
Setelah makan malam selesai, Rendy segera berpamitan untuk pulang. Sedangkan David, seperti biasa dengan tanpa basa basi lagi, pria tersebut langsung saja meninggalkan ruang makan itu dengan begitu saja.
Ini bukan kali pertamanya bagi Jhonny melihat putra sulungnya bersikap dingin dan acuh seperti itu. Tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk bisa merubah sikap buruknya menjadi seperti yang semula lagi. Kini ia hanya bisa pasrah saja menerimanya.
"Huff!" Tampak lelaki paruh baya itu menghela nafas panjang dan berat. Lelaki yang sudah mulai beruban tersebut merasa sangat sedih melihatnya seperti itu.
Jika waktu boleh diputar kembali, dirinya tidak akan pernah mau melakukan kesalahan itu. Di mana pada saat itu, setelah melakukan pertemuan dengan klien, ia yang dalam keadaan mabuk berat malah tidur dengan sekertarisnya yang kini telah menjadi istrinya itu.
Hingga beberapa bulan kemudian si sekertaris itu mengaku telah mengandung dan meminta pertanggungjawabannya. Namun, ia menolak untuk menikahinya, karena ia tidak mau mengkhianati dan menyakiti hati istrinya.
Sehingga ia memilih untuk tidak menikahinya, tetapi ia berjanji akan menanggung semua kebutuhan wanita tersebut.
Namun ternyata, Sizka menolak. Dia masih kekeh ingin menikah dengannya. Walaupun harus menjadi istri kedua ataupun istri simpanan saja ia tetap mau.
Sehingga terjadilah keributan dia antara keduanya. Yang akhirnya membuat Sizka nekad menemui istrinya dan mengatakan bahwa ia telah hamil anak dari suaminya tersebut.
Sontak itulah yang menyebabkan Melinda menjadi sangat syok dan terpukul. Hatinya langsung merasa hancur sehancur-hancurnya. Hati wanita mana yang akan tahan menerima kenyataan ini?
Ternyata pernikahan yang telah ia jalani selama hampir dua puluhan tahun itu kini telah ternoda oleh pengkhianatan suaminya.
Hingga setelah beberapa hari kemudian, wanita tersebut langsung mengambil kaputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun di dalam kamar dan akhirnya ia pun meninggal.
Sungguh tragis bukan, nasib wanita itu? Jadi, tak heran jika David sampai begitu sangat-sangat membenci Papah dan Ibu tirinya tersebut.
***
Semenyara di lain tempat, kini David sedang membuka pintu sebuah kamar.
Ceklek!
Begitu membuka kamar tersebut hatinya langsung bergetar dan terasa sangat pilu. Raut wajahnya kini terlihat sedih dan layu. Lalu dengan pandangan sayu, bibirnya tersenyum miris, mengingat kalau sang penghuni kamar tersebut sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Ma ... aku pulang," ucapnya dengan sangat pelan ia melangkahkan kakinya memasuki kamar.
Lalu ia memilih untuk duduk di pinggir sebuah ranjang besar di mana di tempat itulah biasanya sang Mama tercintanya tertidur pulas di sana. Lelaki itu memandangi ranjang kosong tersebut dan sebelah tangannya mengusap pelan bantal tidur Mamanya.
Masih membekas dalam ingatannya, berbagai kenangan indah saat bersama Mamahnya dulu. Di dalam kamar inilah ia dulu sering bermanja pada wanita itu. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang wanita tersebut membelai dan mengusap-usap kepalanya hingga ia tertidur pulas di sana.
Tanpa terasa matanya kini mulai mengebun dan dengan perlahan rasa sedih yang mendalam kini mengoyak hatinya. Dan ia pun menangis pelan.
__ADS_1
Sungguh hingga saat ini dirinya belum bisa menerima kepergiannya. Mungkin dari luar, orang melihat David adalah sosok laki-laki yang kuat, angkuh dan arogan.
Tetapi pada kenyataannya sebenarnya dia sangatlah rapuh dan lemah jika berada di hadapan Mamahnya. Mamahnya adalah sosok wanita satu-satunya yang sangat berarti di hidupnya. Namun, wanita tersebut kini malah telah pergi meniggalkannya untuk selama-lamanya.
Kini seolah ia hanya tinggal seorang diri saja di dunia ini. Sungguh ia merasa sangat hampa dan kesepian tanpanya.
"Mah ... Dav-david sangat meyayangimu. Tetapi kenapa engkau malah pergi meniggalkanku, Mah?" Dengan air mata yang mulai menetes di atas kasur, lelaki gagah perkasa itu kini tempak sangat rapuh dan lemah.
Ceklikk!
Terdengar suara pintu tarbuka. Dengan segera lelaki tampan itu mengusap sisa air mata yang masih membasah di pipinya. Ia tidak mau jika ada orang lain yang melihatnya sedang menangis seperti ini.
Karena baginya sangat pantang ia terlihat lemah di hadapan orang lain. Sekalipun orang itu adalah Kania yang merupakan istrinya sendiri.
"Nah, itu dia, Papah!" ucap Kania. Sembari membawa seorang bayi cantik dalam gendongannya, wanita cantik itu masuk ke dalam kamar.
David langsung tersenyum manis melihatnya.
"Hai, Sayang. Kok, belum tidur , Cantik?" ucapnya dengan sangat lembut menyapa bayi kecil tersebut.
