Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Memutuskan Untuk Pulang Kampung


__ADS_3

Di saat Tiana akan membuka pintu pagar rumah kost tempat tinggalnya itu, tiba-tiba saja Firman telah sampai di sana. Dengan segera lelaki yang terpaksa menggunakan ojol itu segera menghanpirinya.


"Tiana, tunggu!" serunya.


Gadis itu tampak terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arahnya. "Loh, Firman!" ucapnya kaget.


"Sorry, aku tadi gak bisa ngenjemput kamu di hotel. Karena tiba-tiba saja motorku malah mogok, An," terang Firman merasa tidak enak padanya.


"Oh, gitu. Gak pa pa lagi, Man. Lagi pula yang terpenting sekarang aku udah sampai rumah, 'kan? Dan, seharusnya akulah yang minta maaf sama kamu. Karena sudah merepotkanmu hingga kamu sampai bela-belain datang ke sini pula."


"Ya sebenarnya gak papa sih. Lagi pula aku gak merasa repot kok. Tapi sayang, pas aku udah mau menjemputmu tadi, eh tiba-tiba motorku malah gak bisa dinyalain. Ya udah, jadi terpaksa aku harus naik ojol. Tapi pas aku udah sampai sana, kata si security dia liat kamu udah pergi dengan mobil."


"Dan, apa benar seperti itu, An?" lanjut Firman merasa penasaran.


"Oh itu, iya tadi kebetulan aja ada orang baik yang mau ngantar aku pulang, Man."


"Si-siapa orang itu? Apa kamu mengenalnya?" Firman mulai kepo.


"Oh, bukan siapa-siapa kok, gak penting. Ya udah, ya. Aku mau masuk dulu. Sekali lagi maaf ya, karena sudah mengganggu waktu tidur kamu."


Walaupun sebenarnya di dalam hatinya, Tiana merasa sangat sedih. Tetapi sebisa mungkin ia masih berusaha untuk tetap tersenyum dan berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan orang lain.


Namun Firman masih bisa mengetahui kalau sebenarnya gadis yang ada di hadapannya ini tidak sedang baik-baik saja. Karena bila dilihat dari senyumannya itu tampak dibuat-buat ataupun dipaksakan.


Lagi pula Firman juga sudah tau watak gadis tersebut. Ya, Tiana memang selalu seperti itu. Gadis itu lebih suka memendam masalahnya sendirian. Ia tidak ingin membuat orang lain repot ataupun ikut sedih memikirkan masalahnya.


Sehingga gadis yang menurut Firman sangatlah cantik dan polos itu akan tetap tersenyum walaupun seberat apapun masalah yang dihadapinya. Sungguh Firman merasa sangat respek dan salut padanya. Hingga membuat hatinya merasa semakin jatuh hati padanya saja.


Namun, sudah hampir selama satu ini ia memendam perasaannya dan belum berani mengungkapkannya. Ia merasa belum PD dan takut ditolak. Karena jika dilihat dari sikapnya selama ini. Gadis cantik nan imut tersebut terlihat sering menghindar dari yang namanya cowok.


Terbukti sudah ada beberapa cowok yang ingin mendekatinya dengan mentah-mentah langsung ia tolak. Sehingga menbuat nyali laki-laki itu pun langsung menciut dan minder serta mengurungkan niat untuk menembaknya.

__ADS_1


Tetapi ia tetap akan berusaha mencari waktu yang tepat untuk mengunggkapkan. Dan setelahnya ia akan langsung melamar menjadi istrinya saja.


"Aduh ... Firman! Kok kamu mikirnya kejauhan sih? Belum tentu si Tiana mau sama kamu juga! Tapi ... yang namanya berharap, 'kan tidak apa-apa, ya?" Firman terus terdiam dan sibuk dengan penikirannya sendiri.


Namun ketika ia melihat Tiana membalikan badan dan akan membuka pintu pagar, lelaki itu segera mencegatnya lagi.


"Tunggu, An! Sebenarnya kamu ada apa? Kata Tari kamu tadi nangis di loker? Dan kenapa pula kamu tiba-tiba ingin pulang kampung?" Firman mulai mencercarnya dengan berbagai pertanyaan.


Sehingga membuat gadis itu langsung menghentikan gerakannya. Dan kemudian wajah sayunya pun kembali menoleh ke arah lekaki tersebut.


"O-oh itu. Aku hanya lagi kangen aja sama ibu. Jadi aku pingin pulang," jawabnya.


