Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Teringat Masa Lalu


__ADS_3

Di dalam sebuah ruang, terlihat pria berjas biru dongker itu sedang duduk bersenden di kursi kebesarannya. Pria berusia 27 tahun itu tampak sedang melamun membayangkan sosok gadis yang tengah menyita perhatiannya tadi pagi.


Bibirnya terus tersungging tak kala ia teringat betapa indahnya kedua bola mata bening milik gadis yang telah menabraknya tadi. Entah mengapa hatinya selalu bergetar ketika mengingatnya.


Sehingga membuat hatinya bertanya, "Perasaaan apa ini? Kenapa dadaku berdebar seperti ini?" gumamnya sembari menempelkan sebelah tangannya di dada.


Namun ini bukan kali pertama ia merasa seperti ini. Seketika itu ia jadi teringat dengan seorang gadis yang dulu pernah membuatnya persis seperti ini. Dan sosok gadis itu adalah Tiana si pengantin palsunya yang mungkin hingga saat ini masih terus ia cari keberadaannya kini.


"Tiana, di mana kau berada kini? Kau bagaikan hilang ditelan bumi saja, sehingga aku pun begitu sulit untuk bisa menemukanmu."


"Argh ... dasar brengsek!" Dengan kasar pria itu menyugar dan mengacak-acak rambutnta sendiri.


"Kenapa aku selalu saja mengingatnya? Sungguh gadis itu telah membuatku seperti orang gila, hingga hampir di setiap malam aku selalu mimpi bercinta denganya. Dan bahkan tiap kali aku sedang berhubungan dengan orang lain saja yang ada di pikiranku ini selalu membayangkan sosoknya," dengusnya lagi.


Tiba-tiba saja lelaki itu merasa kesal sendiri. Karena ia merasa seperti telah terhipnotis oleh sosok gadis yang pernah ia ambil keperawanannya dulu. Di mana semenjak kejadian malam itu, dirinya seolah tak ada gairah lagi terhadap wanita lain.


Bahkan Kania sekalipun yang merupakan istri sahnya itu saja tak mampu membuatnya bergairah untuk menyentuhnya. Padahal wanita itu begitu cantik dan seksi di mata orang lain. Namun baginya dia hanya biasa saja tidak semenarik gadis itu.


"Oh ... shitt! Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan diriku ini? Kenapa aku seperti sudah ketagihan dan tergila-gila dengan gadis itu?"


"Oh ... tidak-tidak! Mungkin karena aku terlalu mendendam dan sangat marah dengannya. Sehingga secara otomatis aku selalu mengingatnya. Hingga secara tidak sadar menimbulkan rasa itu."


"Tapi ... kenapa di saat aku menatap mata itu, kok aku merasakan hal yang sama seperti saat aku melihat mata Tiana dulu. Namun ... jelas sekali mata itu jauh berbeda." gumannya merasa kebingungan sendiri sedang membandingkan kedua gadis yang berbeda. Padahal yang sebenarnya adalah gadis yang sama.


Dengan samar ia masih bisa mengingat, di mana saat itu Tiana yang menggunakan softlen berwarna kecoklatan dan juga rambut yang dicat pirang menyerupai milik Kania asli. Sedangkan sekarang rambut dan juga bola mata milik gadis tadi berwana hitam pekat. Sehingga membuat orang lain pasti mengira kalau gadis itu adalah dua sosok orang yang berbeda.


Begitu juga dengan David. Pria berambut belah samping itu sedang merasa kebingungan. Di anatara rasa marah karena tidak terima merasa telah dipermainkan olehnya sehingga membuatnya ingin memberinya pelajaran ataupun membajas dendam padanya.


Namun, di sisi lain ia sangat ingin berjumpa dengannya lagi. Dan entah apa yang akan ia lakukan padanya, apabila ia bisa menemukannya nanti. Tetapi yang jelas setelah ia bisa menemukanya ia tak akan membiarkan gadis itu lepas lagi darinya.


