Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Kembalinya Sang Anak Majikan


__ADS_3

Sementara di dalam sebuah taksi, sekitar beberapa jam yang lalu. Terlihat seorang gadis cantik berpakaian modis dengan gaya ala-ala k-pop sedang duduk seorang diri di kursi belakang.


Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut Ikal panjang terurai berwarna pirang, kulit putih bersih, hidung mancung dan tidak lupa sepasang bola mata yang indah berwarna kecoklatan itu terlihat begitu sempurna bak seorang artis Korea saja.


Dan gadis itu bernama Kania Maheswari Sanjaya putri tunggal dari pasangan Nadia Atia Mega dan Harun Sanjaya Pramana. Ya, dia adalah sang pengantin asli yang berhasil kabur dari rumahnya sendiri.


Namun setelah berhasil kabur, kenapa gadis kaya nan manja itu kini malah berniat ingin kembali ke rumah? Ada apakah gerangan?


"Hiks-hiks ... dasar brengsek! Sialan kau Bisma! Udah aku bela-belain kabur dari pernikahan untuk datang ke apartemen kamu. Ternyata kamu malah lagi main belakang dan asik-asikan sama si ****** Akira."


Dengan berlinang air mata gadis yang terlihat sedang marah dan juga sedih itu terus mengumpat dan merutuki kebodohannya. Dirinya tidak perduli dengan pak supir taksi yang sedang terus memperhatikannya dari kaca spion dan menatapnya dengan keheranan.


Dengan sesegukan, sesekali ia menyeka air matanya yang jatuh di kedua pipinya. Gadis yang berusia satu tahun di atas Tiana itu kini sedang merasa sangat sedih dan juga kecewa. Karena ia tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang selama ini ia cintai malah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.


Pada awalnya gadis berambut pirang itu berniat ingin mengajak kawin lari lelaki yang telah menjadi kekasihnya selama 2 tahunan ini. Namun di luar dugaan, di saat ia datang ke apartemen pria itu, dirinya dikejutkan dengan adegan mesra kekasihnya yang sedang memadu cinta di dalam kamar.


Sehingga tanpa berpikir panjang lagi, perempuan cantik itu langsung saja meninggalkan pria tersebut dan ingin segera kembali ke rumah orangtuanya lagi.


Akan tetapi jika ia kembali ke rumah, apakah kedua orang tuanya tidak akan marah dan mengamuk kepadanya?


Namun bila ia tidak pulang ke rumah, ia akan pergi ke mana? Kalaupun pergi ke rumah kerabat dekat yang ada di kota ini juga percuma. Karena pada akhirnya nanti ia akan ketahuan juga oleh kedua orang tuanya.


Sehingga mau tidak mau, gadis itu pun memutuskan untuk kembali saja ke rumah tersebut. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti, ia sudah bertekad akan menghadapinya.


"Eh, tapi ... kira-kira sekarang bagaimana keadaan mama dan papa, ya? Pasti keluarga Pak Abraham marah besar kepada mereka," gumamnya.


Seketika gadis berambut pirang itu menghentikan tangisnya. Ia kini sedang mengkhawatirkan bagaimana keadaan kedua orang tuanya.


"Ah, tapi coba aku lihat berita di internet. Pasti ada yang memberitakan tentang acara pernikahan itu, bukan?" pikirnya.


Kania bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu jari-jari lentiknya kini mulai bergerak lincah menari di atas layar ponsel. Dengan wajah yang terlihat sangat serius dan tegang, kedua netranya menatap tajam ke arah benda tersebut.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, gadis itu langsung terbelalak kaget. Dengan sebelah tangan yang menutup mulutnya yang menganga. Gadis itu merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


Lalu sambil menggeleng kepala, gadis itu berkata. "Tidak! Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa pernikahan ini tetap berlanjut. Sedangkan aku saja sedang berada di sini? Lalu, yang telah menikah dengan calon suamiku itu siapa?"


"Atau ... jangan-jangan dia telah menikah dengan orang lain? Tetapi siapa? Argh ... kenapa ini semua membuatku jadi pusing sih?" ujarnya membatin.


