
Keesokan harinya.
Dengan rasa kantuk dan lelah yang luar biasa, perlahan Tiana mulai terbangun. Di antara setengah sadar ia merasa seperti habis mimpi bercinta dengan seorang pria yang sangat tampan, menawan dan gagah perkasa di atas ranjang. Sehingga membuat tubuhnya merasa sangat kelelahan.
"Tetapi, kenapa seperti nyata, ya? Dan kenapa pula badanku ini terasa sakit semua?" ujarnya membatin.
Pelan-pelan gadis itu membuka mata dan mulai menngedarkan pandangannya ke sekitar. Dan betapa tekejutnya ia, ketika menyadari bahwa ia tidak berada di kamar yang biasanya ia tempati.
"Di mana aku?" gumamnya merasa kebingungan. Ia masih belum menyadari apa yang tengah terjadi padanya semalam.
Lalu di detik berikutnya, ia merasa semakin syok.
'Degg!'
Seketika itu ia membelalakan matanya ketika merasa ada sebuah tangan kekar yang sedang memeluk pinggangnya dari belakang.
Dengan dada yang bergemuruh, badannya kini serasa membeku dan tidak bisa digerakan. Lalu dengan tangan yang bergetar ia mulai menyibak selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Dan ....
"Huh!" Sontak ia membekap mulutnya dengan kedua tangan. Sungguh dirinya benar-benar merasa sangat syok ketika mendapati dirinya kini dalam keadaan telanjang bulat tanpa ada sehelai benang yang menempel di tubuhnya.
"A-apa yang terjadi semalam? Jangan-jangan ... tidak-tidak tidak!" Seketika itu Tiana menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak percaya.
Kemudian dengan nafas yang memburu, Tiana mulai menoleh ke arah belakang. Dan ia merasa semakin syok saja, di saat melihat David yang dalam keadaan polos sama sepertinya itu sedang tertidur pulas di sana.
Kini dirinya baru menyadari apa yang telah dialaminya tadi bukanlah mimpi belaka. Melainkan sebuah kenyataan kalau ia benar-benar telah melewati malam panas bersama laki-laki yang ada di belakangnya ini.
Perlahan bulir-bulir bening seperti kristal mulai menganak sungai mengalir deras di kedua pipinya. Dengan samar-samar sekelebat bayangan peristiwa semalam mulai berseliweran di ingatannya. Di mana dengan setengah sadar ia masih bisa merasakan bagaimana bringasnya lelaki itu menggagahinya.
Namun ia tidak bisa melawannya karena pengaruh obat tidur yang diminumnya membuatnya tidak berdaya untuk melakukan perlawanan. Sehingga pada akhirnya hilang sudah mahkotanya. Dan yang tersisa adalah penyesalan.
"Ya Allah, apa yang telah terjadi denganku? Kenapa semuanya jadi seperti ini ya, Allah! Hiks ... hiks!" Dengan tubuh yang bergetar hebat, gadis itu mulai menangis meratapi peristiwa semalam.
"Dasar bodoh kamu, Tiana! Kenapa kamu ceroboh banget! Sehingga malah kamu sendiri yang meminum minuman itu, huh!" Dengan merasa frustasi Tiana menarik dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sungguh ia benar-benar merasa sangat bodoh dan sangat hancur sehancuh hancurnya. Bagamana tidak? Kehormatannya yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hatinya, kini telah hilang direnggut oleh suami palsunya ini.
"Terus, sekarang aku harus bagaimana ya, Allah?" Pikirannya kini menjadi sangat kalut tidak karuan. Apa yang ia takutkan benar-benar telah terjadi menimpanya.
__ADS_1
Deg!
Sesaat kemudian ia teringat dengan Nyonya Nadia. Di mana si wanita paruh baya itu pasti kini sedang menunggunya di kamar sebelah. Dengan segera ia menghentikan tangisnya dan ingin beranjak pergi dari tempat ini.
Lalu dengan sangat hati-hati gadis itu menyingkirkan tangan David dari tubuhnya. Dan ia bergerak pelan untuk turun dari ranjang.
"Aww ...." Namun baru saja kakinya menapak di lantai, ia merasakan nyeri dan perih di bagian intinya. "Aduh, sungguh ini sakit banget!" keluhnya membatin.
Sambil menahan kesakitan, dalam keadaan yang masih polos hanya ditutupi oleh selimut, gadis itu memungut pakaiannya yang berceceran di lantai. Lalu segera memakainya kembali.
Sekilas ia menatap nanar laki-laki yang masih tertidur pulas itu. Ingin sekali ia meneriaki dan mengamuk kepada pria itu. Namun tidak mungkin. Karena jika sampai pria tersebut terbangun dan melihat wajahnya yang sesungguhnya bisa-bisa ini sangat berbahaya untuknya.
Degg!
Dengan tertegun Tiana langsung memegangi wajahnya. Dan ia baru menyadari kalau wajahnya kini sudah tidak tertutup masker lagi.
