Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Jebakan David


__ADS_3

Terlihat seorang pemuda tampan yang ketampanannya sebelas dua belas dengan David, bangkit dari tempat duduknya.


"Bro, ijin mo ke toilet dulu, ya," ucap pemuda itu.


"Woy, mo ngapain kamu ke toilet?" sambar laki-laki berjas coklat cengengesan. "Jangan bilang kalau kamu mau ngintilin si Kania, lagi," celetuknya asal.


"Sialan, lu! Kalau punya mulut jangan asal ngomongnya, woy! Ngapain juga aku ngintilin dia?" sungut Rendy berpura-pura kesal. "Udah, ah! Aku kebelet kencing tau!"


"Hahaha ...." Para kumpulan pemuda itu langsung tergelak melihat kekesalannya.


Sementara pemuda yang berkemeja putih dan berjas hitam itu bergegas ingin segera pergi ke kamar kecil yang letaknya cukup lumayan jauh dari tempat ia berada tadi. Dengan sedikit mempercepat langkahnya, tanpa sengaja ia malah melihat pemandangannya yang tak terduga di depan toilet wanita.


Dari kejauhan ia melihat ada dua orang wanita yang tampak sedang beradu mulut. Terlihat dengan jelas kalau keduanya sedang berdebat yang entah meributkan soal apa, ia pun tidak tau.


"Loh, itu bukannya si Kania. Ngapain dia di sana? Dan siapa wanita itu? Sepertinya mereka sedang bertengkar," batin Rendy sambil terus menatap ke arah dua wanita itu.


Lalu dengan rasa penasaran, pemuda yang baru berusia 23 tahunan itu terus melangkah pelan untuk lebih dekat ke arah mereka berdua. Dengan menajamkan pendengarannya, samar-samar ia mulai bisa mendengar perdebatan mereka.


"Ya ya ya, memang ku akui kalau suamimu yang sekarang ini jauh lebih tampan dan tentunya lebih kaya dari Bisma. Tapi ... kamu jangan senang dulu! Aku ingin tau bagaimana reaksinya jika dia tau kalau gadis yang ia nikahi pada hari itu adalah bukan kamu yang sesungguhnya!" ujar wanita yang sedang berdiri berhadapan dengan Kania itu tampak begitu sinis menatanya dengan penuh permusuhan.


"Apaa?! Berarti wanita itu tau sesuatu tentang si Kania," batin Rendy merasa sedikit kaget.


Mata Kania langsung melotot tajam kepadanya. "Kamu jangan berani bicara yang macam-macam sama dia. Kalau kamu sampai berani bilang ke David soal itu, maka--"


"Hahaha ... aku akan bilang sama David kalau di hari pernikahan itu sebenarnya ...."


"Sebenarnya, apa?" Rendy yang sudah tidak tahan langsung menyelanya.


Degg!


Sontak kedua wanita itu terkesiap kaget dan secara serempak menoleh ke arah sumber suara.


"Hah, ka-kamu--" Kania terpekik kaget ketika melihat Rendy yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Seketika itu wajahnya langsung terlihat panik dan juga ketakutan.


"Duh ... bahaya ini. Apakah tadi dia mendengarkan perdebatan kami? Semoga saja tidak. Tenang Kania, kamu harus tentang. Jangan sampai dia mengetahui yang sebenarnya, ok!" batin Kania mulai resah.

__ADS_1


Sedangkan Akira hanya mengeryitkan dahi menatapnya kebingungan.


"E-eh, Re-rendy. Bukan apa-apa, kok," sahut Kania gugup. Kamudian wanita itu segera meraih tangan Akira. Lalu ia menariknya dengan kasar ingin membawanya masuk ke dalam toilet.


Namun, Akira memberontak dan mengibaskan tangannya kesal. "Ih, apaan sih! Lepasin!" bentaknya ketus.


Lalu dengan cueknya wanita bergaun putih itu gegas meninggalkannya dengan begitu saja.


Sedangkan Rendy hanya menggelengkan kepalanya sembari terus berjalan melewati Kania yang masih tak bergeming berdiri di depan toilet wanita. Lalu ia pun segera masuk ke dalam toilet pria yang letaknya bersebelahan dengan toilet wanita.


***


Setelah bebarapa menit kemudian Rendy dan Kania sudah kembali lagi bergabung dengan sekumpulan orang-orang yang masih duduk manis di sofa yang tadi.


Sebenarnya Rendy merasa sangat penasaran dengan cewek yang sedang bersama Kania beberapa saat lalu. Dan ia pun berniat untuk menemuinya. Namun sayang, setelah ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan di mana sosok wanita tersebut, ia tidak dapat menemukannya.


"Ah ... sialan! Ke mana sih, cewek tadi? Masa dia tidak ada di sini, sih?" gerutunya membatin.


