
"Kebakaran! Kebakaran ... !" teriak Rendy.
Sontak David yang kaget langsung terbangun dan merasa sangat panik.
"Hah, kebakaran! Mana, di mana?" serunya kebingungan.
"Bhahaha ... !" Otomatis Rendy langsung tertawa tetpingkal- pingkal sambil memegangi perutnya. Karena melihat David yang langsung berdiri di atas kasurnya dalam keadaan telanjang.
Sedetik kemudian David baru tersadar kalau dirinya kini dalam keadaan polos. Sehingga seluruh tubuhnya pun terpampang jelas di depan pemuda yang kini sedang terbahak di samping ranjang. Lalu dengan refkek ia langsung mengambil selimut untuk menutupi bagian bawahnya.
Kemudian lelaki bertubuh atletis itu langsung memberinya tatapan tajam dan bengis padanya. Dengan raut wajah yang begitu kesal ia pun terduduk di atas kasur.
Sedangkan Rendy masih terus ngakak dan ia berusaha untuk menghentikan tawanya. "Ya maaf, Bang. Habisnya kamu kalau dibangunin susah banget sih. Jadi terpaksa deh, aku ngagetin Abang."
"Terus aja kamu ngetawain aku! Kalau gak bethenti sekarang, gajimu aku potong lima puluh persen!" Sambil tersenyum miring, lelaki yang usianya lebih tua dua tahun di atas Rendy itu mengeluarkan jurus andalanya untuk mengancam adik sepupunya yang jail.
Cepp.
Rendy langsung mincep. "Ya ela, Bang! Seneng banget sih motongin gaji orang. Masa cuma gara-gara aku ketawa, gaji aku dipotong lima puluh persen sih, Bang." protesnya.
"Bodo! Kalau kamu masih berani ngeledek aku, liat aja nanti!" ancam David lagi.
"Ya ya deh, Bang. Aku gak bakalan ngeledek kamu lagi, deh!" jawab Rendy sewot.
"Eh, tunggu-tunggu! Tapi ... semalam Abang ini habis ngapain, hah? Kok, bisa-bisanya Abang sampai telanjang bulat kayak gini?" Dengan tersenyum tengil, Rendy menaik turunkan kedua alis. Pemuda berkulit langsat itu kembali mengejeknya lagi.
Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kini lelaki tampan itu tampak seperti orang lingkung saja. Ia merasa kebingungan sedang berusaha mengingat apa yang terjadian dengannya semalam.
"Iya ya, Ren. Kok aku bisa telanjang gini sih? Seingatku, semalam habis dari pesta itu, 'kan aku langsung tidur," ujarnya.
"Hayo loh, Abang semalam habis perkosa siapa? Jangan bilang kalau Abang tidak ingat juga, ya?" lagi-lagi pemuda tengil itu kembali meledeknya.
"Ih, ngaco kamu. Jangan sembarang deh, kalau ngomong! Tapi beneran Ren, aku gak inget semalam habis ngapain dan dengan siapa pula?" David masih tampak kebingungan karena belum mengingat apapun semalam.
Tiba-tiba saja Rendy melihat ada troly yang biasa digunakan oleh pekerja hotel, berada di dekat pintu. Ia pun berfikir jangan-jangan bosnya ini telah memperkosa salah satu pekerja hotel yang ada di sana malam tadi.
Sambil terus mengamati troly itu pemuda berkumis tipis tersebut masih berfikir dan menerka-nerka kemungkinan apa yang terjadi dengan kakak sepupunya ini.
"Hem, aku tau, Bang. Jangan-jangan semalam kamu habis tidur dengan seseorang yang membawa troly itu, Bang." Rendy menunjuk ke arah troly.
David pun menoleh ke arah yang ditunjuk pemuda itu.
"Hah, troly!" Ia kembali terdiam sesaat, sambil terus mengamati troly itu. Kemudian secara perlahan sekelebat bayangan mulai bermunculan di otaknya. Dan ia mulai bisa mengingat kejadian semalam. Hingga tiba-tiba saja ia pun teringat siapa wanita yang telah tidur besamanya.
