
Keesokan paginya.
Rendy yang semalam lebih memilih untuk tidur di sofa itu merasa terganggu. Di saat tiba-tiba saja indra pendengarannya seperti menangkap suara ketukan pintu yang cukup keras memekakkan telinganya.
Tok-tok-tok!"
Sehingga membuat pria yang berusia 23 tahunan itu terbangun.
"Ya, tunggu sebentar!" serunya sembari bangkit dari sofa. Lelaki itu mulai berjalan mendekati pintu.
"Ih ... siapa sih? Pagi-pagi begini udah datang ke sini? Ganggu aja!" sunggutnya kesal.
Ceklik!
Begitu ia membuka pintu, ia melihat ada seorang pria yang memakai jaket kulit dan kaca mata hitam sedang berdiri tepat di depan pintu.
"Pagi, Bos!" sapa pria itu.
"Eh, kamu, Leo. Pagi-pagi udah menganggu aja!" dengus Rendy sambil ngeloyor masuk ke dalam kamar.
"Ya, Sorry, Bang Rendy! Saya hanya melaksanakan perintah dari si Big Bos David," sahut Leo yang ikut memasuki kamar.
Namun, begitu mereka sampai di dalam kamar, keduanya tampak syok dan langsung melongo melihat apa yang sedang dilakukan kedua pria tampan yang sedang tertidur di atas ranjang.
Karena semalam mereka mengobrol hingga larut malam. Akhirnya David yang sudah sangat mengantuk memilih untuk tidur 1 ranjang dengan Mike. Dan kedua lelaki tersebut kini malah sedang saling berpelukan.
David yang tidur terlentang, dengan lengan yang dijadikan bantal oleh pria yang ada di sebelahnya.
Sedangkan Mike tidur miring menghadap dan memeluk pinggangnya dengan cukup erat. Dan bahkan pria itu kini mulai mendusel di leher David. Sehingga membuat kedua pria yang sedang berdiri di depan ranjang itu semakin membelalakan mata melihatnya.
"I-itu, Bos David dan Tuan Mike--" Leo terbata sambil menunjuk ke arah ranjang tempat David dan Mike kini berada.
"Ssttt ...." Rendy langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir. Menyuruhnya untuk tetap terdiam.
Kemudian dengan seringai jahat, pemuda tampan itu ingin menjahili kedua lelaki tersebut. Dengan berjalan pelan, kedua tangannya mulai sibuk memegangi ponsel merekam kejadian itu.
Sedangkan orang yang direkamnya itu terus bergumam tak jelas dan makin memperat pelukannya. Entah apa yang sedang dimimpikan oleh keduanya, sehingga dengan tanpa sadar mereka malah berpelukan mesra seperti pasangan sesama jenis saja.
"Ih ... amit-amit deh, Bang! Ternyata gini ya, kelakuan kalian berdua," gumam Rendy sembari tertawa cekikikan menertawakan keduanya, ia masih terus sibuk merekam.
Sedangkan si Leo hanya menggelengkan kepala dan tertawa geli menyaksikan perlakuan abstrak dari ketiga pemuda itu.
Karena merasa terganggu denga suara tawa cekikikan Rendy yang hampir menyerupai tawa kuntilanak itu. Pada akhirnya membuat David mulai terbangun. Dengan perlahan ia mulai membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia, di saat ia menyadari sedang berpelukan dengan Mike.
"Astaga!" Dengan spontan David langsung mendorong tubuh Mike hingga sampai terjungkal jatuh dari ranjang.
__ADS_1
Brugh!
"Aww ... Brengsek! Siapa yang berani mendorongku tadi?" umpat Mike kesal. Pria itu langsung terbangun dan merasa kesakitan karena bokongnya membentur lantai.
"Bhahaha ...." Sontak Rendy terbahak melihatnya.
Begitu juga dengan Leo, sebenarnya ia juga ingin tertawa ngakak tapi ia tahan.
Dengan wajah yang memerah, Mike segera bangkit dan melihat ke arah ranjang. Di mana ia melihat dengan wajah tang dosa, David nyengir kuda padanya.
"Sialan! Jadi kamu yang tadi mendorongku sampai terjatuh dari ranjang?" tuduh Mike.
"Hehehe ... ya sorry, Mike! Lagian kamu ngapain tidur pakai peluk-peluk aku sagala? Ya aku reflek langsung nendang kamu gitu," jawab David membela diri.
"What?! Aku meluk kamu? Gak mungkinlah. Jangan ngarang deh, Dav," sahut Mike merasa tak percaya.
"Yey, ngapain juga aku ngarang? Kalau gak percaya tanya aja tuh sama Rendy dan ... loh, kok kamu ada di sini?" David tampak terkejut ketika melihat anak buahnya sudah berada di kamar itu.
"Iya, pagi, Bos!" jawab Loe sambil menahan tawa.
"Udah-udah gak usah ribut deh kalian!" sela Rendy yang langsung mematikan rekaman di ponselnya.
