
David Abraham adalah sang anak pemilik hotel tempat Tiana bekerja. Tetapi hampir semua staf ataupun para pekerja di hotel itu tidak begitu mengenalnya. Karena memang lelaki tersebut jarang sekali mengunjungi hotel itu. Ia lebih senang berada di kantor pusat yang ada di daerah Sudirman.
Sedangkan hotel ini adalah salah satu cabang hotel miliknya yang terletak di Jakarta Selatan. Ya walaupun jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor pusat, akan tetapi yang dulu sering datang berkunjung ke hotel itu hanya anak buahnya saja ataupun sang ayah tercinta yang sesekali mau mampir ke sana.
Karena dirasa sudah cukup lama ia tidak mengunjungi hotel miliknya itu, pada akhirnya pria berparas tampan dan berbadan atletis itu memutuskan untuk datang ke sana untuk menghadiri perayaan hari ulang tahun berdirinya hotel yang ke lima tahun.
“Ren, kamu merasa ada yang aneh gak sih dengan cewek yang tadi?” ujar David yang tengah duduk bersenden di kursi kebesarannya itu. Kini sedang berada di sebuah ruangan yang telah disiapkan oleh sang meneger sebagai tempat ruang kerjanya nanti.
“Hah, cewek! Cewek yang mana, Bang?” Rendy yang sedang duduk di sebrang meja kerjanya itu berpura-pura bingung.
“Ya cewek OB yang memelukku tadi loh, Ren! Bukankah itu cewek yang sama dengan yang kemarin menabrakku juga, 'kan?" jawab David.
“Oh, yang itu, Bang. Kan, dari kemarin aku juga sudah merasa seperti itu. Tapi kau-nya saja malah cuek begitu, Bang," sahut Rendy.
"Eh, tapi kenapa bisa seperti itu ya, Bang? Em ... kalau menurutmu, entah itu memang hanya kebetulan saja, atau ini memang telah disengaja. Kenapa dari kemarin kalian selalu bertabrakan seperti itu?" lanjut Rendy.
"Em ... entahlah, aku juga gak tau. Tetapi di saat aku sedang memeluknya dan menatap matanya tadi, aku merasa ada perasaan yang aneh gitu, Ren?" sahut David dengan wajah yang tampak serius ia seperti sedang merasa keheranan.
"Hah, aneh yang bagaimana, Bang?" Rendy mengeryitkan dahi menatapnya kebingungan.
"Em ... ya-ya gimana ya? Ah ... susah buat aku ngejelasinya, Ren!" David merasa bingung sendiri untuk menjabarkan apa yang sedang ia rasakan sekarang.
"Hem, jangan bilang kalau kau tertarik dengan cewek itu, Bang. Ingat anak sama istri, Bang!" celetuk Rendy.
David malah terkekeh mendengar celetukannya. "Ya enggaklah, aku cuma penasaran saja dengan gadis itu. Lagi pula kalau masalah Kania mah, gak usah dipikirin, lagi! Kan, kamu tau sendiri pernikahanku ini kek gimana?”
Rendy mengangguk-anggukan kepalanya dengan malas dan kembali berkata, "Hem ... ya-ya-ya. Suka-suka hati kau sajalah, Bang!"
Pemuda itu tau kalau sedari dulu David memang tidak pernah menganggap Kania sebagai istrinya. Dia menjalankan pernikahan itu semata-mata hanya agar Papahnya merasa senang dan terbebas dari tuntutan orang tua itu yang selalu mendesaknya untuk segera menikah.
Di samping itu pula, lelaki yang berusia 2 tahun di atas Rendy itu tidak ingin kehilanhan hak warisnya sebagai penerus pemilik Hotel milik Papahnya. Yang apabila dia tidak segera menikah waktu itu, maka Papahnya akan mencabut hak warisnya dan akan mengalihkannya kepada adik tirinya. Yang tidak lain dan tidak bukan anak dari selingkuhan Papahnya yang kini telah menjadi ibu tirinya yaitu anak dari Sizka yang bernama Cicilia.
Jadi, bisa dibilang pernikahan itu hanyalah sebuah kepura-puraan ataupun sandirawa belaka, Rendy pun tidak tau. Yang pasti hanya kedua orang itulah yang tau bagaimana sebenarnya pernikahan yang mereka jalani hingga sekarang ini.
Kembali lagi ke permasalahkan soal si gadis OB itu. Rendy kini masih terus terdiam memikirkannya.
"Woy, Ren! Kok malah bengong? Lagi mikirin apaan sih?" ceketuk David sembari menepuk meja yang ada di hadapannya itu.
Sontak Rendy yang sedang melamun itu langsung terjikat kaget dan tersadar. "Hah, e-enggak. Aku cuma merasa aneh saja denganmu, Bang. Sebenarnya kau ini cuma penasaran saja dengan gadis itu. Atau ...."
Pemuda berkulit putih dan bergigi gingsul itu sengaja nengantung ucapannya. Lalu sembari mengerutkan kedua alis ia menicingkan sebelah mata dan menatap curiga padanya.
__ADS_1
“Hahaha ... !" Tentu saja David malah tertawa ngakak melihat ekpresi Rendy yang penuh selidik padanya. "Kamu ini ada-ada aja. Mana mungkin aku menyukai seorang pelayan, Ren! Kayak gak ada cewek lain aja."
