
Beberapa jam kemudian dengan rasa kantuk dan lelah yang luar biasa, perlahan Tiana mulai terbangun. Di antara setengah sadar ia merasa seperti habis mimpi bercinta atau lebih tepatnya diperkosa oleh laki-laki brengsek yang pernah mengambil mahkotanya dulu.
"Tetapi kenapa ini seperti nyata, ya? Dan badanku juga terasa sakit semua sama seperti malam itu?" ujarnya membatin.
Sesaat kemudian ia mulai tersadar.
'Degg!'
Sontak kedua bola matanya langsung melebar merasa sangat syok ketika ia mendapati ada tangan kekar yang sedang memeluk pinggangnya dari belakang. Sungguh ia merasa seperti dejavu saja. Semua terasa sama persis seperti waktu itu.
Seketika itu badanya kini serasa beku tidak bisa digerakan. Dan ia menyadari, kalau semua ini bukanlah mimpi. Melainkan sebuah kenyataan bahwa dirinya kembali telah menghabiskan satu malam bersama laki-laki yang sama dengan malam itu. Dan laki-laki itu adalah David yang kini tengah memeluknya dari belakang.
Bulir-bulir bening seperti kristal mulai menggenang di pelupuk matanya. Dan ia mulai terisak dalam tangis.
"Hiks ... hiks ... tidak-tidak! Ini tidak mungkin." Sambil membekap mulutnya dengan sebelah tangan, gadis itu menggelengkan kepala merasa tidak percaya. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi belaka.
Namun, semua ini nyata. Dan ia tidak bisa menyanggahnya.
"Argh ... dasar bodoh kamu, Tiana! Kenapa kamu tidak bisa menolak dan melawannya. Dasar Bodoh- bodoh- bodoh ...." Ia merutuki dirinya sendiri sambil memukuli bantal.
"Dan kamu malah ikut terbuai dalam permainanya tadi. Ya Allah ... maafkanlah aku, kenapa ini terjadi lagi denganku dan dengan laki-laki yang sama pula, Tuhan," ucapnya membatin.
Perlahan ia menyingkirkan tangan itu dari tubuhnya. Lalu ia bergerak pelan turun dari ranjang dalam keadaan polos hanya ditutupi oleh selimut. Namun, ketika kakinya baru saja menapak di lantai, ia merasa kesakitan di bagian bawah-nya.
"Aww ...." pekiknya menahan perih dan sakit yang luar biasa di bagian intinya. "Ya Allah ... kenapa sakit begini?" batinya iagi.
Kemudia Ia bergerak pelan dan menoleh ke arah David yang dengan pulasnya masih tertidur di atas ranjang.
Ingin sekali rasanya ia mencekik atau bahkan membunuh laki-laki itu jika perlu. Namun, ia sadar bahwa dirinya tidak seberani dan senekad itu. Sehingga ia pun mengurungkan niatnya.
Lalu dengan tergesa-gesa ia memunguti pakainya yang sudah robek tadi dan langsung memakainya dengan asal. Ia berpikir untuk segera kabur dari sana sebelum pria itu terbangun dan bisa mengenali dirinya nanti. Setelah itu ia pun keluar dari kamar tersebut.
Sebelum ada orang lain yang melihat dirinya keluar dari kamar itu dalam keadan bajunya yang telah koyak. Dengan buru-buru ia berjalan menuju loker. Dan untung saja tempat itu dalam keadaaan kosong. Sehingga dengan bebas ia dapat memasuki tempat tersebut.
Lalu ia menggati bajunya dan langsung duduk meringkuk sambil menunduk di sudut ruangan. Ia mulai terisak dan menangis di lantai. Tubuhnya pun bergetar karena menahan tangisnya. Dia benar-benar merasa bodoh dan kotor. Karena laki-laki itu tadi kembali telah menjamahnya lagi.
Ingin rasanya ia berteriak untuk meluapkan rasa sedih dan juga sakit yang ia rasakan saat ini. Tetapi tidaklah mungkin, karena ia sedang berada di hotel. Yang ada nanti malah akan mengundang perhatian orang- orang yang ada di sana. Dan tentu saja mereka pasti akan merasa aneh dan bertanya-tanya tentangnya nanti.
