
"Ma-maaf, Tuan. A-anda salah orang. Nama sa-saya bukan Tiana. Nama saya adalah ... A--" Belum sempat Tiana mengelak, terlebih dahulu David menyela ucapannya.
"Ana, alias Tiana Putri, bukan?"
Degg!
Dengan wajah yang tampak kembali syok, gadis itu mendungak menatap laki-laki itu dengan tidak percaya.
"Hahaha ... kenapa? Kamu kaget, ya?" David kembali tergelak, sedang menertawakan bagaimana reaksi gadis yang ada di hadapannya ini tampak sangat terkejut padanya.
"Sudahlah, Tiana! Aku sudah tau siapa dirimu. Tiana Putri gadis asal kota Semarang yang dulu pernah bekerja di rumah Kania."
"Dan ... gadis itu adalah pengantin palsu yang pernah mengantikan Kania dulu." David menatap wanita itu lekat-lekat. Ekpresi wajahnya tampak begitu marah dan seperti telah menyimpan dendam yang lama padanya.
Namun, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebebarnya dia mulai merasa tertarik padanya. Tetapi, ia tidak mau mengakuinya.
Hari-harinya yang dulu ia lalui selama 2 tahun belakang ini dipenuhi dengan rasa frustasi karena tidak bisa nenemukan wanita ini. Dan bahkan ia sempat berpikir tidak akan bisa menemukannya lagi.
Lalu, sekarang wanita ini ada di depan matanya. Dia bebas untuk melakukan apa saja terhadapnya. Logika dan pikiranya kalah. Naluri kebinatangan memenuhi tubuhnya. Tiba-tiba saja ia merasakan gejolak birahi menghatamnya.
Dengan seketika David langsung menghimpit tubuh Tiana dengan ketat. Gejolak birahinya mulai menguasainya. Dengan cepat ia memegang tengkuk lehernya dan langsung menyingkirkan masker yang menempel di wajah Tiana.
"Akh ...." Tiana kembali terpikik kaget. Tamatlah sudah kini riwayatnya. Wajahnya yang selama ini selalu ia tutupi dengan masker, kini terpampang jelas di hadapannya.
Lalu dengan seketika David langsung menyambar bibirnya.
"Emmh ...." Sontak Tiana terbelalak kaget. Dia tidak siap dengan serangan dadakan seperti ini. Bibir laki-laki itu menyerangnya dengan rakus, menikmati bibir ranumnya.
Dengan sekuat tenaga Tiana berusaha memberontak dan meronta-ronta. Kedua tanganya memukuli dada bidangnya. Namun pukulan itu tidak berarti apa- apa bagi David.
__ADS_1
Satu tangan David berpindah ke pingggangnya, dan membuat tubuh mereka semakin menempel erat. Sehingga membuat Tiana tidak bisa berkutik lagi. Ia kini hanya bisa pasrah menerima serangan bibirnya itu yang masih saja menikmati dan meneruskan permainannya itu.
Dengan jamtung yang berdetak dengan sangat kencang, TianĂ kembali dapat bersuara, ketika bibir lelaki itu berpindah ke ceruk lehernya. "Lepaskan saya, Tuan! Saya mohon! saya minta maaf! Tolong hentikan ini, Tu--"
"Emmmhg ... !"
Namun, David kembali membekapnya dengan bibirnya lagi agar wanita ini berhenti bersuara. Gejolak birahinya semakin memuncak, sehingga ingin menerkam Tiana sekarang juga.
Tangannya mulai bergerilya mengeranyangi punggungnya, hingga ke bagian lainnya. Tiana benar-benar tidak bisa melawannya, tenaga kalah dengannya.
Pikiranya kini kosong tidak bisa berfikir apa-apa lagi. Ia hanya berharap ada seseorang yang datang ke kamar itu. Sehingga bisa menghentikan aksinya ini.
Namun, sepertinya harapanya sia- sia saja. Karena David memang telah sengaja mengatur semua ini. Agar Tiana mau datang ke kamarnya dengan tanpa ada rasa curiga.
Hingga tiba-tiba saja.
"Tok tok tok ... !"
David melepaskan pautan bibirnya dan menempelkan keningnya. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-senggal sambil terus menatap wajahnya.
"Diamlah di sini!" ujarnya penuh penekanan.
Sementara di luar kamar masih ada petugas roomboy menunggunya keluar. David terpaksa melepaskan Tiana terlebih dahulu. Kemudian ia berjalan menuju pintu untuk mencegah petugas itu tidak memasuki kamarnya ini.
David membuka pintu. Ini kesempatan Tiana untuk bisa kabur dari sana. Dengan segera ia berlari menuju pintu ingin berteriak dan memberikan kode kepada teman kerjanya itu. Kalau dirinya sedang dalam keadaan bahaya di kamar itu.
"Roomboy!" ucap petugas itu ketika melihat David membuka pintu .
"Pergi, aku tidak membutuhkanmu!" ucapnya dingin dan langsung menutup kembali pintu itu.
__ADS_1
Brakk!
Sehingga sebelum Tiana sampai ke pintu itu, David sudah terlebih dahulu menguncinya. Lalu ia membalikkan badan dan melihat Tiana sudah berada tepat di belakangnya. Otomatis gadis itu berjalan mundur menjauh darinya dan ingin segera berlari.
Belum sempat ia berlari David sudah bisa langsung meraih tangannya. Sehingga Tiana pun terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Mau ke mana, hah?" ucap David menyeringai.
"Lepaskan!" Tiana menghempaskan tangannya mencoba melepaskan cekalan tangan laki-laki itu.
"Apa, melepaskanmu? Hahaha ... !" David tertawa lantang sangat senang melihatnya ketakutan.
"Tidak mungkin. Setelah sekian lama aku mencarimu. Lalu, aku akan melepasmu dengan begitu saja? Cih, yang benar saja. Kamu pikir aku ini lelaki bodoh, huh?" Pria itu tersenyum sinis padanya.
"Sebenarnya apa maumu, Tuan? Tolong lepaskan saya!" Masih dengan terus meronta gadis itu memohon dan mengiba padanya.
Ia berharap kalau pria itu masih mempunyai sedikit rasa belas kasihan padanya. Sehingga mau melepas dan memaafkannya juga.
Namun, sepertinya harapannya itu hanya sia-sia belaka. Karena kelaki itu tampaknya tak mempunyai rasa belas kasiahan sama sekali. Lelaki berkemeja hitam dengan lengan yang digulung sebawah lutut itu begitu bengis dan kejam terus meremas erat pergelangan tangannya.
Sehingga membuat Tiana sedikit meringis kesakitan dibuatnya.
"Jadi, kamu mau tau apa mau ku, huh?" Dengan seringai jahat, David terus menatap wajah pucat pasi gadis tersebut.
Sehingga membuat Tiana yang semakin merasa ketakutan menggeleng lemah.
"Karena kamu telah berani mempermainkanku. Maka, terimalah akibatnya sekarang!"
"Aa ...."
__ADS_1
Dengan tanpa terduga ternyata David ....