
"Hah, Tiana?! Oh, jadi nama gadis itu adalah Tiana. Hem ... cantik juga namanya, sama seperti orangnya." Tanpa sadar lelaki tampan berambut klimis itu tersenyum tipis membayangkan betapa cantiknya wajah gadis yang telah ia ambil keperawanannya beberapa hari yang lalu.
Namun berbeda detik kemudian David langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya. "Cih, kenapa aku malah kayak orang gila begini sih? Mana senyum-senyum sendiri lagi," gumamnya.
"Ok, sekarang aku udah tau siapa nama cewek itu. Dan mulai sekarang, TIANA nama itu akan selalu kuingat sampai kapanpun juga! Hingga akhirnya aku bisa menemukanmu nanti, nama itu akan kusimpan di dalam ingatanku ini! " batin David menyeringai.
Kemudian lelaki itu kembami fokus menatap gadis yang dalam setengah sadar itu sedang cekikikan tidak karuan di atas ranjang. Lalu ia pun ingin melanjutkannya introgasinya lagi.
"Oh, jadi ... gadis itu namanya Tiana? Lalu dia mana dia sekarang?" tanya David lagi.
"Hahaha ... gadis itu -- sekarang sudah pergi ja-uh entah ke mana, aku pun tidak tau. Hehehe ...." jawab Kania sembari mengangkat tangannya ke depan, ia terus cekikikan.
"Argh ... sial-sial-sial! Ternyata aku sudah terlambat. Terus aku harus mencari dia ke mana sekarang?" batin David mulai resah.
"Tunggu tunggu tunggu! Aku harus segera menanyakan ini pada si Leo." Lelaki yang masih memakai jas lengkap itu bangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia pun segera menghubungi anak buahnya yang sengaja ia kirim untuk memantau ataupun memata-matai rumah mertuanya alias rumahnya Kania.
Lalu, dengan wajah yang tampak gelisah lelaki itu kini sedang berjalan mondar mandir di samping ranjang, sembari menunggu panggilan teleponnya diangkat.
Tak lama terdengar suara seorang laki-laki dari seberang gawainya. "Hallo, Bos!"
"Lama banget sih kamu angkatnya! Lagi ngapain aja sih, kamu!" bentak David kesal.
"M-maaf, Bos. Sa-saya tadi ketiduran," jawab Leo si anak buah itu tampak ketakutan.
"Apaa?! Ketiduran? Dasar bodoh! Aku bayar kamu mahal itu buat ngawasin rumah itu, tolol! Bukan buat molor!" Teriak David terlihat mulai emosi pada anak buahnya itu.
"I-ya, Maaf, Bos."
"Maaf-maaf! Sudah-sudah lupakan! Sekarang kamu jawab, apakah beberapa hari yang lalu ada hal yang mencurigakan?" tanya David.
Leo terdiam, ia tampak sedang berfikir dan berusaha mengingat-ingat kejadian apa saja yang telah ia liat selama mengawasi rumah mewah itu.
__ADS_1
"Hey, Bodoh! Kenapa malah diam saja?" David semakin merasa geram saja padanya.
"Oh, iya saya ingat, Bos. Kemarin malam saya melihat ada dua buah mobil yang keluar dari rumah itu secara berurutan. Namun, dua mobil tersebut perginya berlawanan arah, Bos. Sehingga saya pun menjadi kebingungan mau membuntuti mobil yang mana."
"Terus!"
"Akhirnya saya mengikuti mobil yang dikendarai oleh Nyonya Nadia. Dan ... ternyata beliau pergi ke sebuah restauran untuk menemui ibu Anda, Tuan. Eh, maksud saya ibu tiri Anda, Tuan," terang Leo menjelaskan dengan panjang lebar.
"Oh ... jadi ini ada sangkut pautnya sama si perempuan licik itu? Dasar wanita tak tau diri! Sebenarnya apa maunya?" gerutu David terus mengumpat dan merutuki ibu tirinya yang bernama Siska.
"Lalu, bagaimana dengan mobil yang satunya lagi? Apakah kamu tau siapa saja yang berada di mobil itu?" lanjut David.
"Em ... maafkan saya, Tuan. Sa-saya tidak tau."
