Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Sungguh Tak Terduga


__ADS_3

JEDDERR!


Bagai tersambar petir di siang bolong. Tentu saja gadis cantik yang tengah berdiri di depan meja kerja sang manager itu sangat syok mendengarnya. Sungguh dirinya tak mengira kalau sang meneger akan berkata seperti itu padanya.


"Apaa! Sa-saya yang harus melayani Tu-tuan David? Ma-maksud, Bapak?" pekik Tiana kaget.


"Ya, selama beliau berada di sini, kamulah yang bertanggung jawab atas segala keperluannya. Mulai dari membereskan kamar dan lain sebagainya. Jadi, kamu harus selalu standby apa bila sewaktu-waktu ia membutuhkan pelayanan atau servis kamar nanti," terang laki-laki yang berusia sekitar 30 tahunan itu dengan santainya menjelaskan semua tugasnya pada Tiana.


"Em ... ta-tapi kenapa harus saya, Pak? Kan, masih banyak HK senior yang bisa melayaninya dengan baik. Kalau saya takutnya kayak kemarin, Pak. Bapak tau sandiri, 'kan kecerobahan yang telah saya lakukan kemarin itu? Saya itu gampang nervous dan saya takut jika saya akan melakukan kesalahan lagi nantinya, Pak."


Dengan berbagai macam cara, gadis cantik itu mencari alasan untuk menolak tugas tersebut.


“Sudahlah, Ana! Apa susahnya kamu tinggal jalankan saja semua tugasmu itu! Seharusnya kamu itu merasa berutung, karena Tuan David sendirilah yang telah memilihmu sebagai pelayannya," sahut Pak Johan.


"A-apa?! Tu-tuan David yang telah memilihku?" Entah untuk yang ke beberapa kalinya Tiana dibikin syok ketika mendengar ucapan dari pria itu.


"Iya, memang kata Pak Dicky (sang manajer hotel) beliau sendiri yang telah memilihmu."


"Apa-apaan ini? Kenapa cowok itu malah memilihku sebagai pelayannya nanti? Duh ... bagaimana ini? Ya Allah ... cobaan apa lagi yang harus aku hadapi sekarang ini? Kenapa aku harus terus-terusan berurusan dengan pria itu lagi? Tidak bisakah Engkau menjauhkannya dariku, Tuhan?" batin Tiana mulai resah dan juga kebingungan.


Dengan raut wajah yang pucat pasi, sang meneger itu dapat melihat betapa tegangnya wajah Tiana.


"Sudahlah, Ana! Kamu gak perlu merasa tegang begitu! Enjo aja lagi. Kamu tinggal kasih pelayanan yang terbaik, sehingga Tuan David bisa merasa puas atas semua pelayanan yang telah kau berikan padanya nanti. Dan setelah itu, siapa tau dengan begitu kamu langsung dipromosikan dan bisa saja naik jabatan jadi asistenku, 'kan lumayan."


"Jadi asisten gundulmu ìtu, Pak! Siapa juga yang mau naik jabatan? Wong aku gak mau jika terus bertemu dengan cowok ìtu. Eh ... malah wong iku milih aku dadi pelayane. Terus saiki aku kudu piye, Gusti?" Di dalam hati logat jawanya pun keluar. Sungguh Tiana merasa sangat kesal dengan situasi yang sekarang ini.


"Ta-tapi, Pak. Tidak bisakah digantikan dengan orang lain saja. Mungkin dengan kakak senior yang lebih dulu dan lebih berpengalaman dari saya saja, Pak! Saya jadi merasa tidak enak dengan mereka semua." Sebisa mungkin gadis itu masih terus berusaha untuk menolaknya.


"Kamu ini kenapa protes mulu dari tadi?" dengus sang manager yang kini mulai jenggkel dengan Tiana. "Kan, sudah dibilang ini perintah langsung dari Tuan David. Jadi kamu tinggal jalani saja kok repot."

__ADS_1


"Orang lain saja pasti akan merasa senang dan sangat beruntung karena Tuan David mau memilihmu secara langsung. Belum tentu orang lain bisa mendapatkan kesempatan langka ini, Ana. Dan kamu malah ingin menolaknya mati-matian. Sungguh benar-benar aneh kamu ini. Sebenarnya kamu ini kenapa sih, Ana?" lanjutnya lagi.


"Em ... sa-saya a-anu, Pak." Kali ini Tiana sudah kehabisan akal dan tak tau lagi harus bagaimana cara untuk menolaknya.


"Sudah-sudah, pokoknya aku tidak mau tau. Mulai sekarang aku serahkan semua pelayanan Tuan David kepadamu, titik!"


"Ta-tapi, Pak!"


"Sudah cukup, Ana! Sekali lagi kamu masih berani protes kepadaku. Maka tak segan aku akan memberikan sangsi padamu atau mungkin bisa saja aku langsung memecatmu dari sini, mengerti!" ancamnya.


Kini gadis itu hanya bisa menunduk pasrah. Sudah tidak bisa lagi untuk menolak perintahnya.


