
"Hah, di-dia ...." Dengan membelalakkan kedua mata, Tiana tampak sedikit syok melihatnya.
"Gimana, ganteng banget bukan? Kelihatan masih muda banget, dan gak ada yang menyangka kalau dia udah punya istri dan anak," celetuk Tari. Dengan wajah sedihnya, gadis itu tampak kecewa.
Namun, bukannya menjawab, gadis yang sudah berseragam lengkap kerjanya itu malah terdiam. Seolah gadis tersebut kini sedang melamun ataupun memikirkan sesuatu hal yang serius.
Sehingga membuat gadis yang berdiri di sampingnya itu mengerutkan dahi menatapnya dengan keheranan.
"Woy, An! Kok malah diam, sih?" tegur Tari sambil menepuk bahu Tiana.
Sontak gadis yang sedang melamun itu terlonjak kaget dan langsung tersadar. "Hah, ada apa, Tar?" sahutnya.
Tari mendengus kesal. "Kamu ini kenapa sih? Ditanya bukannya jawab malah diam aja kayak patung," sungutnya.
"Hehehe ... e-enggak kok. Cuma kaget aja gak nyangka apa yang kamu bilang tadi benar. Iya, dia beneran cakep banget deh, sampai-sampai aku aja terpesona kayak tadi," jawab Tiana berbohong.
Padahal yang sebenarnya ia merasa seperti pernah melihat cowok tersebut. Tetapi di mana? Ia pun tidak tau. Sehingga membuatnya terdiam berusaha untuk mengingatnya, namun gagal ia tetap tidak bisa mengingatnya.
Lalu tiba-tiba saja terlihat seorang laki-laki dewasa berjas hitam dan kemeja putih memasuki ruangan.
"Pagi anak-anak!" sapa Pak Johan sang meneger HK.
"Pagi, Pak!" jawab semua karyawan dengan serempak.
"Hari ini kita akan kedatangan tamu yang sangat istimewa. Yaitu sang pemilik hotel tempat kita bekerja ini. Beliau akan berada di sini selama kurang lebih enam atau satu minggu kedepan. Ini peristiwa sangat langka, karena di hari ulang tahun hotel ini yang sebelumnya beliau tidak pernah hadir. Namun, untuk ulang tahun yang ke lima ini beliau akan hadir ke sini untuk meninjau hotel dan juga untuk menghadiri perayaan ulang tahun hotel ini. "
Sang pemimpin tertinggi Housekeeping itu sedang menjelaskan kepada sang anak buahnya atas kedatangan sang owner atau Ceo hotel ini.
Semua karyawan dengan hikmad mendengarkan penjelasan dari sang atasannya itu. Termasuk juga dengan Tiana, ia sangat konsentrasi dan tampak begitu serius mendengarkannya.
"Jadi, saya harap kalian harus bisa bekerja lebih baik lagi, jangan sampai terjadi kesalahan. Dan kita diwajibkan berkumpul untuk menyambut kedatanganya nanti. Kira-kira beliau akan datang sekitar jam sepuluh. Jadi, kalian bersiap-siaplah untuk menyambutnya! Dan tolong persiapkan kamar untuk beliau dengan sebaik-baiknya! Ok, saya rasa cukup, penjelasannya. Kalian boleh bubar, selamat bekerja dan selamat beraktifitas." Kemudian sang meneger pun pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara para karyawan mulai menyebar membubarkan diri dan mulai melaksanakan tugasnya masing-masing.
Selang beberapa jam kemudian, kini saatnya para karyawan sudah harus berada di depan resepsionis. Mereka semua berbaris berjejer memanjang dan berhadap-hadapan dari pintu masuk utama sampai ke tengah ruangan. Hingga membentuk jalan memanjang untuk sang owner nanti.
Mereka membentuk dua lapis barisan, barisan depan dan satu barisan lagi di belakangnya.
Semua kini nampak serius dan begitu penasaran ingin mengetahui seperti apa wajah sang pemilik hotel itu. Karena selama bekerja di sana belum ada yang pernah melihatnya. Saking pemasarannya mereka bahkan mencari informasi lewat foto yang ada di iternet tentang sang Ceo hotel itu.
Sang menajer hotel sudah berada di bagian paling depan. Yaitu di depan pintu masuk hotel. Ia begitu antusias dan tampak senang akan menyambutnya. Namun, sekaligus juga ada perasaan was-was karena khwatir jika nanti akan mendapatkan kritikan atau kompalainan atas penilaiannya tentang hotel yang ia pimpin ini.
Setelah beberapa menit, rombongan orang yang mereka tunggu kini telah sampai. Dengan wajah yang sumringah sang menejer langsung menyambutnya.
