
Tidak terasa dua tahun telah berlalu. Semenjak kepergian Tiana dari rumah Pak Harun, Tiana dan Sri memutuskan untuk pulang ke kampung halaman yaitu kota Semarang.
Setelah itu, Sri pun memilih untuk tetap tinggal di kampung dan tidak akan pergi kerja ke Jakarta lagi. Dengan uang pesangon yang telah diberikan oleh Pak Harun, perempuan beranak 1 itu mendirikan toko sembako kecil-kecilan di rumahnya.
Dari hasil toko tersebutlah ia berharap bisa mencukupi semua kebutuhannya sehari-hari. Sehingga ia pun sudah tidak perlu jauh-jauh bekerja di Jakarta meninggalkan anak dan suaminya di kampung lagi.
Sedangkan Tiana, setelah tinggal beberapa bulan di rumah pamannya untuk menunggu Ibunya. Pada akhirnya ia memutuskan ingin mencari pekerjaan di ibu kota lagi yaitu kota Jakarta.
Karena sudah tidak asing lagi, hampir seluruh orang Indonesia pasti menganggap di kota metropolitan itu lah banyak terdapat lowongan pekerjaan. Sehingga membuat Tiana berharap bisa menemukan pekerjaan yang baru lagi di sana.
Jika boleh jujur, sebenarnya gadis itu tidak ingin pergi meninggalkan Ibunya lagi. Namun mau bagaimana? Jika dirinya tak bekerja, dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan penyakit ibunya nanti?
Sehingga dengan sangat terpaksa, gadis berlesung pipi itu harus kembali meninggalkan Ibunya di rumah pamannya.
Setelah dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha mengalihkan dan melupakan semua kejadian yang sangat memilukan itu. Gadis cantik yang telah genap berusia 22 tahun ini kini sudah bisa sedikit merasa tenang dan lega. Karena setelah kejadian malam itu dirinya tidak sampai mengandung dari suami palsunya itu.
Jika saja ia sampai mengadung, entah bagaimana nasibnya sekarang ini, ia pun tidak tau. Yang pasti dirinya akan merasa sangat kebingungan dan sekaligus merasa malu karena hamil tanpa ada suami?
Dan akan lebih parahnya lagi, ia bisa saja mencemarkan nama baik keluarganya. Terutama paman dan ibunya nanti pasti akan merasa sangat malu sekaligus kecewa padanya.
Jadi, walaupun dia merasa sangat sedih karena harus kehilangan mahkotanya. Tetapi setidaknya, orang lain tidak ada yang tau soal perihal tersebut. Sehingga membuatnya bisa merasa sedikit tenang dan akan merahasiakan itu semua. Selain ia dan Sri, hanya keluarga Pak Harun dan tentu saja lelaki yang telah merenggut kesuciannya itu lah yang tahu kalau dirinya itu sudah tidak virgin lagi.
Namun, imbasnya sekarang gadis berambut ikal dan berkulit putih itu menjadi lebih tertutup dan pendiam dari biasanya. Terutama terhadap lelaki. Dirinya kini seolah menjauh bahkan menghindari untuk berdekatan dengan seorang laki-laki. Entah itu karena dirinya merasa trauma atau mungkin dirinya merasa hina dan tak kayak untuk dicintai ataupun sekedar berdekatan dengan laki-laki. Karena mengingat dirinya yang sudah tak suci lagi, ia pun berpikir pasti tidak ada laki-laki yang mau menerimanya sebagai seorang istri.
Sehingga selama itu pula, sudah ada beberapa laki-laki yang ingin mendekatinya selalu ia tolak dengan berbagai cara dan alesan. Membuat orang-orang yang ada di sekitarnya pun menilai kalau gadis tersebut sombong dan terlalu pilih-pilih.
Namun, tak masalah. Tiana tak memperdulikan itu semua. Yang terpenting baginya adalah ia harus bisa mencari uang sebanyak-banyaknya agar bisa menyembuhkan penyakit ibunya nanti.
__ADS_1
Setelah beberapa kali ia berpindah tempat kerja. Mulai dari toko, salon, butik dan juga tempat ýang lainnya. Pada akhirnya berkat bantuan Firman adik laki-laki dari Sri, yang merupakan Kakak kelasnya dulu waktu di SMK. Tiana pun dimasukan kerja bareng dengannya di sebuah hotel bintang lima yang namanya cukup tersohor di Ibu kota Jakarta.
Yaitu di hotel Switzeland Indonesian kini gadis itu bekerja sebagai salah satu pelayan hotel atau lebih dikenal dengan istilah Houskeeping.
Sudah hampir selama 1 tahun ini, ia bekerja di sana. Dan dengan gaji yang didapatkan dari bekerja di hotel itulah, ia bisa mengirimkan uang ke kampung untuk biaya pengobatan Ibunya. Setiap awal bulan setelah gajian ia rutin mengirimkan hampir semua gajinya ke rekening Bibinya di kampung.