Pada akhirnya ia pun, hanya bisa pasrah menahan rasa penasaran yang menggebu di dalam hatinya ìtu.


Sontak Rendy terjikat kaget dan langsung menoleh ke arahnya. "Hah, enggak kenapa-napa kok," jawabnya.


"Beneran kamu gak papa?" tanya Mike dengan setengah berbisik padanya.


"Udah, nanti aja aku ceritain."


"Ok-ok ok." Mike mengangguk setuju.


Kemudian semua orang itu kembali melanjutkan pestanya. Dengan canda tawa dan suara DJ musik yang terdengar sangat kencang memenuhi ruangan tersebut. Semua orang-orang itu berpesta pora menikmati malam ini dengan meminum minuman keras ataupun wine.


Begitu juga dengan Kania. Wanita itu kini tengah sibuk terus menenggak minuman beralkohol itu dengan cukup banyak.


Sedangkan laki-laki yang ada di sebelahnya itu malah tampak tersenyum menyeringai melihatnya. Seolah ia merasa senang dan dengan sengaja membiarkan wanita cantik itu untuk menghabiskan banyak minuman yang memabukan tersebut.


Sedangkan lelaki tampan tersebut beserta dengan kedua sahabatnya itu hanya sedikit saja menenggak minumannya. Mereka bertiga memang sengaja melakukan itu agar mereka nanti tidak mabok. Sehingga mereka nanti bisa menjalankan rencananya dengan mulus tanpa ada kendala.

__ADS_1


Dan apa yang telah direncanakan mereka pun benar terjadi. Kini wanita yang kini berstatus sebagai istrinya David itu sudah tampak mabuk berat. Sehingga dengan segera David memapah tubuh wanita itu dan berpamitan pulang terlebih dahulu.


"Sorry, Bro. Aku harus pulang sekarang," ucapnya.


"Hem ... ya ya ya ... pulanglah, Dav! Dan selamat menikmati malam indah bersama ustrimu itu, hehehe ...." sahut salah seorang laki-laki yang terlihat sudah mulai sempoyongan dan ngelantur tak karuan karena pengaruh minuman yang ia minum tadi.


Kemudian David menganggukkan kepala dan memainkan bola matanya memberi kode kepada dua temannya.


Mike dan Rendy pun menggerti. Lalu mereka mengagguk secara serempak.


Setelah itu, lelaki tampan berkemeja krem dan berjas hitam itu bergegas membawa pulang istrinya menuju ke hotel. Di dalam perjalan menuju ke sana, Kania yang sudah dalam keadaan mabuk berat terus merancau tidak karuan. Sesekali ia pun tertawa cekikikan yang tak jelas.


Sehingga membuat David hanya menggelengkan kepala melihatnya. Begitu sampai di dalam kamar, ia merebahkan wanita tersebut di atas ranjang.


"Cih, dasar gadis bodoh! Baru minum sedikit saja udah mabuk kayak gini. Ok, mari kita mulai beraksi!" gumamnya sembari menyeringai.


"Kania, sebenarnya apa yang terjadi pada hari pernikahan kita, hah?" David mulai menggunakan ketidak sadaran wanita itu untuk mulai mengintrogasinya.


"Hahaha ... Sayangku, David!" ucap Kania yang terdengar sedikit tidak jelas mulai ingin menjawabnya.


"Kamu tau nggak, kalau sebenarnya cewek yang ada di pelaminan itu memang bukanlah aku. Hahaha ...."


"Cih, sudah ku duga!" batin David yang duduk di pinggir ranjang itu mulai mengutak-atik benda pipih miliknya. Dengan mengunakan ponsel miliknya itu, ia sengaja ingin merekam video agar bisa dijadikan bukti suatu saat nanti apa bila ia perlukan.


"Terus kalau cewek itu bukan kamu, terus siapa?" tanya David lagi.


"Oh, di-dia ...." Tiba-tiba dengan sempoyongan Kania malah ingin bangkit dari tempat tidurnya. Namun David segera menahannya dan merebahkan kembali wanita tersebut.


"Hahaha ... dia itu cuma pelayan di rumahku, David. Wanita kampungan yang sengaja Papa dan Mamah siapkan untuk menggantikanku."


"Brengsek! Sialan!" umpat David sembari mengepalkan tangan, lelaki itu mulai tampak emosi mendengarnya. "Jadi, ini semua memang sudah terencana? Ok, mari kita lihat rahasia apa saja yang akan dikatakannya lagi!"


"Oh, begitu. Kalau boleh tau siapa nama cewek itu?"


"Em ... nama cewek kampungan itu ada-lah ...."

__ADS_1


"TI-A-NA!"


__ADS_2