
"Apaa?! Da-david datang ke sini?" pekik Kania syok.
Sontak secara bersamaan semua orang yang sedang berada di sana langsung merasa panik dan juga tegang.
"Duh ... bagaimana ini, Pah, Mah?" tanya Kania kebingungan.
"Ya udah, tolong suruh tunggu dulu, Bik. Biar nanti kami akan menyusul ke sana," tukas Harun.
"Baik, Tuan. Permisi." Lalu pelayan wanita yang berusia 30 tahunan lebih itu segera pergi menuju ke ruang tamu untuk menyampaikan pesan Tuannya ini kepada David.
"Sekarang kamu pergi temui suamimu itu. Dan sebisa mungkin bersikap normal, jangan sampai ada yang mencurigakan, Ok!" saran Harun.
"Baik, Pah," jawab Kania mengangguk.
Kemudian pria paruh baya itu menoleh ke arah Tiana.
"Dan kamu, Tiana. Tetap berada di sini, jangan keluar dari kamar. Mengerti?" lanjutnya.
"Me-mengerti, Tuan," dengan terbata gadis itu juga menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Mah, Kania kita temui David sekarang!" ajak Harun.
Kemudian ketiganya segera keluar dari kamar tersebut.
Begitu juga dengan Sri. Sebelum ia pergi meninggalkan Tiana seorang diri di sana. Sembari menepuk sebelah pundaknya, ia pun berkata, "Kamu baik-baik ya di sini! Aku tinggal sebentar, ya! Dan ... Jangan nangis lagi, Ok?"
Seraya mengangguk pelan, gadis cantik itu tersenyum getir.
Sementara di ruang tamu, terlihat seorang pria tampan dengan kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya itu kini sedang terduduk di sebuah sofa panjang yang ada di sana.
Pria tersebut tampak sibuk sedang mengamati keadaan di rumah mewah yang terlihat sangat elegan, modern dan tentu saja terasa sangat nyaman.
Ada begitu banyak pernak-pernik ataupun aksesoris dan juga furniture yang menghiasi ruangan ini. Dan ia juga melihat ada beberapa foto angggota keluarga yang tergantung di dinding dan ada juga yang terpajang dan tersusun rapi di atas bufet ataupun di rak-rak lemari yang ada di sekitar sana.
Di tengah kesibukannya sedang memandang ke salah satu sebuah foto yang terpampang di dinding depan tempat ia terduduk kini. Tiba-tiba saja Kania berserta kedua orang tuanya pun datang.
"Sayang. Kok kamu gak bilang sih kalau mau datang ke sini?" ujar Kania dengan manjanya langsung duduk begelanjut memeluk lengan suaminya.
"Halo, Om, Tante," sapa David yang langsung berdiri dan menyalami keduanya.
__ADS_1
"Eh, kok manggilnya Om sama Tante sih?" sahut Nadia "Sekarang, 'kan Nak David udah jadi suaminya Kania. Jadi panggil kami Papah dan Mama aja ya!"
"Oh, baiklah Tan ... eh Mama maksudnya," jawab David mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Nah gitu dong. Eh iya, gak ngira kalau Nak David mau datang ke sini," sambung Nadia sembari tersenyum ramah padanya.
"Iya, Mah. Saya memang sengaja datang ke sini ingin menjemput Kania," ucap David.
"Eh, tapi jangan langsung pulang sekarang dong! Tunggu sampai kalian makan malam dulu di sini, ya! Baru setelah itu kalian boleh pulang," tawar Nadia.
"Iya, Sayang. Kita makan malam dulu di sini ya!" sahut Kania.
"Em, boleh," jawab David setuju.
"Ya udah, kalau begitu Mama tinggal ke dapur dulu, ya! Mau siapin makanan buat makan malam nanti. Kalian ngobrol aja di sini. Atau ... biar gak bosan, ajak Nak David untuk berkeliling, Kania," saran Nadia.
"Ya baik, Mah." Dengan antusias gadis berambut pirang itu sangat menyetujui usulan dari Mamahnya itu.
Sementara David tampak menyeringai kecil. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Namun yang jelas pria itu seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Ya udah, ayo Sayang! Kita berkeliling yuk! Akan aku tunjukan di mana kamar aku, kolam renang, taman dan tempat yang lainnya juga." Kania segera bangkit dan menarik tangan David untuk ikut bangkit dari tempat duduknya juga.
"Ok-ok. Permisi, Pah. Saya tinggal dulu." Dengan sopan ia pun berpamitan terlebih dahulu kepada laki-laki paruh baya yang masih terduduk di sofa yang ada di hadapannya tadi.
Kemudian sepasang suami istri itu berjalan menuju anak tangga untuk naik ke lantai atas. Kania ingin menunjukkan letak kamarnya kepada David.
