Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Hampir Saja


__ADS_3

"Tunggu!"


Deg!


Sontak jantung Tiana langsung mencelos serasa akan copot dari tempatnya. Ia benar-benar kaget dan tidak mengira kalau laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya itu kini malah mencekal tangannya.


Sehingga membuatnya mau tak mau harus menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya. "A-da apa, Tuan?" tanyanya gugup.


"Em ... bisakah kau menolongku?" tanya David sembari menatapnya lekat, ia tersenyum canggung dan secara perlahan melepas cengkraman tangannya.


Sehingga membuat gadis yang memakai masker putih itu semakin salah tingkah dan mengangguk pelan. "Bi-bisa, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?"


"Em ... tolong bantu aku mencari ponselku yang tertinggal di sini? Dan ... aku lupa menaruhnya di mana." Sembari tersenyum licik, dengan sengaja David berbohong. Karena yang sebenarnya ia tau di mana letak ponsel itu berada.


Sedangkan Tiana dengan pandangan yang menunduk, dadanya kini seolah sedang berdisco, berdetak dengan tidak karuan. Sungguh ia tak berani menatap wajah lelaki itu yang menurutnya memanglah sangat tampan. Sehingga bisa saja membuatnya terhipnotis dan terpesona olehnya.


Dan di sisi lain itu juga ia merasa takut apabila terus bertatapan dengannya, bisa saja si David malah mengenalinya nanti bagaimana?


"Ba-baik, Tuan. Saya akan membantu mencari ponsel Anda," jawabnya.


"Ok, sekarang kamu cari di sekitar kasur dan aku di sisi sana!" ujar David menunjuk ke arah samping ranjang.


"Baik, Tuan." Dengan sangat cangggung, gadis berlesung pipi itu mulai bergerak mendekati ranjang.


Sedangkan David mengikutinya dari belakang. Ia pun berpura-pura ikut mencarinya. Namun, di saat Tiana yang mulai terlihat sibuk mencari benda pipih itu di atas ranjang. Sembari melipat tangan di depan dada, lelaki bermata cokkat itu menyeringai dan hanya berdiam diri terus memperhatikanya dari belakang.


Entah mengapa hatinya merasa tertarik dan tergelitik ingin melihat wajah catik yang tertutup masker itu. Ia sangat penasaran seperti apa wajah gadis tersebut. Sehingga di dalam hati, kini otaknya sedang berpikir bagaimana cara agar bisa membuat gadis itu melepaskan masker yang menempel di wajahnya itu.


Sementara gadis itu kini celingukan dan sibuk membolak balikan selimut dan bantal. Hingga pada akhirnya ia pun menemukan benda persegi panjang berwarna hitam itu berada tepat di bawah salàh satu bantal.


Wajahnya langsung terlihat sumringah dan kedua matanya pun berbinar ketika melihat benda itu tergeletak di sana. Lalu dengan segera ia menyambar benda tersebut dan langsung membalikan badan, ingin menyerahkan ponsel itu ke pada sang empunya. Namun ....


"Nah ini, Tu-- argh ...." Sontak Tiana terjingkat kaget, tak kala melihat laki-laki itu kini berada tepat di depan wajahnya. Saking kagetnya, ia bahkan menjatuhkan benda pipih itu ke lantai.


Klutakk!


Sedangkan David malah tersenyum miring menatapnya. Sehingga membuat Tiana yang merasa sangat panik menelan salivanya dengan kasar.


Glekk!


"Tu-tuan, I-itu ponsel Anda terjatuh!" Dengan terbata Tiana menunjuk ke lantai tempat benda itu terjatuh tadi.

__ADS_1


Namun, bukanya menjawab, dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, laki-laki itu malah semakin bergerak mendekat ke arahnya. Sehingga membuat Tiana dengan reflek bergerak mundur.


Dug-dug ...!


Dug-dug ...!


Detak jantungnya kian berdetak kencang dan tak beraturan. Sungguh ia merasa terpojok dan tertekan. Raut wajahnya kini pasti terlihat sangat tegang dan juga ketakutan. Tak kala ia melihat wajah pria itu begitu dingin menatapnya.


"Ya Allah ... apa yang sedang ia lakukan? Kenapa dia terus menatapku seperti itu? A-apa-kah dia mengenaliku? Oh, tidak-tidak. Hamba mohon ya Allah, semoga saja dia tidak mengenaliku!" Dengan sangat resah dan gelisah, gadis itu terus merapalkan do'a dalam hatinya.


Pada akhinya Tiana tidak bisa bergerak lagi. Karena kakinya kini sudah membentur pinggiran ranjang.


"Tu-tuan, a-apa yang sedang Anda lakukan?" ucapnya terbata.


"Apakah sebelumnya kita pernah saling mengenal? Kenapa aku merasa seperti pernah melihatmu," ujar David yang kini semakin mendekatkan wajahnya ke arah Tiana.


Hingga membuat Tiana langsung terduduk di pinggir ranjang. Lalu dengan Reflek ia pun menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Tuan. Saya rasa Anda salah orang. Ka-karena saya baru pertama kali melihat Anda ya sekarang ini dan di hotel ini juga.