Sembari mengepalkan kedua tangan, rahangnya terlihat mengeras dan sorot matanya menjadi tajam dan begitu menakutkan. Sungguh ia merasa sangat emosi jika mengingat hingga saat ini belum bisa menemukan gadis itu.


Tok- tok -tok!


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya terkesiap kaget dan membuyarkan lamunannya.


"Ya masuk!" serunya.


Klikk!


Kemudian dari balik pintu, ia melihat sosok pemuda tengil yang selama ini selalu ada bersamanya.


"Gimana?" tanyanya to the point.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Bang! Semua sudah beres. Sekarang pak menejer sudah menyuruh gadis itu untuk membersihkannya kamarmu itu, Bang," jawab Rendy. Sembari berjalan mendekat ke arahnya, pemuda itu tampak tersenyum tengil mengodanya.


"Good job. Kamu memang selalu bisa aku andalkan," pujinya.


"So pasti dong, Bang. Sa-ya!" sahut Rendy sambil cengengesan bebangga diri.


Sehingga membuat David memutar bola matanya malas dan merasa cukup menyesal karena telah memuji cowok narsis ìtu.


"Berarti cewek itu sekarang sedang ada di kamarku?" tanya David.


"Iya, Bang. Cewek itu pasti sekarang sedang beberes di kamar itu," jawab Rendy lagi.


"Hahaha ... bagus." Sembari tersenyum menyeringai lelaki itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Eh, iya aku baru ingat kalau ponselku tetinggal di kamar, Ren." Tiba-tiba saja lelaki berbadan atletis itu bangkit dari tempat duduknya. Dan ia ingin segera pergi ke kamar untuk mengambil ponsel.


Sontak Rendy langsung mendengus kesal. "Cih, bilang saja kalau kau ingin menemui gadis itu, Bang! Tidak usah berpura-pura pakai alasan ponsel tertinggal di kamar segala," cibirnya.


"Hahaha," David kembali tertawa. "Lah, emang benar kok, ponselku ketinggalan di kamar. Ya udah, aku mau mengambilnya dulu sekarang." Entah mengapa laki-laki itu terlihat begitu antusias ingin segera menemui gadis tersebut.


"Ya ya ya, tapi jangan lama-lama, Bang! Karena sebentar lagi kita ada meeting loh," sahut Rendy.


"Iya, kamu tenang saja. Aku gak bakalan lama kok," jawab David.


Kemudian lelaki itu segera keluar dari ruangan ìtu. Setelahnya ia pun berjalan menuju lift dan bergegas ingin pergi ke kamarnya yang terletak di lantai 15. Sementara dirinya kini ada di lantai 10, sehingga ia pun harus menaiki lift terlebih dahulu untuk menuju ke sana.


Setelah beberapa menit kemudian pintu lift pun terbuka. Lalu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Wajah lelaki tampan itu terlihat begitu sumringah. Dengan dada yang berdebar-debar, ia merasa tidak sabar ingin segera menemui gadis itu. Kedua kaki kokohnya kini mulai melangkah menuju ke sebuah kamar di mana gadis itu berada.


***


Sementara di dalam kamar.


Terlihat seorang gadis berseragam OB ataupun pelayan hotel itu sedang sibuk mulai melakukan pekerjaannya. Gadis itu berkerja sebagai Housekeeping di bagian 'Room Section'.


Di mana tugas seksi ini adalah membersihkan dan merapikan ruangan atau kamar setiap hari ataupun setelah tamu check out. Mengumpulkan laundry yang kotor dan mengantarkannya ke ruang laundry, mengganti sprei dan selimut, membersihkan debu, hingga membersihkan kamar mandi.


Seksi ini adalah salah satu yang paling disorot kinerjanya. Kamar yang rapi dan nyaman pasti meningkatkan kepuasan menginap. Sebaliknya, jika ada saja kekurangan yang ditemukan oleh tamu pada kebersihan dan kerapian kamarnya, tingkat kepuasan tamu juga akan berkurang.