"Hallo Tuan David, selamat datang!" ujarnya sembari menundukan kepalanya di hadapan sang Ceo.
'Degg!'
Seketika itu Tiana yang berada di barisan depan sontak merasa terkejut dan hatinya seakan mencelos ketika mendengar sang menejer itu menyebut nama David. Lalu dengan dada yang mulai berdebar-debar, perlahan ia menoleh ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok orang yang sedang berjalan memasuki hotel itu adalah benar si David. Si laki-laki dingin yang sangat ia takuti dan ia hindari dalam hidupnya ini.
"Hah! Ja-jadi si pemilik hotel ini adalah dia? Kenapa aku bisa sampai tidak tau?" ucapnya dalam hati merasa sangat syok.
Gadis itu masih sangat mengingat dengan jelas bagaimana wajah laki-laki itu. Dan mungkin tidak akan pernah melupakannya sampai kapan pun juga.
Sungguh ia tidak percaya kalau ternyata si David lah sang pemilik hotel tersebut. Kini ia merasa cemas dan juga kwatir, takut jika nanti lelaki itu akan mengenalinya.
"Duh, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Dengan perasaan yang tidak karuan gadis itu terdiam sedang berpikir bagaimana ia sekarang dan apa yang harus ia lakuakan?
Pria tampan betubuh atletis yang sedang berjalan memasuki hotel ìtu hanya mengulas senyum dan mengangguk menanggapi sang menajer tadi.
Sementara di belakang pria tersebut ada seorang pemuda yang tak kalah tampan dengannya sedang berjalan mengiringinya.
Dan pemuda itu adalah orang yang ada di dalam foto yang ditunjukan oleh Tari tadi pagi. Pantas saja Tiana merasa seperti pernah melihatnya. Ternyata cowok itu adalah salah satu orang yang hadir di hari pernikahan palsunya dulu.
__ADS_1
"Silahkan Tuan, anda mau langsung berkeliling meninjau hotel atau mau beristirahat terlebih dahulu?" ucap sang menager.
"Ya, mungkin saya akan menyapa para karyawan telebih dahulu, Pak," jawab David.
"Oh, silahkan, Tuan!"
Pria tampan berjas merah marun itu mulai mengamati seisi ruangan tersebut dan dengan sekilas memperhatikan satu per satu para karyawan yang sedang berbaris di hadapanya itu.
Semua karyawan menyapanya dengan cara tersenyum dan menundukkan kepalanya hormat. David pun membalasnya dengan hal yang sama. Namun senyumannya terkesan dingin dan menakutkan bagi semua orang yang ada di sana kini.
Sosok orang yang begitu sempurna. Dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap. Wajahnya yang tampan, mempunyai rahang yang tegas, hidung mancung dan bibirnya yang tipis. Membuatnya nyaris tidak ada cela yang bisa membuat para kaum hawa langsung terpesona olehnya.
Namun berbeda dengan Tiana. Karena bagi dirinya ia adalah sesosok yang begitu menyeramkan. Ketampanan dan kekayaanya yang dimilikinya tak berarti bagi dirinya. Yang ada dia bukannya terpesona olehnya melainkan ia begitu sangat ketakutan dan ingin sekali menghindarinya.
Namun apa daya, hari ini dirinya harus berjumpa dengannya karena dirinya telah bekerja di hotel miliknya ini.
David terus berjalan menyusuri ruangan itu sembari mengamati para karyawan hotelnya itu. Perlahan-lahan langkahnya semakin mendekati ke arah Tiana.
Tap tap tap.
Langkah demi langkah pria tersebut kian mendekatinya. Hingga membuat jantung Tiana bedetak dengan sangat cepat. Ia merasa sangat gugup, cemas dan juga panik. Tubuhnya seolah kaku tidak bisa digerakan karena saking tegangnya.
"Ya, Allah bagaimana ini? Semoga saja ia tidak melihatku dan juga tidak mengenaliku," doanya dalam hati penuh harap.
Perlahan David semakin mendekatinya. Hingga tanpa Tiana sadari dirinya pelan-pelan malah bergerak mundur dari barisannya. Sehingga ia menginjak kaki salah seorang yang ada di belakangnya.
"Aww!" Otomatis orang yang ada di belakangnya itu secara reflek menjerit kesakitan dan langsung mendorong tubuhnya ke depan.
Sontak Tiana yang kaget dan tidak siap itu langsung terhuyung ke depan.
Namun na'as, ketika tubuhnya terdorong ke depan, bertepat dengan itu, David malah sudah berada tepat di depannya. Sehingga ia pun menabrak tubuh lelaki tersebut dari samping.
__ADS_1
"Aaa ... !"
Brugg!