Sang Pengantin Palsu

Sang Pengantin Palsu
Kania Mengamuk


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar pelayan yang ada di bagian belakang dari rumah keluarga Pak Harun. Terlihat seorang gadis cantik kini sedang duduk meringkuk di atas ranjang.


Dengan ditemani seorang wanita yang usianya 5 tahun lebih tua darinya, gadis itu menangis sesegukan menceritakan semua hal yang telah terjadi semalam.


"Ya, Allah, Tia. Kamu yang sabar ya!" ujar Sri yang ikut menitikan air matanya karena merasa sedih ketika mendengar semua ceritanya tadi.


"Hiks ... hiks ... sekarang aku harus bagaimana, Mbak? Mahkotaku kini sudah hancur da-dan aku sudah tidak suci lagi, Mbak. Hiks ... hiks!" ucap Tiana. Dengan tersedu-sedu gadis berlesung pipi itu masih meneruskan tangisnya yang seolah tidak bisa untuk dihentikan.


Sri langsung memeluknya dengan sangat erat. Lalu mengusap-usap punggungnya pelan, mencoba untuk menenangkannya. Sungguh ia merasa miris, iba dan tidak tega melihat gadis yang baru 3 bulan yang lalu ia bawa untuk bekerja di rumah ini, tengah bersedih.


Dirinya tidak pernah menyangka setelah membawa gadis itu bekerja di sini, kejadian yang buruk kini telah menimpanya. Ada perasaan sedikit bersalah padanya. Karena ia tidak bisa membantunya apa-apa.


"Cup-cup, sudah, Tia. Jangan menangis lagi, ya! Sekarang kamu harus tenangkan pikiran mu dulu. Kamu tidak boleh bersedih terus seperti ini!" Sri merenggangkan pelukannya. Lalu dengan memegang kedua bahu gadis tersebut, dengan perlahan mulai memberikan nasehat.


"Kamu harus sabar, ikhlas dan kuat, Tia. Ingat ini semua demi Ibumu!"


Deg!


Seketika itu Tiana teringat dengan sosok wanita yang ia sebut sebagai Ibu. Dengan perlahan tangisnya mulai mereda. Dan ia menyadari bahwa hal yang terpenting saat ini adalah kesembuhan penyakit ibunya.


Tak mengapa ia harus hancur lebur dan remuk padam ataupun jika mati pun sekalian ia rela. Asal ibunya bisa sembuh dan pulih lagi seperti sedia kala.


Ya walaupun ia harus kehilangan mahkotanya, sekarang ia mulai bisa ikhlas menerima kenyataan pahit ini, demi ibunya.


"Ta-tapi jika aku sampai hamil bagaimana, Mbak?"


Kini Sri menjadi kebingungan tidak tahu harus menjawab apa.


***


Sementara dari luar rumah, Kania yang baru saja pulang dari hotel langsung terlihat sangat marah.


Dengan tergesa-gesa wanita tersebut bergegas memasuki rumah.


"Tiana! Di mana kamu? Keluar kamu Tiana!" Suara gadis bergaun pink itu menggema memenuhi seisi ruangan.


Hingga membuat semua penghuni rumah langsung keluar dan menghampirinya dengan keheranan.


"Ada apa, Sayang? Kok kamu sudah pulang?" tanya Nadia merasa cukup kaget ketika melihat putri semata wayangnya itu kini sedang terlihat marah besar.


Dengan wajah yang terlihat sangat panik, wanita paruh baya itu langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Mana cewek murahan itu, Mah?" teriak Kania marah.


"Hah! ce-cewek murahan, siapa maksud kamu, Sayang?" Nadia dan semua para pelayan yang sedang berada di ruang tengah itu merasa kebingungan.


"Ya Tiana, Mamah!" Dengan sangat kesal gadis itu membentak Mamanya.


"Oh, Tiana. Emang ada apa , Sayang? Kamu yang tenang dulu, ya! Jangan emosi begini!" Wanita paruh baya itu mengusap-usap pundak Kania. Berusaha untuk menenangkannya.


"Bagaimana mau tenang, Mah? Pokoknya aku gak terima dan akan memberikan pelajaran sekarang juga!" Sudah seperti orang gila saja, gadis berambut pirang itu terus bergerak gusar mengelilingi seluruh ruangan ingin mencari Tiana.


"Di mana dia sekarang, Mah?" bentaknya lagi.


"I-ya tunggu!" Nadia langsung meraih tangannya agar gadis itu berhenti bergerak.


Sehingga membuat Kania berhenti bergerak dan menoleh kesal padanya.


"Sebenarnya ada apa, Sayang?" tanya Nadia lagi.


