Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Kembali Bekerja


__ADS_3

Tanpa terasa sudah selam 4 hari Tiana berada di kampung halaman. Di pinggiran kota semarang yang tampak asri dan sejuk, gadis itu terpaksa menitipkan ibunya di rumah paman dan bibiknya.


Sebenarnya gadis itu masih ingin tinggal lebih lama lagi bersama ibunya. Namun, karena waktu yang diberikan oleh sang atasan hanya 4 dan ditambah 1 hari liburnya saja. Sehingga dengan sangat terpaksa mau tidak mau, besok pagi ia sudah harus berangkat ke jakarta lagi.


Kini gadis itu sedang bersiap-siap di dalam kamar yang sekaligus kamar ibunya juga. Ya, ia memang sengaja memilih untuk tidur satu kamar dengan ibunya. Karena dengan begitu ia bisa melepas rasa rindu yang ia pendam selama ia bekerja di Jakarta dulu.


Dan lagi pula di rumah pamannya itu memang hanya ada 3 kamar saja. Jadi, setiap ia pulang kampung gadis itu pun tidur satu kamar dengan ibundanya.


Sementara 1 kamar yang lainnya di tempati oleh paman dan bibiknya. Dan 1 kamar lagi ditempati oleh adik sepupunya yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak dari paman dan bibinya itu.


"Nduk, kamu beberan mau berangkan besok pagi?" Tiba-tiba saja lelaki paruh baya masuk ke dalam kamar Tiana.


Tiana yang tampak sibuk memasukan beberapa bajunya ke dalam tas, menoleh ke arahnya.


"Eh, yo, Paman. Sesuk aku wes kudu masuk kerja lagi," jawabnya.


Terlihat gadis itu kini duduk di pinggir ranjang. Lalu dengan pandangan sedih, ia menatap sesosok wanita paruh baya yang sedang terlelap di atas ranjang itu.


Kemudian gadis itu tersenyum kecut sambil berkata, "Maafkan Tiana, Paman! Karena lagi-lagi Ana harus merepotkan Paman terus."


"Iyo, ndak papa, Nduk! Kamu ini gak usah sungkan kayak gitu. Kaya sama siapa aja?" jawab Herman. Lelaki itu kini terduduk di sebuah kursi kayu yang berada deket di sisi kanan ranjang.


"Ya, tapi jangan cuma minta maaf doang. Kamu itu harus kirim uang yang banyak buat biaya perawatan ibumu di sini, tau!" sela Mirna yang tiba-tiba saja datang langsung menyabar ucapannya.


Wanita berumur 35 tahunan itu kini tengah berdiri di ambang pintu. Dengan bersedakap, wanita itu menatap sinis pada Tiana.


"Ibu, kamu ini ngomong apaan sih?" Herman yang merasa sangat kesal dengan sikap istrinya yang selalu saja judes pada Tiana.


"Lah, emang bener, 'kan? Kita ini butuh uang banyak buat urus makannya, terus obatnya dan belum lagi kebutuhan yang lainnya juga. Masih untung loh, aku mau menampung dan mungurus ibunya yang edan ini."


"Coba aja, kalau si Tiana nitipin ibunya di rumah sakit jiwa. Pasti dia gak bakal kuat buat bayarnya, Pak," cerocos Mirna lagi.


"Wes cukup, Bue! Ini sudah larut malam, sebaiknya sekarang kamu tidur dan jangan ganggu Tiana lagi," tukas Herman. Dengan nada menekan, ia menahan suaranya agar tidak berteriak padanya.


"Cih, siapa juga yang menggagu? Wong aku cuma lagi ngomong kenyataan aja, kok. Yo weslah, sakarepmu Pak! Sing penting jo lali, Tiana. Nek wes gajian, awakmu kudu langsung ngirim uang ke Bibik, ok?"


"Nggeh, Bik." Tiana mengaggukkan kepalanya dengan pelan.


"Iso-isone pulang gak bawa uang. Terus mau apa dia ke sini? Dari pada buat ongkos pulang, mending uangnya dikirim ke aku 'kan, iso kanggo opo-opo."

__ADS_1


Sambil terus ngedumel dan bersungut-sungut kesal, wanita galak tersebut akhirnya pergi meninggalkan kamar tersebut dengan begitu saja.


Dirinya merasa jengkel, karena untuk kali ini gadis itu pulang hanya dengan tangan kosong saja alias tak membawa uang banyak untuknya.


Jika bukan karena Tiana yang selalu mengirimkan uang di tiap bulannya. Mana mungkin wanita itu mengijinkan Fatimah untuk tinggal di rumahnya ini.


"Huff!" Terlihat Herman menghela nafas panjang. Sungguh ia merasa kesal dan malu melihat sikap istrinya. Karena yang ada di pikiran istrinya itu hanya ada uang, uang dan selalu uang lagi.


"Maafkan, sikap Bibikmu itu ya, Nduk! Udah gak usah dengerin omongannya itu. Yang panting kamu harus bekerja dengan baik dan selalu harus bisa jaga diri ya, Nduk!" ujar Herman lagi.


Dengan penuh kasih sayang, lelaki itu tersenyum lembut padanya.


"Nggeh, Paman." Gadis itu kembali mengangguk patuh.


"Yo, wes. Sebaiknya kamu tidur sekarang! Biar besok gak kesiangan bangunnya! Jo dipikir nemen-nemen, yo! Soal ibumu ini tenang wae, Paman pasti akan selalu menjaganya dengan baik."


"Nggeh, maturnuwun, Paman."


