Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Siasat David


__ADS_3

"Tunggu-tunggu, mari kita lihat siapa dia, Ren!" ujar David sembari mulai menatap ke layar laptop yang ada di hadapannya. Di mana di dalam layar benda pipih persegi panjang itu menampakkan ada seorang petugas HK yang sedang berdiri di depan kamarnya.


Rendy juga ikut mengamati layar tersebut. Dan tiba-tiba saja ia teringat dengan gadis yang pernah menambrak David kemarin. "Lah, Bang. Itu bukannya gadis HK yang telah nambrakmu kemarin ya, Bang?" ucapnya.


"Hah, masa sih?" sahut David tidak percaya.


"Masa Abang tidak ingat, sih? Dan nama gadis itu adalah Ana," kata Rendy. Ia membaca name tag yang menempel di baju gadis tersebut.


David menggeleng. "Enggak."


Rendy mendengus kesal. "Tapi coba deh, Bang! Kamu perhatikan dia lagi!"


Pemuda perambut klimis itu memegang mouse, menggesernya dan mengklik ke wajah Tiana, lalu diperbesar. "Apakah Abang tidak merasa familiar dengan wajah ini?"


David tampak serius menatap layar laptop itu. Dia mengamati wajah gadis tersebut, dan benar apa yang dikatakan oleh Rendy. Setelah diamati lagi dia seperti pernah melihat dan mengenali wajah itu.


"Oh my good, ternyata benar. Dia orang yang telah menabraku kemarin, Ren! Dan namanya siapa tadi?" Sontak David langsung membelakkan mata, ketika telah mengingatnya.


"Nah benar, 'kan tebakanku? Namanya Ana, Bang. Abang kenal gak sama dia?"


Sesaat kemudian David menyunggingkan sudut bibirnya, ia tersenyum licik. Dirinya kini mulai tau siapa gadis itu. "Ok, sekarang aku sudah tau siapa dia."


"Hah! Jadi, Abang sudah tau siapa dia?" Rendy tampak terkejut mendengarnya.


"He' em." David menganggukan kepala.


"Emang siapa dia, Bang?" Rendy mulai kepo.


"Nanti kamu juga tau sendiri." Dengan sengaja David ingin membuat sepupunya itu menjadi penasaran.


Rendy yang tau niat jailnya itu langsung berdecak kesal padanya. "Cih. Bukannya langsung kasih tau kek. Ini malah main rahasia-rahasiaan segala. Awas aja ya, Bang, tar aku balas loh."


"Hahaha ... ada yang lagi kesal karena penasaran nih," ejek David sembari tertawa tengil.


Sedangkan Rendy hanya mendengus kesal dan memutar bola mata malas melihatnya.


"Udah sana kamu panggil bagian HRD dan juga Meneger ke kamarku sekarang!" tukasnya.


"Hah, HRD? Untuk apa, Bang?" sahut Rendy merasa keheranan.


"Ada deh, nanti kamu akan tau sendiri." Lagi-lagi David menjawab seperti itu.


Sehingga membuat Rendy semakin jengkel saja padanya.


"Udah, gak usah ditekuk begitu tuh muka! Nanti yang ada tambah jelek aja tuh mukamu itu, Ren!" David mengejeknya lagi.


"Buruan sana kamu panggil mereka. Aku tunggu di kamar, ok?"


"Ya ya ya, bawel!" sungut Rendy.

__ADS_1


Kemudian dua lelaki tampan itu keluar dari ruangan tersebut. David langsung berjalan menuju kamarnya kambali. Sedangkan Rendy gegas memanggil bagian HRD dan sang Meneger hotel.


Tak berapa lama Rendy pun kembali menuju kamar David bersama dengan dua orang yang berada di belakangnya.


Tok, tok, tok!


Kamudian ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Iya, masuk!" seru David dari dalam kamar.


'Ceklik!


