
Tiana Putri, gadis berparas cantik berusia 22 tahun ini adalah gadis yang kalem, baik hati dan juga sederhana itu merupakan anak tunggal dari pasangan Pak Darmo dan Bu Fatimah.
Semasa kecilnya ia dibesarkan oleh sang nenek yang tinggal di sebuah desa kecil yang ada di kota Semarang. Sementara kedua orangtuanya bekerja sebagai sopir pribadi dan pembantu rumah tangga di Jakarta.
Namun, sekitar lima tahun yang lalu, sang ayah mengalami kecelakaan mobil hingga meninggal dunia. Sehingga membuat Ibunya merasa syok dan sangat terpukul. Bahkan karena rasa sedihnya itu, wanita paruh baya itu sampai mengalami depresi dan gangguan jiwa.
Dan, semenjak itulah Tiana yang pada saat itu masih berusia 17 tahun harus menanggung beban hidup sang ibu hanya seorang diri saja.
Lalu setelah satu tahun berlalu, sang nenek pun meninggal dunia. Sehingga lengkaplah sudah rasa sedih yang menerpanya. Belum hilang rasa pilu karena kehilangan sang ayah dan ibunya yang mengalami gangguan jiwa. Kini gadis itu merasa semakin bertambah sedih yang teramat sangat karena ia harus kehilangan satu orang lagi yang sangat berarti di dalam hidupnya ini.
"Ya Allah ... mengapa Engkau mengambil semua orang-orang yang saya cintai? Lalu sekarang saya harus bagaimana, Tuhan? Hiks ... hiks ...." Itulah jerit kesedihan yang sedang ia rasakan di dalam hatinya.
Andai saja ia bisa mengeluarkan atau melampiaskan rasa sedih yang dirasakannya, ingin sekali ia menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Namun, tidak bisa. Demi sang Ibu, Ia harus kuat dan tegar dalam menghadapi semua cobaan ini.
Di samping rasa sedih yang harus ia sembunyikan, gadis cantik yang baru saja menyelesaikan sekolahnya itu juga kini harus membanting tulang, mencari rezeki untuk membiayai pengobatan sang Ibu. Namun ia merasa bingung, apabila ia pergi bekerja, ibunya nanti akan bersama siapa?
Untung saja ibunya masih mempunyai seorang adik laki-laki yang sudah mempunyai istri dan seorang putri itu mau membantunya untuk menjaga Ibunya. Sehingga ia pun berniat menitipkan Ibunya di rumah pamannya itu.
Sebenarnya ia merasa sedikit ragu dan tak tega jika meninggalkan ibunya di sana. Karena jika melihat sikap Bibi dan adik sepupunya yang terkesan judes dan galak. Membuatnya berpikir apakah nanti mereka akan merawat ibunya dengan baik?
Namun, mau bagaimana lagi? Ia pun tidak ada pilihan lain, selain menitipkan ibunya di sana. Sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus merelakan ibu tercintanya itu untuk tinggal bersama mereka.
"Maafkan Tiana, Bu! Sementara ini Ibu harus tinggal di sini dulu, ya! Na-nanti, jika Tiana sudah banyak uang. Tiana janji akan membawa Ibu ke dokter yang terbaik yang bisa menyembuhkan penyakit Ibu."
Sembari menitikan air mata, gadis cantik itu duduk bersimpuh di hadapan sang ibu yang duduk di sebuah kursi kayu. Kepalanya Ia sadarkan di pangkuannya, sementara kedua tangannya memeluk erat kedua kaki wanita paruh baya tersebut.
Sementara sang Ibu hanya duduk terdiam seperti patung. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi, tatapan matanya pun terlihat kosong memandang lurus ke depan. Kadang sesekali wanita itu tertawa cekikikan. Namun, setelah itu menangis meraung-raung. Bahkan jika sedang kumat ia menjerit dan mengamuk dengan tampa sebab.
Sungguh ia merasa pilu, hatinya bagai terkoyak-koyak di mana ia melihat keadaan ibunya yang sangat memperhatikan seperti ini. Ibunya memang masih hidup dan kini masih tetap berada di sisinya. Namun, seolah ia tidak mengenali siapa dirinya. Sehingga membuat gadis itu merasa bagai hanya tinggal seorang diri saja di dunia ini.
__ADS_1
Sudah tidak ada lagi tempatnya untuk berlindung. Tempat untuk bermanja dan berkeluh kesah. Karena orang biasanya menjadi tempat berkeluh kesah kini malah terlihat seperti mayat hidup saja. Memang raganya masih hidup, akan tetapi jiwanya seolah kini telah hilang entah ke mana.
Namun gadis itu tak pernah berputus asa. Karena ia yakin, kalau suatu hari nanti pasti ibunya akan sembuh. Dan mulai dari detik ini ia berjanji akan berusaha dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa rasanya akan mencari cara bagaimana agar ia bisa membuat ibunya itu bisa menjadi normal kembali seperti semula.
"Ibu, hiks ... hiks! Tiana kangen dengan Ibu yang dulu. Ibu yang sangat lembut, Ibu yang selalu menyayangiku dan yang selalu membelai kepalaku seperti ini, Bu."