"Oh, ya aku inget, Tiana! Semalam aku habis tidur dengan Tiana, Ren!" celetuknya.
"Hah, Tiana? Tiana siapa, Bang?" Dahi Rendy yang sedikit tertutup rambut itu langsung mengerut. Kali ini pemuda itulah yang tampak sedang kebingungan.
__ADS_1
Sehingga membuat David mendengus kesal melihatnya. "Ih ... masa kamu lupa sih? Ya, Tiana si pengantin palsuku dulu, Dodol! Gadis yang pernah menggantikan Kania itu, loh! Kamu ingat gak?"
"Oh, yang itu." Pemuda berjas coklat tua itu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu masih ingat, 'kan?" tanya David.
"Enggak." Sembari memasang cengir kuda, Rendy menggeleng. "Gimana mau ingat? Orang liat orangnya, eh salah. Liat wajahnya aja belum pernah."
"Cih!" Sehingga membuat David derdecak kesal padanya.
Namun, sedetik kemudian Rendy merasa kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh kakak sepupunya itu. "Eh, tapi tunggu dulu, Bang!"
Kemudian ia menempelkan telapak tanganya ke dahi laki-laki yang sedang terduduk di atas kasur. "Abang, gak lagi sakit, 'kan? Atau semalan Abang habis ngigau mimpiin dia kali, ya?"
Dengan sangat kesal David langsung menepis tangan Rendy. "Ih, apaan sih, kamu? Aku gak sakit dan aku gak lagi ngigau, tau!" cetusnya.
"La terus, kenapa Abang bilang kalau habis tidur dengan Tiana semalam, hah?" sahut Rendy masih merasa tidak percaya.
"Aku merasa sangat yakin, Ren. Kalau semalam wanita yang tidur denganku itu adalah Tiana. Aku masih hafal aroma harum parfumnya, lekuk tubuhnya dan juga suara lembutnya yang masih terngiang di telingaku ini, Rendy." David masih kekeh dengan keyakinannya.
Sehingga membuat Rendy memutar bola matanya mulai jengah mendengar jawabannya tadi.
"Ih, Abang mah, kalau yang kayak gitu aja selalu ingat. Giliran masalah pekerjaan aja, suka lupa," cibirnya.
"Serius, Ren! Aku gak lagi ngada-ngada," ucap David lagi berusaha untuk meyakinkannya.
"Benarkah? Tapi, aku merasa itu beneran seperti dia loh!"
Rendy jadi gregetan dan merasa kesal sendiri, karena David sepertinya masih mabuk. Sehingga menganggap kalau gadis yang telah tidur dengannya semalam adalah Tiana. Kini pemuda itu duduk di hadapannya dan memegang sebelah pundaknya.
"Dengar ya, Bang! Aku tau, kalau kamu masih terus teringat dengan gadis itu dan bahkan mungkin kamu tidak bisa melupakanya hingga saat ini. Namun, perlu Abang tau, kalau orang yang kamu maksud itu tidak mungkin berada di sini."
"Jika memang benar Tiana ada di sini. Tidak mungkinlah dia akan mendatangimu, Bang. Yang ada tuh cewek pasti akan langsung kaburlah dari sini. Apa lagi jika liat wajah Abang yang garang seperti ini, cewek mana sih yang gak takut sama kamu, Bang?" celetuk Rendy.
"Sialan lo!" sungut David sambil melempar bantal padanya.
"Hahaha ...." Lagi-lagi Rendy tertawa ngakak karena selalu berhasil membuatnya terus merasa jengkel.
Lalu lelaki yang masih bertenjang dada itu kini terdiam, ia seakan ditampar oleh kenyataa. Memang apa yang dikatakan oleh Rendy adalah benar.
Kini ia mulai menjadi ragu, apakah semalam memang Tiana atau hanya khayalanya saja? Tapi, kenapa di dalam hatinya berkata dan merasa sangat yakin kalau yang semalam itu adalah dia?
