Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Ketertarikan Mike


__ADS_3

Sementara di dalam sebuah mobil, Mike yang semalam ingin berpamitan pulang, malah dicegah oleh David dan menyuruhnya untuk menginap di hotel saja. Sehingga ia pun tidak bisa menolak permintaan dari temannya itu. Pada akhirnya ia tak jadi pulang dan menginap di hotel tersebut.


Namun, dikarenakan ada keperluan di kantornya yang mengharuskan ia pergi ke luar kota pada pagi hari ini. Sehingga membuatnya harus pulang pagi-pagi sekali dari hotel tersebut.


Karena waktu sudah menunjukan pada pukul 4 pagi, dengan tergesa-gesa ia mengendarai mobil sambil melakukan panggilan telefon. Namun di tengah-tengah obrolannya itu, ponsel yang ia gunakan untuk menelfon, tiba-tiba malah terjatuh.


'Klutak!


"Ah ... sial! Pakai jatuh segala lagi," umpatnya kesal.


Sambil terus menyetir, dengan terpaksa pemuda itu harus menunduk untuk mengambil ponsel tersebut. Namun baru saja akan menunduk, tiba-tiba saja ia melihat ada seorang gadis yang berjala di tengah halaman.


Otomatis ia terkesiak kaget dan melototkan matanya ketika melihat gadis tersebut. Sehingga dengan reflek ia langsung menekan klakson dan menginjak pedal gas dengan segera.


Tak jauh berbeda dengannya, gadis itu juga sangat terkejut ketika mendengar suara klakson mobil yang menyadarkan dirinya kalau sekarang ia sedang berada di tengah halaman hotel.


Sontak Tiana berteriak histeris karena melihat ada sebuah mobil yang melaju ke arah dirinya.


"Aa ... !" Dengan reflek ia langsung berdiri mematung sambil menyilangkan kedua tangannya menghadap ke arah mobil.


'Citt ...!'


Dugg!


Untung saja pemuda itu bisa menginjak pedal rem dan dapat menghentikan mobilnya dengan tepat sebelum sampai menambrak gadis tersebut. Namun sayang, karena saking kagetnya kepala belakangnya sampai membentur senderan jok mobil.


"Aw ...." pekiknya sembari mengusap-usap belakang kepalanya yang terasa sakit.


Masih dengan detak jantung yang serasa mau copot, Mike segera turun dari mobilnya dan langsung menghampiri gadis itu.


"Nona, hati-hati bila berjalan! Apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya merasa sangat khawatir dan cemas memikirkan keadaan gadis itu.


Masih dengan keterkejutannya, Tiana terdiam membatu karena masih merasa sangat syok. Kemudian dengan perlahan ia mulai menurunkan kedua tangannya. Dan betapa terkejutnya Mike ketika melihat wajahnya itu.


"Loh, ka-kamu, 'kan ...." ucapnya merasa tak percaya melihatnya. Ternyata dengan tanpa sengaja ia malah bertemu gadis itu lagi di sini.


Dengan wajah yang sumringah, senyum manis terukir indah di bibirnya. Entah mengapa hatinya merasa sangat senang bisa berjumpa lagi dengan gadis tersebut.


Begitu juga dengan Tiana yang tak jauh berbeda dengannya. Gadis itu tampak kaget dan keheranan melihatnya. "Anda, 'kan--?"


"Ya aku, Mike. Kamu gak papa, 'kan?" sambar Mike.


Tiana menggeleng. "Saya gak papa, kok. Kalau begitu saya permisi, Tuan. Mari!"


Tiana ingin segera pergi. Namun langsung dicegat oleh Mike. "Eh, tunggu! Kamu mau ke mana? Biar aku antar ya?"


"Em ... tidak usah, Tuan. Nanti malah merepotkan Anda. Dan saya akan pulang naik ojol saja," tolak Tiana dengan sangat halus dan sopan.


"Eitt, aku tidak menerima penolakan. Ini, 'kan masih pagi-pagi banget, bahaya tau buat cewek secantik kamu pergi sendirian kayak gini. Mending aku antar kamu. Yuk, masuk ke dalam mobil."


Tanpa aba-aba lelaki itu langsung meraih tangan Tiana dan menggiringnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"E-eh ... Tu-tuan!"

__ADS_1


"Ssttt ... udah diem. Dan sekarang pokonya kamu harus nurut sama aku, ok?" ujar Mike sembari akan menutup pintu mobil.


