Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Berkenalan Dengan Pria Asing


__ADS_3

Setelah merasa aman, dengan sangat terpaksa pada akhirnya Tiana harus kembali ke kamar David untuk menyelesaiakan pekerjaannya dan membawa troli itu keluar dari kamar. Kemudian ia pun melanjutkan pekerjaan yang lainnya hingga selesai.


Waktu menunjukan pada pukul 14.00 WIB. Sudah waktunya bagi para karyawan hotel yang masuk di shift pagi untuk pulang. Kurang lebih ada 3 shift yang berlaku dalam hotel tersebut. Yaitu mulai dari 06.00 – 14.00 untuk shift pagi, 14.00 – 22.00 untuk shift siang, dan 22.00 – 06.00 untuk shift malam.


Begitu juga dengan Tiana dan dua temannya yang kebetulan bareng masuk di sift pagi. Setelah melihat karyawan yang masuk sift siang sudah stanbay untuk menggantikan tugas mereka. Ketiganya pun langsung menuju loker untuk bersiap-siap pulang.


"An, denger-denger kamu yang ditugaskan untuk membersihkan kamar Tuan David ya?" tanya Utari yang menang suka kepo. Ketiganya kini sedang berada di depan lemari lokernya masing-masing.


"Hem ...." jawab Tiana seraya menganggukkan kepalanya dengan malas.


"Oh, ya?" sahut Eliza yang tampak kaget tak percaya.


"Gimana-gimana rasanya?" sambar Utari merasa penasaran.


"B, aja." Dengan wajah tanpa ekpresi gadis itu berusaha untuk terlihat biasa saja. Padahal di dalam hatinya merasa sangat tak nyaman dan gelisah jika harus terus berada di kamar tersebut.


"Ih ... Ana. Kamu gak asik deh. Masa cuma bilang B, aja sih?" protes Utari yang merasa kesal mendengar jawaban Tiana yang terkesan cuek dan datar.


"Lah, terus aku harus bilang Wow gitu?" sahut Tiana jengah.


"Ya, gak gitu juga kali!" sela Eliz. "Maksudnya apa kamu gak deg-degan? Secara, 'kan dia itu owner hotel ini, Ana. Jika aku yang ditugaskan untuk membersihkan kamar itu, pasti aku akan nervous takut jika melakukan kesalahan gitu."


"Ya betul banget. Apa lagi jika kita harus berhadapan dengannya secara langsung. Pasti yang ada aku akan panas dingin melihat bagaimana tampannya si Tuan David itu, An," timpal Utari dengan mata yang berbinar-binar sedang membayangkan wajah tampan David.


"Halah, lebay kalian berdua. Kalau menurutku biasa aja sih," cibir Tiana.


"Wah, kamu ini apa gak normal kali, ya? Masa liat cowok seganteng itu kamu bilang biasa aja? Atau jangan-jangan matamu itu bermasalah ya? Sehingga tidak bisa melihat betapa tampannya mereka berdua," oceh Utari lagi.


Tiana memutar bola matanya dengan malas mendengar celotehan kedua sahabatnya yang sedang memuja laki-laki tersebut.


"Bukan mataku yang bermasalah, tetapi kalian aja yang norak," sungutnya mulai merasa kesal.


"Yey, siapa juga yang norak? Hampir semua karyawan loh, An. Pasti akan bilang kalau si Tuan David dan asisten nya itu tampan," celetuk Eliza.


"Ya, saking tampannya sampai-sampai si Utari salah orang. Mengira kalau asistennya itu adalah Tuan David kemarin," ujar Tiana yang merasa jengkel, karena gadis yang bernama Utari itu kemarin salah menunjukan foto Rendy bukan David.


Jika saja Utari tidak salah menunjukan foto kepadanya, tentu saja ia tidak merasa sangat syok dan bisa bersiap-siap untuk menghadapi laki-laki itu.


"Oh, ya. Masa sih?" tanya Eliz lagi.


"Hehehe ... ya maaf. Habis aku lihat hampir sama sih mereka ini. Sama-sama ganteng gitu," Dengan cengengesan Utari menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Udah ah, ngobrolnya! Ayo kita pulang sekarang!" ajak Tiana.


Kemudian ketiga gadis itu keluar dari loker dan segera ingin meninggalkan hotel tersebut. Namun, ketika baru saja mereka akan pergi, tiba-tiba saja ada seorang pria yang menghampiri ketiganya.


"Hai, An! Mau pulang ya? Biar aku antar, ya?" sapa pria yang berkaos putih itu tersenyum kepada Tiana.

__ADS_1


Dengan mendengus kesal, ketiga gadis muda itu memutar bola mata malas melihatnya.


"Gak perlu, aku mau pulang bareng Tari dan Eliz aja," jawab Tiana jutek.


"Iya tau, nih. Kalau Ana pulang sama kamu. Terus kita berdua bagaimana?" sambar Utari.


"Ya kalian, 'kan bisa naik ojol," jawab pria yang bernama Gilang.


"Gak, usah. Lagian kita ini mau langsung jalan-jalan ke mall tau! Jadi, kita mau naik taksi online saja," sahut Tiana berbohong.


"Oh, ya udah. Kalau gitu aku ikut kalian aja ke mall."


"Gak perlu!" sahut ketiganya secara bebarengan.


"Ya elah, kompak banget sih kalian?" dengus Gilang merasa kesal dan kecewa. Karena tiap kali ia berusahan mendekati Tiana. Gadis itu terlihat cuek dan selalu menolaknya. Sehingga membuatnya malah semakin tertantang untuk bisa mendapatkan hatinya.