Kemudian pemuda itu segera masuk bersama kedua orang tadi. Mereka melihat lelaki muda dengan wajah yang tegas dan garang sedang duduk bersender dan menopangkan sebelah kakinya di sebuah sofa yang ada di kamar tersebut.


"Ini Bang. Mereka sudah datang," ucap Rendy menunjuk ke dua laki-laki yang sedang berdiri ketakutan di belakangnya.


"Hemm." David mengangguk. Sembari memberi tatapan tajam dan dingin kepada keduanya, ia pun mempersikahkan untuk duduk.


"Silahkan duduk!" ujarnya.


Kemudian dua orang itu mengangguk dan dengan patuh langsung duduk di sofa yang ada di hadapan mereka. Sedangkan Rendy menepatkan dirinya duduk di sebelah David.


"Ma-maaf, Tuan ada apa Anda memanggil kami ke sini, Tuan?" ucap sang meneger dengan penuh ketakutan.


"Jadi begini, Pak. Em ... siapa nama Anda?" ujar David.


"Saya Heru, dan ini Pak Budi, Tuan," sahutnya.


"Ba-baik, Tuan," jawab petugas HRD itu dengan gugupnya. Kemudian ia mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Lalu segera menghubungi anak buahnya untuk mencari berkas orang yang dinginkan sang onwner.


Untuk sesaat semua pun terdiam menunggu orang suruhan Pak Budi untuk datang ke kamar itu. Suasana di dalam ruangan kini terasa begitu mencekam bagi kedua orang tersebut. Karena menurut mereka sosok CEO muda yang ada di hadapan mereka ini, terlihat sangat menakutkan.


Mereka takut ditegur karena melakukan kesalahan dalam pelayanan hotel ataupun dalam hal yang lainnya. Sebenarnya mereka juga merasa kaget kenapa tiba -tiba dipanggil oleh sang CEO. Dan malah sang CEO itu meminta data karayawan Hk yang bernama Ana.


"Sebenarnya ada apa dengan orang yang bernama Ana?" ujar batin keduanya.


'Tok tok tok!


Terdengar ada yang mengetuk pintu. Dengan segera Rendy menuju pintu dan langsung membukanya.


Terlihan ada seseorang yang datang dengan membawa map di tangannya. Rendy langsung menerima map itu dan menyerahkannya ke David.


David langsung membuka map itu. Dengan perlahan ia mulai melihat-lihat dan membaca data orang yang ada di map tersebut. Dengan wajah yang tampak begitu serius, sesekali dahinya terlihat mengernyit ketika memeriksanya.


Namun setelahnya ia malah tersenyum. Tapi senyuman itu tampak begitu menakutkan di mata kedua orang yang ada di depannya ini.


Lalu David menyerahkan map tersebut ke Rendy. "Nih coba kamu liat, Ren!"


Rendy pun menerima dan membuka map tersebut. Sedetik kemudian ia terbelalak dan betapa terkejutnya ketika ia melihat data siapa yang ada di sana. Ternyata Ana itu adalah Tiana, yang sengaja merubah nama panggilannya sebagai Ana.

__ADS_1


Kemudian dengan wajah yang masih tampak syok, Rendy menutup kembali map tersebut. Lalu ia menatap ke arah David. Seakan ia tidak percaya kalau perkiraan dari sepupunya itu adalah benar. Berarti gadis yang semalam tidur bersamanya memanglah benar adalah Tiana alias Ana si gadis HK itu.


"Kalau boleh saya tau, di mana gadis HK yang bernama Ana ini, Pak? Apakah hari ini dia masuk kerja?" tanya David sambil menatap ke arah Pak Budi.


"Hah, gadis HK yang Anda maksud itu --"


"Ya, Ana alias Tiana Putri, Pak Budi. Gadis yang ada di map ini," sela Rendy sembari mengangkat map merah yang ia pagang.