Dirinya hanya menyisakan sedikit uang untuk keperluannya saja. Dan jarang sekali gadis itu menggunakan uang dari hasil kerja kerasnya itu untuk menyenangkan dirinya sendiri. Jangankan untuk sekedar berjalan-jalan dan berbelanja di mall pun tidak pernah.
Sehingga terkadang membuat dua teman satu kamar kostnya merasa iba terhadapnya. Karena menurut Elis dan Tari nama kedua temannya itu, Tiana itu terlalu ngirit. Namun mereka sangat salut dengannya. Karena mereka tau kalau temannya melakukan itu semua semata-mata demi bisa mengumpul uang untuk sang ibu.
***
Seperti biasa, sebelum gadis itu mulai bekerja, terlebih dahulu kini Ia sedang berada di ruangan tempat para HK (Hausekeeping) berkumpul untuk melakukan briving terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaannya.
Terlihat para karyawan atau HK itu sedang berkasak kusuk membicarakan sesuatu. Namun Tiana tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Sehingga ia pun bertanya kepada Tari si gadis cantik berkulit hitam manis yang ada di sebelahnya.
Tari ikut berbisik juga. "Emamg kamu gak tau, ya? Kalau nanti siang tuh akan ada tamu besar atau orang penting yang mau datang ke sini, Ana."
Tiana menggelengkan kepalanya. "Nggak, emang siapa, sih?"
"Katanya sih, yang punya hotel ini. Dan katanya lagi, sang pemilik hotel ini tuh masih muda dan ganteng banget, Ana. Tuh liat aja para si 'ciwir' centil itu langsung pada dandan kegajenan gitu deh!" Gadis yang usianya lebih muda 1 tahun di bawah Tiana itu melirik tiga gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya kini berada.
Sehingga otomatis Tiana pun menoleh ke arah tiga gadis itu. Lalu ia hanya menggelengkan kepala melihat ketiga gadis tersebut yang memang sedang sibuk bersolek sambil terus asyik bergosip ria membicarakan orang yang akan datang ke hotel ini.
"Oh, pantesan aja mereka terlihat pada keganjenan gitu. Emang seganteng apa sih dia, sampai-sampai pada heboh begitu?" ujar Tiana yang sering dipanggil dengan nama Ana.
Ya, ia memang sengaja merubah panggilan namanya yang semula sering dipanggil dengan nama Tiana, sekarang ia rubah menjadi nama belakangnya saja yaitu Ana. Karena jujur saja, hingga sampai saat ini ia masih merasa was-was dan juga ketakutan apa bila bisa sampai bertemu denga lelaki itu lagi.
__ADS_1
Sehingga untuk mengantisipasi jika itu sampai terjadi, setikdaknya lelaki itu tidak mengenali namanya ini. Entahlah, kenapa hatinya merasa kalau suatu saat nanti ia akan bertemu kembali dengan lelaki tersebut.
Namun, ia selalu berdoa dan berharap itu tidak akan pernah terjadi. Karena jika ia sampai bertemu dengan lelaki itu, dan lelaki itu sampai mengenali dirinya, entah apa yang akan terjadi padanya nanti.
Sungguh dirinya tidak bisa membayangkanya dan sangat ketakutan dalam menghadapinya nanti.
"Ya, Allah. Firasat apakah ini? Kenapa tiba-tiba saja perasaaanku merasa tidak enak begini? Semoga saja tidak akan terjadi yang macam-macam ya Allah, Amin," batin Tiana yang tiba-tiba saja merasa resah bila membayangkan kalau sampai hal itu benar terjadi.
"Ya, kalau gak salah si cowok pemilik hotel ini adalah orang yang sering muncul di internet gitu loh, An. Masa kamu gak tau sih?" Ucapan Tari membuyarkan dan menyadarkan Tiana dari lamunannya.
"Oh, ya? Yang mana sih, aku jadi penasaran, deh."
"Bentar-bentar, biar aku tunjukin fotonya ke kamu." Kemudian Tari mengambil gawainya dari dalam tasnya yang berada lemari lokernya. Lalu jari-jari lentiknya mulai menyentuh dan menggulir layar benda pipih miliknya.
"Nah, ini dia orangnya, An. Ganteng banget dan masih muda, 'kan dia? Tapi sayang dia udah punya istri dan 1 anak. Jadi kita udah gak ada harapan lagi buat bisa mendapatkan hatinya."
"Ih, ngimpi deh, kamu! Lagian walaupun dia masih singgle, mana mau dia sama kamu, Tar," cibir Tiana yang tersenyum mengejeknya.
"Yey, namanya juga berharap, 'kan gak papa kali."
"Udah ah, jangan 'Halu' mulu! Mana sini Fotonya, aku pingin liat."
"Ya ya ya, tunggu dulu dong! Ini juga lagi di cari gambar yang lebih besar biar kamu bisa liat dengan lebih jelas lagi wajahnya, An. Nah, ini dia."
Tari langsung menunjukkan sebuah foto laki-laki tampan berjas hitam sedang berdiri tegap menatap tajam ke arah depan.
"Hah, di-dia ...." Dengan membelalakan kedua mata, Tiana langsung merasa sedikit syok melihatnya.
__ADS_1