"Tapi, beneran kamu gak pa-pa? Kalau lagi ada masalah, ngomong ya sama aku atau sama Tari juga boleh! Jangan dipendem sendiri! Siapa tau kita nanti bisa bantu."


Tiana hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Membuat Firman hanya bisa pasrah. Karena ia sudah tau kalau gadis itu pasti cuma akan terdiam tidak mau bercerita apa-apa padanya.


Firman sudah paham betul sifatnya yang suka tertutup itu. Susah sekali membuatnya agar mau terbuka dan mau menceritakan masalahnya. Dia lebih suka memendam masalahnya sendiri. Sehingga membuatnya bingung karena tidak mengerti apa masalah yang sedang dialaminya kini.


Gadis berlesung pipi itu kembali mengangguk.


"Eh, tapi ... kamu mau berangkat pulang kampungnya jam berapa? Biar nanti aku antar ke terminalnya, ya?" tawar Firman.


"Em ... ya palingan sekitar jam delapanan, Man."


"Oh, ya udah. Nanti jam delapan aku jemput, oke?"


"Ya, oke. Sekali lagi makasih ya, Man. Karena selama ini kamu udah baik banget sama aku. Kamu selalu aja mau ngebantuin aku."


"Ya ya, cerewet. Udah kayak sama siapa aja, sih? Lagi pula kita ini, kan--" Dengan sengaja Firman mengantung ucapannya.


"Kita, 'kan apa?" sahut Tiana sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ya ya kita, 'kan teman, Tiana. Hehehe ...." Dengan tertawa cengengesan pemuda berkulit sawo matang itu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dirinya menjadi salah tingkah sendiri.


Membuat Tiana yang melihatnya pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Karena menurutnya Firman itu tampak sangat lucu di matanya.


"Ya udah, ah. aku masuk dulu ya? Mau istrahat bentar, terus siap-siap nih."


"Oke, kalau gitu aku juga mo pulang. Mau bawa motor ke rumah sakit," sahut Firman.


"Hah, ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tiana tampak kebingungan.


"Ya motornya-lah, An. Yang mau aku bawa ke rumah sakit motor alias bengkel."


"Hahaha ... oalah, kirain siapa yang sakit. Yo weslah sana-sana pulang saiki!" Sembari mengibas-ibaskan kedua tangan, gadis itu mengusirnya.


"Ya ya, bawel. Dah ... assalamu'alaikum."


"wa'alaikum salam."


Pada akhirnya Firman meninggalkan tempat itu. Sedangkan Tiana dengan wajah yang tampak murung ia langsung memasuki kamar kost. Lalu dengan perlahan ia menyeret kakinya yang terasa sangat berat dan lelah mendekat ke arah ranjang.


Kemudian dengan sangat lesu ia mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedua bola matanya menatap plapon kamarnya dengan pandangan kosong. Pikirannya pun mulai menjalar ke mana-mana.


Ia mulai berfikir tentang kejadian yang telah menimpanya tadi. Apakah laki-laki itu mengenalinya? Atau hanya karena keadaanya yang sedang mabuk saja, sehingga David tadi terus menyebut namanya.


"Lalu, bagaimana jika dia benar-benar telah mengenaliku? Apa yang akan dia lakukan terhadapku nanti? Apakah dia akan menangkapku dan langsung menjebloskanku ke penjara?"


"Atau, ah ... tidak-tidak-tidak! Sungguh aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku nanti, jika sampai laki-laki itu mengenaliku bagaimana?"


"Ya Allah, aku tidak ingin masuk penjara." Berbagai spekulasi buruk mulai bermunculan di otaknya. Sehingga membuat gadis itu merasa sangat resah dan ketakutan saja.


"Ya, aku tau. Jalan satu-satunya untuk bisa menghindarinya, aku harus segera pergi dari hotel itu untuk sementara waktu. Dan memang sangat tepat jika aku mengambil keputusan untuk pulang kampung saja terlebih dahulu. Nanti setelah 4 hari aku balik lagi ke sini pastinya, 'kan tuh orang sudah tidak ada lagi di hotel."

__ADS_1


"Ya ya ya ... memang sebaiknya seperti itu. Ah, mending sekarang aku mandi dan segera bersiap-siap untuk pulang kampung. Ayo-ayo, Tiana! Kamu harus kuat dan tetap semangat! Demi ibu, oke?"


__ADS_2