David pun menatapnya curiga. "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya sambil memicingkan sebelah mata ke arahnya.
Sehingga membuat David bertambah curiga saja padanya.
"Coba sini aku lihat hp mu!" Dengan tanpa terduga ia langsung merebut benda pipih itu dari tangan Rendy.
"Ya-ya, Bang. Jangan!" Rendy ingin merebutnya kembali.
Namun dengan cepat David langsung memberikan tatapan tajam padanya. Sehingga membuatnya terdiam.
Begitu ia membuka ponsel itu, kedua bola matanya langsung melotot kaget. "Hah, apa-apaan ini!" pekiknya yang syok ingin melempar benda itu.
Namun langsung dicegah oleh Rendy. "E-eh, jangan, Bang! itu hp ku."
"Ih, apaan sih?" sahut Mike merasa kepo ikut melihat ke arah ponsel tersebut.
Sontak pria itu juga merasa sangat terkejut dibuatnya. Kedua matanya langsung membelalak lebar dan saling melepar pandang dengan David. Lalu di detik berikutnya keduanya tampak saling menjauh dan bergidik geli.
"Ih ... amit-amit deh!" ujar keduanya berbarengan sambil mengusap seluruh tubuhnya dengan kedua tangan.
"Gila-gila kamu benar-benar minta dipecat jadi assisten, ya!" sungut David kesal.
"Ya ya ... ampun, Bang! Sini-sini, akan aku hapus sekarang," sahut Rendy berpura-pura ketakutan. Pemuda bergigi gingsul itu segera meraih ponselnya, lalu menghapus vidio tersebut.
__ADS_1
"Nih, liat! Udah aku hapus, kan?" Rendy menujukkan ponselnya ke David.
"Huh, dasar P'A!" Dengan sangat kesal pria itu menoyor kepala Rendy.
"Hahaha ... ya maaf. Lagian kalian ini lucu banget, Bang. Udah ... kaya--"
"Udah stop-stop. Jangan diteruskan lagi! Aku masih normal lagi. Kayak udah gak ada cewek aja. Masa pisang makan pisang?" sela David merasa geli sendiri membayangkannya.
"Ih, aku juga masih normal kali. Tadi aku itu lagi mimpi meluk bidadari cantik. Kenapa malàh jadi kamu yang aku peluk sih? Kalau aku sadar sih ogah! Hiii ...." sambung Mike sewot.
"Bhahaha ...." Rendy tertawa terpingkal-pingkal.
Sehingga membuat David dan Mike yang merasa kesal langsung melemparkan bantal ke arah Rendy.
"Aww ... ampun, Bang! Hahaha ...."
Ya, memang seperti itulah tingkah polah ketiga pemuda itu. Yang terkadang bisa bersikap serius dan bisa juga bersikap konyol ataupun bercanda ria seperti yang sekarang ini.
Kemudian David segera turun dari ranjang meninggalkan pemuda jail itu. Sedangkan Mike langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar mandi.
"Gimana, informasi apa saja yang telah kamu dapatkan?" tanya David ketika ia sudah terduduk di sofa yang ada di tengah ruangan.
"Jadi, begini, Bos. Setelah saya selidiki. Ternyata benar dugaan Anda, Bos. Gadis yang bernama Tiana itu sudah tidak bekerja di rumah itu lagi," jawab Leo mulai menjelaskan.
"Lalu, apakah kamu tau di mana gadis itu berada sekarang?"
Leo, menggelengkan kepalanya. "Maafkan saya, Tu-tuan! Karena saya tidak bisa melacak keberadaan gadis itu."
Brakk!
Dengan penuh emosi, David meggebrak meja yang ada di hadapannya. Sehingga membuat Rendy terjingkat kaget menoleh ke arahnya. Sedangkan lelaki yang terduduk di hadapan David menunduk ketakutan padanya.
"Dasar Bodoh! Percuma aku bayar kamu mahal. Kalau hanya untuk mencari informasi tentang gadis itu saja tidak bisa!" hardik David merasa sangat marah terhadap anak buahnya yang tidak becus dalam bekerja.
"Sabar-sabar, Bang!" sela Rendy berusaha untuk menenangkannya.
"Ma-maaf, Tuan! Ternyata informasinya yang saya dapatkan tentang gadis itu sangat terbatas, Tuan. Dan bahkan semua orang-orang yang ada di rumah itu tampak menyembunyikan sesuatu atau memang tidak tau soal gadis tersebut."
"Karena menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa pekerja yang ada di sana mengatakan bahwa gadis itu baru bekerja di rumah itu selama 3 bulan. Dan dia dibawa seseorang untuk bekerja di sana. Dan ... ternyata orang itu pun ikut pergi juga dari rumah itu, Tuan."
"Sehingga saya pun tidak bisa mengorek informasi lagi."
"Arghr ... sial sial sial! Apa tidak ada cara lain lagi agar kamu bisa menemukan gadis itu, huh?"
"Ada, Tuan. Kalau Tuan ada fotonya dengan gampang kita pasti bisa menemukannya."
__ADS_1