Terlebih lagi ini adalah kamar dari sang owner hotel, ia harus lebih teliti dan harus lebih baik lagi kerjanya agar bisa membuat pria itu merasa puas dan tidak mengecewakannya sang meneger nantinya.


Walau pun hatinya kini sedang merasa tak tenang, ia berusaha untuk berpikiran positif dan sebisa mungkin tetap bekerja dengan baik.


Entah mengapa ketika memasuki kamar tersebut, ia malah jadi teringat peristiwa pada malam itu. Di mana sekitar dua tahunan yang lalu, di kamar yang sama persis seperti inilah dirinya harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupnya.

__ADS_1


Yaitu kesuciannya yang tanpa sadar malah telah direnggut oleh lelaki yang tak seharusnya. Dan laki-laki itu adalah pemilik kamar yang sedang ia bersihkan sekarang ini.


"Huff!" Dengan sangat berat, Tiana menghela nafas panjang. Sungguh ia merasa sedih dan juga sangat menyesal jika mengingatnya.


Andai saja waktu bisa diputar kembali, mungkin ia akan memilih untuk menolak perintah majikannya dulu. Sehingga mungkin saja semua itu tidak akan terjadi padanya.


Tetapi, apa hendak dikata? Semua sudah terlambat, Nasi sudah menjadi bubur dan tidak mungkin untuk bisa menjadi nasi kembali. Dan ia hanya bisa pasrah, menyesal dan berusaha untuk bisa menerimanya dengan penuh keikhlasan.


Kemudian gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, tiba-tiba saja ia mendengar ada yang membuka pintu kamar.


Cekllik.


Sontak gadis itu terkesiak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Entah mengapa degup jantungnya kini berdetak sangat kencang, karena merasa ketakutan sedang menebak siapa orang yang sedang membuka pintu itu?


Dalam seketika ia menghentikan aktifitasnya terlebih dahulu. Lalu tatapan kini terus tertuju ke arah pintu.


Kemudian dari balik pintu ia melihat sosok laki-laki tampan yang sedang membuka pintu.


Deg!


"Hah, Tu-tuan David. Duh ... bagaimana ini, kenapa dia malah masuk ke sini, sih?" batinya resah.


Seketika itu kedua matanya langsung terbelalak lebar sangat syok melihat David yang sedang berjalan mendekat ķe arahnya.


Sedangkan lelaki tampan itu malah terdiam dan tersenyum menyeringai menatapnya dengan tatapan penuh arti padanya. Sehingga membuat Tiana langsung berdiri mematung. Kini badanya serasa kaku dan tidak bisa untuk digerakkan.


Glekk!


Lalu dengan susah payah ia menelan salivanya dengan kasar. Sungguh ia merasa sangat tegang dan juga ketakutan padanya.


Kemudian sebisa mungkin Tiana berusaha untuk tetap terlihat bersikap biasa saja.


"M-maaf, Tuan. Jika sa-saya telah lancang berada di sini, karena sa-ya--" Belum sempat Tiana menyelesaian ucapannya. Terlebih dahulu David langsung menyelanya.


"Iya, aku sudah tau. Karena akulah yang memintamu untuk membersihkan kamar ini. Jadi, jangan sungkan, abaikan saja aku! Dan kau bisa tetap melanjutkan kembali pekerjaanmu itu!"


"Ta-tapi, sebaik saya akan keluar terlebih dahulu. Dan saya akan segera kembali setelah Anda sudah menyelesaikan urusannya di sini!" jawab Tiana sambil terus menundukkan wajah.


Lalu dengan sangat gugup ia mulai melangkah ingin segera meninggalkan kamar itu. Namun, di saat ia akan melewatinya, tiba-tiba saja lelaki itu malah meraih lengannya dan berkata.


"Tunggu!"


Deg!

__ADS_1


Sontak jantung Tiana langsung mencelos serasa akan copot dari tempatnya.


Lalu ....


__ADS_2