
Harun menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Tiana.
Dengan tatapan keheranan, gadis itu pun menerima amplop coklat itu sembari berkata, "A-apa, ini, Tuan?"
"Em ... ini adalah uang 10 juta yang dulu pernah kami janjikan kepada kamu, Tiana. Dan ini ...." Harun kembali menyodorkan 1 amplop coklat lagi padanya.
Sehingga membuat gadis itu semakin kebingungan saja melihatnya.
Sedangkan Nadia malah dibuat kaget dan sangat kesal ketika melihat suaminya yang sedang kembali memberi Tiana satu buah amplop lagi padanya. Lalu dengan sewot ia pun beranjak dari tempat duduknya dan segera mendekati suaminya.
"Ih ... si Papah! Ini apa-apaan sih? Kenapa pakai kasih tambahan uang lagi pada Tiana?" protesnya sembari akan merebut amplop itu dari tangan suaminya.
Namun, belum sampai ia bisa meraihnya. Dengan cepat Harun menarik tangannya. Lalu ia langsung memberikan tatapan tajam ke arah wanita tersebut sebagai tanda kalau dirinya kini sedang marah terhadapnya.
"Mamah, bisa diem gak?" tanyanya tegas.
Cepp!
Dengan wajah yang cemberut, wanita paruh baya itu kembali diam terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa dan tidak berani melawan suaminya itu. Sehingga dengan terpaksa Ia pun hanya bisa melihat suaminya itu menyerahkan amplop itu pada Tiana.
"Tiana, mungkin ini tidak seberapa dan tidak bisa untuk menggantikan kehormatannya yang telah hilang itu. Tetapi setidaknya mungkin ini bisa dijadikan tambahan modal untuk kamu usaha nanti setelah kamu tidak bekerja di sini lagi," ucap Harun yang mulai kembali berbicara lagi dengan gadis yang kini masih duduk tertunduk di pinggir ranjang.
"Atau bisa juga kamu pakai untuk pengobatan ibunya juga, 'kan? Bukankah kata kamu ibumu itu sedang sakit?" lanjutnya lagi.
Gadis itu mengangguk pelan.
__ADS_1
"Jadi, sebaiknya kamu terima ini juga, ya!" Lelaki paruh baya itu meraih tangan Tiana. Lalu ia meletakan amplop tersebut di atas telapak tangannya. "Di dalam amplop ini ada tambahan uang 20 juta buat dana ganti rugi. Dan sekali lagi atas nama keluarga saya meminta maaf yang sebesar-besarnya!" sambung Harun.
"Hah, Du-dua puluh juta?" gumam Nadia membelalakan matanya karena syok. Sungguh wanita paruh baya itu tak menduga kalau suaminya akan memberikan uang sebanyak itu pada Tiana.
"Gila aja sih Papah. Masa kasih uang sebayak itu pada Tiana sih!" dalam hati Nadia terus ngedumel kesal, tidak terima kalau suaminya memberikan uang tersebut.
"Ta-tapi, Tuan!" Tiana berniat ingin menolaknya. Karena bagaimanapun juga, kehormatannya itu tidak bisa tergantikan ataupun dibeli dengan uang.
"Iya, saya mengerti, Tiana. Kalau kehormatanmu itu tidak bisa dibeli dengan uang. Tetapi, saya mohon terimalah uang ini. Baru setelah ini kamu baru boleh pergi dari sini." Dengan penuh harap laki-laki berkacamata itu memohon padanya.
"Sudahlah, Pah! Kalau dia tidak mau, gak usah dipaksa!" sela Nadia ketus.
"Sekali lagi, Mamah bersuara. Papah tidak segan-segan menyeret Mamah keluar dari kamar ini!" ancam Harun memberi peringatan pada istrinya.
