
Di pinggir kolam renang, David masih terus sibuk mengamati keadaan di sekitar rumah itu. Dengan sorot mata yang tajam, setajam mata elang yang sedang mencari mangsa. Lelaki tampan berkemeja hitam itu tampak seperti sedang mencari ataupun sedang menyelidiki sesuatu hal di rumah tersebut.
Sembari terus melangkahkan kakinya, pandangan matanya menelisik menyusuri tiap sudut ruang yang ada di sekitarnya. Keadaan di sekitar kolam itu tampak tenang dan sunyi. Tidak ada yang mencurigakan.
Selain kursi dan meja tempat ia duduk tadi, di sisi kanan kiri kolam itu ada hamparan rumput hijau yang dilengkapi dengan beberapa macam bunga atau pun tumbuhan yang membuat suasana di kolam itu tampak asri dan sangat sejuk di pandang mata.
Lalu tanpa sengaja kedua netranya tertuju pada sisi lain dari tempat ini. Pandangan matanya jauh menyorot lurus ke depan. Di mana ia mendapati ada sebuah bangunan kecil yang berada di bagian paling sudut belakang rumah tersebut.
Bangunan itu tampak seperti deretan kamar-kamar kecil yang berjejer rapi. Kemungkinan tempat itu adalah kamar para pelayan atau pun gudang yang memang biasanya letaknya akan terpisah dari rumah utama sang majikan.
Sebenarnya semuanya tampak biasa saja, tidak ada hal yang mencurigakan dari tempat itu. Tetapi, entah mengapa hatinya seperti merasa ada sesuatu hal yang aneh di tempat itu. Sehingga membuatnya merasa penasaran dan tertarik untuk mendekati tempat tersebut.
Lalu ia pun berniat untuk mendekati tempat itu. Namun baru saja ia ingin melanjutkan langkahnya menuju sana, tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang datang membawakan minuman untuknya.
"Maaf, Tuan. Ini minumannya, silahkan diminum!" ucap si pelayan wanita yaitu Sri.
David tampak terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arahnya. Ia melihat ada seorang wanita yang masih tergolong muda ataupun setengahnya itu sedang meletakkan segelas orang jus di atas meja di dekat tempat ia terduduk tadi.
"Oh, iya, Bik. Terima kasih," ucapnya sambil mengulas senyum tipis pada Sri.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi, Tuan," ujar Sri seraya mengangguk ia pun membalikan badan ingin segera meninggalkan tempat itu.
Namun secara tiba-tiba David malah mencegahnya. "Tunggu, Bik!" serunya.
Otomatis Sri langsung mengurungkan niatnya dan berbalik menoleh ke arah pemuda itu. "Ya, ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Kini pria tampan itu sudah kembali terduduk di salah satu kursi tadi. Dengan wajah dinginnya ia menatap datar wanita tersebut.
Lalu ia berkata, "Em ... bolehkah saya tanya-tanya sama, Bibik?"
"Oh, tentu saja boleh, Tuan," jawab Sri.
__ADS_1
"Em ... ada berapa pelayan yang bekerja di sini?" celetuk David.
"Oh, semua pelayan di sini ada 5 orang, Tuan."
"Apakah semua pelayan itu tinggal di sini?"
Sri menggelengkan kepala. "Tidak, Tuan. Dua orang di antara kami ada yang pulang di sore hari dan tidak tinggal di sini."
"Oh, begitu." Dengan wajah yang terlihat serius, David mengangguk-anggukan kepala. "Em ... kalau boleh tau apakah semua pelayan di sini seumuran dengan Bibik? Em ... maksud saya apakah tidak ada pelayan wanita yang lebih muda dari Bibik ataupun yang seumur dengan Kania?"
"Hah?! Maksud, Tuan?" Wanita yang berusia 30 tahunan lebih itu tampak mengeryitkan dahi karena kebingungan mendengarnya.