Kini Kania merasa sangat kebingungan. Ketika ia telah membaca di salah satu situs berita online yang memberitakan bahwa pernikahan salah seorang anak pengusaha kaya raya yang bernama David Abraham tadi siang telah dilaksanakan.


Sungguh ini semua membuatnya merasa kebingungan dan sekaligus merasa penasaran siapa sang pengantin wanitanya kini?


Lalu dengan mata jelinya itu, gadis tersebut kembali menatap ke arah layar ponsel dan ia membaca berita itu lagi. "A-apa?! Be-berita ini tidak bohong, 'kan?" gumamnya lagi.


"Kenapa di sini dituliskan kalau si David malah menikah denganku?" Kania bertambah kebingungan di saat ia membaca ada namanya yang tercantum di berita itu.


"Wah ini benar-benar ada yang tidak beres. Aku tidak boleh diam saja seperti ini. Aku harus memastikan siapa cewek yang telah menggantikanku!" tukasnya.


"Pak, kita tidak jadi ke jalan kenanga. Tetapi sekarang tolong antarkan saya ke hotel Switzeland yang berada di jalan Sudirman itu ya, Pak!" titahnya.


"Ya, baik, Non," jawab si sopir.


Setelah beberapa menit kemudian, taksi biru itu kini telah sampai di depan hotel. Lalu dengan tidak sabar, Kania bergegas ingin turun dari mobil itu. Namun dicegah oleh si sopir.


"Eh, Nona bayar dulu!" sergahnya.


"Iya, ya." Kania segera mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dari dalam tas. Kemudian dengan sangat kasar ia melemparkanya ke arah si sopir tadi.


"Nih, ambil saja kebaliannya!" ucapnya jutek.


"Astagfirulloh!" Sambil menggelengkan kepala, si sopir itu mengelus dada. "Cantik sih cantik. Tapi kok tidak ada sopan santunnya gitu!" dengusnya kesal.


Sementara Kania kini dengan tergesa-gesa segera masuk ke dalam hotel. Ia pun bertanya kepada sang petugas resepsionis hotel dan memastikan kalau berita yang ia baca tadi benar atau tidak.

__ADS_1


"Iya, benar Nona. Kalau Tuan David tadi siang telah melaksanakan resepsi pernikahan di sini," ujar si petugas resepsionis itu.


"A-apaa?! Ini tidak mungkin. Aku tidak sedang mimpi, 'kan?" Sambil berjalan mundur, gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia tampak begitu syok dan menatap tidak percaya kepada si petugas resepsionis itu.


"La-lalu sekarang, di -di mana si pengantin baru itu, Mbak?" tanyanya dengan terbata.


"Ya, tentu saja mereka sekarang sedang berada di kamar pengantin, Nona," jawab si resepsionis lagi.


Seketika itu Kania langsung bergerak menuju lift. Ia ingin segera naik ke lantai 20. Sudah pasti ia tau di mana letak kamar pengantin yang seharusnya menjadi kamarnya sekarang.


Dengan raut wajah yang menegang, jantungnya kini berdegup dengan sangat kencang. Ia berniat akan mendatangi kamar itu. Karena ia ingin tau siapa perempuan yang kini sedang menyamar sebagai dirinya itu.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa bisa ada orang yang menyamar sebagai aku? Dan di mana Mama sama Papa sekarang? Apakah mereka tau? Atau ... bisa jadi Ini adalah rencana Mama sama Papa?" Dengan kebingungan berbagai spekulasi bermunculan di dalam pikirannya.


Hingga pada akhirnya pintu lift pun terbuka. Kaki rampingnya itu segera melangkah menuju ke salah satu kamar mewah yang ada di sana.


Begitu telah sampai di depan pintu kamar tersebut, dengan dada yang bergemuruh ia mengatur nafas. Setelah dirasa ia sudah siap, tangan gadis itu segera mengetuk pintu.


Tok-tok-tok!"


Dug-dug!


Dug-dug!


Dengan jantung yang berdebar kencang dan tak beraturan, gadis itu merasa sangat tegang di saat menunggu pintu itu terbuka.


Satu detik.


Dua detik.


Hingga akhirnya pintu itu pun terbuka.

__ADS_1


Ceklikk!


Dan ia pun melihat---


__ADS_2