"Hah, gawat! Apakah semalam dia sudah melihat wajahku?" Lalu bagaimana ini?" batinnya gusar.
"Ah ... bodo amat. Sekarang aku harus segera pergi dari sini. Sebelum kepergok olehnya nanti."
Setelahnya tanpa berpikir panjang lagi, ia begegas pergi meninggalkan kamar tersebut. Begitu ia keluar dari kamar, tiba-tiba saja ada seorang wanita cantik yang langsung menghapirinya.
"Tiana!" panggilnya.
Sontak gadis yang masih memakai kebaya pengantin yang semalam itu menoleh ke arah sumber suara.
Lalu dengan tergesa-gesa wanita itu segera menyeret tangan Tiana untuk masuk ke sebuah kamar yang jaraknya tidak jauh dari kamar tersebut.
Setelah berada di dalam kamar, dengan sangat geram wanita tadi langsung mendorong kasar tubuh Tiana. Hingga membuatnya kini jatuh duduk tersungkur di lantai.
Brugg!
"Aww ...." pekiknya merasa kesakitan. Karena bokongnya dengan cukup keras telah membentur lantai keramik kamar tesebut.
Lalu dengan mengernyitkan dahi, gadis berlesung pipi itu menatap wanita itu dengan keheranan. "No-non Kania!" cicitnya.
"Iya, kenapa kamu kaget, melihat aku ada di sini?" sahutnya. Dengan tatapan jijik, gadis itu tertawa sinis padanya.
__ADS_1
"Aduh, Sayang. Jangan kasar-kasar gitu dong!" sambar Nadia. Ternyata wanita paruh naya itu sedang duduk di sebuah sofa panjang yang ada di kamar tersebut.
Nadia bangkit dari tempat duuknya, kemudian segera membatun Tiana untuk berdiri. Sedangkan Kania, dengan melipat tangan ia merotasikan bola matanya dengan malas.
"Gimana, Tiana? Apakah semua baik-baik saja? Kenapa kamu baru keluar sekarang? Semua berjalan dengan lancar, bukan? tanya Nadia. Dengan sangat penasaran terus mengintrogasinya..
Glek!
Gadis itu menelan ludahnya kasar. Lagi-lagi entah untuk yang ke berapa kalinya ia merasa sangat kebingungan, panik dan juga ketakutan.
"Woy, kalau ditanya jawab dong! Jangan diam saja!" bentak Kania sewot. Gadis berambut pirang itu merasa sangat kesal dengan Tiana. Karena gara-gara menunggu dia keluar dari kamar. Semalam suntuk ia tidak bisa tertidur.
"Sabar dong, Kania!" sela Harun yang ikut menyabar ucapan putrinya itu.
"Berikan waktu Tiana untuk beristirahat dulu. Semalam pasti kamu merasa sangat kelelahan dan juga ketakutan, ya?" Lelaki itu bergerak ikut mendekatinya.
Tiana menggangguk pelan. Ingin sekali ia menangis lagi. Jika mengingat kejadian semalam. Namun, ia tahan.
"Ya sudah, sebaiknya biarkan dia untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Agar dia bisa merasa jadi lebih tenang. Dan setelahnya baru kamu bisa menjelaskan kepada kami apa saja yang telah terjadi dengannya semalam, ok?" tukas Harun. Membuat semua orang hanya terdiam patuh.
Kemudian dengan sedikit kesusahan ia menahan sakit di ************. Namun Tiana berusa untuk berjalan dengan normal. ia tidak ingin kalau semua majikannya itu mengetahui kalau ia sebenarnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Karena jika sang majikannya itu tau, kalau dirinya semalam telah melakukan malam pengantin dengan David. Entah semarah apa mereka kepadanya nanti. Yang ada bisa saja semua orang itu langsung memarahinya habis-habisnya. Dan sudah tentu langsung menyalahkannya.
Padahal ia juga tidak mau itu terjadi. Karena walau bagaimanapun juga dirinya hanyalah seorang wanita pengganti yang hanya berpura-pura menjadi istri palsunya saja. Jadi, seharusnya mereka berdua jangan sampai melakukan hal tersebut.
Tapi apa hendak dikata? Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlambat untuk mencegahnya. Kini dirinya hanya akan diam dan tidak akan mengatakan kepada siapa pun juga. Cukup dirinya dan laki-laki itu saja yang tau, apa yang telah mereka lakukan semalam.
Namun, apakah laki-laki itu akan menyadari kalau wanita yang semalam bersamanya adalah bukan istrinya yang sesungguhnya? Kalau itu benar terjadi, kira-kira apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya?
"Ah ... entahlah. Kenapa semuanya menjadi serumit ini, Tuhan?" keluh Tiana membatin.
Kemudia dengan sangat pelan gadis itu mulai berjalan menuju ke kamar mandi. Kania yang sedang terus memperhatikannya merasa sedikit aneh dan langsung curiga padanya.
"Tunggu, Tiana? Kenapa kamu jalannya seperti itu?"
Degg!
__ADS_1