"Sudahlah, Bang. Lupakan! Lebih baik sekarang Abang mandi dulu, agar pikiran Abang bisa jadi lebih jernih lagi, ya!"
Seraya kembali menepuk pundak sepupunya itu. Rendy segera bangkit dari atas ranjang. Kemudian akan meninggalkan kamar itu.
"Ya udah, Bang! Aku keluar dulu. Nanti kalau Abang sudah selesai mandi, aku akan ke sini lagi."
__ADS_1
David yang masih tampak terbengon pun mengangguk. Kemudiam Rendy pun beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
Kini lelaki bertubuh atletis itu masih terdiam mematung, dia masih bingung dengan kejadian yang semalam. Di antara setengah sadar ia masih sangat mengingat kalau semalam ia telah bercinta dengan sesosok gadis yang mirip sekali dengan Tiana. Dan kejadian itu terlihat begitu nyata.
Masa ini hanya ilusinya saja?
***
Satu jam kemudian Rendy kembali masuk ke kamar David. Begitu ia memasuki kamar, ia mengedarkan pandangannya dan mencari sosok penghuni kamar tersebut. Namun ia tak kunjung bisa menemukannya juga.
"Ke mana sih, nih orang?" gumamnya sembari terus menelisik seluruh ruang itu. Kemudian ia terus berjalan hingga ke balkon, dan Ia melihat lelaki itu sedang duduk melamun di kursi yang ada di balkon.
Rendy berjalan mendekatinya. "Hai, Bang! Aku cariin dari tadi, juga. Eh, ternyata malah lagi ngumpet di sini?" ucapnya seraya duduk di sebelahnya.
David terlonjak kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh, kamu, Ren. Bikin kaget aku aja. Ngumpet, matamu!" sungutnya kesal.
Rendy terkekeh. "Lagian ngapain sih, Bang. Pagi-pagi udah melamun aja. Tar kesambet loh, gara-gara keseringan melamun!" ledeknya.
"Aku masih bingung nih. Soal kejadian yang semalam. Aku merasa sangat yakin kalau itu beneran Tiana, Ren!"
Rendy mendengus kesal, karena ternyata David masih membahas soal itu lagi. "Gini aja deh, Bang. Mari kita buktikan! Siapa yang benar, kamu atau aku?"
Lelaki berkemeja putih itu mengerutkan dahinya dan bertanya. "Maksudnya?"
"Ya kita buktikan lewat CCTV lah, Bang. Kita lihat siapa yang telah masuk ke kamar ini semalam gitu, Bang."
"Ya ya kamu benar, Ren. Kenapa aku gak kepikiran ke sana ya?" sahut David sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Rendy memutar bola matanya malas mendengar ucapan bosnya itu. Yang terkadang suka terlihat bodoh di matanya. "Ya udah Bang, kita ke sana sekarang!"
"Ke mana?" Tanyanya lagi yang masih nampak bingung.
"Ya ke ruang CCTV lah, Bang ... ! Masa mau ke Hongkong," jawab Rendy dengan kesalnya.
"Oh, kirain mo ke mana gitu," ujar David dengan cueknya. Kemudian ia pun berdiri dan berjalan meninggalkan Rendy yang masih tampak terbengong dan merasa sangat kesal kepadanya.
"Lah, aku malah ditinggal. Woy Bang, tunggu!" Rendy bergegas menyusulnya.
Begitu sampai di ruang CCTV, mereka langsung meminta pegawai yang sedang bertugas di sana untuk memeriksa CCTV yang merekam kejadian di depan kamar David tadi malam.
Dengan seksama kedua pemuda itu mulai mengamati rekaman CCTV. Dan mereka melihat ada seorang petugas HK yang akan memasuki kamar.
"Tunggu-tunggu, mari kita lihat siapa dia! Oh my good, ternyata dia orangnya!"
Sontak David langsung membelakan mata, ketika melihat ....
__ADS_1