Namun, tangan Tiana malah menahan pintu mobil itu. "Eh, tapi aku sudah pesan ojol. Dan, tuh orangnya sudah datang!"


Tiana menunjuk ke seorang ojol yang baru datang di sana.


"Ya udah, pokoknya kamu diem di sini! Biar aku yang urus ojol itu, ok?" Tanpa memperdulikan bagaimana reaksi dari Tiana, lelaki itu langsung menutup pintu mobil. Lalu dengan segera ia menghampiri pria yang berkendara motor tersebut.


"Huff ...." Tiana hanya bisa duduk pasrah di dalam mobil sambil melihat apa yang sedang dilakukan oleh pria itu terhadap sosok tukang ojol tersebut.


Setelah membayar biaya ojol yang harus dibayar oleh Tiana. Lalu pria itu bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sembari tersenyum manis ia menatap gadis yang ada di sebelahnya kini. "Udah beres, 'kan? Jadi sekarang sudah boleh jalan?"


Dengan pelan gadis tersebut hanya bisa mengangguk pasrah.


Kemudian lelaki dengan tinggi badan 180 cm itu menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya dengan perlahan.


Di dalam perjalan mereka berdua hanya terdiam karena masih merasa sangat canggung. Mau mengobrol tapi bingung mau ngomong apa. Pada akhirnya mereka berdua hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Ekhem, kamu tinggal di mana? Oh, ya nama kamu--" tanya Mike membuka percakapan untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.


"Ana, Ana mariana. Dan saya tinggal di jalan Mawar blok A, Tuan," jawab Tiana memberitahu alamat tempat kost-nya.


"Eh, iya. Jangan panggil aku Tuan dong! Kesannya aku jadi udah tua banget deh? Lagi pula kamu itu bukan pelayan kenapa harus memanggilku Tuan sih?"


"Oh ya maaf, Tu-- eh, maksud saya--"


"Mike, kamu boleh panggil aku Mike saja tanpa harus ada embel-embel Tuan, Bapak dan lain sebagainya. Mike saja ok?"


"Kalau boleh tau kamu ini bekerja di hotel itu ya?"


"Iya, saya bekerja di hotel sebagai Hk ataupun pelayan kamar, Tu -- eh, Mike maksud saya," jawab Tiana yang masih merasa sangat canggung memanggil nama lelaki tersebut.


"Oh begitu." Lelaki berkemeja hitam itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Pantas saja waktu kemarin pas kita ketemu ìtu berarti kamu habis selesai kerja dan mau pulang, ya?" lanjut Mike.


"Iya." Dengan tersenyum kecil gadis itu kembali mengangguk.


"Duh ... dia imut dan cantik banget sih, kalau sedang tersenyum. Bikin aku jadi gemes aja. Ih ... rasanya pingin aku ... ah, Mike! Kamu ini lagi mikirin apaan sih?"  batin Mike merasa kesal sendiri.


Entah mengapa hatinya bergetar tak kala melihat gadis itu sedang tersenyum manis kepadanya. Setelah gagal menikah dulu, karena ternyata kekasihnya malah ketahuan telah hamil dengan lelaki lain.


Setelah itu dirinya seolah enggan untuk kembali menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Karena ia tipikal cowok yang tidak mudah tertarik dengan sembarang orang.


Hingga pada akhirnya, walau sudah 1 tahun lamanya ia menjomblo. Namun dirinya masih betah untuk menyendiri dulu saat ini. Entah mungkin karena merasa trauma atau bisa jadi ia masih mencari sosok yang cocok untuk menggantikan mantan kekasihnya dulu.


Tetapi berbeda untuk kali ini. Lelaki berpawakan tinggi besar itu kini merasa tertarik dengan gadis cantik yang mungkin usianya masih baru sekitar 23 atau 24 tahunan ini, terlihat sangat muda, cantik dan imut di matanya.


Jika dilihat dengan usia gadis itu, mungkin gadis tersebut sangat cocok untuk dijadikan kekasih. Jarak usianya juga tak berbeda jauh dengannya. Secara ia, 'kan baru berusia 27 tahun. Jadi pantaslah jika mereka menjadi pasangan.


"Cih, makin ngawur aja deh aku mikirnya!" rutuknya membatin.


