Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Tiana Dalam Bahaya


__ADS_3

Harun dan Nadia yang ikut menginap di kamar lain yang letaknya tak jauh dari kamar David dan Tiana, merasa sangat syok. Di saat mereka sedang keluar kamar, tiba-tiba saja keduanya melihat ada Kania yang sedang berdiri di depan kamar pengantin.


"Kania!" pekik keduanya, secara bebarengan membelalakan mata.


Lalu dengan sangat panik pasangan suami istri itu langsung menghampiri dan menyeret anak gadisnya itu untuk masuk ke dalam kamar mereka.


"E-eh ... Papa, Mama!" seru Kania yang merasa sangat kaget. Karena tiba-tiba saja ada yang menarik tubuhnya dari belakang.


"Stt ...." Kedua paruh baya itu langsung melotot dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya masing-masing.


"Jangan berisik, Kania!" tandas Harun.


"Ya ampun, Kania! Kamu ke mana saja, Sayang? Sukurlah kamu sudah kembali. Jadi, Mama sama Papa gak perlu susah-susah lagi cariin kamu," sambar Nadia. Sembari memeluk tubuh gadis itu, ia kini bisa bernafas lega.


"Tunggu-tunggu, Mah, Pah! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa di berita internet tadi dikabarkan kalau David itu menikahnya denganku?" tanya Kania merasa sangat kebingungan.


"Ini semua juga gara-gara kamu, Kania!" bentak Harun yang merasa cukup kesal dan emosi dengan anak gadisnya itu.


"Loh, kok aku?" protes Kania.


"Iya, kalau bukan karena kamu yang kabur dari rumah. Papa sama Mama gak perlu repot-repot cari pengantin palsu buat gantiin kamu di pelaminan tadi!" sambung Harun.


"Apa?! Pengantin palsu?" Dengan mengerutkan dahi, Kania tampak semakin kaget dan kebingungan saja. "Ja-jadi cewek itu --"


Nadia menggangguk. "Ya, Mama dan Papa terpaksa menyuruh Tiana menjadi pengantin palsu."


"Hah! Tiana?!" Gadis berusia 23 tahun itu kembali terpekik kaget. Sungguh ia benar-benar tidak mengira kalau penggantin palsunya itu adalah Tiana. Seorang pelayan yang baru bekerja di rumahnya beberapa bulan yang lalu. "Kok, bisa?"


"Ya bisalah. Untung saja Papa bisa berpikir cepat. Sehingga bisa menemukan ide itu," sahut Harun.

__ADS_1


"Iya, dan kebetulan juga si Tiana nya mau. Jadi ya sudah, kita langsung bekerjasama gitu, Nia," lanjut Nadia.


"Berarti, sekarang Tiana sedang berada dalam satu kamar dengan David dong? Kalau sampai ketauan bagaimana, Papa? Dan juga ... bila sampai keduanya melakukan itu --"


Nadia langsung memotong ucapannya. "Sudah kamu tenang saja ya, Sayang! Semuanya sudah diatur dan terencana. Jadi Mama jamin, si Tiana gak bakal ketauan dan akan berbuat macam-macam dengan David. Karena kami telah memberikan obat tidur di minuman David. Sehingga malam ini dia tidak akan bisa berbuat macem-macem pada Tiana."


"Oh, jadi begitu. Ta-tapi--" Gadis itu masih merasa ragu.


"Sudahlah, kamu tenang saja! Sekarang kita tinggal menunggu Tiana keluar dari kamar. Lalu kamu bisa masuk ke dalam kamar itu untuk menggantikannya, ok?" Lelaki paruh baya itu menepuk pundak putrinya. Mencoba untuk menyakinkannya.


Masih dengan sedikit ragu, gadis berambut pirang itu menggangguk pasrah. Lalu sembari menunggu Tiana keluar dari kamar pengantin, Harun dan Nadia mulai mencecarnya dengan bebagai pertanyaan, kenapa dia bisa nekad kabur dari rumah.


Dan mereka juga menceritakan semua rencana yang telah mereka atur tadi.