"Oh, ya. Kenapa aku merasa tidak seperti itu." Dengan kedua tangan berada di sisi kanan kiri gadis itu, David semakin membungkukan badan untuk mendekatkan wajahnya.


Membuat Tiana bertambah panik saja. Kini ia merasa kebingungan dan tidak tau harus berbuat apa.


Dengan hembusan nafas yang terasa hangat menerpa wajah Tiana. Lelaki itu kian menatapnya intens. Dan bahkan tanganya kini mulai terulur ingin meraih masker putih yang menutupi wajahnya.


Sontak membuat kedua mata Tiana langsung membelalak dengan lebar. Lalu dengan sekuat tenaga kedua tangannya berusaha mendorong dada bidang milik laki-laki itu.


"Jangan, Tuan!" pekiknya sangat panik .


Pada akhirnya ia bisa mendorong tubuh laki-laki itu hingga terjatuh ke samping. Dan dengan segera ia langsung berlari keluar dari kamar tersebut.


"Hey, tunggu! Jangan pergi!" teriak David sembari bangkit ia ingin segera mengejarnya.


Namun, tiba-tiba saja ponselnya yang tergeletak di bawa ranjang berdering dengan sangat kencang. Sehingga mau tidak mau ia harus mengangkatnya terlebih dahulu.


"Ya, Hallo!" jawabnya dengan nada sedikit membentak kesal.


"Woy, Bang! Kamu ngapain aja sih di kamar, lama banget? Ini semua orang sudah menunggumu di ruang meeting, Bang," ujar Rendy.


"Ya ya ya, bawel. Aku akan segera ke sana sekarang." Dengan penuh amarah lelaki itu segera mematikan ponselnya dan langsung membantingnya di atas kasur.


"Argh ... ! Benar-benar menjengkelkan! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa gadis itu tadi terlihat sangat ketakutan dan seolah sedang menyembunyikan suatu hal dariku. Tapi apa?" Dengan bergerak gusar sesekali ia mengusap wajah dan menyugar rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


Sungguh ia merasa sangat penasaran dan juga kebingungan dengan gadis itu.


"Sebenarnya siapa dia? Aku harus bisa menyelidikinya," gumamnya lagi. "Ah ... udahlah! Itu nanti saja. Mending sekarang aku meeting dulu."


Kemudian dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan, lelaki itu segera beranjak pergi meninggalkan kamar tersebut.


***


Sementara di sisi lain.


Dengan nafas yang tersenggal-senggal, saat ini Tiana sudah berada di ruang loker. Dia benar-benar seperti habis spot jantung dibuatnya. Jika harus seperti ini terus, bisa saja lama-lama ia menjadi jantungan beneran.


"Huff - huff!" Sembari memegangi dadanya yang kempang-kempis, gadis itu berusaha menenangkan pikirannya. Namun, tiba-tiba saja ia dibuat kaget bukan kepalang, ketika ia merasa ada yang menepuk bahunya dari belakang.


"Ana, kamu kenapa?" ucap seorang gadis yang menepuk bahunya.


Sontak Tiana membalikkan badan dan ia melihat ada dua orang gadis yang sedang berdiri mematung menatapnya dengan keheranan.


Lalu dengan wajah yang terlihat kesal ia pun berkata, "Ih ... kalian bikin kaget aku aja!"


"Lagian kamu ini kenapa sih? Kayak habis dikejar anjing aja. Sampai ngos-ngosan kek bagitu. Hayo ... kamu habis ngapain tadi?" Gadis bernama Utari itu malah cengengesan meledeknya.


"Iya, aku habis dikejar anjing. Dan anjingnya itu kamu," jawab Tiana sewot.


"Enak, aja ngatain aku anjing," sungut Tari merasa kesal.


"Udah-udah, kok malah berantem sih!" sela Elis menengahi keduanya. "Sebenarnya kamu ini teh kunaon? Kulihat tadi kamu lari terbirit-birit masuk ke dalam sini. Ada apaan sih?"


"Oh, enggak. Aku tadi ... cuma lagi mules pingin ke toilet. Jadi ya terbirit-birit gitu," sanggah Tiana beralasan.


"Oh, gitu. Kirain aku ada apa. La terus 'naha' gitu masih di sini. Kenapa gak langsung ke toilet saja sekarang?"


Gadis yang seumuran dengan Tiana itu memang berasal dari kota Bandung. Sehingga logat bahasanya pun terkadang masih tercampur-campur dengan bahasa sunda. Namun Tiana dan Utari yang berasal dari Jawa Tengah, yaitu Semarang dan Cirebonan itu sudah terbiasa dan bisa mengerti artinya.


"Hehehe ... iya ya. Kalau begitu aku mo ke toilet dulu ya. Udah kebelet nih!" Seraya memegangi perut, gadis berlesung pipi itu langsung ngacir pergi ke toilet.


Sehingga membuat kedua temannya itu hanya nenggelengkan kepala melihatnya.


Begitu berada di dalam toilet. Gadis itu kini terduduk di closet yang tertutup.


"Ya Tuhan. Kenapa malah jadi seperti ini? Kenapa si David itu seperti telah mengenaliku? Terus sekarang aku harus bagaimana, Tuhan?" Batinya kini merasa bertambah resah.

__ADS_1


__ADS_2