Gadis itu meraih tangan Ibunya dan meletakkannya di atas puncak kepalanya. Lalu ia menggerakannya dengan pelan, seolah-olah Ibunya kini sedang membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Dan Tiana berjanji, akan berusaha untuk bisa menyembuhkan ibu. Bagaimanapun caranya akan aku tempuh," tekad Tiana di dalam hati.
Sungguh pemandangan yang seperti itu, bisa membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa trenyuh dan ikut menitikan air matanya karena sedih dan tak tega melihat gadis itu yang sedang menangis bersimpuh di hadapan ibunya.
Termasuk juga dengan sang Paman yang kini sedang berdiri di ambang pintu kamar yang melihat dengan rasa iba. Tidak terasa ikut menangis juga. Sembari terus menatap ke arah keponakan dan kakak perempuannya itu, sesekali ia menyeka air matanya yang mulai berjatuhan di kedua pipinya.
Sungguh lelaki berumur 37 tahunan itu merasa tak tega melihatnya. Namun, ia bisa apa? Ia hanya bisa membatunya lewat doa yang terbaik untuknya. Dan juga membantunya untuk menjaga Ibunya saja.
"Wes cukup, Nduk! Kamu jangan sedih lagi yo! Kamu tenang aja, pamanmu ini pasti akan merawat dan selalu menjaga Ibumu. Jadi udah ya, nangisnya!" ujar Herman yang masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu kini duduk di sebelah ibunya.
"Iya, dari tadi paman udah ada di sini. Kamu aja yang gak tau. Habis sibuk nangis mulu sih!" ejeknya.
"Ih, Paman, siapa yang nangis?" elak Tiana sambil mencebikan bibir.
"Lah, itu namanya apa, kalau bukan nangis?" Herman menunjuk pipi Tiana yang masih tampak basah.
"Hehehe ... ini tadi Tiana cuma ...."
"Cuma apa? Cuma mewek?" sambar Herman menyela ucapannya. Sehingga membuat gadis itu langsung mencebikan bibirnya lagi.
Sedangkan lelaki itu malah tersenyum geli melihatnya.
__ADS_1
"Udah ya, Nduk! Jangan sedih lagi, ya! Ingat, selain ibumu masih ada paman yang akan selalu menyayangimu di sini." Tangan lelaki itu mengusap lembut kepala Tiana.
Sehingga membuat Tiana terharu dan ingin kembali menangis. Namun ia tahan. Karena ia tidak mau membuat pamannya itu sedih dan dia harus terlihat kuat dan tegar di hadapannya.
"Ya, sudah sana kamu siap-siap! Kamu udah di tunggu sama temanmu tuh di depan!" ujar Herman.
"Eh, iya ya baik, Paman. Ini juga udah siap-siap kok. Tia hanya tinggal pamitan saja sama Ibu. Dan Tiana udah siap untuk berangkat ke Jakarta sekarang," jawab Tiana mantap.
"Yo wes, sana kamu berangkat. Kasian itu si Intan udah nungguin lama, Cah Ayu!"
"Ya udah, Tiana berangkat kerja dulu ya, Paman. Maaf karena Tiana telah merepotkan Paman dan Bibi. Dan Tia juga berterima kasih karena paman sudah mau menampung Ibu di sini."
"Oalah, Nduk! Jangan begitu ah, kayak sama siapa saja. Udah kamu ini jangan sungkan, anggap saja Paman ini adalah sebagai pengganti bapak mu, yo!"
"Iya, Paman." Sembari tersenyum manis, gadis itu mengangguk pelan. Lalu ia kembali beralih menatap ke arah sang Ibu.
"Baiklah, Bu. Sekarang Tiana harus pergi kerja dulu, ya! Ibu baik-baik aja di sini. Jangan bikin paman dan bibik repot, ya!" Gadis itu memeluk ibunya. Lalu mencium kening dan juga telapak tangannya.
Setelahnya dengan berat hati, ia mulai bergerak untuk meninggalkan kamar itu. Namun tanpa terduga, sang Ibu malah menahan tangannya.
"Ti-tiana!" panggilnya lemah. Dengan wajah yang sayu Fatimah menatap ke arahnya. Seolah-olah wanita itu tidak rela melepasnya pergi dari sana.
Degg!
Sontak Tiana yang kaget langsung membalikkan badan ke arahnya. Ia merasa tak percaya kalau Ibunya tadi memanggilnya.
"Iya, Ibu. Ada apa?" tanyanya. Dengan wajah sumringah ia menatap lekat wanita paruh baya itu.
Namun yang ditatapnya, hanya diam saja dan kembali lagi seperti patung hanya diam menatap kosong lurus ke depan. Sehingga membuat gadis itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
Lalu dengan memantapkan hatinya. pada akhirnya gadis itu meninggalkan ibunya di rumah pamannya itu. Dan pergi ke Jakarta bersama Sri.
"Selamat tinggal, Ibu. Aku berjanji akan mencari uang yang banyak agar bisa mengobatimu, Ibu," tekadnya.