Dia masih saja terduduk dan menangis di sana. Kini ia merasa sangat kebingungan harus berbuat apa dan bagaimana ia sekarang. Apakah dia harus diam saja dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa?
"Tapi, jika sampai David tersadar dan bisa mengenalinya bagaimana? Kira-kira apa yang akan dilakukannya padanya nanti?"
Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benaknya. Membuatnya semakin merasa resah, kebingungan dan sekaligus ketakutan juga.
"Argh ... tidak-tidak! Aku tidak mau jika si David nanti bisa mengenaliku. Pokoknya a-aku harus pergi dari sini. Tapi bagaimana caranya agar aku bisa pergi dari sini, Tuhan?"
Dengan raut wajah yang begitu menyedihkan, gadis itu mengacak-acak rambutnya hampir merasa frustasi.
__ADS_1
Hingga Tari yang baru saja dari ruangan pantry datang ke ruangan itu merasa kaget dan keheranan melihatnya sedang menangis.
Dengan panik dan khawatir gadis itu segera menghamiprinya. "Ana, kamu kenapa?"
Tiana mendungak dan menggelengkan kepala, matanya terlihat sembab dan memerah akibat terlalu banyak menangis. Mukanya juga terlihat pucat dan sayu, sehingga membuatnya ikut merasa sedih dan tidak tega melihatnya.
"Kamu, sakit ya? Atau lagi ada masalah? Cerita dong ma aku, An! Jangan dipendem sendiri!" Tari mengusap punggungnya dan menatapnya dengan lembut. Ia berusaha menenangkanya agar teman 1 kostnya itu bisa menghentikan tangisnya.
"Kalau sakit, kamu ijin pulang aja ya, sekarang!" ucapnya lagi.
Kini gadis yang masih sesegukan itu mengangguk, tandanya ia setuju dengan usulan darinya.
"Ya sudah, ayo aku antar kamu meminta ijin ke supervisor ya!" Dengan sabar gadis berkulit sawo matang itu menemaninya untuk menemui sang pengawas ataupun wakil asisten menejer yang sedang bertugas hari itu.
Tok-tok-tok!
Terlihat Tari sedang mengetuk pintu sebuah ruangan yang biasa ditempati oleh sang atasan. Sementara Tiana berdiri di sampingnya menunggu jawaban dari dalam ruang tersebut.
"Ya, masuk!" tak berapa lama terdengar suara seorang laki-laki dari dalam ruangan.
Cekllikk!
Lalu keduanya pun memasuki ruangan itu.
"Pagi, Pak!" sapa Utari menunduk sopan.
"Oh, kalian. Ada apa, Tar?" jawab seorang laki-laki dewasa berkemeja putih, yang sedang terduduk di kursi kerjanya itu menatap keheranan ke arah keduanya.
Kemudian lelaki yang bernama Andi itu menatap ke arah Tiana. Dan ia memperhatikan gadis itu memang tampak kusut dan bahkan wajahnya pun sembab seperti habis menangis.
"Emang kamu sakit apa, Ana?" tanyanya.
Tiana langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan saya yang sakit, Pak. Ta-tapi ibu saya di kampung yang sedang sakit. Tadi saya barusan dapat kabar dari bibi saya kalau beliau sedang sakit parah. Sehingga saya disuruh untuk pulang, Pak."
Dengan sangat terpaksa, Tiana harus berbohong. "Maafkan aku, Ibu. Karena menggunakan namamu sebagai alasan untuk berbondong," ujar batinnya.
"Terus?" Dengan tatapan datarnya lelaki itu dapat mengerti ke mana arah pembicaraannya itu.
"Sa-saya mau meminta ijin untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari ke depan, Pak. Mungkin hanya sekitar 4 atau 5 hari saja sudah cukup. Dan setelah itu saya tidak akan meminta ijin lagi," ucap Tiana.
Terlihat lelaki itu menghela nafas panjang. Lalu ia kembali berkata, " Em ... begini, Ana. Kamu bekerja di sini, 'kan belum genap ada satu tahun. Jadi, kamu belum mendapatkannya jatah untuk cuti. Kecuali kalau ada orang yang bersedia mengantikanmu selama kamu tidak masuk kerja nanti. Baru kamu boleh libur."
"Kalau begitu biar saya yang akan menggantikannya, Pak," sahut Utari.