Sembari terus berjalan, kedua pasang manik kecoklatan milik pria tersebut sibuk menelisik menyusuri tiap sudut ruang yang ada di rumah tersebut. Mulai dari ruang tamu tadi, lalu ia melewati ruang tengah yang tampak luas tempat untuk menonton televisi. Hingga akhirnya naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam sebuah kamar besar milik Kania.
"Nah, ini adalah kamar aku, Sayang," ucap Kania sembari membuka pintu kamar.
Begitu dibuka, keduanya masuk ke sana. Lalu dengan tatapan datar dan dinginnya pria itu mengamati isi kamar tersebut.
Seperti kamar gadis pada umumnya. Kamar mewah itu tampak luas dengan segala pernak-pernik ciri khas seorang gadis. Kamar tersebut tampak biasa saja di mata seorang David.
Ya, mungkin karena ia sudah terbiasa dengan segala kemewahan yang ia miliki, sehingga ia pun sudah tidak kaget melihat semuanya.
"Em ... lumayan terasa sangat nyaman ya, kamarnya," celetuk David berusaha memberi pujian pada istri barunya.
"Hehehe ... iya. Apa kamu tidak ingin mencoba tempat tidurku ini, Sayang?" Dalam keadaan telentang, gadis itu langsung merebahkan diri di atas ranjang.
__ADS_1
"Em ... boleh saja. Tapi nanti kalau kita lagi menginap di sini. Akan kupastikan aku akan membuatmu kualahan berada di atas ranjang ini!" Dengan tersenyum miring, David sengaja menggodanya.
Sehingga membuat wajah Kania langsung bersemu merah karena malu. "Ih ... apaan sih kamu?" ucapnya pelan.
"Hahaha ... sudah yuk, kita keluar dari sini. Kalau kita lama-lama berada di sini , takutnya nanti aku malah jadi pingin dan langsung meyerangmu di sini, Kania," celetuk David cengengesan.
"Ya ya gak papa. Itu sah-sah aja. Kita kan udah jadi suami istri," sahut Kania. Masih dengan tersipu malu, ia mencoba mengontrol detak jantungnya yang sudah mulai berdisko karena mendengar ucapan ambigu suaminya tadi.
"Hahaha ... gak sekarang ah. Nanti yang ada kita bakalan lama di sini. Dan malah nggak jadi makan malam nanti," sahut David.
"Hehehe ... iya ya. Ya udah kita keluar rumah aja yuk! Kita ke dekat kolam renang yang ada di belakang rumah. Di sana tempatnya enak loh buat santai."
"Ok, ayok." Lalu lelaki itu meraih tangan Kania dan berjalan menuruni anak tangga.
Kemudian Kania pun menuntun lelaki itu menuju kolam renang yang ada di belakang rumah. Di mana di samping kolam tersebut terdapat kursi dan meja tempat untuk bersantai. Mereka pun duduk di sana.
"Gimana, bagus gak tempatnya?" tanya Kania.
"Em ... bagus. Udara di sini terasa segar dan sejuk ya?" jawabnya sambil manggut-manggut.
Namun tiba-tiba pria tersrbut malah bangkit dari tempat duduknya. Lalu dengan memasukan kedua tangan di saku celana, ia berjalan di pinggiran kolam renang.
Dengan santainya ia mengamati di sekitar kolam renang itu yang terlihat cukup luas dengan pemandangan rumput hijau yang membentang di sekitar kolam.
Sedangkan Kania, dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya itu kini sedang terduduk di salah satu kursi. Ia terdiam mengamati pria itu dari belakang.
Hingga tanpa mereka sadari, Tiana yang berada di dalam kamar sedang mengintip mereka dari balik gorden kaca jendela. Dengan jantung yang berdetak dengan sangat kencang, tangannya menyibak sedikit gorden itu agar bisa melihat pria yang sedang berdiri di pinggir kolam renang tersebut.
"Oh ya, Sayang. Aku mau ambil ponselku dulu yang ada di kamar, ya!" kata Kania.
David mengangguk. "Em ... kalau gitu aku bolehkan berkeliling di sini? Ingin melihat-lihat gitu," ujar David.
"Ya boleh dong, Sayang. Ya udah aku tinggal dulu ya, sebentar!"
David kembali mengangguk pelan. Setelah melihat kepergian Kania. Laki-laki itu tampak celingukan mengedarkan pandangan ke sekitar, seperti sedang mencari seseorang.
Hingga pada akhirnya sorot matanya terpaku pada sebuah deretan ruang kecil yang tampak seperti kamar pelayan. Lalu dengan tanpa ragu. Ia segera melangkah ke arah sana.
Sementara gadis cantik yang berada di dalam kamar, tampak syok dan juga merasa sangat panik saat melihat lelaki itu yang kini seperti sedang berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
Dengan reflek ia segera menutup gorden itu. Sehingga membuat David menyadari pergerakannya.
"Aduh ... gawat! Apakah laki-laki itu akan menuju ke mari?" batin Tiana mulai resah.