
Sementara di dalam sebuah kamar VVIP hotel milik keluarga Abraham, sepasang pengantin baru Itu masih terdiam berdiri mematung di dekat meja samping ranjang. Mereka kini saling berhadapan. Lelaki tampan nan rupawan itu dengan intens terus memangamati gadis cantik tersebut dari atas hingga bawah.
Dengan sorot matanya yang tajam, sudut bibirnya menyungging menampakkan senyum devil padanya. Seolah pria tersebut tengah merencanakan sesuatu hal ataupun sedang menilai dirinya saja.
Glek!
Sehingga membuat Tiana yang gugup langsung menelan salivanya dengan kasar. Sungguh ia benar-benar merasa sangat panik dan tidak karuan. Ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi ini agar ia tidak berada di posisi yang sangat menegangkan seperti yang saat ini.
Dengan harap-harap cemas, gadis itu kini tinggal menunggu bagaimana reaksi apa yang akan ditimbulkan oleh minuman tadi. Dan ia berharap bahwa dirinya tadi tidak salah memberikan minuman padanya.
Karena, apa bila sampai minuman tadi tertukar, entah apa yang akan terjadi padanya nanti.
Dug-dug ...!
Dug-dug ...!
Detak jantungnya berdetak semakin kencang tak kala ia masih terus menunggu apa yang akan terjadi dengan pria tersebut.
1 detik.
2 detik.
Hingga tiba-tiba saja ....
Tok tok tok!
Keduanya langsung terjingkat kaget dan dengan serempak menoleh ke arah pintu.
"Cih, siapa sih? Ganggu aja!" David mendengus kesal.
__ADS_1
Sementara Tiana kini merasa kebingungan, sedang mengira-ngira siapa lagi orang yang datang ke sana?
"Bentar ya, biar aku lihat dulu. Siapa yang berani datang ke sini. Mengganggu saja!" gerutu David sembari mulai berjalan menuju pintu.
Sedangkan gadis itu menggangguk gugup. Ia kini berpikir keras, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Ceklik!
Dengan wajah yang terlihat kesal, David membuka pintu dan akan langsung memarahi orang yang berani datang mengganggunya itu.
Namun, di saat ia membuka pintu, pria itu tampak melongo dan kebingungan. Karena ia tak mendapati seorang pun berada di sana.
"Lah, kok nggak ada siapa-siapa sih? Iseng banget!" Sembari celingukan ke kanan dan kiri, pria itu berusaha mencari keberadaan seseorang di sekitar sana.
Namun hssilnya tetap nihil. Lorong panjang yang ada di depan kamarnya ini tampak lenggang dan sunyi. Tak ada seorang pun yang melintas di sana.
Sehingga membuat laki-kaki itu mendengus dan terus menggerutu kesal.
Brakk!
Tiana yang sedang melamun langsung terlonjak kaget. Lalu pria tersebut membalikan badan dan kembali mendekatinya.
Tiana yang melihatnya sedang berjalan menuju ke arahnya merasa semakin panik saja. Entah seperti apa raut wajahnya sekarang. Jika saja tidak ada masker yang menutupi wajahnya itu. Sudah tentu lelaki yang ada di hadanpanya itu bisa melihat betapa tegangnya dan paniknya wajahnya kini.
"Em ... siapa tadi nama mu?" Dengan tersenyum miring, dahi pria itu tampak mengerut. Ia sedang berusaha megingat siapa nama gadis tersebut. Karena mungjin sudah terlalu banyak wanita yang pernah bersamanya dulu, sehingga membuatnya tidak bisa mengingat dengan satu per satu siapa saja nama-nama semua gadis itu.
"Tia-- eh. Ka-kania, Tuan!" Karena saking gugupnya, dengan terbata hampir saja gadis itu keceplosan menyebut namanya sendiri.
"Ah, iya, Kania! Apakah tidak sebaiknya sekarang kau lepas maskermu itu? Karena sudah sedari tadi aku melihat kamu tampak begitu panik dan gugup, hingga seperti tidak bisa bernapas saja. Jadi, sebaiknya kamu lepas saja masker itu. Agar kamu bisa menghirup nafas dengan lega," ucap David. Dengan terus mendekat, sebelah tangannya terulur ingin meraih masker yang menutupi wajah gadis itu.
__ADS_1
Dengan mata yang membelalak lebar, seketika itu Tiana semakin dibuat kelabakan tidak karuan. Karena saking takutnya, tanpa sadar kedua kakinya mulai melangkah mundur ingin menjauhinya.
"Duh ... kenapa dia baik-baik saja? Bukannya kata Nyonya Nadia minuman tadi telah dikasih obat tidur, ya? Lalu kenapa dia tidak mengantuk? Da-dan --"
Huaah ...!
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, tiba-tiba saja Tiana yang sedang terus membatin malah manguap lebar dan terlihat seperti sedang mengantuk berat.
"I-ini ... kenapa pula tiba-tiba aku yang jadi merasa mengantuk gini, sih?" batinnya lagi.
Kini kedua mata Tiana terasa sangat berat dan rasa kantuk mulai menghampirinya. Hingga pada akhirnya ia tak bisa lagi menahannya dan dengan perlahan tubuhnya limbung hingga jatuh tergeletak tidak sadarkan diri di atas ranjang.
Brugg!
"E-eh, Kania!" Sontak David tercengang dan juga sangat syok melihatnya.
Dengan kedua mata yang melotot, lelaki itu langsung mendekatinya dengan kebingungan.
"Lah, kenapa dia tiba-tiba langsung tertidur begini? Atau ... jangan-jangan minuman tadi mengandung obat tidur, ya? Dan sebenarnya minuman tadi akan diberikan kepadaku?" tebaknya.
Berbagai spekulasi mulai bermunculan di otaknya.
"Oh ... sial! Sebenarnya apa yang direncanakan oleh gadis ini? Kenapa dia membuatku semakin menjadi penasaran saja," gumamnya sembari terus mengamati gadis yang telah terkulai lemas di atas tempat tidur.
"Hahaha ... dasar gadis bodoh! Senjata makan tuan dia. Mari kita lihat secantik apa wajahmu ini? Sehingga sampai-sampai kamu terus menutupinya?"
Dengan perlahan tangan David mulai membuka masker itu. Dan ...
Degg!
__ADS_1
Betapa terkejutnya ia ketika melihatnya.
"Hah, i-ini --"