
"Da-david?!" pekik Tiana kaget.
Dengan membelalakan kedua mata, gadis cantik yang semula sedang tertidur di atas tempat tidurnya itu langsung terbangun. Kini wajahnya tampak marah dan juga gelisah di saat tau siapa orang yang kini sedang menelfonnya.
Tidak usah ditanya, bagaimana pria itu bisa mengetahui nomer teleponnya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh pria itu? Dengan harta yang belimpah dan segala kekuasaan yang ia miliki, tidak ada yang tidak mungkin baginya.
Termasuk juga untuk menggali semua informasi tentangnya. Terlebih lagi pria tersebut adalah si pemilik hotel tempat ia bekerja kini. Tentu saja lelaki itu sudah mencari informasi tentangnya di hotel tersebut.
"Ya, aku David. Ternyata kamu sudah mengenali suaraku, ya?" David terkekeh sengaja ingin mengejeknya.
"Apa maumu?" tanya Tiana to the poin.
"Hahaha ... woy-woy, aku sangat suka sama orang yang to the poin kayak kamu, Sayang."
"Sudahlah, jangan banyak omong lagi! Sebenarnya apa maumu sekarang?" bentak Tiana yang sudah tampak emosi.
"Hahaha ... ternyata kamu galak juga, ya? Dan itu makin membuatku tertarik saja padamu."
"Sudah cukup! Aku tak ingin mendengar bualan recehmu itu. Kamu pikir aku senang mendengarnya? Cih, yang ada aku ingin muntah."
"Hahaha ... oke-oke, Sayang. Aku hanya sedang kangen saja denganmu. Dan aku harap kau mau datang menemuiku di sini."
"Cih, jangan mimpi aku mau datang menemui mu. Aku gak sudi!"
Dengan sangat kesal Tiana ingin segera mematikan telefonnya. Namun, langsung dicegah oleh David.
"E-eh ... tunggu-tunggu-tunggu! Jangan harap kau bisa kabur dariku lagi, Tiana!"
"Kenapa tidak?" jawab Tiana menantangnya. "Persetan denganmu! Mulai sekarang aku berhenti dan tidak akan bekerja lagi di hotel terkutukmu itu."
"Hahaha ... memangnya kamu bisa dengan mudah berhenti dari sini? Seingatku kamu masih terikat kontrak selama 2 tahun di sini. Dan ... jika kamu keluar, maka kamu harus membayar kompensasinya nanti. Dan, aku rasa kamu tidak akan sangggup untuk membayarnya."
"Apa maksud kamu? Tidak ada perjanjian yang seperti itu," sela Tiana merasa kaget. Karena setau dia tidak ada perjanjian kontrak kerja yang seperti itu.
"Ya, itu dulu. Tapi sekarang ada, dan akulah yang membuatnya khusus untukmu, Sayang. Hahaha ...."
__ADS_1
"Ah ... dasar brengsek, sialan! Sebenarnya apa maumu?" Dengan menggertakan gigi, sebelah tangannya mengepal erat menahan kemarahan yang sedang dirasakannya kini.
"Jika kamu ingin tau apa keinginanku? Maka temuilah aku sekarang! Kita akan membicarakan kesepakatan, ok?"
"Jika, kau tak mau datang menemuiku sekarang. Maka jangan salahkan aku jika ... dua teman kostanmu itu yang akan menjadi korban!" Dengan menyeringai jahat lelaki yang kini tengah duduk santai di balkon kamarnya itu memberinya ancaman.
"Apaa?!" Lagi-lagi gadis itu merasa sangat syok ketika mendengar ucapannya. "Jangan sekali-kali kau menggagu teman-temanku itu. Mereka tidak ada sangkut pautnya denganku!"
"Hahaha ... maka datanglah!"
Tutt ....
Seketika itu David langsung mematikan telefonnya. Sehingga menbuat Tiana meradang dan semakin emosi saja terhadapnya.
