
Brugh!
Dengan tidak sabar Kania langsung mendorong tubuh suaminya ke atas ranjang. Lalu ia segera menindihnya.
"Woy-woy, sabar Kan-- mm-mmght!" Lelaki itu tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Karena perempuan yang ada di atas tubuhnya itu kembali membekap bibirnya lagi dengan sangat bringas dan penuh nafsu.
Terlihat jelas kalau wanita itu sudah cukup mahir ataupun berpengalaman dalam melakukan hal tersebut. Sehingga membuat David merasa sangat yakin kalau wanita yang telah berstatus sebagai istrinya ini pastilah sudah tidak virgin lagi.
Berbeda dengan Tiana, si Kania palsu itu sungguh jauh berbeda denganya. Gadis itu terlihat begitu polos, pemalu dan bahkan tidak seagresif wanita ini.
"Ah ... sial! Kenapa di saat sedang begini saja, aku masih terus teringat dengan gadis itu?" rutuk David membatin.
Hingga tanpa terasa, Kania sudah mulai mempreteli semua baju yang menempel di tubuh kekarnya itu. Lalu dengan kecuphan-kechupan kecil wanita itu menggerayangi dan mencubunya. Sehingga lambat laun membuat pandangan matanya meremang dan hasratnya pun mulai terpancing untuk melakukan hal yang lebih lanjut lagi.
Kemudian lelaki itu membalik tubuh Kania. Kini bergantian wanita tersebut berada di bawah kungkungannya.
"Ok, baiklak Tiana. Ah ... sial kenapa nama itu lagi yang ada di kepalaku ini?" sungut David merasa kesal sendiri. Karena lagi-lagi yang ada di dalam pikirannya yang ia bayangkan saat ini adalah Tiana bukanlah Kania.
Namun, ia tak perduli lagi siapa gadis ýang ada di hadapannya ini. Yang terpenting saat ini, ia harus segera menuntaskan hasratnya yang terasa begitu menyiksa ingin segera tersalurkan. Karena ia masih terus terbayang bagaimana nikmatnya malam itu di saat ia menggagahi Kania palsu dulu.
Sehingga ia ingin menyalurkannya dengan Kania sekarang. Sebagai pelampiasan amarah dan dendamnya kepada kedua gadis itu, dengan sekali hentak saja ia sudah bisa memasukinya.
"Cih, sudah kuduga kamu memang sudah tidak perawan lagi. Hem ... kira-kira sudah berapa laki-laki yang telah menjamah tubuhmu ini, ******? Sehingga dengan begitu mudahnya aku pun bisa langsung memasukimu," gumam David mulai menggoyang bagian bawah tubuhnya dengan kasar dan brutal ia terus menyerang Kania.
Hingga ia tak menghiraukan bagaimana rintihan kesakitan dari Kania yang merasa sudah tidak nyaman lagi.
"Ah ... David! Hentikan, ini sakit, David. Tolong pelan-ĺah, aku mohon!" pinta Kania merengek kesakitan memohon padanya.
"Hahaha ... bukankah ini yang kau inginkan, ******? Maka nikmatilah dan rasakan ini!"
"Argh!" pekik Kania memejamkan kedua mata.
Dengan sangat kasar David malah semakin menghentak-hentakan pinggulnya lebih cepat lagi.
Sehingga membuat Kania semakin kelejotan tidak karuan, bukan nikmat yang ia rasakan melainkan malah kesakitan yang luar biasa di area intimnya karena perlakuan bringas dan kasar dari suaminya ini.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya dengan memejamkan kedua mata, lagi-lagi lelaki itu menyebutkan nama Tiana di saat ia telah mencapai puncaknya.
Lalu, sesudah menuntaskan hasratnya. Dengan segera ia melepaskan persatuannya dan meninggalkan gadis itu dengan begitu saja.
Sedangkan Kania kini sudah terkulai lemah tak berdaya merasa sangat kelelahan dan juga kesakitan di seluruh tubuhnya. Hingga pada akhirnya matanya pun langsung terpejam dan terlelap dalam tidurnya sampai pagi menjelang esok.
***
Sementara di kamar lain, terlihat Mike dan Rendy kini sedang duduk santai bersenden di sebuah sofa panjang yang membentang di tengah ruangan. Mereka kini sedang menunggu kedatangan David ke kamar ìtu.
Cekllik!
Dan taķ berapa lama orang yang ditunggu mereka pun datang. Dengan wajah yang terlihat kusut dan penampilannya yang sedikit berantakan, David memasuki kamar tersebut.
Sehingga membuat kedua orang yang berada di dalam kamar itu pun mengeryitkan dahi menatapnya dengan keheranan.
