
Sememtara di sebuah kamar, terdengar ******* dua orang yang saling bersautan. Tampak seorang pria sedang beraksi di atas tubuh seorang wanitanya.
Dengan nafas yang tersenggal-senggal, seluruh tubuh keduanya basah dengan keringat yang mengalir deras dari pori-pori kulit yang sedang saling bersentuhan. Mereka terus bergumul dalam kenikmatan sebagai pasangan suami istri.
Setelah 3 hari kemarin, dengan susah payah Kania berusaha merayu dan menggodanya. Pada akhirnya di pagi hari buta ini, ia mendapatkan sentuhan hangat dan brutal dari suaminya.
Ya, walaupun terkesan dipaksakan, tapi tak mengapa. Yang terpenting baginya pria tampan bertubuh atletis itu masih mau menyentuhnya saja, ia sudah merasa sangat senang. Yang berarti dirinya itu masih cukup menarik dan seksi di hadapan lelaki tersebut.
Jika ia tak cukup seksi dan menggoda, mana mungkin lelaki tempramental itu mau menjamahnya lagi. Yang ada mungkin ia akan dibuang olehnya dengan begitu saja. Dan tentu saja ia tidak mau jika itu terjadi padanya kelak.
Sehingga dengan sebisa mungkin ia akan selalu menjaga penampilannya agar tetap terlihat menarik di matanya. Ya, walaupun ia tidak tau mau sampai kapan ia akan bisa mempertahankannya.
Tetapi untuk sekarang ini, ia hanya bisa menikmati peranannya sebagai istri yang baik dari seorang David Abraham. Yang tidak mungkin orang lain akan dapatkan.
"Aakh ...." Sebuah hentakan yang cukup keras membuatnya mendesah dan terbuai dalam kenikmatan.
Hingga beberapa saat kemudian, sang laki-laki pun merasa di puncak kenikmatan. Ia semakin mempercepat gerakan pinggulnya dan mengerang panjang sambil menyebutkan sebuah nama.
"Oh ... Tiana! Kau begitu nikmat, Sayang," gumam David sambil mendungakkan kepala, kedua matanya pun terpejam.
Lagi-lagi yang ada di dalam pikirannya ia membayangkan sedang bercinta dengan Tiana. Sehingga dengan tanpa sadar ia malah menyebut namanya, yang bisa terdengar dengan samar-samar oleh Kania.
Degg!
Hati wanita itu langsung mencelos ketika mendengarnya.
"Hah, Tiana?!" batin Kania merasa cukup kaget.
"Ah ... Tidak-tidak-tidak! Mungkin aku hanya salah dengar saja. Lagian tidak mungkin, 'kan David bisa mengenal Tiana?" batinnya lagi.
Di tengah-tengah kelelahannya, wanita yang kini terkulai lemas di atas ranjang merasa sedikit kebingungan. Namun, karena ia masih merasa mengantuk, ia tak mau ambil pusing dan memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya saja.
Setelah terselesaikan, laki-laki itu kembali bersikap dingin lagi padanya. Tidak ada sebuah ciuman mesra ataupun pelukan hangat sebagai tetimakasih kepadanya.
Yang ada lekaki itu langsung saja memisahkan diri dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Lalu tak berselang lama suara gemercik air mengalir mulai terdengar. Menandakan kalau laki-laki tersebut sedang membersihkan diri di sana.
Selang beberapa menit kemudian, David sudah keluar dari kamar mandi. Dengan hanya menggunakam handuk putih yang melilit di pinggang, pria itu berjalan mendekat ke arah meja samping ranjang.
Ia hanya menatap datar wanita yang telah dihajarnya dengan habis-bisan tadi kini masih terlelap di atas ranjang.
Lalu ia meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja. Dan betapa terkejutnya ia, ketika ia melihat ada banyak panggilan telepon yang tertera di layar benda pipih itu.
Dengan segera ia langsung menekan tombol merah untuk balik menelfon.
__ADS_1
Tut ....
"Hallo, Bang! Ke mana aja sih? Ditelepon dari tadi juga gak diangkat," keluh Rendy merasa kesal.
"Sorry sorry. Tadi hpku mode silent dan lagi pula aku juga baru bangun tau!" jawab David sengaja berbohong.
Karena tidak mungkin, 'kan kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya. Masa dia akan bilang kalau dirinya habis selesai berolahraga bersama Kania. Yang ada nanti sepupu resenya itu pasti akan mengejeknya habis-habisan.
"Halah ... baru bangun atau baru bangun?" Dan benar saja, Rendy mulai merasa curiga padanya.
"Ya emang aku baru bangun. Emang ada apa sih, kamu teleponin aku pagi-pagi?" elaknya lagi.
"Kau ini tidak lupa, 'kan, Bang? Kalau hari ini cewek itu sudah kembali lagi ke Jakarta?"
"Ya, pastikah aku ingat. Ini saja aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sana sekarang."
"Oh, kirain aku kamu lupa, Bang."
"Ya, gaklah. Masa aku lupa sama gadis itu? Hahaha ...." Denga wajah yang terlihat suminggah, David tergelak.
Sehingga membuat Kania yang masih dalam setengah tidur itu lagi-lagi dengan samar-samar dapat mendengarnya.
