Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama


__ADS_3

David dan Rendy yang baru selesai meeting ingin turun ke lantai bawah. Mereka hendak menemui temannya yang akan datang ke hotel tersebut.


"Berarti Mike jadi mau ke sini, Bang?" tanya pria muda yang berpakaian setelan jas kantor itu menoleh ke arah samping tempat David berada.


"Ya, katanya tuh orang sedang di jalan menuju ke sini. Mana dia kolokan banget lagi, masa minta dijemput di loby," sahut David.


"Hahaha ... ya makkum anak mami emang suka begitu, Bang."


"Hah, mami! Mami yang mana? Mami-mami gitu maksudmu? Hahaha ... masa sih dia mainnya sama mami-mami gitu, kayak gak ada cewek yang masih muda aja," ledek David tersenyum sinis.


"Cih, si Abang suka gitu deh. Jelek-jelek begitu juga tetep temen kita, Bang. Jangan suka ngeledekin gitu, nanti yang ada kuping dia panas gara-gara kita sedang ngebicarain dia terus, Bang."


"Hahaha ... biarin aja. Justru mumpung dianya lagi gak ada, jadi kita bebas ngomongin dia."


"Cih, dasar teman macam apa kau ini, Bang?" cibir Rendy yang tertawa geli membayangkan bagaimana ekpresi kesalnya Mike jika tau sedang dighibahin seperti ini.


"Berarti kita sekarang mau menjemput dia, Bang?"


"Ya iyalah. Terus mau ngapain lagi?"


Ting!


Tak berapa lama pintu lift pun terbuka. Lalu keduanya pun segera keluar dari tempat persegi itu. Setelahnya, sembari memasukan kedua tangan ke dalam saku celana. David dan Rendy mulai berjalan dan celingukan seperti sedang mencari seseorang.


Hingga pada akhirnya kedua netranya, menangkap sesosok orang yang ia cari sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada kini.


"Nah, tuh dia, Bang orangnya!" tunjuk Rendy mengarah kepada seorang pria tampan yang sedang berdiri berhadapan dengan tiga orang gadis.


Namun, ketiga gadis itu sedang membelakanginya. Sehingga membuat David dan Rendy tidak bisa melihat wajah para gadis tersebut.


"Lah, nih orang lagi sama siapa tuh?" gumam Rendy sembari terus menatap ke arah pria tersebut.


"Tau," ucap David sembari mengedikkan kedua bahu. "Ya udah, ayo kita samperin aja sekarang!"


"Ayok!"


Kemudian kedua pria itu mulai melangkah untuk mendekat ke arahnya.


"Hai, Mike!" ucap David yang kini sudah berada tepat di belakang Tiana.


Degg!


Sontak Tiana langsung terjingkat kaget dibuatnya. Sungguh suara itu bagai sambaran listrik ribuan volt, sehingga membuat badan Tiana terasa kaku dan tak bisa untuk digerakkan. Wajahnya juga terlihat tegang dan sangat panik. Karena ia seperti mengenal suara itu.


Dan ... suara tersebut mengingatkannya pada seseorang. Yaitu ....

__ADS_1


"David! Aduh gawat, kalau dia sampai melihat wajahku bagaimana? Mana tadi aku lupa gak pakai masker lagi!" rutuk batinnya merasa sangat panik.


"Hay, Dav. Baru aja aku mau ke ruanganmu. Eh, kamunya malah udah nongol aja di sini," jawab Mike sambil cengengesan padanya.


"Em ... kalau begitu saya permisi, Tuan!" Sebelum sempat Davit semakin mendekatinya. Dengan sangat terburu-buru Tiana segera meraih tangan dua gadis yang ada di sisi kanan kirinya. Lalu ia bergegas meninggalkan tempat itu dengan begitu saja.


"E-eh, tunggu!" cegat Mike.


Namun, gadis itu tak mengubris teriakannya. Sehingga membuat wajah Mike langsung terlihat murung melihat kepergiannya.


Sedangkan David dan Rendy mengernyitkan dahi, menatapnya dengan keheranan.


"Woy, kenapa kamu, Bang?" tanya Rendy seraya menepuk pundak lekaki itu.


"Aku baru saja ketemu sama cewek cantik, Ren." Dengan mata yang berbinar, wajah Mike terlihat sumringah sedang membayangkan wajah cantik gadis yang telah menabraknya tadi.


Otomatis David dan Rendy langsung melongo mendengarnya.


"Wah-wah-wah, aku rasa gara-gara dia gagal nikah, dia jadi stres gitu, Ren!" cibir David. Sembari melipat kedua tangan di depan dada, pria itu tersenyum tengil dan menggelengkan kepala meledeknya.


"Hem ... ya ya benar, Bang. Atau jangan-jangan dia udah gila kali ya, Bang. Bentar-bentar coba aku cek dulu." Dengan jail Rendy sengaja menempelkan telapak tangannya ke dahi Mike.


Sehingga membuat Mike yang merasa jengkel langsung menepis tangan tersebut. "Ih, apaan sih? Sialan, kalian ngatain aku gila!" sungutnya.


"Lagian, kamu ini ada-ada aja sih, Bang Mike. Jangan bilang kalau kamu lagi jatuh hati dengan seseorang itu tadi?" tebak Rendy.