"Arghr ... pokoknya aku pingin ketemu dia, Mah, sekarang!" jawab Kania sewot.


Lalu gadis berambut pirang itu melihat ke arah para pelayan berkumpul. "Jawab! Di mana Tiana?" bentaknya garang.


Lalu, tanpa menunggu lama lagi Kania segera berjalan menuju kamar Tiana. Sementara Nadia dan yang lainnya terlihat sangat panik dan penuh rasa khawatir mengikutinya dari belakang.


Begitu sampai di depan kamar, Kania langsung mendobrak paksa pintu kamar itu.


Braghkk!


Sehingga membuat semua orang yang mengikutinya tadi langsung terjingkat kaget. Begitu juga dengan Kania dan Sri yang merasa sangat syok dan juga kebingungan menoleh ke arah pintu.


Lalu dari balik pintu itu muncullah sang anak majikan yang kini sedang menatap mereka tajam.


Deg!


"N-non Kania!" ucap Tiana lirih. Seketika itu gadis yang terlihat sehabis menangis itu merasa sangat ketakutan. Ia sedang menduga, pasti wanita itu sudah mengetahui apa hal yang sebenarnya telah terjadi semalam.


Dengan menelan salivanya dengan kasar, gadis itu merasa sangat panik dan juga deg-degan. Sèdang mengira-ngira apa yang akan dilakukan wanita itu terhadapnya nanti.


Sedangkan Kania dengan wajah yang memerah, kilatan amarah terlihat jelas di mata gadis berambut pirang itu. Lalu dengan wajah garangnya itu ia langsung menerobos masuk.


Dan tanpa terduga, dengan penuh emosi ia langsung melayangkan sebuah tamparan keras kepada Tiana.

__ADS_1


Plakk!


"Hah?!" Dengan serempak semua orang langsung membekap mulutnya yang menganga dengan kedua tangan karena syok.


Sembari menahan perih di bekas tamparan tadi Tiana hanya tertunduk diam tidak berani untuk sekedar mengangkat wajahnya menatap ke arah sang anak majikan.


Lalu dengan penuh emosi Kania langsung menarik kasar rambut Tiana. "Hih ... dasar cewek murahan! Cewek tidak tau diuntungkan! Bisa-bisanya kamu telah membohongiku, huh!" geramnya.


Sehingga membuat Nadia dan juga Sri yang panik langsung berusaha untuk memisahkan keduanya.


"Ampun, Non! Maafkan Tiana, Non! Dia tidak bersalah!" ucap Sri memohon.


"Stop Kania! Jangan seperti ini!" seru Nadia memegangi tangan Kania berusaha untuk melepaskan cengkramanya di rambut gadis itu.


Sedangkan Tiana, hanya meringis kesakitan. Dia sudah pasrah tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Hingga saking kuatnya tarikan tangan Kania membuat gadis itu sampai terjatuh dari atas ranjang.


Bruggh!


Namun dia tetap tidak mengaduh. Walaupun sebenarnya itu terasa sabgat sakit.


Bukan hanya sekedar sakit di pipinya yang terasa perih. Tubuhnya dan juga kepalanya ikut merasa sakit akibat membentur lantai. Terlebih lagi hatinya, yang teramat sakit dan tidak bisa untuk digambarkan bagaima perihnya dan hancurnya perasaannya saat ini.


Dengan sedikit ketakutan beberapa pelayan yang sedari tadi hanya jadi penonton langsung berlari menolong Tiana.


Sedangkan gadis yang sedang mengamuk itu kini sedang ditahan oleh Nadia dan Sri.


"Ih ... lepaskan! Biar aku beri pelajaran cewek pelacuran itu!" teriak Kania yang masih terlihat sangat marah pada Tiana.


Sungguh keadaan di kamar kecil berukuran 3 meter persegi itu, terlihat riuh dan sangat menegangkan. Hingga menimbulkan suara keributan yang bisa terdengar sampai ke luar kamar.


"Ada apa Ini?" Tiba-tiba suara bariton seorang pria yang berusia diatas 45 tahunan itu mengheningkan semuanya.


Kini terlihat seorang pria paruh baya sedang berdiri di ambang pintu kamar menatap tajam ke arah semuanya secara bergantian.


Kania segera menghempaskan kedua tangannya yang sedang ditahan oleh Nadia dan Sri. Kamudian ia segera menghampiri ayahnya.


"Papah, dia telah membohongi kita, Pah!" Dengan sangat geram Kania menunjuk ke arah Tiana.


"Ternyata se-semalam dia telah tidur dengan David, Pah!"


"Apaa?!"

__ADS_1


__ADS_2