Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Bertemu Dengannya Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di sebuah hotel, seorang gadis dengan seragam kerjanya, sedang sibuk membersihkan dan merapikan kamar hotel.


Gadis berusia 24 tahun itu adalah Tiana Putri. Seorang gadis dengan paras yang cantik, kulit putih bersih. Hidung mancung dan mempunyai lesung pipit di kedua pipi. Tidak lupa senyum manis di bibirnya itu bisa membuat semua orang yang melihatnya langsung terpesona padanya.


Sudah hampir 1 tahunan gadis itu bekerja di hotel itu sebagai Housekeeping (HK). Sebenarnya Tiana adalah gadis yang baik, tapi ia terkenal cuek, supel, pendiam dan agak tertutup. Jadi jarang sekali berbicara dengan orang lain, kecuali hanya dengan orang terdekat saja baru dia mau berbicara dan terbuka.


Membuat orang yang tidak mengenal dirinya menilai kalau dia itu adalah orang yang sombong.


Namun, di balik sikapnya yang terkesan pendiam dan tertutup itu malah membuat para laki-laki di tempat ia bekerja merasa sangat tertarik dan berusaha mendekatinya. Tetapi ia tidak pernah menanggapinya. Ia terlihat cuek dan tak memperdulikan itu semua. Sehingga membuat banyak orang patah hati karenannya.


Tetapi, ada juga orang yang merasa iri dan tidak suka terhadapnya. Salah satunya adalah Santi the geng yang merupakan seorang HK juga. Dia selalu saja memusuhinya dan menganggapnya saingannya dalam segala hal. Terutama dalam menggaet gebetan ataupun seorang cowok, ia merasa selalu kalah saing dengannya. Sehingga membuat gadis berambut kriting itu sangat membencinya dan merasa dendam kesumat padanya.


Setelah membersihkan salah satu kamar hotel tadi, Tiana keluar dari kamar itu. hendak membersihkan kamar yang lainya.


Jika mengingat dengan kejadian yang kemarin, sebenarnya ia sangat enggan untuk masuk kerja. Namun mau bagaimana lagi? Dia masih sangat membutuhkan pekerjaa ini. Jika dia tidak masuk kerja dengan semaunya sendiri yang ada nanti dia bisa dipecat dari hotel ini. Dan tentu saja ia tidak mau itu terjadi padanya. Sehingga dengan sangat terpaksa ia mau tidak mau harus tetap masuk kerja.


"Huff ... ya Allah. Kenapa aku harus dipertemukan kembali dengan orang itu?" Sembari terus membatin dan memikirkan pria yang kemarin itu. Gadis cantik itu berjalan keluar dari kamar sambil mendorong troli yang berisi peralatan kerjanya.


Namun ketika ia baru saja keluar dari sana, ternyata sudah ada Santi dan kedua temannya yang kebetulan berada di sana juga. Begitu melihatnya keluar dari kamar, mereka langsung mendekatinya dan mencegatnya.


Tiana hanya mendengus kesal dengan tingkah laku Santi yang selalu saja mengganggunya.


"Minggir San, jangan ganggu aku deh!” ucap Tiana malas.


Santi ternyemun sinis lalu berkata, "Siapa yang mau gangguin kamu? Jangan ke PD-an deh! Sok cantik banget sih, kamu!”


Gadis yang memakai kemeja putih dan rok sepan hitam selutut itu memutar bola matanya malas, lalu ia menjawab, "Sebenarnya kalian bertiga maunya apa, sih? Dan aku salah apa pada kalian?”


“Hahaha ... !” Santi dan kedua temennya malah tertawa mengejek. "Jadi, kamu tidak tau salah kamu itu apa? Salah kamu adalah karena sok cantik dan selalu menggoda semua para cowok di sini.”


Tiana terbengong dan berkata dalam hati, "Hello ... ! Siapa juga yang sok cantik. Dan kapan aku menggoda mereka?"


“Terus masalah buat elo, gitu?" ucap Tiana merasa jengah dengan bahasa gaulnya.


“Ya masalah lah, karena gara-gara kamu Gilang jadi perpaling dariku. Dan dia bilang kalau dia lebih tertarik denganmu," jawabnya sambil mendorong pundak Tiana dengan sebelah tangan.


“Oh, jadi karena itu. Sehingga kamu terus saja menggangguku? Kamu tenang aja, aku tidak tertarik dengannya, kok. Dan kamu boleh mengambilnya."


Kemudian sembari mendorong troli yang dibawanya tadi, Tiana membalikan badan dan ingin melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.

__ADS_1


Santi merasa sangat kesal dan dongkol melihat sikapnya yang selalu saja acuh dan cuek terhadapnya. Lalu dengan tersenyum menyeringai ia sengaja mendorong badanya dari belakang.


Tiana yang sedang berjalan di depan lift itu tidak siap dengan dorongan Santi. Sehingga membuatnya Ia kini berjalan oleng dan akan terjungkal ke arah depan pintu lift.


Sementara Troli yang dipegangnya pun terlepas dan meluncur jauh terdorong olehnya.


Brakk!


"Aaaa ... !" pekiknya kaget.


Tetapi bertepatan dengan itu, pintu lif pun terbuka dan muncullah seseorang yang keluar dari lif itu.


Sehingga dengan tidak sengaja Tiana kini malah terjatuh ke arah orang tersebut.


David yang kebetulan sedang berada di dalam lift akan keluar dari lift. Namun, di saat ia membuka pintu dan baru saja akan melangkahkan keluar. Ia langsung dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis yang terhuyung ke arahnya. Sontak dengan reflek kedua tangannya langsung menangkap tubuh gadis itu dengan memeluk pinggangnya.