***


Sementara di dalam kamar pengantin. David tampak cukup tercengang melihat wajah cantik Tiana. Dia merasa sepertinya wajah Kania yang pernah ia lihat di foto yang ditujukan oleh ayahnya dulu tidak seperti ini. Atau ... itu hanya perasaannya saja?


Ya, salah dia sendiri sih. Di saat ayahnya menunjukan foto gadis itu, ia hanya melihatnya dengan sekilas. Sehingga ia pun tidak begitu mengingatnya. Tapi ... ya sudahlah lupakan soal itu.


Yang terpenting sekarang ini David sedang merasa kebingungan memikirkan kenapa gadis yang telah menjadi isterinya ini bersikap aneh seperti kepadanya.


Berbagai kejanggalan selalu ia rasakan dari awal acara pernikahannya tadi. Dan ia menjadi sangat penasaran sebenarnya maksud dan tujuan cewek itu apa? Sehingga ia sampai melakukan ini semau padanya.


Terlebih lagi ia sekarang tau, kalau gadis yang baru saja menjadi istrinya ini malah berniat memberinya obat tidur. Sehingga ia kini sedang menerka-nerka apa tujuannya gadis tersebut.


"Oh, aku tau. Jangan-jangan dia ingin membiusku untuk menghindari malam pertama bersamaku? Karena sedari tadi dia sepertinya ingin mengidar terus dariku. Mungkin dia merasa panik dan juga takut, sehingga ia melakukan itu padaku."


Masih sambil terus memandangi tubuh Tiana yang terbaring di atas tempat tidur, lekaki itu mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Tetapi ... masa sampai segitunya sih?" gumamnya lagi.


Lalu di detik berikutnya mata laki-laki itu langsung mendelik, di saat berbagai prasangka buruk mulai berseliweran di dalam otaknya.


"Atau ... jangan-jangan dia sudah tidak perawan dan takut ketahuan olehku. Sehingga ia berusaha untuk mengindariku agar tidak ketauan belangnya ini."


"Hahaha ... ya benar kurasa begitu," pikir David.


"Tapi ... kalau dilihat-lihat, sebenarnya cantik juga." Dengan perlahan tangannya mulai bergerak membelai wajah gadis itu.


Entah kenapa ketika tangannya mulia menyentuh kulit lembut nan putih mulus gadis tersebut, tiba-tiba saja ia merasa ada desiran aneh di dalam hatinya. Dadanya bergetar, dan aliran darahnya seolah mengalir dengan lebih kencang.


"Perasaan apa ini? Kenapa saat aku menyentuhnya, jantungku berdetak kencang? Dan hatiku juga mengingankan lebih dari ini?"


"Cih, baiklah mari kita buktikan kalau dugaanku ini salah atau benar?"


"Hahaha ... kamu pikir dengan memberiku obat tidur kamu bisa lolos dariku? Tidak, Nona!"


"Karena ternyata kamulah yang bodoh dan ceroboh. Sehingga malah kamu yang meminum sendiri obat tidur itu. Dan ... ya mungkin takdir memang sedang berpihak padaku. Sehingga aku bisa lolos dari obat tidur terkutuk itu. Jika tidak, pasti saat ini akulah yang sedang terkulai lemah di sini."


"Baiklah, karena kamu telah berani main-main denganku. Maka bersiaplah menerima akibatnya ini, Kania! Hahaha ...."


Dengan seringai jahat, laki-laki itu tergelak. Lalu dengan tidak sabar ia mulai mempreteli semua pakaian yang menempel di tubuh Kania dan melemparnya dengan asal ke lantai. Hingga akhirnya tinggal tersisa hanya ********** saja.


Glekk!


Dengan mata yang berbinar ia meneguk salivanya dengan kasar. Sungguh ia terpesona dan sangat tergoda atas kemolekan tubuh gadis itu.


"Aargh ... sial! Kenapa hanya dengan melihatnya saja, senjataku ini sudah langsung bereaksi?" rutuknya membatin sambil terus menatap lapar padanya.

__ADS_1


"Argh ... entah apa tujuanmu yang sebenarnya terhadapku, aku tak perduli. Yang terpenting sekarang aku harus bisa menikmati tubuh seksimu ini, Kania! Hahaha ...."


__ADS_2