SANG JUARA HATI

SANG JUARA HATI
30. ZIDAN PENASARAN


__ADS_3

Pagi yang cerah Alya dan Zidan bangun dan membersihkan diri kekamar mandi. Hari ini Alya jadi pendiam. Mereka berangkat ke kantor bersama. Semua karyawan berkumpul di lapangan kantor.


"Hari ini adalah hari terakhir kalian magang disini, saya harap buat adik-adik bisa mengamalkan ilmu yang sudah di ajarkan di sini. Ambil baiknya dan buang jauh-jauh buruknya. Selamat jalan semua semoga kalian semua sukses dan di mudahkan acara wisuda kalian." Kata Zidan tegas.


"Terimakasih atas bimbingan kakak-kakak. Mas-mas, mbak-mbak yang dengan senang hati dan kesabaran serta waktu yang di luangkan untuk mengajarkan kita. Semoga bisa bermanfaat kedepannya." Kata Alfan salah satu mahasiswa yang magang di kantor Zidan, ia juga termasuk geng Al.


Mereka saling bersalaman dan pelukan perpisahan ada yang menangis, Alya cuma berkaca-kaca kebiasaannya tidak menampakkan kesedihannya di depan umum. Zidan cuma menyalami dan memeluk para mahasiswa, tidak dengam mahasiswi Zidan cuma bersalaman kecuali Alya mendapatkan pelukan dari Zidan. Setelah mahasiswa mahasiswi pergi para karyawan kembali bekerja dengan tugas mereka masing-masing.


Alya pulang kerumahnya Aldi dan Alfin mengikutinya.


"Al ada acara gak nanti sore?." Tanya Alfin.


"Tidak." Jawab Alya


"Kemarkas ada perlombaan, dan kamu tidak pernah absen kan." Kata Alfin.


"Oke." Jawab Alya setuju.


Sesempainya di rumah bersama Alfin, Alya langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Fin, bangunkan aku nanti. aku masih ingin istirahat sebentar." kata Alya.


"Oke." jawab Alfin dan berjalan menuju ruang Tv.


"Bisa kah aku tidak bersama denganmu Zid, satu hari saja." gumam Alya saat merebahkan tubuhnya diatas ranjang lalu tertidur.


Hari menjelang sore. Alfin mengetuk pintu kamar Alya.


"Iya, aku sudah bangun." kata Alya di dalam kamar yang sudah bersiap-siap.


"Aku tunggu di bawah ya." kata Alfin.


"Ayo berangkat." kata Alya melempar kuci motornya kepada Aldi, sudah menjadi kebiasaan jadi Aldi harus siap dengan respon dadakan Alya.


Alya pun ikut dalam pertandingan dan selalu memenangkannya. Zidan ikut menyaksikannya dan setiap pertandingan selesai Zidan memeluknya lalu minta tandatangan Alya tepat di dadanya sebelah kiri.


"Selamat ya." Kata Zidan sambil melepas pelukannya dan menepuk lengannya pelan. Alya mengangguk.


"Oh, iya kamu tinggal dimana??" Tanya Zidan namun Alya tak menjawab.

__ADS_1


"Apa sama Alfin?." Tanya Zidan lagi. Alya menggeleng.


"Aldo?." Kata Zidan. Alya menggeleng.


"Aldi?." Kata Zidan. Alya menggeleng lalu pergi.


"Lalu dengan siapa??." Tanya Zidan tapi tidak dihiraukan oleh Alya. "Apa benar dia bisu?." Gumam Zidan dalam hati. "Aku harus mengikutinya kemana dia pergi." Gumam Zidan lalu pergi menyusul Alya.


Zidan mengikuti Alya. Awalnya Alya tidak menyadarinya setelah dia sadar ada yang mengikutinya Alya mempercepat motornya sehingga Zidan kehilangan jejak.


"Cepat sekali tu orang. Aku akan cari tau sendiri siapa kamu sebenarnya, kamu boleh lolos hari ini." Kata Zidan senyum. "Lebih baik aku pulang saja ke rumah Alya. Apa dia kira aku tidak tahu alamat rumah papa Frendi." gumam Zidan dalam hati sambil tersenyum.


Sore itu tiba-tiba hujan turun, Zidan tetap melajukan kendaraannya agar cepat sampai ke rumah, dengan basah kuyup Zidan menekan tombol rumah dan bi Shita membukanya.


"Den. kenapa basah kuyup." kata bi Shita. namun Zidan tak menjawabnya.


"Jangan bilang Alya klo aku ada disini." kata Zidan.


"Baik den." jawab bi Shita, lalu Zidan pergi ke kamar Alya dan mengganti bajunya.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2