Sungguh untuk kali pertama lelaki itu merasa ketertarikan dengan seorang wanita selain dari mantan kekasihnya dulu. Dan kini ia pun berniat untuk mendekati gadis tersebut.

__ADS_1


Hingga tanpa terasa, keduanya kini telah sampai di depan sebuah rumah bertingkat dengan 3 lantai yang terlihat sederhana. Dengan halaman kecil yang dipenuhi oleh pot-pot yang berisi berbagai bunga. Rumah itu tampak sejuk dan asri.


Terlihat ada sebuah tangga di samping rumah tersebut yang menghubungkannya untuk menuju ke lantai dua. Di mana di lantai tersebutlah letak kamar kost Tiana berada.


Kini gadis itu hendak turun dari mobil. Namun sebelumnya ia pun berterimakasih kepada Mike.


"Terimakasih ya, Mik. Karena sudah mau mengantarku pulang. Dan maaf karena ini masih terlalu pagi, jadi aku tidak bisa mengajakmu untuk mampir," ujarnya.


"Iya, gak papa kok. Mungkin lain kali, 'kan masih bisa," jawab Mike.


"Kalau begitu, aku turun ya?"


Mike pun mengangguk. Lalu gadis itu segera turun dari mobil. Lalu setelah turun ia melambaikan tangannya kepadanya.


Pria itu pun mengangguk dan segera melajukan mobilnya kembali, meninggalkan gadis itu di sana.


Dengan senyum yang terus mengembang di bibir tipisnya. Hatinya pun berbunga-bunga. Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, laki-laki itu terus terbayang-bayang dengan wajah cantik gadus berlesung pipi itu.


Dirinya benar-benar merasa sangat bahagia tak kala ia bisa bertemu kembali dengan gadis yang dulu sempat menyita perhatiannya saat di hotel beberap hati yang lalu.


Ia tak pernah menyangka kalau ia akan berjumpa kembali dengan gadis cantik itu. Dan sekarang ia pun akan selalu mengingat nama gadis tersebut.


"Ana Mariana," gumamnya sambil tersenyum.


Namun, tiba-tiba ia merasa kesal. "Ah ... sial! Kenapa aku tadi tidak meminta nomer teleponnya? Dasar bodoh kamu! Kenapa tadi aku tidak kepikiran, ya?"


Sambil memukul kemudi mobil, pria itu merutuki dirinya sendiri.


***


Keesokan harinya, David masih meringkuk di atas ranjang king zise nya. Dia masih enggan untuk membuka mata dan masih terbuai dengan mimpi indahnya.


Hingga membuat Rendy menjadi kesal. Karena sedari tadi ia menunggunya bangun, tapi tak kunjung tebangun juga. Akhirnya dengan terpaksa ia mendatangi kamarnya saja.


Karena kebetulan kamar itu tidak terkunci, pria yang sudah memakai setelan jas kerjanya itu langsung menerobos masuk. Begitu memasuki kamar itu, ia pun tertegun dan mengerutkan dahi ketika melihat keadaan di dalam kamar yang berantakan seperti telah terjadi pertempuran hebat semalam.


Sambil terus mengedarkan pandannganya ke seluruh kamar. Ia perlahan mendekati ranjang kakak sepupunya itu. Lalu ia berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Ck ck ck." Ia melihat David yang masih terlelap tidur dalam keadaan polos. Hanya ada selimut saja yang menutupi separuh badan telanjangnya itu.


"Sudah dapat ku duga, pasti semalam nih orang habis ***-***. Tapi ... dengan siapa? Kan, semalam dia mabuk berat," gumamnya sembari terus menatap ke arah pria tersebut.


"Woy, Bang! Bangun, udah siang nih." Lelaki berjas coklat tua itu menepuk-nepuk pundak David berusaha untuk membangunkanya.


Namun bukannya bangun, lelaki bertelanjang dada itu malah menggeliat dan membalik badan merubah posisi tidurnya. Sehingga membuat Rendy semakin kesal saja.


"Ih, nih orang. Kalau dibangunin susah banget sih. Kan, aku penasaran, sama siapa dia semalam," gumamnya.


Tiba-tiba otak jailnya itu mempunyai sebuah ide bagaiman cara untuk membangunkanya. Dengan tersenyum tengil dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga David. Dan ia akan memulai aksinya untuk mengagetkanya.


1 2 3 ....


"Kebakaran! Kebakaran ... !" teriak Rendy di dekat kupingnya.

__ADS_1


__ADS_2