"Ya, udah. Tunggu setengah jam lagi aku siap."
"Ok. Ya udah, Bang. Aku tunggu di hotel itu saja ya?"
Klikk.
Lalu laki-laki itu mematikan telefonnya dan segera memilih pakain di dalam lemari. Setelahnya ia pun memakainya dan bergegas menuju hotel tempat Tiana bekerja.
"Hahaha ... bersiaplah untuk mendapatkan kejutan dariku, Gadis bodoh!" ujar batinnya menyeringai.
***
Pada malam harinya, dengan tidak sabar David kini sedang duduk manis di dalam sebuah kamar. Hingga pada pukul jam sebelas malam, akhirnya gadis yang ditunggunya pun telah datang.
Lalu dengan senyum yang terus mengembang, kelaki itu masih terus terdiam menatapnya dalam kegelepan. Hingga ....
'Klikk!' (Suara sakelar.)
Dan lampu kamar pun langsung menyala terang.
Degg!
__ADS_1
"Hah, Da-David!" pekik Tiana membatin.
Begitu lampu menyala, Tiana tampak begitu syok ketika melihat ada sosok laki-laki yang kini tengah duduk santai di sebuah sofa.
Sesaat kemudian tubuhnya langsung membeku dan terasa kaku seakan tidak bisa untuk digerakan. Sambil menelan salivanya kasar, ia masih diam mematung melihat ke arah David yang masih saja terus menatapnya dingin dan tajam.
"Hah, di-dia kok ada di sini? Bukannya dia sudah pergi? Kenapa malah masih berada di sini?" ujarnya lagi membatin.
Dug-dug ... dug-dug ...!
Jantung Tiana kini berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Dan perasaan pun menjadi tidak karuan. Ia mulai panik dan juga ketakutan.
Tatapan pria itu begitu dingin dan tajam seolah menusuk ke relung jiwa. Hingga membuatnya grogi dan salah tingkah saja. Dengan raut wajah yang terlihat pucat pasi ia merasa kebingungan harus bagaimana ia sekarang.
Namun sebisa mungkin ia tetap berusaha bersikap biasa saja, agar lelaki berkemeja hitam itu tidak curiga padanya.
"Ma-maaf, Tu-uan. Sa-ya mau membersihkan kamar ini. Karena tadi tidak ada jawaban, se-sehingga saya langsung masuk ke kamar ini, Tuan," ucapnya terbata-bata karena saking gugupnya.
Sedangkan lelaki tampan itu hanya tersenyum tipis sambil terus menatapnya sinis, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sehingga membuat Tiana semakin panas dingin saja.
"Duh, bagaiaman ini? Kok dia diam saja, sih? Dan kenapa perasaanku jadi gak enak gini, ya? Ya Allah semoga saja dia tidak mengenaliku, Ya Allah. Tapi ... kenapa dia menatapku seperti itu? Dan dia malah diam saja lagi. Duh, bagaimana ini?" Dalam hati Tiana terus merasa gusar.
Sekarang ia benar-benar merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Lalu dengan canggung ia bergerak sambil mendorong trolinya. Tetapi ia bingung mau bagian mana dulu yang akan ia bersihkan.
Lalu Tiana langsung berhenti bergerak, ketika melihat pria itu yang tiba-tiba saja bangkit dari duduknya. Dengan pelan ia berjalan mendekatinya. Sontak membuatnya reflek langsung berjalan mundur ingin menghindar dari laki-laki itu.
Namun, langkah demi langkah David semakin mendekat ke arahnya. Sehingga membuat Tiana kian terus melangkah mundur meningalkan troly itu. Hingga akhirnya ia terhenti karena punggungnya sudah membentur dinding kamar.
Gadis itu kini semakin panik saja, kenapa lekaki berwajah datar itu malah terus berjalan ke arahnya. Tentu saja Tiana ingin sagera pergi dari sana, tetapi tiba-tiba tangan pria itu malah menghalanginya. Tangan itu menempel di dinding berada tepat di samping wajahnya.
"Ma-maaf, Tu-tuan. A-pa yang Anda lakukan? Kalau Anda merasa keberatan saya berada di sini. Se-sebaiknya saya pergi saja dari sini. Permisi!" Tiana masih berusaha berbicara sopan secara formal kepadanya.
Namun David masih saja terdiam dan terus menatapnya datar. Tatapanya begitu tajam dan dingin. Seolah-olah ingin mencabik-cabik tubuhnya.
Tiana kini diam menunduk tidak berani menatap wajah tampannya yang terlihat begitu sangat menakutkan.
Keadaan kini semakin mencekam, ketika David yang sudah berada tepat di depannya itu masih saja memandanginya dengan sangat dekat.
David merasa puas ketika melihat wajah ketakutan dari gadis itu.
Lalu tiba-tiba ia malah tertawa dan berkata, "Apakah kamu merasa takut, Tiana?"
'Degg!'
__ADS_1
Hatinya langsung mencelos, ia sangat terkejut ketika mendengar lelaki itu kini memanggil namanya.
"Apaa?! Barusan dia memanggilku apa? A-apakah dia mengenaliku?"