"Oh, ya ya sebentar, Tuan. Saya tanyakan ke anak buah saya dulu. Sekarang dia masuk sift berapa." Pak Budi kembali menelfon sang anak buahnya itu dan menayakan sift kerjanya Tiana.


Setelah sudah mendapat informasi yang dimintanya tadi, ia pun menutup telefonnya kembali. Kemudian ia melaporkanya ke David.


"M-maaf, Tuan. Ternyata tadi pagi, tiba-tiba saja dia meminta ijin untuk libur selama 4 hari, Tuan. Dan setelah 4 hari ia akan kembali masuk bekerja lagi di sift malam. Jadi, di sekitar jam sepuluhan malam dia baru akan masuk kerja lagi, Tuan."


"Oh, jadi begitu." David mengusap-usap dagunya dengan sebelah tangan. Dan mengangguk- anggukan kepalanya sembari mendengarkan laporan informasi dari Pak Budi.


"Pasti gadis itu sengaja mengambil libur agar bisa menghindar dariku. Hahaha ... dasar gadis bodoh! Kamu pikir kamu bisa kabur lagi dariku? Setelah aku bisa menemukanmu nanti, jangan harap aku akan melepasmu lagi, Tiana," ujar David membatin.


"Ok, Ren. Kita tidak jadi pergi hari ini. Aku ingin menemuinya terlebih dahulu," ucapnya kepada Rendy.


Rendy pun menggangguk. "Baik, Bang."


Kemudian David kembali menatap kedua orang tersebut. "Sekarang giliran Anda, Pak Heru."


"Iya, Tuan. Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" jawab sang meneger itu dengan gemeteran. Wajahnya tanpak pucat pasi karena tegang dan ketakutan.


"Tolong Anda informasikan ke seluruh pegawai di sini, kalau saya sudah tidak berada lagi di sini atau sudah kembali ke kantor pusat lagi, ok?" tukasnya lagi.


"Dan ingat, jangan sampai Tiana eh, maksud saya Ana si gadis HK itu tau kalau saya masih berada di sini. Mengetri!" gertaknya memberi peringatan kepada mereka berdua.


"Me-mengerti, Tuan," jawab keduanya secara berbarengan.


"Kalau sampai ada yang tau saya masih berada di sini. Dan apa lagi si Ana itu tau. Maka kalian yang akan menanggung akibatnya. Jadi, camkan itu!" Pria jangkung berbadan atletis itu kembali memberi peringatan agar kedua orang tersebut benar-benar mau merahasiakan keberadaannya di hotel ini.


"Ba-baik, Tuan."


"Sudah sekarang kalian boleh pergi!" usirnya sambil mengibas-ngibaskan tangan.


"Baik, kami permisi, Tuan." Kedua orang itu berdiri dan menunduk memberi hormat terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan kamar.


Setelah kedua orang itu pergi, Rendy langsung bertanya, "Bang, jadi benar kalau gadis itu adalah Tiana?"


Pemuda berkumis tipis itu masih merasa tidak percaya kalau Tiana benar-benar berada di hotel ini.


"Ya, kamu liat sendiri saja nanti, Ren! Akan aku buktikan kalau firasatku ini selalu benar," jawab David dengan penuh percaya diri.


Rendy mengangguk. "Ok, mari kita liat saja, Bang. Gimana reaksinya saat ia tau kalau ternyata Abang sudah bisa mengenalinya. Dan Abang sengaja menjebaknya, dengan pura-pura sudah pergi meninggalkan hotel ini, bukan?"


"Hahaha .... ! Kamu memang cerdas, Ren. Tau aja apa yang sedang aku rencanakan," pujinya.

__ADS_1


"Rendy gitu loh, Bang!" jawab Rendy dengan membusungkan dan menepuk dadanya dengan bangga.


"Ya, mari kita lihat aja, nanti! Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu hari itu terjadi. Hahaha ...."


__ADS_2