
"Aaa ...."
Brugh!
Tubuh Tiana terhuyung ke depan membentur tubuh CEO itu dari samping. Sontak semua orang yang berada di sana langsung terkejut melihatnya.
Dengan sangat panik Tiana langsung menundukkan kepala dan meminta maaf. Dia tidak ingin kalau laki-laki yang ada di hadapannya itu sampai melihat wajahnya. "M-maaf, Tu-tuan sa-ya tidak sengaja," ujarnya terbata.
Sungguh kini ia merasa sangat gugup dan juga ketakutan. Untung saja ia memakai masker sehingga kemungkinan besar lelaki itu tidak bisa mengenalinya.
Ya, walaupun sekarang ini sudah memasuki di tahun 2023 dan corona sudah berlalu. Namun, demi kenyamanan para pengunjung, di hotel tersebut masih dengan ketat terus menjalankan protokol kesehatan. Sehingga selama masih dalam jam kerja semua karyawan ataupun para staf hotel diharuskan memakai masker.
Tak terkecuali juga dengan Tiana. Dengan rambut hitam yang di sanggul kecil, wajahnya yang cantik itu kini tertutup masker putih dan dengan harap-harap cemas ia masih terus menunduk tak sedikit pun berani mengangkat wajahnya.
Sebenarnya David juga merasa cukup kaget dibuatnya. Kenapa tiba-tiba saja ada orang yang menambraknya dari samping. Namun ia hanya diam mematung. Dengan tatapan dinginnya ia memicingkan sebelah matanya menoleh ke arah seorang gadis yang sedang menunduk ketakutan itu.
Sementara semua orang yang ada di sana merasa kaget dan juga terperangah menyaksikan semua itu.
Sedangkan Pak Heru sang manajer dengan rasa khwatir dan juga ketakutan langsung berlari mendekatinya. "Maafkan dia, Tuan. Dia tidak sengaja melakukan ini," ucapnya memohon sambil menundukkan kepalanya di depan David.
"Hem!" Lagi-lagi David hanya mengangguk. Kemudian ia kembali berjalan meninggalkan Tiana yang masih berdiri menunduk di tempatnya tadi. Raut wajahnya tampak begitu tegang dan cemas.
Sedangkan Rendy yang ada di belakang David juga turut menoleh ke arah Tiana. Ia kini sedang mengamatinya dengan seksama. Seolah-olah ia merasakan sesuatu yang aneh dengan gadis itu. Namun apa yang aneh, ia juga tidak tau. Sehingga ia pun hanya berlalu dari hadapannya dengan begitu saja.
__ADS_1
"Huff!" Akhirnya gadis berlesung pipi itu dapat bernafas dengan lega, karena David dan asisten atau entah siapalah itu tadi tidak mengenali dan tidak merasa curiga padanya.
Sang manajer langsung menegurnya. "Ana, apa yang kamu lakukan, hah?" Ia setengah berbisik kepadanya.
"Ma-maafkan saya, Pak!" ucap Tiana lirih.
Sang manajer hotel itu nampak begitu kesal dan marah kepadanya. "Ini peringatan bagimu! Jika, nanti kamu sampai melakukan kesalahan lagi, maka akan fatal akibatnya. Mengerti!"
"I-iya, Pak. Saya mengerti."
"Sudah sana-sana pergi!" Sang menejer pun mengibaskan tangannya mengusir agar dirinya segera menyingkir dari sana.
"Baik, Pak. Permisi." Kemudia Tiana langsung masuk barisan lagi dan meminta maaf ke orang yang ada di belakangnya tadi.
Sementara Rendy merasa seperti ada yang menganjal memikirkan gadis tadi. "Kenapa aku kaya merasa ada sesuatu yang aneh dengan gadis yang tadi, ya? Tetapi apa?" ucapnya dalam hati.
"Gadis yang mana?" David berpura-pura tidak tau.
Sehingga membuat pria yang kini telah genap berusia 25 tahun itu mendengus kesal. "Ya gadis yang tadilah, Bang. Yang barusan nabrak Abang itu loh."
"Oh," jawabnya singkat.
Pria berpakaian formal itu memutar bola matanya malas. Melihat respon dari atasan yang sekaligus kakak sepupunya itu hanya ber 'oh' ria. Dia terlihat cuek dan tak perduli dengan pertanyaanya itu. "Ya elah, Bang. Masa cuma jawab oh, doang sih?"
__ADS_1
"Lah, terus aku harus jawab yang bagaimana, Ren?"
"Ih, serius deh, Bang. Aku kok merasa kayak gimana gitu, sama gadis yang itu tadi, Bang."
Ucapan Rendy malah membuat pria berambut klimis itu semakin kebingungan tidak mengerti maksud dari perkataanya itu. David mengerutkan dahinya dan menoleh ke arahnya. "Maksud kamu gimana sih, Ren? Jangan bikin aku bingung, deh!"
"Aduh, gimana ya, Bang? Kok aku malah jadi bingung sendiri ya, cara ngejelasinya itu gimana?" Rendy terdiam sejenak, memikirkan bagaimana cara menjabarkan maksud perkataanya atau rasa curiganya terhadap gadis itu.
"Gini ya, Bang. Aku merasa seperti pernah melihat gadis itu deh, Bang. Tapi di mana ya?"
"Lah, mana aku tau?" jawab David.
Lai-lagi Rendy mendengus kesal mendengar jawabannya.
"Gini ya, Bang. Dengerin aku dulu, napa? Tadi waktu aku memperhatikannya, dia itu kelihatanya kayak gugup dan ketakutan gitu. Seoalah-olah ada yang disembunyikan olehnya, atau apalah gitu. Aku pun tidak mengerti. Tetapi yang jelas aku jadi merasa curiga gitu deh, Bang," lanjut Rendy lagi.
"Alah lebay kamu, Ren. Aku sih merasa biasa aja, tuh. Gak ada yang aneh deh." David terlihat santai dan tidak perduli dengan gadis tersebut. "Udah, gak usah terlalu dipikirkan! Gadis seperti itu sudah biasa, mereka memang sengaja menabrakku dan berpura-pura bilang tidak sengaja. Hanya untuk mencari perhatianku saja. Jadi cuekin aja, lagi!"
"Ta-tapi, Bang."
"Udah, ayo kita harus ke ruang manajer dulu untuk segera melakukan rapat hari ini, Ren! Gak usah bahas yang gak penting gitu deh! Fokuslah pada rapat hari ini aja, Ok!" ujar David sembari melanjutkan langkahnya menuju ruangan itu.
Sementara Tiana, kini sudah bisa bernafas lega. Ketika melihat kedua orang itu sudah berlalu meninggalkan tempa ini. Sungguh dirinya tadi merasa ketar-ketir sangat takut jika David sampai mengenalinya. Dan untung saja tidak.
__ADS_1
Akan tetapi ia belum bisa merasa tenang dan aman. Karena ternyata lelaki itu akan berada di hotel ini dalam waktu yang cukup lama baginya, yaitu sekitar 1 mingguan. Sehingga tentu saja ia merasa sangat khawatir apa bila lelaki itu terus berada di hotel ini. Sudah pasti ia akan sering berinteraksi ataupun bertemu dengannya nanti.
"Duh bagaimana ini? Jangan sampai dia mengenaliku, Ya Allah," batinnya mulai resah.