisa suka sama cewek kayak gitu sih Fin, hahaha." Kata Zidan sambil tertawa.


"Apa masalahnya buat lo, terserah gue mau suka sama siapa, dari pada lo suka sama anak yang suka nangis, sudah lupa sama namanya dan tak tau dimana alamatnya. Aneh kan." Kata Alfin gak terima wanita yang disukainya ditertawakan. Wajah Zidan langsung kusut.


"Hem mulai dah, tadi tertawa lepas saat gue sebut anak cengeng berubah kusut." Sambung Alfin.


"Gue merindukannya Fin. Bertahun-tahun tidak bertemu paman dut juga gak pernah datang kerumah lagi." Kata Zidan sedih.


"Kenapa lo gak nanya sama tante Dinda saja kan jelas." Kata Alfin.


"Sudah pernah, waktu itu. Gue lulus SMA gue menanyakan gadis cengeng kepada mami. Malah mami tertawa dan bilang mami baru dengar nama gadis cengeng." Kata Zidan.


"Hahaha, lo itu ya Zid, masak ada nama orang gadis cengeng." Kata Alfin tertawa.


"Iya kan. Lo juga tertawa. Gue bingung harus mencarinya di mana lagi." Kata Zidan.


Tok. Tok. Tok. Suara pintu.


"Masuk." Kata Zidan.


"Pak, nyonya Dinda ingin bertemu sama bapak dia menunggu bapak di lestoran M." Kata Silvi.


"Iya sudah. Kamu urus yang di kantor saya akan menemui mami." Kata Zidan.


"Baik pak." Kata Silvi lalu pergi.


"Fin, berhubung wanita yang kamu sukai bolos hari ini kamu kerja lembur ok." Kata Zidan.


"Siap bos." Jawab Alfin semangat. Zidan pun pergi.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2