David pun menyadari akan hal itu. Sehingga dengan cepat ia pun kembali berkata, "Jadi begini, Bik. Kalau ada pelayan yang seumuran dengan Kania di sini. Saya akan membawanya ke rumah saya, akan saya jadikan sebagai pelayan pribadinya Kania nanti."
"Oh, begitu," gumam Sri sambil manggut-manggut pelan.
"Gimana ada gak, Bik?" tanya David lagi.
"Hallo, Bik!" panggil David yang merasa keheranan ketika melihat wanita itu malah terbengong di tempatnya.
Sri terjingkat kaget dan langsung tersenyum canggung padanya. "Oh, maaf, Tuan. Saya permisi, saya sudah dipanggil Nyonya."
Tanpa menunggu lama lagi, Sri langsung ngibrit melarikan diri dari laki-laki itu.
"E-eh, Bik, tunggu! Huh, aneh sekali, bukan? Pokoknya aku harus bisa menyelidikinya," gumamnya merasa sangat kesal. Karena si pelayan tadi malah pergi meninggalkannyadengan begitu saja.
Tatapanya kini kembali tertuju pada bangunan kecil itu. Ia ingin melanjutkan niatnya untuk mendekati tempat tersebut.
Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya dan mulai kembali bergerak untuk menuju ke sana.
Dengan pandangan mata yang terus tertuju pada tempat itu. Perlahan kakinya terus melangkah kian mendekat ke arah sana. Hingga pada akhir ia telah sampai di depan kamar tersebut. Kini lelaki itu berdiri tepat di depan salah satu pintu yang tertutup rapat.
__ADS_1
Ia merasa semakin keheranan, ketika ia telah sampai di depan kamar itu, entah kenapa hatinya merasa bergetar dan jantungnya juga berdetak semakin kencang.
"Perasaan apakah ini?" batinnya merasa kebingungan.
Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba saja ia merdengar ada suara seperti benda jatuh dari dalam ruangan itu.
Glutakk!
Membuat lelaki itu terjingkat kaget dan langsung tersadar dari lamunannya. Kini hatinya pun bertanya-tanya, "Apa itu? Apakah ada orang di dalam?"
Sehingga membuatnya semakin menjadi penasaran saja dengan tempat itu.
"Hallo! Apakah ada orang di dalam?" serunya sambil terus melangkah semakin mendekati pintu.
Namun, ia tak mendengar ada jawaban. Akan tetapi, ia merasa sangat yakin kalau indra pendengarannya tadi menangkap ada suara dari dalam kamar tersebut. Sehingga membuatnya berpikir kalau di dalam sana pasti ada seseorang. Dan ia pun menjadi semakin penasaran dan ingin segera membuka kamar tersebut.
Dug-dug-dug ....
Dug-dug-dug ....
Dengan perasaan yang tidak karuan, kini jantungnya semakin berdetak kencang. Lalu dengan ragu-ragu tangan lelaki itu mulai terulur akan meraih gagang pintu. Setelahnya ia pun ingin segera membuka pintu kamar tersebut.
Sementara di dalam kamar, Kania yang sedang mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya itu, tanpa sengaja menoleh ke arah jendela kaca kamarnya.
Dan betapa terkejutnya ia ketika dari kamarnya yang terletak di lantai dua itu, ia melihat ke arah bawah. Di mana ia melihat sosok lelaki tampan yang telah berstatus sebagai suaminya itu tengah berjalan menuju kamar Tiana.
Sontak kedua matanya langsung terbelalak lebar sangat syok melihatnya.
"Oh, tidak. Apa yang sedang dia lakukan? Ah ... sial-sial-sial! Jangan sampai David mendekati kamar itu. Aku harus segera mencegahnya!" umpatnya kesal.
Dengan sangat panik gadis itu bergegas turun ke lantai bawah. Dan ia ingin segera mencegah suaminya itu menuju ke sana.
__ADS_1
Namun, apa yang terjadi? Di saat ia telah sampai di dekat kolam renang itu, ia melihat ....