
"Ada, Tuan. Kalau Tuan ada fotonya dengan gampang kita pasti bisa menemukannya," kata Leo.
"Nah, itu dia permasalahannya. Masalahnya si Bos kita ini gak punya fotonya, Pak," sahut Rendy.
"Lah, kok bisa?" tanya Leo merasa kebingungan.
"Ah ... udahlah, ceritanya panjang. Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus terus cari infomasi tentang si Tiana itu. Kamu, "kan bisa tanya-tanya orang yang bekerja di rumah itu, di mana alamat tinggal Tiana dulu dan segala hal yang berhubungan dengan gadis ìtu. Mengerti?"
"I-ya baik, Bos."
"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang!" usirnya. "Dan ingat, kalau ada apa-apa, kamu harus segera melaporkannya padaku!" titahnya lagi.
"Baik, Bos. Kalau begitu saya permisi."
"Hemm." David mengangguk dengan malas.
Kemudian lelaki berjaket kulit itu memakai kembali kaca mata dan topi hitamnya lagi. Setelahnya ia pun meninggalkan tempat tersebut.
"Bang, apakah kamu sudah tau apa alasan Kania melakukan itu terhadapmu, Bang? Em ... maksudku, kenapa si Kania itu malah menggunakan pengantin pengganti di hari pernikahan kemarin?" tanya Rendy merasa kebingungan.
"Em ... aku juga gak tau. Karena semalam aku gak sempat menayakan itu padanya," jawab David.
"Terus ... semalam Abang ngapain aja sama dia? Jangan bilang --"
Belum sempat Rendy menyelesaikan ucapannya, Mike yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyelanya.
"Ya ngapain lagi kalau bukan habis ***-*** sama Kania, Ren," sambar Mike yang selesai mandi langsung menghampiri mereka berdua.
Rendy langsung mendengus kesal mendengarnya. "Huh, dasar player! Gak bisa liat cewek dikit aja langsung diembat!"
"Hahaha ... ya mau gimana lagi? Orang dia duluan kok yang menyerangku. Ya udah aku sikat aja sekalian," jawab David nyantai.
Membuat Rendy memutar bola matanya dengan malas mendengar jawabannya. "Eh, tapi, Bang. Semalam aku gak sengaja melihat Kania bertengkar dengan seorang cewek loh, Bang. Dan sepertinya cewek itu mengetahui sesuatu hal tentang Kania pada hari pernikahan itu. Tapi sayang, ketika aku ingin mencari cewek itu, aku tidak menemukannya," terangnya.
"Lah, kok bisa?" sahut David tampak kecewa.
"Kalau menurutku sih, mungkin pada hari itu si Kania itu melarikan diri atau kenapa ya kira-kira? Kok bisa-bisanya dia menjadikan Tiana sebagai pengantin penggantinya. Sungguh ini sangat membagongkan, eh membingungkan maksudku. Hehehe ...." celetuk Mike cengengesan.
"Iya, aku juga masih belum mengerti apa alasan yang sebenarnya Kania melakukan itu semua. Dan aku harus menyelidikinya lagi," ucap David.
"Kalau menurutku sih, Bang. Entah apapun itu alasannya, tetapi yang jelas dari penerawanganku ini terlihat kalau keluarga Pak Harun itu tidak ingin pernikahan kalian itu sampai gagal. Sehingga bagaimanpun caranya mereka tetap berusaha agar penikanmu ini Bang tetap berjalan lancar. Termasuk juga dengan cara yang kemarin itu, Bang. Mencari pengantin pengganti gitu," timpal Rendy.
__ADS_1
"Hem ... ya benar-benar. Aku setuju dengan pendapatmu itu, Ren," sahut Mike. "Karena mau bagaimanapun juga mereka tidak mau mengambil resiko jika sampai pernikahan itu sampai gagal. Yang ada pasti Om John marah besar dan tentu saja akan membatalkan semua proyek kerjasama dengan keluarga Pak Harun. Sehingga pasti mereka nanti akan rugi besar dong kehilangan proyek besar yang biasa selalu mereka dapatkan dari keluargamu itu."
"Ya ya, benar. Lagi pula mana ada sih cewek yang menolakmu, Bang? Kalau bukan karena kekayaan keluargamu itu, belum tentu si Kania itu mau dijodohkan denganmu, Bang," celetuk Rendy.
"Nah itu dia, mungkin bisa jadi itu adalah salah satu alasan kenapa si Kania bisa tidak ada di hari pernikahan itu. Dan kedua orangtuanya langsung mencari pengantin palsu untuk menggantikannya," sambung Mike.
"Ah ... entahlah. Kepalaku tambah pusing memikirkan itu semua." Dengan sangat kesal David mengacak-acak rambutnya merasa frustasi. "Sudahlah, lebih baik aku mandi dulu sekarang."
***
Sementara di kamar lain.
Dengan perlahan Kania mulai terbangun. Gadis itu tampak sedikit kebingungan ketika menyadari dirinya kini sudah berada di dakam sebuah kamar hotel dan dalam keadaan bugil tanpa busana.