Lalu tanpa disuruh keluar, perempuan itu memilih untuk pergi saja dari sana. Karena ia sudah tidak tahan lagi melihat gadis itu terus-terusan berada di rumahnya ini. Dan Ingin rasanya ia cepat-cepat mengusirnya, agar semua masalah pun selesai.
Sedangkan Harun hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya itu. Lalu ia kembali menatap ke arah Tiana.
"Sekarang bersiap-siaplah. Nanti biar Pak Tejo yang akan mengantarkanmu untuk keluar dari rumah ini. Sekali lagi saya meminta maaf dan saya berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi kelak," tukasnya.
Kemudian lelaki itu ingin beranjak pergi meninggalkan kamar itu. Namun, Sri yang sedari tadi hanya diam saja menjadi penonton pada akhirnya bersuara.
"Tunggu, Tuan! Jika Tiana harus pergi dari rumah ini. Berarti saya juga harus pergi, Tuan," sergah Sri.
Sehingga membuat Tiana yang berada di sampingnya itu sontak kaget mendengarnya dan langsung menoleh ke arah wanita tersebut.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu kembali membalikan badan menghadap ke arah mereka berdua. " Kenapa kamu harus ikut pergi juga dari sini, Sri?" tanyanya.
"Karena jika saya tetap berada di sini, saya takut jika Tuan David nanti kembali menanyaiku lagi, Tuan. Karena saya merasa kalau beliau sudah merasa curiga kepada saya. Jadi, biar lebih aman, sebaiknya saya juga akan ikut keluar dari rumah ini juga," jawab Sri.
"Ya sudah, jika memang ini sudah menjadi keputusanmu. Saya pun tidak bisa mencegah ataupun memaksamu untuk tetap bekerja di rumah ini. Baiklah saya akan memberikan sedikit uang pesangon buatmu juga. Anggap saja ìtu sebagai ucapan terimakasih saya karena selama ini kamu sudah bekerja dengan sangat baik di sini."
Kemudian setelah itu, lekaki tersebut keluar dari kamar itu.
Dan kini tinggallah dua wanita beda usia itu yang sedang saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu.
"Hiks ... hiks! Mbak ... Kenapa ikut keluar juga? Seharusnya Mbak masih tetap bisa bekerja di sini. A-aku gak papa kok jika harus dikeluarkan dari sini. Kan, aku masih bisa cari kerja di tempat yang lain lagi, Mbak!" Sembari sesegukan Tiana tidak mengira kalau wanita yang berasal dari satu kampung dengannya itu malah ikut keluar kerja dari rumah ini.
"Gak papa, Tiana. Aku juga pingin keluar dari sini. Ya, karena seperti yang aku bilang sama Tuan Harun tadi. Aku takut jika Tuan David nanti akan kembali menginterogasi ku lagi bagaimana?" jawab Sri sambil mengusap-usap punggung gadis yang sedang menangis itu.
"Lagi pula, kita, 'kan bisa sama-sama cari kerja barengan lagi. Jadi, kamu gak usah sedih, ya! Kamu gak sendirian di sini, Tiana. Tenang kamu masih ada aku yang akan selalu ada dan akan selalu mendukungmu, Tiana."
Tangis Tiana semakin pecah, ketika mendengar ucapan wanita itu. Sungguh saat ini yang sangat ia butuhkan adalah seseorang yang bisa menemaninya dan meyemangatinya seperti yang saat ini Sri lakukan padanya.
Entah apa yang yang akan terjadi di masa depannya nanti. Pada akhirnya dengan berat hati kedua wanita itu terpaksa harus pergi meninggalkan rumah tersebut.
Kemudian setelah Tiana dan Sri telah selesai berkemas, keduanya pun langsung diantarkan pergi oleh sopir pribadi keluarga Pak Harun.
Kini keduanya tampak begitu sedih dan juga kebingungan, akan ke mana mereka sekarang.
"Maaf, Neng Tiana dan Mbak Sri. Kalau boleh saya tau, mau saya antar ke mana sekarang?"
__ADS_1