"Udah yuk, ah. Kelamaan di sini nanti kita malah kemalaman lagi pulangnya," ujar Tiana. Seraya meraih tangan Utari dan Eliz, ia hendak melangkah pergi meninggalkan pria tersebut.


Namun, lagi-lagi pria itu menghadangnya kembali. "Tunggu, Ana! Bolelah aku ikut, ya?" bujuknya dengan wajah memohon, ia berharap agar Tianan mengijinkannya untuk ikut.


"Ih, kamu jadi cowok bebel banget sih!" celetuk Utari kesal. "Kalau Ana tidak mau jangan dipaksa dong! Udah sana mendingan kamu urus cewek resemu itu yang selalu saja akan mengganggu Ana karena ulahmu ini."


"Eh, cewek yang mana?" Gilang berpura-pura bego.


"Halah, pakai pura-pura hilang ingatan lagi. Ya si Santi lah, siapa lagi? Udah yuk ah, gak penting banget ngurusin cowok play boy yang sok kecakepan kayak dia," sambar Eliz.


Brugh!


"Aww ...." pekik Tiana sambil memegangi keningnya yang sedikit sakit karena membentur badan seseorang tadi.


Sontak ketiga langsung berhenti dan tampak kaget dibuatnya.


Sementara orang yang ditabraknya itu pun sama kagetnya dengan mereka. Lalu dengan mengerutkan dahi, orang itu menatap Tiana keheranan.


"Ma-maaf, saya tidak sengaja!" ucap Tiana sambil menundukkan kepalanya.


"Oh, tidak apa-apa," jawab seorang pria tampan bertubuh atletis itu tersenyum ramah pada Tiana.


Sehingga membuat dua gadis yang berada di belakang Tiana langsung berbinar dan terhipnotis olehnya.


Baru kemudian gadis berlesung pipi itu mengangkat wajah dan menatap ke arah pria tersebut. Ia pun merasa sama dengan kedua temannya.


"Wah ... cakep banget nih cowok," gumamnya membatin.


Tak berbeda jauh dengan dirinya. Pria yang berdiri di hadapannya itu tampak berbinar melihat kecantikan wajah Tiana yang kebetulan tadi lupa tidak memakai masker. Sahingga membuat pria itu kini terpesona padanya saja.


"Wah ... cantik banget nih cewek," ujar pria itu membatin.

__ADS_1


Namun, beberapa detik kemuduan, Tiana pun tersadar dan ingin segera melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Ma-mari, Kak. Eh, Tuan. Permisi! Ayo ah, kita harus segera pergi dari sini!" Tiana menoleh ke bekakang dan langsung meraih tangan kedua temannya itu.


Namun, ketika baru saja ia akan bergerak, tuba-tiba saja pria itu mencegatnya.


"Eh, Tunggu! Kalau boleh saya bertanya, di manakah letak ruang kerja Tuan David?" tanyanya.


Degg!


Tiana tampak terkejut ketika mendengar laki-laki itu menyebut nama David.


"Oh, Tuan David. Kalau tidak salah ruangannya berada di lantai 10, Kak," jawab Utari dengan tersenyum malu-malu.


"Oh, begitu ya. Em ... bisakah Nona mengantarkan saya ke ruangannya?" Sembari tersenyum manis, pria itu menatap ke arah Tiana.


"Hah, sa-ya?" Dengan raut wajah kebingungan Tiana menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kalau boleh tau siapa namamu? Kita belum berkenalan." Pria itu malah mengulurkan tangan padanya. "Perkenalkan namaku Mike. Dan kamu?"


Utari dan Eliz segera menyenggol Tiana dengan bahunya. Sehingga membuat gadis yang masih terdiam kebingungan, itu pun tersadar dan dengan sangat canggung menyambut uluran tangan laki-laki itu.


"O-oh, saya Ti -- eh, Ana." jawab Tiana yang acap kali sering akan keceplosan menyebut namanya yang asli.


"Dan saya Utari."


"Saya Eliza." Debgan bergantian ketiga gadis tersebut bersalaman dengan Mike.


"Senang sekali bisa berkenalan dengan gadis-gadis cantik seperti kalian ini," puji Mike yang mulai menggombal.


Sehingga membuat Tiana yang tadinya sempat terpesona olehnya langsung menjadi ilfiil padanya. Karena ia sangat membenci pria yang suka menggombal seperti itu. Terlebih lagi mereka, 'kan baru saja berkenalan, jadi rasa kagumnya pun seketika langsung menghilang dengan begitu saja.


Berbeda dengan Tiana, kedua temannya itu malah tersipu malu dan merasa tersanjung mendengar pujiannya. Lalu Tiana pun menggelengkan kepala melihat keduanya yang sedang malu-malu kucing.


"Bagaimana, apakah Ana mau mengantarku ke sana? Karena terus terang aku baru pertama kali ke sini. Jadi aku masih bingung," ucap pria itu lagi.


"Em ... maaf, Tu--an," Belum sempat Tiana menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar suara bariton seseorang yang sedang memanggil pria tersebut.


"Hai, Mike!"


Degg!


Seketika itu badan Tiana terasa beku dan tak bisa untuk digerakkan. Wajahnya pun langsung terlihat tegang dan panik. Karena ia seperti mengenal suara itu.


Dan ... suara tersebut adalah suara ....


"David!"

__ADS_1


__ADS_2