"Ya siapa tau begitu, Bang. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Jika Tuhan sudah berkehendak semuanya gak ada yang tidak mungkin bagi-Nya."
"Ya elah, sok-sokan bawa-bawa Tuhan segala lagi," sela David.
"Lah, emang benar, 'kan? Kita mana tau takdir hidup kita nantinya kayak gimana, Bang? Masalah jodoh, rizki dan maut itu sudah diatur Tuhan dan hanya Tuhan-lah Yang Maha Mengetahui segalanya."
"Hemm ... ya ya, mulai ceramah deh dia!" Dengan memutar bola matanya dengan malas, pria berambut belah samping itu sangat enggan mendengarnya.
"Tapi ... yang jelas aku merasa ada perasaan yang mengganjal dengan gadis itu. Dan seperti aku kayak pernah melihat gadis itu. Tapi di mana ya?"
Rendy langsung mendengus kesal padanya. "Hem ... kebiasaan kamu deh, Bang. Tiap kali liat cewek cantik aja selalu bilang begitu. Bilang saja kalau Abang ini tertarik sama tuh cewek. Gak usah berpura-pura gitu deh, basi tau!"
"Hahaha ... kamu tau aja apa yang aku pikirkan, Ren. Ya udah kamu atur saja, bagaimana cara agar cewek itu mau datang ke kamarku nanti, Ren!”
“Hem ... beres deh, Bang. Bisa diatur,” jawab Rendy sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakak sepupunya itu.
***
Sementara di lain tempat.
Dan kemudian ia pun melihat ada seorang pemuda berkulit sawo matang sedang berdiri tegap di sana.
"Ah ... Firman! Bikin kaget aja!" sungut Tiana kesal.
Firman adalah adik laki-lakinya Sri yang merupakan kakak kelasnya waktu di SMK dulu. Dialah orang yang cukup berjasa bagi hidup Kania. Karena pemuda itulah yang membawanya masuk bekerja di hotel ini.
"Lagian kamu ngapain sih, di sini? Tuh, kamu lagi dicariin sama Pak Johan tau!" ujar Firman.
"Hah, pagi-pagi begini ngapain Pak Johan nyariin aku?"
"Lah, mana aku tau? Kamu gak lagi bikin kesalahan, kan?" sahut Firman.
"Perasaan gak deh. Atau jangan-jangan gara-gara masalah yang kemarin itu, ya?"
"Oh, yang katanya kamu nabrak Tuan David itu, bukan?"
Tiana mengangguk lemas.
"Ya sudah, mending sekarang kamu buruan pergi ke ruangan Pak Johan. Dan semoga saja tidak akan terjadi apa-apa padamu nanti." Sembari menepuk pundak Tiana, pemuda itu berusaha memberikan semangat padanya.
__ADS_1
"Iya, baiklah. Tapi ... tunggu dulu! Itu trolinya." Gadis berseragam hitam putih itu menunjuk ke arah troli yang teroggok di samping pintu lift.
Otomatis Firman menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tiana. "Lah, kenapa tuh trolinya bisa terjatuh seperti itu?"
Firman tampak keheranan di saat ia melihat barang yang jatuh berhamburan di dekat troli tersebut.
"Ya biasa, ini semua gara-gara ulah dari Si Santi the geng itu." Dengan wajah yang ditekuk Tiana terlihat malas.
"Santi lagi- Santi lagi. Kenapa sih, tuh cewek suka banget gangguin kamu?"
"Tau," jawab Tiana.
"Ya udah, biar aku saja yang ngeberesin itu semua. Sekarang gih, kamu buruan temuin Pak Johan sana! Nanti kamu bisa kena marah loh, kalau beliau nungguin kamu kelamaan."
"Hehehe ... ya udah, aku mo ke sana dulu, ya. Dan makasih banyak karena udah mau ngebantuin aku beresen troli itu." Sembari memasang cengir kuda, gadis itu merasa sangat berterimakasih kepada pemuda tersebut.
"Hem ... udah-udah sana buruan!"
Pada akhirnya gadis berlesung pipi itu segera menuju ke ruangan sang meneger Hk yang kebetulan berada di lantai itu juga. Sehingga tak butuh waktu lama Tiana kini telah sampai di depan ruangan tersebut.
Sebenarnya ia merasa cukup kaget dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa tiba-tiba saja ia dipanggil oleh pak manager ke ruangannya? Entah kenapa hatinya merasa menjadi tidak enak.
"Perasaan apa ini? Semoga saja tidak akan terjadi hal yang buruk padaku nanti," ujar batinya yang tiba-tiba merasa kembali resah.
Namun, ia berusaha untuk tetap berfikiran positif. Kemudian gadis itu mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok-tok-tok!
“Ya, masuk!" seru Pak manager dari dalam ruangan.
Kemudian gadis cantik itu memasuki ruangan. "Maaf Pak, Bapak memanggil saya?" tanyanya dengan sopan.
“Oh, iya, An. Ada tugas baru untukmu," Jawab Pak manager to the point.
“Hah, tugas baru? Tugas baru apa ya, Pak?" tanya Tiana kebingungan.
"Em ... jadi begini, mulai sekarang kamu yang bertugas melayani Tuan David."
Degg!
"Apaa! Sa-saya yang melayani Tu-tuan David?" pekik Tiana kaget.
__ADS_1