Kania bergerak mendekatinya. "Iya, Papah. Cassy, 'kan mau ketemu sama Papah dulu. Baru setelah itu mau tidul, Papah." Dengan menirukan suara anak kecil, Kania berpura-pura sedang berperan sebagai putrinya.
"Mmuach ... muach! Apakah kau kangen sama Papah? Papah juga, Sayang." Sembari terus menciumi wajah gadis kecil itu dengan sangat gemas. Wajahnya kini terlihat sumringah.
Sementara anak kecil itu tertawa kegelian di dalam dekapannya.
"Udah, malam. Sebaiknya kamu bawa Cassy untuk tjdur sekarang!" kata David menoleh ke arah Kania.
"Iya, Sayang. Sudah waktunya untuk tidur sekarang!" Kania mengambil alih anak kecil itu.
Kemudian ia segera memanggil babysitter yang merawat putri kecilnya ini.
"Mbak ... sudah saatnya Cassy tidur sekarang!" serunya.
Terlihat seorang wanita muda masuk ke dalam kamar. Lalu dengan segera ia mengambil alih anak kecil tersebut. Kemudian ia bergegas meniggalkan sepasang suami istri tersebut di dalam kamar.
Lalu Kania kini mulai mengusap kedua bahu suaminya dengan sangat lembut dan pelan. Dan sembari berkata, "Sayang, apakah kamu lelah? Sini biar aku pijit, ya?"
Namun, seperti biasa. Dengan wajah yang terlihat datar dan dingin, lelaki itu langsung menangkis dan menyikirkan kedua tangannya dari bahu.
__ADS_1
"Hentikan, Kania! Jangan menggangguku, tinggalkan aku sendiri!" usirnya.
"Ta-tapi, apakah kau tidak merindukanku sama sekali, David? Padahal sudah hampir 10 hari kita tidak bertemu. Dan aku begitu sangat merindukanmu. Namun, kenapa kamu selalu bersikap dingin seperti ini terhadapku? Apa salahku, David? Aku ini istrimu!"
Wanita cantik itu mulai melayangkan protes padanya.
"Sudah, hentikan, Kania! Kamu jangan terus mengoceh tidak karuan seperti ini. Aku sudah cukup lelah dengan semua pekerjaan kantor. Jadi, jangan ditambah lagi dengan mendengar semua ocehanmu ini membuatku merasa semakin tidak betah saja berada di rumah ini," sela David.
"Jadi, pergilah dari sini. Aku lagi sangat enggan untuk berdebat," lanjut David.
Sahingga pada akhirnya membuat wanita itu mau tidak mau harus segera meninggalkan kamar tersebut. Jika, tidak. Yang ada lelaki itu bisa saja langsung berbuat kasar padanya.
Entah itu dengan menyeretnya paksa keluar dari kamar ataupun dengan tindakan kasar yang lainnya yang tidak segan-segan ia lakukan padanya, jika ia tidak menurut ataupun membantah perintah darinya.
Sehingga dengan wajah yang terlihat kesal, wanita cantik itu segera keluar dari kamar.
Sementara di luar kamar, Sizka tertawa sinis melihatnya. Lalu dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada, wamita itu berjalan menghapirinya.
"Ck ck ck ... diusir ya? Cih, kasian sekali kamu!" cibirnya.
"Kalau aku sih, gak pernah tuh yang namanya diusir dari kamar. Hahaha ... bay-bay selamat tidur sendirian lagi!" Dengan gaya mengejek, wanita itu melambaikan sebelah tangan padanya.
Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Kania yang sedang meradang melihat tingkahnya itu. Ingin sekali ia menjambak rambut Tantenya itu. Namun, ia tahan. Karena walau nagaimanapun juga ia harus jaga imej di depan David dan seluruh orang yang ada di rumah ini. Jadi, sebisa mungkin ia berusaha untuk terlihat tenang menghadapi cibiran ataupun ejekan dari wanita tersebut.
"Liat saja, Tante! Nanti akan aku balas kamu!" sungutnya membatin.
Kemudian masih sambil bersungut-sungut, wanita itu menghentak-hentakan kakinya berjalan menuju kamar yang berada di sebelah kamar Mamanya David.
Sungguh ia merasa sangat dongkol, lagi-lagi ia ditolak mentah-mentah oleh suaminya sendiri.
Apa kurangnya dia selama ini? Dia sudah berusaha untuk bersabar dan merendahkan harga dirinya dengan serendah-rendahnya di hadapan pria itu. Namun apa? Lelaki itu masih saja terlihat dingin dan acuh tak acuh padanya.
Jika, bukan karena harta yang berlimpah miliknya, mungkin ia lebih memilih untuk pisah dengannya dan akan mencari laki-laki lain sebagai suamimya nanti.
Ya, walau tidak ada laki-laki lain yang lebih tampan dan lebih kaya darinya. Tetapi seenggaknya dirinya tidak perlu merasa kesepian seperti ini. Sehingga membuatnya terkadang memilih suka bermain dengan pria lain di luaran sana.
Dan, bahkan anak kecil yang bersamanya tadi, bisa jadi adalah hasil dari hubungan gelapnya selama ini. Mana ada yang tau?
Yang terpenting baginya, selama David tidak mempermasalahkan soal itu, ia tetap merasa aman-aman saja.
__ADS_1
"Ah ... sudahlah! Persetan dengannya! Mau dia tidur di mana dan sengan siapa, yang terpenting aku tetap menjadi istri sahnya di depan umum. Dan aku tidak akan membiarkan satu orang pun untuk menggantikanku nanti," batin Kania.