Tiana tampak kaget mendengarnya.
"Tari," ujar Tiana dengan berkaca-kaca ia menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Sedangkan Utari malah tersenyum manis padanya. Pertanda ia ihkkas melakukan itu semua.
"Hem ... apakah kamu yakin? Selama Ana tidak masuk kerja, dalam sehari kamu harus masuk kerja 2 shift loh?" tanya Andi.
"Iya, Pak. Insyaallah saya siap," jawab Utari mantap.
"Baiklah, kalau bagitu aku mengijinkanmu, Ana. Tapi, hanya untuk 4 hari saja tidak lebih. Dan setelah itu kamu harus bersedia menggantikan Utari masuk kerja selam 4 hari juga. Kan, biar adil jadi harus seperti itu bukan?"
"Baik, Pak. Saya bersedia. Dan terimakasih banyak, Pak. Karena sudah memberikan saya ijin. Kalau begitu, kami permisi, Pak," kata Tiana menunduk.
Lelaki berusia 30 tahunan lebih itu mengangguk. Kemudian keduanya pun langsung keluar dari ruangan tersebut dan kembali masuk ke dalam ruang loker tadi.
"Tar, maturnuwun banget ya! Karena awakmu udah mau bantuin aku." Dengan sangat terharu Tiana merasa sangat berterimakasih padanya.
"Ya ya, sama-sama, Ana. Ih ... udah deh jangan lebay! Kita ini, 'kan teman. Sudah sepatutnya kita ini harus saling membantu. Jadi, udah ya, jangan sungkan. Kalau ada apa-apa nanti pokonya kamu harus cerita sama aku, oke?"
Dengan mata yang berkaca-kaca, Tiana mengguk pelan.
"Udah ya, mending sekarang kamu pulang dan bersiap-siap untuk berangkat pulang ke kampung sana! Eh, tapi ngomong-ngomong kamu ada uang gak?"
Deg!
Seketika itu Tiana teringat kalau dirinya sudah tidak mempunyai cukup uang untuk ongkos pulang ke Semarang nanti. Karena seperti biasa hampir sebagian besar gajinya telah ia kirim ke kampung. Sehingga ia hanya menyisakan sedikit uang untuk keperluannya sehari-hari saja.
Dengan sangat lemas, gadis berlesung pipi itu menggeleng pelan.
"Ya, udah. Gini aja deh, kamu kirim nomor rekening kamu ke aku. Nanti, biar aku pinjemin dulu, oke?"
Lagi-lagi Tiana merasa sangat terharu dengan temannya yang satu ini. Karena gadis yang biasanya cerewet dan suka berdebat dengannya ya, walaupun hanya bercanda itu, ternyata begitu baik padanya.
Dengan reflek Tiana langsung memeluknya. "Hiks ... hiks. Terimakasih, Tari. Karena sudah baik banget sama aku. Dan semoga saja Allah membalas semua kebaikanmu ini."
"Iya-ya sama-sama. Udah ah, jangan lebay. Nanti yang ada aku malah ikut nangis loh." Utari melepaskan pelukannya, lalu ia mengusap air mata Tiana.
"Udah, sana buruan pulang sekarang. Nanti keburu siang loh! Dan kamu hati-hati ya di jalan. Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai di kampung nanti, oke?" ujarnya lagi.
Tiana pun mengangguk. Kemudian ia mengambil tas dalam dan segera keluar dari loker.
Setelah sudah mendapat izin, Tiana langsung berjalan menuju loby hotel untuk menunggu Firman yang akan datang untuk menjemputnya. Karena waktu masih jam 4 pagi sehingga keadaan di sekitar hotel itu masih tampak sepi.
Namun, setelah cukup lama ia menunggu. Ternyata Firman tak kunjung datang juga. Sehingga ia memutuskan untuk pulang mengunakan ojol saja.
Lalu, sembari berjalan keluar dari hotel, pandangan gadis itu tertunduk, tampak sibuk mengutak atik ponsel. Hingga tanpa disadari ia malah terus berjalan lurus hingga ke parkiran depan hotel.
Sementara dari sisi lain, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melintas ke arahnya. Sontak gadis itu merasa sangat kaget melihatnya. Dan ....
"Aaargh ...." pekiknya.
__ADS_1
Ciiittt ... !
Dugg!