"Hem ...." Kemudian sembari mengangguk, lelaki itu mengusap kepala gadis itu dengan pelan dan lembut. Menandakan bahwa lelaki itu memang benar-benar menyayanginya dengan tulus sepenuh hatinya. Dan bahkan ia sudah menggapnya seperti putri kandungnya sendiri.


Lalu lelaki berkumis itu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kamar tersebut.


Sementara Bibinya, malah selalu judes dan sinis terhadapnya. Padahal ia sudah berusaha selalu bersikap baik, sopan santun dan sangat menghormatinya.


Namun apa balasannya? Entah itu Bibik ataupun adik sepupunya yang bernama Rina itu selalu bersikap kasar, judes dan sinis terhadapnya. Seoalah kedua ibu dan anak tersebut tidak pernah suka kepadanya maupun terhadap ibunya juga. Dan mereka menganggap ibunya itu seperti beban ataupun benalu di rumahnya ini.


Sehingga membuat Tiana tidak betah untuk tinggal berlama-lama di rumah itu. Dan ia bertekad akan mencari uang yang sebayak-banyaknya agar bisa membawa pergi ibunya dari rumah tersebut.


Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Untuk saat ini hanya pamannya lah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Dan rumah itu pula tempatnya untuk pulang selama ini.


Jadi, untuk sementara ini ia harus tetap bersabar menghadapinya. Dan ia pun berharap kalau suatu saat nanti ketika ia sudah mempunyai banyak uang. Ia pasti akan membawa ibunya pergi dari rumah itu untuk berobat ke rumah sakit hingga sembuh.


Dan entah kapan semua keinginannya itu bisa terlaksana? Ia pun tidak tau. Untuk saat ini dirinya hanya bisa bekerja dan terus bekerja agar bisa mencari uang banyak. Dan tidak lupa juga selalu berdoa agar semua cita-citanya itu bisa terlaksana.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiana sudah harus berangkat ke Jakarta lagi. Agar ia bisa sampai di Jakarta pada sore hari. Lalu pada malam harinya ia sudah diharuskan untuk masuk kerja di sift malam.


Setelah berganti pakaian ia pun masih berada di loker mengobrol sebentar dengan beberapa teman sesama petugas HK juga.

__ADS_1


Ia sekilas mendengar obrolan teman lainya yang kebetulan sedang membicarakan sang owner ataupun CEO hotel ini.


"Eh, aku dengar-denger si Ceo hotel kita ini katanya udah gak sini lagi, loh? Dia sudah balik ke kantor pusat yang ada di daerah Sudirman itu," celetuk salah seorang gadis yang berseragam sama seperti Tiana.


"Ya ... sayang sekali, padahal aku, 'kan masih pingin liat wajahnya yang ganteng itu. Walaupun dingin tapi masih tetep kelihatan manis-manis gimana ... gitu?" sahut temannya.


"Iya bener. Wajahnya itu dingin-dingin tapi menghanyutkan. Hahaha ...." sambar yang lainnya lagi sambil tertawa cekikikan.


Sembari ikut tersenyum geli, Tiana menggelengkan kepala ketika mendengar percakapan para gadis tersebut.


"Kalian belum tau aja siapa dia. Kalau tau, mungkin kalian tidak akan memuja-mujanya lagi seperti ini," ucapnya membatin.


"Eh, tunggu! Benarkah kalau dia sudah tidak ada lagi di sini? Baguslah kalau begitu aku jadi tidak perlu merasa takut bertemu dengannya lagi." Kini gadis berlesung pipi itu merasa lega karena lelaki itu sudah tidak lagi berada di hotel tersebur.


Dengan penuh semangat gadis cantik berambut sebahu itu mulai mengerjakan tugasnya sebagai HK. Ia memeriksa jadwal tugasnya hari ini. Biasanya ada banyak tugas yang harus ia kerjakan.


Namun, entah mengapa ia merasa berbeda kali ini. Karena sang menejer HK malah hanya memberinya satu tugas saja untuknya. Yaitu ia diharuskan membersih satu kamar yang menurutnya adalah sebuah kamar yang begitu sepecial katanya.


Lalu, tanpa rasa curiga dengan membawa troly kerjanya, gadis berseragam hitam putih itu segera menuju kamar tersebut. Begitu ia sampai di depan kamar, seperti biasa ia akan menekan bel pintu terlebih dahulu.


Setelah beberapa kali ia menekan bel tersebut namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun langsung membuka pintu kamar tesebut.


"Housekeeping!" ujarnya seraya membuka pintu. Namun ia tak mendengar ada jawaban. Sehingga Ia berfikir kalau sang tamu kamar tersebut sedang tidak berada di tempatnya ataupun sedang keluar kamar.


"Ga, ada jawaban juga. Mungkin orangnya sedang keluar kali, ya?" ujarnya dalam hati.


Kemudian sembari mendorong troly, gadis itu mulai bergerak masuk ke dalam kamar.


Namun tanpa ia sadari di dalam kamar tersebut ternyata sudah ada seseorang yang sedang duduk menunggu kedatangannya. Dengan tersenyum miring, orang itu menyeringai ketika melihat gadis itu sudah mulai masuk ke dalam perangkapnya.


Begitu memasuki kamar, Tiana mendapati kamar itu dalam keadaan gelap gulita. Sehingga membuatnya merasa sedikit keheranan.


"Kok gelap banget sih?" ujarnya seraya tangannya merayap mencari sakelar lampu di dinding samping pintu. Kemudian ia menyalakan lampu kamar tersebut. Dan ....


'Klik,' suara sakelar.


Degg!


Begitu lampu menyala, betapa terkejutnya Tiana ketika melihat ....

__ADS_1


__ADS_2