"Sudahlah, Ana! Bukankah ini sama saja seperti dengan tugas-tugas kamu yang lainnya. Tidak ada yang berbeda, kamu tinggal membersihkan kamar Tuan David di saat pagi, sore ataupun malam hari. Itu saja, kenapa sih dibikin ribet?" ujar sang meneger lagi.


"Sudah-sudah, mumpung Tuan David sedang tidak berada di kamarnya. Jadi sekarang saatnya kamu membersihkan kamar itu!" titahnya.


"Dan ingat nomer kamar itu 105A, ya! Segeralah kamu datang ke sana, kalau tidak ingin terkena masalah nanti. Jangan sampai di saat Tuan David masuk ke kamar itu masih dalam keadaan yang berantakan. Bisa berabe, dan kamulah yang akan menanggung akibatnya nanti! Mengerti!”


“Ba-baik Pak, saya akan ke sana sekarang. Tapi hanya untuk membereskan kamar itu saja kan, Pak?" ujar Tiana lagi.


"Ya iyalah. Emang mau apa lagi?" Dengan mengerutkan dahi, si menejer itu merasa sedikit keheranan mendengar perkataannya.


"Eh, tunggu-tunggu! Oh ... sekarang aku mengerti. Jadi, kamu pikir si Tuan David itu menginginkan hal macam-macam dari kamu? Cih, kamu ini jangan ke-Pede-an, Ana! Kayak gak ada cewek yang lebih berkelas saja. Mana mungkin dia mau sama seorang pelayan macam kamu ini!" cibirnya sambil tersenyum sinis mengejek.


Tiana langsung mendengus kesal dan merasa tersinggung mendengar ucapan pria itu yang seolah kini sedang meremehkan dirinya. Namun walau merasa aneh dan curiga dengan semua ini. Pada akhirnya mau tidak mau dengan sangat terpaksa ia harus menuruti perintahnya.


"Baiklah, Pak. Saya akan melaksanakan tugas itu. Kalau begitu, saya permisi."


“Hemm," jawab sang manager sambil menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Kemudian dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan, gadis itu keluar dari ruangan sang manager. Lalu sembari berjalan menuju loker untuk mengambil troli. Ia berusaha menguatkan dan memantapkan diri sebelum menuju kamar VVIP yang memang dikhususkan untuk sang pemilik hotel.


Setelah dirasa sudah siap mental seraya mendorong troli, ia mulai melangkahkan kakinya menuju sana. Begitu sampai di depan kamar itu, terlihat beberapa kali Tiana menghembuskan napas panjang untuk bisa mengontrol perasaannya yang kini serasa tak karuan itu. Lalu dengan tangan yang sedikit gemetar ia mulai mengetuk pintu.


Tok, tok, tok.


"Huff, semoga saja benar. Kalau dia tidak sedang berada di dalam kamar," batinnya dengan harap-harap cemas ia menunggu di depan pintu.


Namun, setelah sudah cukup lama ia tidak mendengar ada jawaban dari dalam kamar. Sehingga membuatnya langsung saja membuka pintu kamar tersebut.


Cekllik.


Lalu dengan perlahan ia mulai memasuki kamar itu. Dan seperti kamar hotel VVIP pada umumnya. Interior kamar tersebut terlihat begitu mewah dan mahal. Terdapat berbagai barang perlengkapan hotel ataupun furniture mewah berkualitas tinggi yang diimpor dari luar negeri memenuhi ruang kamar itu.


Namun, gadis itu sudah tidak merasa heran melihat semua pemandangan ini. Dia sudah terbiasa untuk memasuki hampir semua kamar di hotel tersebut. Mulai dari kamar yang biasa saja hingga kamar yang ekslusif yang seperti ini.


Di dalam kamar itu ia melihat, ada ranjang besar dengan ukurang king zise, sofa empuk di sudut ruangan yang menghadap ke arah jendela. Di mana dari jendela kamar itu tampaklah pemandangan indah kota Jakarta. Dan tidak lupa kamar mandinya yang juga tak kalah mewah dengan berbagai alat perlengkapannya di dalam sana.


"Oke, Fix. Mau bagaimana lagi, Tiana? Mulai sekarang kamu harus siap jika sewaktu-waktu akan terus berhadapan dengannya," batinnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


Kemudian gadis itu mulai mendekat ke arah ranjang. Ia ingin membereskan tempat tidur itu terlebih dahulu. Dan ia pun mulai terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


Namun, di tengah-tengah kesibukanya ìtu dengan tanpa terduga tiba-tiba saja ia mendengar ada yang membuka pintu.


Cekllik.


Sontak gadis itu terkesiak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Entah mengapa degup jantungnya kini berdetak sangat kencang, karena merasa ketakutan sedang menebak siapa orang yang sedang membuka pintu itu?


Dalam seketika ia menghentikan aktifitasnya terlebih dahulu. Lalu tatapan kini terus tertuju ke arah pintu.

__ADS_1


Kemudian dari balik pintu ia melihat ....


__ADS_2