Namun beberapa detik kemudian, selintas bayangan mulai berseliweran dalam ingatan. Lalu ia pun tersenyum senang membayangkan bagaimana panasnya pergumulan semalam.
"Tapi ... ngomong-ngomong di mana dia? Kok tidak ada?" tanya batinnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari sosok laki-laki itu berada.
Namun hasilnya nihil. Karena ia tak mendapatkan siapa pun juga berada di sana. Sehingga membuatnya mulai merasa kebingungan.
Cekllik!
"Sudah bangun?" tanya David. Dengan wajah datarnya ia menatapnya dingin.
Sehingga membuat Kania merasa sedikit gugup melihatnya.
"Tanda tangani ini!" Belum sempat Kania menjawab. Terlebih dahulu laki-laki yang sedang berdiri di dekat ranjang melemparkan sebuah map kepadanya.
"A-apa ini, Sayang?" tanya Kania kebingungan.
"Kamu tidak buta aksara, 'kan? Jadi bacalah!" Dengan melipat tangan di depan dada, David menatapnya sinis.
"Hah, i-ya baik." Dengan tangan yang sedikit bergetar, wanita cantik itu mengambil map merah yang tergeletak di pangkuannya.
Dirinya tampak syok ketika membuka map yang berisikan beberapa lembar kertas itu. Kedua netranya mendelik saat membaca deretan aksara yang tersusun rapi di sana.
"I-ini maksudnya apa, Sa-sayang?" Kania menatapnya dengan keheranan
"Hahaha ... masa kamu tidak tau sih? Kamu sudah baca, 'kan semuanya?" jawab David menyeringai.
"Ja-jadi maksudnya ini adalah kontrak pernikahan?"
__ADS_1
"Ya."
"Ta-tapi kenapa kamu mekakukan ini padaku, David?"
"Sudahlah, Kania! Kamu pikir aku ini laki-laki bodoh yang maù saja menikah dengan gadis yang sudah tidak suci lagi sepertimu?"
Degg!
Kania semakin panik dan sekaligus ketakutan jika sampai lelaki itu tau hal yang sebenarnya.
"Ta-tapi aku memang sudah tidak virgin lagi, ka-karena pada malam pengantin kemarin bukankah kamulah yang telah mengambil keperawanku," sanggahnya.
"Oh, ya? Tetapi, kenapa aku merasa kamu berbeda sekali dengan malam itu ya?"
Glekk!
Kania menelan salivanya dengan kasar. Sungguh ia merasa sangat kebingungan bagaimana cara mencari alasannya.
"Em ... mu-mungkin karena kamu sedang mabuk malam itu. Jadi kamu merasa berbeda," lanjut Kania masih berusaha untuk mencari alasan.
"Oh, begitu ya? Dan ... satu lagi, kalau tidak salah semalam kamu itu ... menyebutkan nama Tiana. Emang siapa sih, Tiana? Sampai-sampai kamu terus mengingau menyebut namanya?" Dengan berpura-pura bodoh, David sengaja mengerjai cewek itu.
Seketika itu, wajah Kania langsung terlihat sangat panik dan ketakutan. "Aduh ... gawat. Jangan-jangan karena aku mabok semalem malah jadi keceplosan menyebut nama Tiana. Semoga saja aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepadanya," batin Kania resah.
David tersenyum tipis, sedang menertawakan wajah Kania yang terlihat sangat tegang dan panik. "Ah ... sudahlah aku tak perduli soal itu. Yang terpenting sekarang kamu tinggal tanda tangani aja itu semua!"
"Tunggu-tunggu! Ini maksudnya apa?"
"Ya, yang pertama kita akan melakukan kawin kontrak selama 5 tahun. Dan selama itu pula kita harus berpura-pura sebagai pasangan suami istri sebagaimana mestinya. Dan kamu tidak bisa mengekang kebebasanku. Aku bebas melakukan apapun juga dan bebas berhubungan dengan siapa pun juga."
"Tapi, tenang di depan umum ataupun di depan semua orang kamulah yang menjadi istri sahku yang sebenarnya. Dan selama kamu menjadi istriku aku akan menjamin semua kemewahan untukmu."
"Bukankah tujuanmu menikahiku adalah itu, bukan?" cercar David.
Sungguh Kania merasa sangat marah dan tersinggung oleh ucapannya. Namun, ia tak bisa menyangkalnya. Karena memang benar tujuan utamanya adalah kemewahan ataupun kekayaan yang dimilikinya.
"Dan, apa bila kita sampai mempuyai anak. Anak itu nantinya akan diasuh olehku. Jadi setelah kita bercerai nanti, kamu dengan bebas masih bisa menikah lagi tanpa harus ribet memikirkan masa depan anak itu nantinya," lanjut David lagi.
"Jadi, bagaimana? Setuju atau kamu lebih memilih untuk langsung bercerai saja sekarang?"
"Apaa?! Be-bercerai?" pekik Kania semakin syok.
__ADS_1