"Argh ... dasar brengsek! Begitu saja tidak becus!" umpat David lagi terus memarahi anak buahnya.
"Pokoknya aku gak mau tau. Kamu besok harus cari infomasi tentang gadis yang benama Tiana. Cari sampai dapat, Mengerti!" bentaknya lagi.
"TIANA! Kamu harus ingat namanya Ti-a-na. Mengerti!"
"Iya, baik saya akan mengingatnya, Bos."
"Ya, sudah!"
Klikk!
Tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya lagi, dengan sangat kesal David langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Lalu ia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Argh ... kenapa susah banget sih, buat bisa menemukan gadis itu! Oke-oke, Tiana Tiana Tiana. Aku gak akan tinggal diam begitu saja. Lihatlah sampai kapanpun juga aku akan tetap mencarimu. Hingga ke ujung dunia sekalian, akan tetap kucari," tekadnya penuh dengan keyakinan dan juga dendam membara di hatinya.
"Sayang!"
__ADS_1
David terlonjak kaget, karena tiba-tiba saja Kania malah memeluknya mesra dari belakang. Lalu pria itu membalikan badan ke arahnya. Dan betapa terkejutnya ia di saat melihat keadaan gadis itu yang kini sudah dalam keadaan setengah telanjang.
Lelaki itu tidak menyadari entah kapan gadis itu mempreteli pakaiannya sendiri. Hingga akhirnya tinggal ********** saja yang masih menempel di tubuh ramping, putih dan mulusnya ìtu.
"Gila, ni cewek mau ngapain?" batinnya merasa cukup kaget sambil menelan salivanya dengan kasar memandang pemandangan indah yang ada di depan matanya ini.
Sebagai lelaki normal, siapa sih yang tidak akan tergoda dengan kemolekan tubuh Kania? Siapa saja pasti akan ngiler dan ingin menikmati keindahan tubuh itu. Termasuk juga dengan dirinya, yang kini tengah tersenyum menyeringai sembari memeluk pingangg ramping milik gadis tersebut.
"Sayang ... aku sangat mengunginkanmu. Kenapa setelah kita menikah, kamu malah tidak pernah mau menyentuhku, hah?" ucap Kania. Dengan begitu manja dan intens, gadis mabuk itu mengaitkan kedua rangannya di leher beton suaminya.
"Hem ... bagaimana aku mau menyentuhmu? Sedangkan yang ada di dalam pikiranku saja cuma ada gadis itu, yaitu Tiana," batin David hanya terdiam terus menatap gadis yang ada di hadapannya itu.
Ya, semenjak kejadian malam ìtu. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah Tiana. Entah mengapa ia merasa tertarik, tertantang dan juga merasa sangat penasaran dengan gadis ìtu. Sehingga membuat lelaki itu seolah sudah tidak tertarik dengan gadis yang lainnya lagi.
Begitu juga dengan Kania. Kini lelaki itu memandangnya dengan biasa saja. Ia merasa tidak ada hal yang spesial dari gadis tersebut. Karena nenurutnya Kania itu sama saja dengan gadis yang lainnya yang hanya akan memandangnya dari ketampanan wajahnya dan kekayaannya saja.
"Lalu bagaimana dengan Tiana? Apakah dia juga memandangku dengan cara yang seperti itu? Ah ... entahkah aku pun tidak tau."
"Tetapi yang jelas, baru kali ini aku merasa sangat tertantang dengan seorang gadis. Yaitu Tiana si pengantin palsuku. Tunggulah, Tiana! Suatu saat nanti aku pasti akan menemukanmu!"
"Dan setelah aku bisa menemukanmu nanti, maka bersiaplah menerima hukuman dariku, Tiana! Hahaha .... "
Cupp!
Kedua bola mata David langsung melotot kaget. Tak kalah di tengah-tengah keasyikannya sedang memikirkan gadis itu. Lagi-lagi ia dikagetkan dengan serangan dadakan dari istrinya ini.
"Mmhgt ...." Kini Kania sedang menyerang bibirnya dengan sangat bringas dan rakus.
Sehingga David yang tidak siap, hampir tak sanggup menahan berat tubuh keduanya. Lalu dengan sempoyongan kedua orang itu berjalan mendekat ke arah ranjang.
Dan ....
__ADS_1
Bruggh!