"Ha-hallo ... hey tunggu! Argh ... apa maksudnya ini? Atau jangan-jangan dia mau ngapa-ngapain si Eliz dan Utari, lagi. Duh ... bagaimana ini?"
Dengan sangat gusar, gadis itu kini berjalan mondar mandir di samping ranjang. Sungguh ia tak habis pikir kenapa pria itu masih saja terus mengganggunya lagi.
"Ok-ok! Kamu harus tetap tenang Tiana!"
"Aku harus menemuinya sekarang juga. Kalau tidak, aku takut jika laki-laki brengsek itu akan berbuat macam-macam dengan Eliz dan Tari bagaimana?"
Pada akhirnya Tiana memutuskan untuk datang ke hotel tersebut. Namun, sebelumnya ia pun membersihkan dirinya terlebih dahulu. Lalu setelahnya ia menghubungi Firman memintanya agar mau mengantarnya ke hotel.
Tutt ....
"Ya hallo, assalamu'alaikum. Ada apa, An?" ucap Firman di sambungan telepon.
"Wa'alaikum salam. Fir, kamu repot, gak? Bisakah kau mengantarku ke hotel sekarang?"
"Oke-oke, bisalah. Apa sih yang gak bisa bisa buat kamu?" jawab Firman sambil cengengesan.
Sehingga membuat Tiana memutar bola matanya malas. "Udah deh, jangan becanda! Ini aku lagi serius tau!"
"Lah, aku juga serius kok."
__ADS_1
"Tau, ah. Kamu bisa antar aku apa gak? Kalau gak, biar aku pesan ojol aja sekarang."
"E-eh ... iya aku bisa dong. Ya udah tunggu aku. Sekarang aku langsung OTW ke sana, oke? Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Klikk!
Tiana pun mematikan sambungan telefonnya. Lalu ia kembali merasa resah dan juga ketakutan.
"Dasar brengsek! Benar-benar kurang aja orang itu. Sebenarnya apa sih maunya? Apa masih kurang perlakuan jahatnya kepadaku selama ini? Ya Allah ... ! Cobaan apalagi ini? Kenapa di saat aku sudah bisa merasa tenang. Kenapa aku harus dipertemukan kembali dengannya, ya Allah?"
Gadis itu terlihat sangat marah dan ingin memaki-maki kepada laki laki laki itu, untuk meluapkan semua kemarahanya yang ia rasakan saat ini.
Beberapa menit kemudian Firman pun telah datang ke kost-kostannya. Dengan segera Tiana menaiki motor itu, lalu mereka langsung menuju ke hotel.
Begitu sampai di sana Tiana langsung masuk ke hotel, tanpa menunggu Firman terlebih dahulu.
Semua pegawai hotel yang mengenalnya melihat aneh kepadanya. Karena Tiana terlihat sangat terburu-buru memasuki hotel.
Dengan tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya gadis bercelana jeans dan berkemeja putih itu masih terus berjalan menuju kamar sang owner hotel tersebut.
Sedangkan Firman pun ikut berlari menyusulnya. Sehingga semakin membuat semua orang yang melihatnya merasa keheranan dan bertanya-tanya, "Ada apa dengan mereka berdua?"
Begitu sampai di depan kamar David, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, gadis itu langsung saja menerobos masuk. Sehingga membuat kedua pria tampan yang sedang berada di sana terlihat kaget dan menoleh ke arahnya.
Lalu David mengangguk pelan memberikan kode kepada Rendy agar ia segera pergi dari kamarnya ini.
Pemuda berkemeja abu-abu itu pun mengerti maksudnya, sehingga ia langsung berdiri dan meninggalkan kamar tersebut.
Setelah Rendy pergi, David yang sedang duduk di sofa itu pun tersenyum menyeringai padanya.
Lalu dengan santainya ia bertanya,.
"Ada apa, Tiana?"
__ADS_1