"Nah, emang benar tembakanmu. Ku rasa aku telah hatuh cinta pada pandangan pertama," sahut Mike.


"Bhahaha ...." Membuat kedua pria yang bersamanya kini semakin terbahak mendengarnya.


"Aduh, makin parah nih orang!" celetuk David.


"Ih, beneran tau. Aku tadi habis kenalan sama cewek cantik itu. Dan mungkin cewek itu bekerja di hotel ini. Tapi ... di bagian apa ya? Kenapa aku tadi lupa tidak menanyakannya? Cih, ini semua juga gara-gara kalian sih datang ke sini. Jadi aku belum sempat ngobrol banyak dengannya tadi," dengusnya kesal.


"Lah, kenapa malah nyalahin kita?" sahut Rendy.


"Udah-udah, stop ngobrolnya! Mending kita lanjut di ruanganku saja bagaimana?" sela David mencoba mengakhiri perdebatan mereka.


"Ah, kalau ke restauran dulu gimana?" sambung Mike. "Aku laper nih. Soalnya tadi aku belum sempat makan siang, tau."


"Oh, ya udah kita ke sana aja sekarang!" ujar David.


"Hayuk!"


Lalu sembari terus berceloteh ria, ketiga pria itu segera pergi ke restauran yang ada di dalam hotel tersebut.

__ADS_1


***


Tidak terasa sudah beberapa hari David berada di hotel itu. Dan selama itu pula Tiana merasa sangat khawati dan juga was-was, takut bertemu dengannya lagi. Dengan sebisa mungkin ia berusaha terus menghindarinya agar tidak berjumpa lagi dengannya.


Namun, tampaknya sangatlah susah. Karena ia malah diberi tugas oleh si menejer HK untuk membersihkan kamar pria itu. Membuatnya mau tidak mau ia harus sering mendatangi kamar tersebut.


Sehingga selama pria itu masih berada di hotel ini, Tiana merasa resah dan gelisah meikirkan bagaimana cara agar ia terus bisa menghindarinya. Sedangkan mereka kini berada di hotel yang sama. Yang kemungkinan besar dirinya bisa bertemu lagi dengannya setiap saat.


Hingga pada akhirnya hari perayaan ulang tahun hotel itu pun tiba. Di hotel itu kini terlihat sedang sibuk mengadakan pesta untuk merayakannya.


Pesta itu terlihat begitu mewah. Dengan hotel yang dihias sedemikian rupa. Banyak tamu undangan yang datang. Di antaranya para relasi kerja ataupun para pemegang saham. Tak lupa pula Mike juga datang ke pesta tersebut.


Dengan harapan ia bisa menemukan gadis itu lagi. Sembari menikmati jamuan pesta, kedua netra hazel miliknya tampak sibuk mengedarkan padangan ke seluruh ruangan. Laki-laki berjas biru dongker dan kemeja putih itu seperti sedang mencari keberadaan seseorang di antara para tamu ataupun pegawai hotel yang sedang sibuk bekerja.


Namun, tampaknya ia tidak bisa menemukannya. Sehingga membuat laki-laki itu sedikit merasa kecewa.


Pesta ulang tahun itu terasa berbeda karena kehadiran sang CEO hotel tersebut. Mereka semua menyambutnya dengan suka cita atas kehadiranya di tempat itu.


Hingga akhirnya pesta itu pun berakhir. Mike langsung berpamitan untuk pulang. Sedangkan David dan Rendy menuju kamarnya masing-masing.


Dan kini saatnya para HK harus bekerja membersihkan tempat itu. Semua pekerja tampak sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.


Tak berbeda dengan bagian roomboy ataupun lainya. Mereka semua sibuk dengan tugasnya memberisihkan kamar-kamar hotel.


Begitu juga Tiana, dia yang ditugaskan untuk memebersihkan kamar sang owner itu dengan sangat terpaksa harus segera menuju ke sana sebelum pria itu datang ke kamar tersebut.


Dengan membawa troly Ia berjalan menuju kamar mewah itu. Begitu di depan kamar, ia menenkan bel terlebih dahulu. Setelah beberapa kali ia menekannya, namun tak ada jawaban. Akhirnya ia pun membuka pintu kamar itu, yang kebetulan tidak terkunci.


Cekrek!


"Housekeeping!" ucapnya seraya membuka pintu. Setelah tidak ada jawaban, gadis berseragam hitam putih itu mengira kalau si pemilik kamar sedang tidak berada di tempat.


Lalu ia pun langsung saja memasuki kamar tersebut. Namun, ketika baru saja ia masuk dan menutup pintu, tiba-tiba saja ....


"Aaaa ...!"


Brugh!


Tiana terkesiak kaget, karena tiba-tiba saja ada yang menarik tubuhnya ke dinding di sebelah pintu. Punggungnya terasa sakit karena membentur dinding itu.


Ia langsung merasa panik dan juga ketakutan, ketika melihat ada seseorang yang sedang berdiri menghimpit dirinya.


Namun ia tidak bisa melihat wajah orang itu. Karena keadan dalam kamar itu begitu redup hanya lampu tidur di samping ranjang yang menyala. Sehingga ruangan itu menjadi tamaran.


"Ma-maaf, Tuan. A-apa yang Anda lakukan?" pekik Tiana.

__ADS_1


__ADS_2