"Woy, kenapa kamu? Kelihatannya dia habis enak-enak tuh sama Kania." Dengan cengengesan Mike sengaja mengejeknya.
"Diem kau, Mike! Aku lagi gak mood buat bercanda!" sungut David kesal. Dengan kasar ia menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Kemudian sembari merentangkan kedua tangan, matanya pun terpejam dan wajahnya menengadah ke atas, ia menyandarkan punggungnya ke senderan sofa tersebut.
"Iya, tau nih. Dari kemarin-kemarin dia bete mulu!" sahut Rendy ikut mengejeknya.
"Huff!" Terlihat David menghela nafasnya dengan berat mencoba mengontrol emosinya. Kemudian ia duduk dengan tegap dan menoleh ke arah kedua temannya itu secara bergantian.
"Nama gadis itu adalah Tiana. Dan aku terlambat karena dia sekarang sudah pergi dari rumah Kania," ujarnya lesu.
"Hah, Tiana?!" Kedua pria yang berada di sisi kanannya itu saling melempar pandang dan melongo kebingungan.
"Iya, nama si pengantin palsu itu adalah Tiana, Bego! Kenapa kalian malah jadi O'on berjamaah sih!" dengusnya kesal.
"Hahaha ... ya sorry, Dav. Lagian kamu tiba-tiba saja langsung nyerocos kek gitu. Ya kami bingunglah," jawab Mike.
"Terus informasi apa lagi, Bang? Yang telah kamu dapatkan dari si Kania tadi?" sahut Rendy.
"Ya, dia bilang kalau gadis itu sekarang sudah pergi dari rumahnya itu," jawab David sewot.
__ADS_1
"Oh, jadi begitu. Em, tapi tunggu! Apakah Bang David sudah mencoba menghubungi Leo?" sambar Rendy.
"Sudah. Dan ternyata dia itu sangat bodoh. Bisa sampai kecolongan seperti itu."
"Hah, maksudnya?" ceketuk Mike dan Rendy bersamaan.
"Iya, tadi aku udah langsung telepon ke dia. Dan terus kata dia--" David pun menceritakan tentang semua percakapannya dengan anak buahnya tadi.
"Oh, kalau begitu berarti mobil yang satunya lagi itu yang membawa gadis itu keluar dari muhahnya si Kania," ucap Mike menyimpulkan.
"Ya, betul itu. Aku mengira juga begitu," timpal Rendy.
Lalu di detik berikutnya David pun mengingat sesuatu. " Argh ... sial! Berarti saat aku makan malam di sana kemarin, gadis itu masih berada di rumah itu dong. Dan ... ah ... sial sial sial!"
David merasa sangat marah dan sangat bodoh ketika ia mengingat saat ia berada di depan kamar pelayan kemarin. Ia mengira pasti di dalam kamar itulah Tiana berada. Pantas saja si Kania kemarin melarangnya untuk membuka kamar itu.
"Hey, kamu kenapa lagi sih, Dav?" tanya Mike lagi.
"Aku sudah dibodohi dan dibohongi oleh Kania lagi."
"Maksudnya?" kini Rendy yang menyahut lagi.
"Ah ... ceritanya panjang. Tetapi yang jelas walau bagamanapun juga aku harus bisa menemukannya. Pokoknya kalian harus bantu aku agar bisa menemukan gadis itu dengan segera."
"Lah, bagaimana cara kami untuk bisa mencarinya, David? Sedangkan kami saja tidak tau bagaimana wajah gadis yang bernama siapa tadi?" sambar Mike.
"Tiana, Mike!" jawab David dengan malas.
"Nah, iya si Tiana itu. Di sini, 'kan cuma kamu doang yang tau bagaimana wajah gadis itu? Jadi, ya aku rasa akan susah untuk mencarinya, Dav," sambung Mike.
"Ya bener banget tuh, Bang!" timpal Rendy. "Coba aja kalau waktu itu Bang David sempet mengambil foto gadis itu. Jadi, sekarang, 'kan kita tidak kesusahan seperti ini."
"Ya, mana ada kepikiran seperti itu, Ren. Orang aku aja tidak tau bakal terjadi yang sepèrti ini. Kalau aku tau pun ... ah, sudahlah! Kalian ini bukannya bantuin cari solusi bagaimana cara agar bisa menemukannya. Malah bikin tambah aku pusing aja, kalian!" sungut David merasa sangat kesal.
Sedangkan kedua pria yang bersamanya pun hanya bisa memasang cengir kuda. Karena kebingungan dan tak tau harus berbuat apa sekarang ini.
__ADS_1