
"Ternyata se-semalam dia telah tidur dengan David, Pah!" kata Kania.
"Apaa?!" Lagi-lagi semua orang yang sedang berada di kamar itu dibuat syok saat mendengar tiap perkataan yang diucapkan oleh Kania.
"A-apa maksud kamu, Sayang?" tanya Nadia dibuat kebingungan belum mengerti arti dari perkataan ambigu yang dilontarkan oleh putrinya ini.
"Sekarang semua keluar!" usir Harun kepada beberapa orang pelayan yang sedang berdiri di samping Tiana.
Dengan patuh, ketiga orang pelayan itu keluar dengan satu per satu meninggalkan kamar tersebut. Hingga akhirnya di saat Sri berjalan ingin menuju pintu, lekaki paruh baya itu langsung mencegahnya.
"Tunggu, Sri! Kamu tetap di sini temani Tiana!" titahnya lagi.
"Ba-baik, Tuan," jawab Sri menggangguk. Kemudian ia bergerak mendekati Tiana dan menuntunnya untuk kembali terduduk di pinggir ranjang.
"Sekarang jelaskan, Tiana! Apakah yang dikatakan oleh Kania tadi adalah benar?" tanya Harun mulai menginterogasi. Dengan wajah yang terlihat datar, tatapan pria berkamata itu menyorot tajam ke arah Tiana.
Dengan perasaan yang tidak karuan, kini wajah gadis itu terlihat sangat gusar. Jari-jari lentiknya kini terus meremas ujung baju yang ia kenakan.
"Em ... sa-saya." Lidah Tiana terasa kelu seolah tidak bisa digerakan untuk menjawab pertanyaan dari sang majikan.
"Ayo buruan jawab!" bentak Kania merasa geram melihat Tiana yang sedari tadi hanya diam saja tidak mau menjawab.
Sehingga membuat gadis yang sedang duduk tertunduk itu terjingkat kaget mendengarnya.
Sedangkan Kania yang masih berdiri di dekat kedua orangtua itu menatapnya nanar. Ingin rasanya ia kembali menyerangnya lagi. Namun, sayang tubuhnya kini sedang ditahan oleh ibunya. Sehingga ia pun tidak bisa mewujudkan keinginannya itu.
Dengan penuh ketakutan gadis berlesung pipi itu masih tetap tertunduk terdiam seribu bahasa. Sungguh ia merasa bingung mau berkata apa sekarang.
"Sebentar, Sayang! Bagaimana kamu bisa tau kalau semalam mereka telah--" Belum sempat Nadia menyelesaikan ucapannya, terlebih dahulu Kania langsung menyelanya.
"Karena ketika aku masuk ke dalam kamar, aku melihat David dalam keadaan telanjang bulat berada di atas ranjang, Mama!"
__ADS_1
"Hah!" Lagi-lagi Nadia tampak syok dibuatnya. "Jadi ... beneran semalam mereka telah melakukan itu?"
"Ya iyalah, Mah. Kalau tidak, ngapain juga si David pakai telanjang bulat seperti itu?" sahut Kania sewot.
"Te-terus, apakah David sempat melihat wajah Tiana?" sambung Nadia lagi.
Deg!
Reflek Harun langsung menoleh ke arah istrinya. Dirinya tampak syok dan merasa sangat khawatir jika David benar-benar telah melihat wajah Tiana bagaimana?
Kania menggelengkan kepala. "Entahlah, Mah. Aku pun tidak tau. Tetapi, dia bilang kalau semalam dia mabuk berat sehingga membuatnya secara tidak sadar melakukan itu semua pada Tiana, Mah."
"Apaa! Mabuk berat? Bagaimana bisa? Jelas-jelas lelaki itu semalam baik-baik saja dan tidak dalam keadaan mabuk. Kenapa dia bisa bilang seperti itu?" batin Tiana merasa kebingungan.
"Oh, sukurlah," ujar Nadia bernafas lega.
"Loh, Mama kok malah seneng sih?" protes Kania kesal.
"Yang ada semuanya akan semakin menjadi kacau, Tiana. Dan bahkan bisa saja si David marah besar sama kita karena merasa telah ditipu ataupun dipemainkan oleh keluarga kita nanti, Tiana!" lanjut Nadia menjelaskan.
"Ya benar apa kata Mama kamu," sahut Harun. "Yang terpenting sekarang si David tidak menyadari kalau kita kemarin menjadikan Tiana sebagai penggantimu di pelaminan. Jadi, sekarang sudah clear, 'kan masalahnya?"
"Apa! Clear bagaimana? Pokoknya aku nggak terima, Pah. Karena cewek murahan ini telah tidur dengan David semalam."
"Oh, aku tau sekarang. Jangan-jangan kamu memang dengan sengaja ingin tidur sama David, 'kan?" tuduh Kania mencercar Tiana.
Sontak, Tiana langsung menggelengkan kepalanya menyanggah tuduhan itu.
"Halal, ngaku aja deh! Kalau nggak, kenapa kamu semalam tidak menolaknya, huh!" Kania kembali berteriak keras kepada Tiana.
"Ah, aku tau, Pah. Dia memang dengan sengaja mau tidur dengan David dan berharap setelah itu dia akan menjadi istrinya yang sesungguhnya, Pah," sambung Kania lagi.
__ADS_1
"Enggak, Tuan, Nyonya." Tiana langsung menyanggahnya. "Tidak seperti itu. Sungguh, saya tidak pernah menginginkan ini terjadi, Nona. Hiks ... Hiks!" Dengan sangat sedih, gadis itu kembali menangis.
"Bohong! Nyatanya semalam kamu memang telah tidur dengannya, bukan?" bentak Kania lagi.
"Sudah cukup, Kania!" sela Harun. "Ini semua bukanlah salah Tiana. Justru yang bersalah di sini adalah kamu!"
"Apa! Ja-jadi Papah malah salahin Kania dan lebih membela dia!" sahut Kania merasa sangat kesal karena Papahnya malah membela gadis itu.
"Iya. Ini semua adalah salah kamu. Jika saja kamu tidak menghilang waktu itu, semuanya tidak akan menjadi kacau seperti ini, Kania," tandas Harun yang sudah mulai emosi melihat sikap keras kepala anak gadisnya itu.
Cep!
Kania langsung terdiam, merasa tertohok mendengarnya.
"Sudah-sudah, Kania, Papah. Jangan ribut lagi!" sergah Nadia berusaha untuk menengahi keduanya.
Tok-tok-tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Membuat semua orang yang berada di dalam kamar itu langsung terdiam dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ya, masuk!" seru Harun.
Krekett!
Terlihat salah satu pelayan tadi membuka pintu.
"Ada apa, Bik?" tanya Harun.
"Maaf, Tuan, Nyonya! I-itu di depan ada Tuan David."
"Apaa!"
__ADS_1
"David!"