Brugh!


Kini David dan Tiana sama-sama terpaku sesaat, dengan beradu pandang dan saling berpelukan. Dengan posisi David yang memeluk pinggang gadis tersebut, kedua tangan Tiana memegangi pundaknya.


Dug-dug ... dug-dug ... !


Suara debar jantung mereka berdua berdetak kencang dan saling bersaut-sautan, seolah-olah akan melompat dari tempatnya.


"Loh, bukannya ini gadis yang kemarin?" ujar batinnya seraya terus memandang lekat netra bening milik gadis tersebut.


Untuk sesaat Tiana juga merasa terhipnotis oleh wajah tampan lelaki itu. Hingga untuk berapa menit mereka berdua masih terdiam terpaku dan saling bertatapan.


Namun di detik berikutnya Tiana pun tersadar dan langsung melepaskan pelukannya itu dengan sangat canggung ia tertunduk malu.


“Mm-maaf, Tuan, saya tidak sengaja. Tadi saya akan terjatuh. Ja-jadi tidak sengaja menambrak Anda,” ucap Tiana merasa sangat gugup, ia langsung menundukkan kepalanya meminta maaf.


Sungguh gadis berseragam pelayan hotel itu merasa tak enak hati karena telah menabrak dan memeluk orang yang ada di hadapannya ini. Terlebih lagi lelaki itu adalah David sang Ceo, orang yang selama ini selalu ia hindari. Tetapi, kenapa selalu saja terjadi seperti ini?


Lagi-lagi ia harus bertemu dengan orang itu dalam keadaan yang sangat memalukan seperti yang sekarang ini.


Namun, David malah terdiam seperti patung. Ia masih terbengong terus menatapnya. Sehingga membuatnya menjadi salah tingkah sekaligus ketakutan saja. Akan tetapi ini memberikan kesempatan untuk Tiana bisa segera kabur dari hadapannya.


Sehingga dengan tanpa menunggu lama lagi, gadis bermasker putih itu segera melipir pergi meninggalkannya dengan begitu saja. Dan dengan sangat terpaksa ia mengabaikan troli yang teroggok jatuh di samping lif tadi.


David masih terbegong melihat kepergiannya. Lalu dengan tanpa sadar sebuah senyuman kecil menghiasi bibir tipisnya. Dan ia bergumam pelan. "Gadis yang menarik.”

__ADS_1


Sedangkan Rendy yang sedari tadi berdiri di belakangnya merasa keheranan dan ikut melihat kepergian gadis itu dengan penuh tanda tanya. Kenapa tiba-tiba saja ada gadis yang memeluk David?


Lalu dengan segera ia menepuk pundaknya dari belakang. "Woy, Bang."


Sehingga membuat David yang sedang melamun langsung terjingkat kaget dan mendengus kesal padanya. "Apaan sih, kamu? Bikin kaget saja," sungutnya.


Sementara Santi the geng yang masih berdiri mematung di belakang Tiana tadi, terpesona melihat ketampanan yang paripurna dari dua orang yang ada di hadapannya itu.


Lalu, tanpa mau menoleh sedikit pun ke arah mereka bertiga, pria angkuh berjas biru dongker itu berjalan melewatinya dengan begitu saja.


Sedangkan Rendy yang berada di belakangnya hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya kepada mereka bertiga, sambil terus berjalan mengikuti pria tersebut.


“Wah ... ! Rin, tadi pangeran kah, yang lewat itu tadi?” ucap Santi dengan matanya yang berbinar menatap ke arah dua pria itu.


“Betul, ganteng bang-gett dia, San ....” sahut temanya yang satunya lagi dengan tatapan memuja.


“Ya betul banget, gaes. Mereka berdua tadi benar-benar tampan. Siapa ya mereka?" Santi masih terus melihat ke arah punggung kedua pria yang sedang berjalan semakin menjauhi mereka bertiga.


"Cih, apa kalian gak tau? Dia itu David Abraham sang owner hotel ini tau!" celetuk salah satu temannya.


"Oh, ya? Kok aku baru tau sih, kalau ternyata sang pemilik hotel ini seganteng itu." Dengan pandangannya memuja, Santi terus sibuk menatapnya hingga akhirnya kedua orang itu menghilang masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Ih, kamu ini ketinggalan berita banget sih? Apa kamu gak tau juga, kalau kemarin si Tiana juga sempat bertabarakan seperti ini dengan dia loh?"


"Oh, ya?" Santi tampak kaget.


"Gimana kita bisa tau? Orang kemarin kita berdua aja masuk sif malam, dodol!" sambar teman yang satunya lagi.


"Oh, iya ya pantesan. Ya udah sini biar aku ceritain." Sembari terus sibuk berceloteh ria, ketiga gadis itu berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Sementara dari kejauhan, dengan harap-harap cemas Tiana sedang bersembunyi di balik tembok. Ia mengintip dan menunggu semua orang itu pergi. Ketika melihat sudah tidak ada lagi orang ýang ada di sekitar sana, dengan segera ia ingin berjalan mendekat ke arah lift tadi untuk mengambil troli.


Namun, ketika baru saja ia akan bergerak menuju sana. Tiba-tiba saja ia merasa ada orang yang menepuk pundaknya dari belalang.


Puk!


"Tiana!"


Deg!


Sontak Tiana terlonjak kaget dibuatnya. Lalu dengan perlahan ia menoleh ke belakang.

__ADS_1


Dan kemudian ....


__ADS_2